Press Release ICCA South East Asia Knowledge Sharing and Capacity Building Event 18-22 Agustus 2015 Hotel Lombok Garden, Lombok

Forum Penyatuan Pengalaman dan Pengetahuan Masyarakat Adat Se-Asia Tenggara.

Lombok, 17 Agustus 2015 –  Lebih dari 60  Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari Asia Tenggara – garda terdepan penjaga keanekaragaman hayati dunia- akan berpartisipasi aktif berbagi pengalaman dan pengetahuan pada kegiatan akbar ICCAs (Indigenoues People’s Community Conserved Area and Territories/ Wilayah dan Perbatasan Komunitas Terkonservasi milik Masyarakat Adat  ) South East Asia Knowledge Sharing and Capaciity Building, yang dilakukan pada 18-22 Agustus 2015, di hotel Lombok Raya, Mataram.

Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sudah ribuan tahun menjadi penjaga keanekaragaman hayati, budaya, pelestari lingkungan dan juga sumber segala kearifan lokal tentang hidup yang harusnya berharmoni dengan alam. Merekalah sesungguhnya garda terdepan keselamatan planet bumi kita. Namun hak-hak mereka banyak yang belum diakui, hingga memasuki era Millenium pun. Di bumi ini keberadaan mereka selalu dikalahkan oleh negara atas nama pembangunan. Padahal jika mereka didukung, dan hak-hak mereka diakui, peran mereka atas keselamatan masa depan bumi juga semakin besar. Ketika isu-isu ini dibicarakan maka kita membicarakan ICCA yang dimaksud.

ICCA adalah  asosiasi internasional yang didedikasikan untuk mempromosikan adanya pengakuan dan dukungan hak-hak untuk Masyarakat Adat/Asli dan Komunitas Lokal atas tanah dan wilayah yang dilindungi.

“Di tempat terjadi eksploitasi besar-besaran pada sumber daya alam dan konservasi, Masyarakat adat banyak yang melakukan peningkatan kerjasama dengan pemerintahan untuk pengembangan sumber daya alam secara langsung, yang menarik adalah pengetahuan adat, kearifan lokal lembaga dan keterlibatan antara mitra-mitra. ICCAs adalah kesempatan dalam konservasi agar lebih adil dan efektif. Karena itulah di sini kami berkumpul,” kata Penyelenggara kegiatan ini, yang juga Koordinator GEF-SGP Indonesia, Catharina Dwihastarini.

Ada beberapa ICCA di Indonesia yang sudah melakukan banyak hal untuk keselamatan alam. Salah satunya yang dilakukan Lembaga Pusat Penelitian dan Pembinaan Masyarakat Mandiri Bumi Gora (LP3MMM Bumigora), Mataram, Lombok. Sejak 2009 mereka membangun desa produktif di Dusun Kumbi, Desa Kumbi, Desa Lebah Sempage melalui konservasi DAS (Daerah Aliran Sungai). Bumigora mendorong masyarakat sekitar DAS Jangkok (Desa Pakuan dan Lembah Sempage) untuk mengelola tanaman yang produktif seperti bambu, ketak, lombos, coklat, kopi dan madu.

Selain itu, ada Walhi NTB yang berhasil mendampingi komunitas di desa Aik Berik, kecamatan Batu Kliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah NTB dengan Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam bentuk makanan olahan. Hal yang mendorong Walhi NTB adalah di daerah Air Berik itu sudah terjadi bahaya erosi yang dipengaruhi faktor iklim, topografi , tanah, tanaman dan pengelolaan lahan yang buruk dan luasan hutan

alam yang terkonversi menjadi agroforestry sebesar 24% dari luas hutan alami yang ada dalam kurun waktu 9 tahun.

Di Lombok Timur juga ada lembaga diakui memiliki kebijaksanaan dalam pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat lokal melalui Peraturan Daerah Nomor 9/2006 Lombok Timur dan No. 10/2006. Peraturan ini dikenal sebagai “awig-awig” – sebuah pendekatan adat dan partisipatif untuk pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Adalah Amin Abdullah, pemimpin LPSDN – , sebuah kelompok lokal nelayan di Teluk Jor, yang menciptakan  awig-awig sebagai peraturan tradisional untuk perikanan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya pesisir.

“Sebagai strategi co-manajemen perikanan, awig-awig masih membutuhkan dukungan pemerintah, kesadaran masyarakat dan kerjasama untuk tradisi laut kita menjadi layak dan untuk konservasi dan penghidupan yang berkelanjutan bagi nelayan lokal untuk berkembang,” ujar Abdullah.

Selain di Indonesia, ada Wakil dari ICCA Consortium di Filipina yaitu PAFID (Phillippine Association for Intercultural Development (PAFID).  Dave de Vera, Executive Director PAFID juga akan hadir dan berbagi cerita bagaimana PAFID membantu mengidentifikasi wilayah masyarakat adat dan menyediakan habitat untuk hewan dan tumbuhan liar di sekitar wilayah masyarakat adat di lahan kritis agar mereka bisa hidup berkelanjutan. “ICCA di Filiphina juga menjaga dan meyakinkan aman dari sumber penggasilan dari segala entuk dari alam.” ujar Dave de Vera.

Acara ini didukung dari  Initiative ICCA Global, atau GSI, yang merupakan inisiatif kolaboratif yang didukung oleh UNDP GEF-SGP, Kementerian Jerman Lingkungan Hidup (BMU), Konsorsium ICCA, IUCN dan UNEP-WCMC Dengan tujuan utama untuk mendorong pengakuan dan dukungan pada ICCA dan promosi efektivitas mereka melalui peningkatan kapasitas  ditingkatkan setidaknya 26 negara percontohan. Di Asia Tenggara, daerah percontohan termasuk Indonesia, Filipina, Malaysia dan Vietnam,” Ujar Catharina Dwihastarini, Koordinator Nasional Global Environment Facility Small Grant Programme (GEF SGP-) di Indonesia.

Kegiatan Regional ICCA Knowledge Sharing and Capacity Building Event ini rencananya akan dihadiri perwakilan dari Pemerintahan Daerah Mataram, Direktur Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Wakil Kementrian Kelautan dan Perikanan, Wakil Direktur Kelautan untuk Jaringan, Data dan Informasi Konservasi dan Direktorat Kelautan juga Pulau-Pulau Kecil. Kegiatan ini juga hanya pertemuan dan workshop semata, tetapi 4 Negara ini (Filiphina, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam) akan berbagi pengalaman ICCA di Negara masing-masing. Mereka juga akan melakukan kunjungan lapangan di Lombok Timur di lokasi Awig Awig, Jerowaru LPSDN di hari ketiga Acara untuk melakukan studi banding untuk kerja kelompok dan mengambil pembelajaran di keempat Negara yang hadir dan ICCA Consortium. (*)

Kontak Media : Meinar : 0856 734 1172. Email : meinar@sgp-indonesia

Kontak Substansial Kegiatan dan makna :

Catharina Dwihastarini (Koordinator Nasional GEF-SGP) : dwihastarini@sgp-indonesia.org