Belajar Dari Timur

 

GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia mengadakan talkshow sekaligus peluncuran buku “Dari Sergai ke Kefa” Jumat (9/11). Mengundang berbagai komunitas anak muda di Yogyakarta yang bergiat dalam pengembangan desa.

Talkshow “Belajar Dari Timur” merupakan agenda yang sudah dirancang berdasarkan program kerja GEF SGP. Dalam kesempatan itu, Ery Damayanti—salah satu tim strategi GEF SGP memaparkan empat lokasi yang akan dilangsungkan proyek untuk tahap ke enam. Di antaranya adalah Gorontalo, Nusa Penida, Wakatobi, dan Semau. Program dicanangkan untuk pengembangan pemberdayaan lingkungan berbasis sosial dan ekonomi.

Acara dimulai pukul 19.30 dan dibuka oleh sambutan Latifah Hendarti sebagai Panitia Pengarah Nasional. “Pengetahuan tidak akan sampai ke depan tanpa ada yang menjembatani,” ujar Latifah. Kekhawatiran terbesar adalah, saat aspek-aspek kekayaan budaya masyarakat lokal diambil dan dibuatkan hak patennya oleh pihak luar. Menurutnya, program-program yang akan dijalankan itu berguna untuk menghubungkan masyarakat dengan pihak luar negeri. Tentunya tanpa menghilangkan identitas daerah.

Buku “Dari Sergai Ke Kefa” merupakan outputdari program Teras Mitra yang dinaungi GEF SGP, dalam bidang knowledge. Bersama Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) yang pada bulan Maret sudah menyeleksi sepuluh anak muda. Membagi lima daerah yang memiliki potensi namun masih harus menghadapi berbagai hal pelik. Kesepuluh pemuda kemudian terjun ke lapangan dan memulai serangkaian reportase dan pengamatan. Dari Serdang Bedagai hingga Kefamenanu di NTT.

Samiaji Bintang selaku Direktur LSPP mengatakan, sebenarnya ide membuat buku itu berangkat dari niat untuk menantang milenial menulis lebih panjang lalu turun ke masyarakat.

Beberapa komunitas yang hadir pada acara yang berlangsung di Yogyatourium di antaranya ada Ketjil Bergerak dan koperasi Wiki Kopi yang sedang menggerakkan belajar softskill dengan menggunakan kopi. Beberapa perwakilan dari mitra kerja sama yaitu Yayasan Bina Usaha Lingkungan.

GEF SGP merupakan Lembaga donor yang bergerak di bidang lingkungan untuk berbagai komunitas serta LSM. Di bawahnya ada Teras Mitra, sebagai wadah bagi komunitas yang masih terus berjalan. Artinya, setelah lepas dari donor SGP dan GEF, usaha-usaha tersebut akan terus dijalankan dalam bidang sosial maupun ekonomi.

Teras Mitra juga membantu promosikan hasil kerajinan atau outputyang dihasilkan komunitas tersebut ke taraf internasional. Tujuan utamanya tentu untuk meningkatkan sumber pendapatan desa, tapi kebersihan lingkungan harus tetap terjaga. Kini anggota Teras Mitra sudah mencapai 41 orang selama hampir delapan tahun.

Pemuda bisa menjadi jembatan dan lebih mengintervensi masyarakat. “Dengan memberi pengetahuan pada masyarakat bagaimana cara menjaga lingkungan, seperti membuat pewarna sintetis,” katanya.

Sebuah program bagian dari PBB yang memberikan dana hibah pada kelompok-keompok dan komunitas masyarakat seperti akar  rumput. Membuka peluang bagi anak muda untuk megirimkan dan mengimplementasikan gagasan itu ke wilayah kerja SGP Indonesia se-wilayah Indonesia Timur di empat kota : Pulau Semau, Gorontalo, Pulau Nusa Penida, dan Wakatobi.

“Wakatobi yang notabene-nya terdiri dari empat pulau, teman-teman bisa memilih ingin ke pulau mana,” jelas Ery.

Untuk mekanismenya, proposal yang sudah masuk ke sekretariat, kemudian akan diseleksi secara administrasi. Setelah proses administrasi lancar, akan diteruskan kepada perwakilan panitia pengarahan nasional untuk minta persetujuan. Maksimal waktu yang diberikan adalah dua tahun, tapi kali ini diberikan waktu satu tahun saja. Dengan nilai maksimal dari program yang diberikan pada komunitas atau kelompok anak-anak muda adalah 50 ribu USD.

Menurut penuturan tim GEF SGP, mereka membuka peluang bagi anak muda karena ide-ide yang muncul akan kreatif dan bisa memotifasi ketika disampaikan ke kota-kota yang empat itu.

Proses selanjutnya adalah proposal yang sudah masuk dan lewati tahap seleksi akan diumumkan seminggu setelah acara talkshow. Kemudian proposal yang terpliih akan masuk proses inkubasi atau proses di workshop selama tiga hari. Tanggal 23 sampai 25 November dan akan diseleksi oleh panitia pengarah nasional untuk peroleh persetujuan serta masukan.

Untuk memberikan bayangan, program-program yang dijalankan GEF SGP sudah digerakkan di Indonesia sejak tahun 1992. Tapi karena sifatnya program, tidak bisa punya badan hukum sendiri. Untuk sekretariat GEF SGP memilih fungsikan Gedung Yayasan di Jakarta. Sedangkan di Eropa, kebanyakan bernaung di Lembaga UNDP.

“Di Semau, ada desa yang bisa menanam sepanjang tahun, tapi ada juga yamg hanya bisa menanam di musim hujan. Ternak di sana tidak punya kandang khusus, kecuali babi. Sehingga desa di sana sedikit kotor karena kotoran ternak,” terang Ery.

Tidak banyak lokasi yang bisa ditanam dengan tanaman apapun, karena butuh air bersih. Oleh karena itu, diperlukan pertanian ramah lingkungan karena di sana air sangatlah langka. Selain itu, sudah sangat mendominasi pupuk kimia dan pestisida. Selanjutnya adalah pengolahan pasca panen, maka yang dibutuhkan adalah inovasi membuat makanan yang bisa layak dijual. Dengan rasa yang enak dan kemasan menarik. Berbagai olahan seperti jagung, kacang-kacangan, dan singkong.

Selanjutnya adalah tenun. Warga saat ini hampir seluruhnya gunakan pewarna kimia. Mereka merasa tidak perlu menanam tumbuhan lagi.

Selain itu, ada makanan pokok yang dari kota sehingga tidak lagi produksi makanan tradisional. “Ketika makanan lokal menghilang, maka otomatis tradisi lain pun menghilang, itulah hilangnya rantai suatu budaya adat.” Itu terpengaruh oleh kondisi sosial dan relasi mereka di sana.

GEF SGP akan mendukung jika ada anak muda yang mampu mengajak warga mau menjadi petani. Mengajak warga untuk berpandangan bahwa menjadi petani adalah hal yang “keren”. Memajukan ekowisata desa dan revitalisasi penduduk budaya. Desa yang butuh pengembangan system transportasi masyarakat yang murah, serta mengembangkan koperasi.

Latifah berharap agar nantinya GEF SGP bisa menjembatani dan melibatkan banyak anak muda untuk terus berkarya. Tidak hanya sekadar menulis, mungkin langkah berikutnya bagaimana anak-anak muda itu bisa terjun bersama masyarakat. Bagaimana anak muda bisa menjadi corong untuk mengangkat budaya yang terkait dengan kearifan budaya masyarakat.

Laras Olivia