Nikmati Indahnya Guyangan, JED Libatkan Warga Lokal

Laporan Wartawan Tribun Bali, A  A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dalam tour yang dilakukan JED ke Nusa Penida, bersama travel-blogger, musisi, dan media, untuk menikmati alam dan budaya di sana. Keterlibatan warga desa, sangat penting dalam ekowisata yang dikembangkan JED.

“Sebab sejatinya pariwisata seharusnya menguntungkan mereka,” jelas Dega Erlangga, Manager JED. Ini terlihat jelas dalam uji coba, yang dilangsungkan. Saat peserta uji coba menuruni satu persatu tangga di mata air Guyangan, dengan sabar Kadek, pemadu sekaligus Kepala Dusun Batukandik II, menemani peserta sembari bercerita tentang sejarah keunikan mata air terbesar (212 liter/dt) di Nusa Penida ini.

Medan yang terjal menantang, lenyap oleh pemandangan indah dan cerita serta pesona mata air Guyangan yang viral di media sosial.

Membuat lelah peserta dibayar tuntas. Demikian juga saat peserta, melanjutkan perjalanan menyusuri Banjar Semaya, yang terkenal dengan rumput lautnya.

Diah, pemudi setempat, dengan sigap menerangkan bagaimana rumput laut selama puluhan tahun telah menghidupi desanya.

Tangannya terlihat tangkas, mempraktekan keseharian bersama teman-temannya membantu orang tua mengikat rumput laut.

“Dari rumput laut kami bisa sekolah,” jelasnya bangga. Malam menjelang. Tampak beberapa penari mulai bersiap. Perangkat gamelan sederhana, juga sudah nampak diatas panggung. Anak-anak yang akan memainkan gamelan terlihat begitu antusias.

Di sebuah sudut, beberapa ibu-ibu di wilayah sekitar Umah Melajah Bukit Keker, tidak sabar menunggu pementasan.

“Ini pertama kali saya akan menonton suami saya pentas di luar pura. Dia jarang sekali menghibur saya. Saya juga ingin terhibur, sebagaimana tamu yang kesini juga mendapatkan hiburan ini,” ungkap istri Wayan dengan tersenyum.

Pementasan Bondres dengan lakon sederhana, yakni tentang kehidupan di Umah Melajah Bukit Keker, berlangsung begitu cair dan penuh canda tawa.

Interaksi antara penari, peserta uji coba dan ibu-ibu, membuat batasan antara tamu dan tuan rumah menjadi tidak terasa. Begitu akrab, walau dalam tempo sangat singkat.

“Ini alasan kami mengembangkan seni budaya disini, karena kita hidup di dalamnya. Kami akan terus mengajar anak-anak menari, membaca lontar, membuat kerajinan tangan dari material yang bisa di dapat disini, mengajar tentang budaya bersih, pengelolaan lingkungan, agar kebudayaan ini terus menghidupi kami. Walaupun tanpa pariwisata, seperti di musim pandemi ini,” ungkap Wayan Karta, salah satu penari, yang juga ketua Yayasan Taksu Tridatu.

Ia telah mendedikasikan lahan keluarganya, untuk membangun Umah Melajah. (ask)

Artikel ini telah tayang di Tribuntribunbalitravel.com dengan judul Nikmati Indahnya Guyangan, JED Libatkan Warga Lokal, https://tribunbalitravel.tribunnews.com/2020/10/01/nikmati-indahnya-guyangan-jed-libatkan-warga-lokal?utm_source=share_sosmed.
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti
Editor: Anak Agung Seri Kusniarti