Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Belasan orang dengan wajah sumringah mendarat di Nusa Penida.

Langit berwarna biru, air laut tampak tenang dan angin berembus pelan di pelabuhan Banjar Nyuh pagi itu, Rabu (23/9). Sebuah spanduk berwarna hijau bertuliskan “A Journey for a Powerful Impact on People, Culture and the Environment” milik Jaringan Ekowisata Desa (JED), tampak mencolok menyambut kedatangan mereka.

“Selamat datang! Selamat mengikuti uji coba tur ekowisata Nusa Penida,” sapa Siska, Program Koordinator JED dengan ramah.

Masing-masing peserta diberikan sebuah tas berisikan pelindung wajah, masker, pembersih tangan, vitamin C dan informasi tentang penyelenggara kegiatan, sesaat sebelum mereka memasuki kendaraan. Pemandu wisata dan pengemudi juga tampak menggunakan perlengkapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

Perlahan iring-iringan tiga kendaraan minibus yang masing-masing berpenumpang empat orang, berjalan menembus jalanan Nusa Penida yang tampak lengang. Umah Melajah Bukit Keker di Desa Ped adalah tujuan pertama mereka.

Umah Melajah Bukit Keker adalah sebuah tempat yang fokus pada pengembangan adat, seni budaya dan lingkungan bagi anak-anak dan anak muda di Nusa Penida. Yayasan Wisnu bersama dengan para lembaga mitra, salah satunya JED, memusatkan program yang mereka sebut dengan Ecologic Nusa Penida di sini.

Ecological Nusa Penida adalah sebuah program peningkatan ketahanan sosial budaya ekologis masyarakat di pulau kecil, dalam menghadapi desakan kuat arus globalisasi. Program ini didukung oleh GEF – SGP Indonesia dan United Nations Development Program (UNDP). Di Umah Melajah Bukit Keker ini ada percontohan solar panel dan biogas sebagai bentuk pemanfaatan energi bersih dan ramah lingkungan, tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST), galeri untuk pajangan produk-produk lokal, model agroforestri skala rumah tangga dan sebuah panggung pertunjukan seni budaya.

Tempat inipun dijadikan oleh JED sebagai semacam “lobi” bagi rangkaian tournya di Nusa Penida untuk menunjukan prinsip-prinsip Desa Wisata Ekologis yang dilakoninya.

Rumah Melajah Kekeran sebagai etalase belajar ekologi Nusa Penida. Foto Juni Antari.

Milik Bersama

Desa Wisata Ekologis jika disingkat akan menjadi DWE. Dalam bahasa Bali, DWE memiliki tiga makna sebagai prinsip-prinsip ekowisata yang dikembangkan JED. “DWE bisa berarti potensi yang dimiliki, DWE juga bermakna kepemilikan dan pengelolaan bersama, dan DWE juga sebuah konsep berkah atau sakral yang harus terus dilindungi,” jelas I Made Suarnatha, salah satu pendiri JED.

Suarnatha menambahkan ketiga prinsip inilah yang menjadi dasar JED saat mengembangkan ekowisata di sebuah desa atau komunitas. Potensi wilayahnya digali dengan maksimal, mengarahkannya sebagai milik kolektif yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia dan lingkungannya, serta menjadikannya sebagai berkah yang patut dijaga dan dilestarikan.

Di Nusa Penida sendiri, JED melakukan pembentukan DWE di lima tempat, yaitu di Desa Ped, Desa Batumadeg, Desa Tanglad, Br. Semaya – Desa Suana, dan Desa Batukandik.

Di desa-desa tersebut JED sebelumnya telah melakukan berbagai kegiatan sebelum uji coba dilakukan. Mulai dari survei potensi, sosialisasi di tingkat kecamatan dan desa, pelatihan storyline untuk mendapatkan cerita dan sejarah menarik tentang desa, pelatihan pemandu lokal, pelatihan kuliner, pelatihan manajemen pengelolaan ekowisata, hingga mengajak warga melakukan study banding ke Desa Tenganan.

“Keterlibatan warga desa sangat penting dalam ekowisata yang dikembangkan JED. Karena sejatinya pariwisata seharusnya menguntungkan mereka,” jelas Dega Erlangga selaku Manajer JED. Ini terlihat jelas dalam uji coba yang dilangsungkan.

Saat peserta uji coba menuruni satu persatu tangga di mata air Guyangan, dengan sabar Pak Kadek yang juga sekaligus Kepala Dusun Batukandik II, menemani peserta sembari bercerita tentang sejarah dan keunikan mata air terbesar (212 liter/dt) di Nusa Penida ini. Medan yang terjal memang dirasa menantang, tapi cerita dan pesona keindahan mata air membuat lelah peserta dibayar tuntas.

Demikian juga saat peserta melanjutkan perjalanan menyusuri Banjar Semaya yang terkenal dengan rumput lautnya. Diah salah satu anggota Sekehe Teruna Teruni (organisasi kepemudaan di tingkat banjar), dengan sigap menerangkan tentang bagaimana rumput laut selama puluhan tahun telah menghidupi desanya. Tangannya terlihat tangkas mempraktekan keseharian dia dan teman-temannya membantu orang tua mengikat rumput laut.

“Dari rumput laut kami bisa sekolah,” jelasnya bangga.

Petani rumput laut di Desa Semaya, Nusa Penida. Foto Bayu Saputra.

Malam menjelang. Tampak beberapa penari mulai bersiap. Perangkat gamelan sederhana juga sudah nampak diatas panggung. Anak-anak yang akan memainkan gamelan terlihat begitu antusias. Di sebuah sudut, nampak beberapa ibu-ibu yang tinggal di wilayah sekitar Umah Melajah Bukit Keker tidak sabar menunggu pementasan.

“Ini pertama kali saya akan menonton suami saya pentas di luar pura. Dia jarang sekali menghibur saya. Saya juga ingin terhibur, sebagaimana tamu yang kesini juga mendapatkan hiburan ini,” ungkap istri Bli Wayan dengan tersenyum. Pementasan Bondres dengan lakon sederhana yakni tentang kehidupan di Umah Melajah Bukit Keker berlangsung begitu cair dan penuh canda.

Interaksi antara penari, peserta uji coba dan ibu-ibu, membuat batasan antara tamu dan tuan rumah menjadi tidak terasa. Begitu akrab, walau dalam tempo singkat.

Menurut Wayan Karta, Ketua Yayasan Taksu Tridatu inilah alasan mereka mengembangkan seni budaya di sini, karena kita hidup di dalamnya. Yayasan ini pun mengajarkan anak-anak menari, membaca lontar, membuat kerajinan tangan dari material lokal, mengajar tentang budaya bersih, pengelolaan lingkungan, agar kebudayaan ini terus menghidupi.

“Walaupun tanpa pariwisata, seperti di musim pandemi ini,” kata Wayan Karta yang juga salah satu penari dan telah mendedikasikan lahan keluarganya untuk membangun Umah Melajah.

Perempuan membuat kain khas Nusa Penida. Foto Bayu Saputra.

Menggugah Selera

JED melakukan uji coba tour Ekowisata Nusa Penida ini selama dua hari satu malam. Esok harinya, pagi masih belum menampakan cahayanya, saat peserta menembus kabut perbukitan Desa Tanglad menuju pantai Atuh.

Menyaksikan terbitnya matahari di salah satu pantai ikonik ini tentu menjadi sebuah pengalaman yang susah terlupakan. Ketakjuban peserta akan pesona keindahan buah tangan Sang Pencipta, berbanding lurus dengan ketertarikan peserta saat melihat proses pembuatan kain Cepuk dan Rangrang yang dihasilkan oleh masyarakat di Desa Tanglad. Desa dengan ketinggian 460 m diatas permukaan laut ini, terkenal dengan produksi kain tradisional tersebut secara turun temurun.

“Kain-kain ini bukan hanya berfungsi sebagai pakaian bagi kami, tapi memiliki makna mendalam dalam ritual upacara yang kami lakukan. Misalnya kain Cepuk motif Mekawis ini yang khusus digunakan untuk membungkus tulang dalam upacara kematian, serta kain motif Sudamala yang berwarna hitam putih ini, khusus digunakan saat melukat (ritual meruwat diri),” jelas Pak Alit, Bendesa Adat Tanglad kepada para peserta.

Ilmu pengetahuan lokal yang diceritakan masing-masing desa adalah salah satu daya tarik dalam ekowisata desa. “Pariwisata seharusnya bukan hanya tentang selfie, tapi juga tentang tukar menukar nilai kehidupan yang hadir karena kecintaan akan wisata itu sendiri. Bukankah kita berwisata karena ingin mencari pengalaman berbeda bagi seluruh indra kita dan untuk mendapatkan pengetahuan yang baru?” jelas Siska.

“Bagi kami di JED, setiap desa atau komunitas pasti memiliki keunikan tersendiri yang bisa jadi potensi yang layak untuk disuguhkan, baik dari segi alamnya, produknya bahkan hingga makanannya. JED selalu berusaha menghadirkan makanan-makanan lokal untuk suguhan bagi para tamu lho!” jelas Siska bersemangat.

Di Desa Batumadeg yang menjadi destinasi berikutnya, sudah nampak deretan sajian makanan menggugah selera. “Di sini kami akan menyuguhkan sop ikan tongkol bumbu khas desa kami, sayur urap daun papaya, sambal kecombrang hingga ayam kampung betutu, dengan minuman dari kayu Cang yang segar nan hangat,” jelas Ibu Setiawati mempresentasikan makanan hasil masakannya bersama ibu-ibu yang lain.

Peserta nampak mondar mandir menambah makanan dengan antusias. Beberapa bahkan sampai memesan sambal kecombrang untuk dibawa pulang. “Enak sekali sambalnya!” puji Megumi Maeda, seorang wartawan asal Jepang dari API Magazine yang ikut menjadi salah satu peserta uji coba.

“Saya suka sop kuah ikannya,” puji Guna Warma, salah satu musisi lokal peserta uji coba ini.

“Makan siang kemarin juga enak, apalagi pembungkusnya terbuat dari daun pisang. Enak bagi perut dan lingkungan,” jelas Christopher, seorang website designer yang juga ikut dalam program ini.

Pariwisata massal yang menjadi industri di Bali, sudah banyak diketahui bukan hanya membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga peningkatan signifikan pada jumlah sampah yang dihasilkan. “JED berusaha meminimalisir produksi sampah dari praktek wisata yang dilakukan. Selain mengemas makanan dengan pembungkus alami, kami selalu menyarankan para wisatawan untuk membawa botol minum sendiri yang bisa dipakai berulang kali. Kami menyediakan air dalam galon di dalam kendaraan yang mereka gunakan,” jelas Siska lagi.

Kesejukan hutan dan beningnya air di kolam alami Temeling adalah penuntas rangkaian uji coba Tour Ekowisata Nusa Penida ini. Dalam salah satu versi cerita masyarakat setempat, Temeling berasal dari dua kata yakni tamba yang berarti penyembuh, serta eling bisa dimaknai sebagai sadar. Mata air ini dipercaya sebagai penyembuh bagi mereka yang mengidap penyakit tertentu, serta membuat mereka kembali sadar untuk selalu menghargai kehidupan.

Demikian juga dengan pariwisata yang beberapa tahun terakhir ini menjadikan Nusa Penida sebagai primadona baru. Dia bisa dianggap menyembuhkan akan potensi Nusa Penida yang dulunya lebih sering diabaikan, namun juga harus diikuti kesadaran untuk menjaga dan melestarikan potensi-potensi tersebut.

“Tour ini membuat saya belajar bahwa banyak yang unik di desa yang mungkin dianggap remeh. Tapi saat yang bersamaan saya juga menyadari hal tersebut bukan semata untuk dijual, tapi untuk dilestarikan,” ucap Juni, seorang pewarta warga saat hendak menaiki boat yang akan membawanya pulang. [b]

Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda