Terwujudnya Masyarakat Desa Horuo yang Mandiri Pangan melalui Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, dan Kelautan yang Berkelanjutan

Terwujudnya Masyarakat Desa Horuo yang Mandiri Pangan melalui Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, dan Kelautan yang Berkelanjutan

Objective 1
Dijaga dan di tingkatkannya wilayah tutupan hutan lindung, hutan adat, hutan mangrove, dan wilayah laut yang strategis, dan peningkatan praktik praktik pemanfaatan  sumber daya yang berkelanjutan.

Foto 1. Monitoring hasil tangkapan nelayan untuk dua spesias komersial ( Gurita dan Teripang) kegiatan monitoring dilakukan ke kordinator Nelayan untuk mengetahui perbedaan setiap masing-masing jumlah hasil tangkapan nelayan dari masa dulu dan sekarang.

Foto 3. Musyawarah desa untuk kesepakatan wilayah perlindungan ikan. Kegiatan ini menentukan utusan yang akan mewakili Desa Horuo ke pertemuan musyawarah  bersama antara Desa Mantigola dan horuo tentang penetapan lokasi, konsep dan aturan wilayah lokasi perlindungan ikan, pemetaan Lokasi dan pemasangan tanda (Marka) di wilayah perlindungan ikan di karang kaledupa.

Foto 2.  Penanaman pohon mangrove sebanyak 5.500 pohon telah berhasil di tanam kegiatan merupakan program Balai Taman Nasional dan keterlibatan kelompok Yanmar yaitu mendukung program balai taman nasional dari segi mensosialisasikan dan mengajak masyarakat terlibat dalam penanaman.

Foto 4. Praktek pembuatan tungku hemat kayu bakar di desa horuo dengan tujuan untuk mengurangi tekanan terhadap mangrove karena pengambilan kayu bakar.

Objective 2
Meningkatnya ketahanan masyarakat melalui kegiatan perikanan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Foto 5. Identifikasi dan Pendokumentasian Alat tangkap, Cara Penangkapan dan Lokasi Tangkapan . Jaring adalah salah satu alat tangkap ramah lingkungan yang digunakan oleh nelayan di Desa Horuo.

Foto 6. Diskusi bersama kelompok Remaja Desa Horuo  tentang jenis alat tangkapan dan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Kegiatan ini dilakukan  untuk memberikan pengetahuan,  pemahaman dan transfer ilmu kepada generasi muda Horuo tentang jenis alat tangkap dan cara penggunaan alat tangkap ramah lingkungan.

Objective 3
Meningkatnya pengetahuan dan terobosan di bidang perikanan untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan masyarakat melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki kompetensi terkait, dan revitalisasi pengetahuan lokal tentang pengelolaan sumberdaya alam.

Foto 7. Praktek Penangkapan Ikan Yang Ramah Lingkungan Kepada Kelompok Pemuda Desa Horuo. Kegiatan ini dilakukan untuk mengenal kembali alat tangkap yang ramah lingkungan di kelompok pemuda desa horuo laut agar masyarakat Horuo tidak melakukan praktek penangkapan ikan yang merusak misalnya dengan menggunakan bom atau pukat harimau.

Foto 8. Pelatihan kelompok nelayan tentang penangan perikanan pasca tangkap. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan peningkatan kapasitas kelompok nelayan dalam penanganan hasil tangkapan ikan sehingga dari segi ekonomi harga jual relatif tinggi.

Objective 4
Menguatnya peran kelembagaan lokal untuk pengambilan keputusan partisipatif  yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Foto 9. Kordinasi dengan Kepala Desa Horuo untuk Mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat tercantum dalam dokumen perencanaan pembangunan desa.

Foto 10. Diskusi rutin antar lembaga lokal dan stakelokal kunci setiap bulan nya mengenai upaya-upaya pelestarian lingkungan dan kesejahtraan masyarakat.

CAPAIAN KEGIATAN PROGRAM

  • Ditetapkannya secara bersama-sama oleh nelayan Mantigola dan Horuo dan para pemangku kepentingan lainya untuk sebuah wilayah perlindungan lokasi tangkapan di karang kaledupa dengan luasan 2.162 ha, telah dipetakan, di sosialisasikan beserta model dan konsep perlindungannya yang dimuat dalam satu nota kesepakatan bersama.
  • Terlaksananya Penanaman pohon mangrove sebanyak 5.500 pohon telah berhasil di tanam.
  • Teridentifikasinya  4 Jenis alat tangkap dan cara penggunaan yang biasa dipakai oleh nelayan desa Horuo Laut.
  • Terlaksananya kegiatan Monitoring hasil tangkapan nelayan untuk dua spesias komersial ( Gurita dan Teripang).
  • Ditetapkannya secara bersama-sama oleh kelompok Yanmar, nelayan, Balai Taman Nasional dan para pemangku kepentingan lainya untuk melakukan identifikasi tempat pemijahan ikan di bagian wilayah perkampungan desa horuo dengan luasan,  1 ha ekuivalen telah di sosialisasikan beserta model dan konsep perlindungannya.
  • Terlaksananya diskusi rutin mingguan dengan 30 orang remaja desa Horuo terdiri dari 15 orang perempuan dan 15 orang laki-laki tentang  Jenis Alat Tangkap dan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan
  • Terealisasinya 2 kegiatan program kelompok yanmar dalam penetapan RKP Desa Horuo untuk tahun 2020 yaitu Tungku hemat kayu bakar dan Pengadaan coolbox.
  • Terlaksananya pelatihan pembuatan tungku hemat kayu bakar dengang jumlah tungku yang dihasilakn sebanyak  30 tungku dan masih digunakan sampai sekarang.
  • Teridentifikasinya 5 lembaga lokal dan 20 orang Stakeholder kunci berbasis masyarakat yang berpotensi dalam mengelola sumberdaya alam laut desa Horuo.
  • Terlaksananya diskusi rutin antar lembaga lokal dan stakelokal kunci setiap bulan nya mengenai upaya-upaya pelestarian lingkungan dan kesejahtraan masyarakat Kegiatan ini dilaksanakan selama 8 kali Pertemuan setiap hari Rabu dengan hari sabtu yang terdiri dari 9  orang laki-laki dan perempuan sebanyak 2 orang.


DAMPAK PROGRAM

Dampak positif

  • Masyarakat merasa dihargai dalam kegiatan pertemuan maupun pelatihan dalam program kelompok Yanmar.
  • Adanya keberlanjutan kegiatan pelestarian sumber daya alam yang dimuat dalam dokumen perencanaan desa Horuo (RPJM Desa).
  • Meningkatkan pengetahuan kapasitas kelompok nelayan terhadap pengelolaan hasil tangkap nelayan
  • Lestarinya kembali hutan yang ada di desa Horuo.
  • Adanya perubahan prilaku masyarakat untuk melakukan praktek-praktek penangkapan ikan yang berkelanjutan.
  • Masyarakat desa Mantigola dan horuo berpartisipasi secara sukarela untuk melakukan pengawasan wilayah perlindungan lokasi tangkapan.
  • Adanya dukungan dari BTNW, Sara barata, UPTD Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Wakatobi serta Pemerintah Kecamatan dan Desa.
  • Lembaga pendidikan untuk tertatik menggunakan modul pembelajaran penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan.
  • Dengan adanya tungku hemat kayu bakar yang digunakan oleh masyarakat dapat mengurangi tekanan pengambilan kayu mangrove.
  • Adanya dukungan dari pemdes terkait pelatihan pengolahan buah mangrove menjadi bahan produk.
  • Diskusi dengan lembaga lokal dan masyarakat melahirkan konsep pengelolaan hutan mangrove dengan sistim tanam dan tebang pilih.
  • Meningkatkan pengetahuan kapasitas kelompok nelayan terhadap pengelolaan hasil tangkap nelayan.

Dampak negatif

  • Ketika melakukan kegiatan musyawarah dan diskusi  masyarakat sering menanyakan uang saku.
  • Masyarakat beranggapan bahwa Daerah Perlindungan Laut (DPL) dianggap seperti Zonasi oleh masyarakat yang dapt melarang nelayan melakukan aktifitas dan dianggap akan membatasi ruang gerak nelayan.
  • Pelaksana program dituduh sebagai mata-mata BTNW yang setiap saat akan melaporkan nelayan.
  • Kegiatan Program sering ditanggapi untuk melarang mata pencaharian masyarakat.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 11.  Pelatihan Pengelohan Buah Mangrove Menjadi Bahan Makanan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatakan pemahaman danpengetahuan kelompok perempuan dalam pengolahan Buah bakau jenis selo yang diolah dalam bentuk Kerupuk, sehingga dapat meningkatkan pendapatan pengolahan produk makanan mangrove di desa Horuo Laut.

Foto 12. Transfer pengetahuan tentang penangkapan ikan yang ramah lingkungan kepada siswa SMP atau sederajat di desa Mantigola  melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah dalam bentuk praktek penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

KEBERLANJUTAN PROGRAM

  • Lokasi perlindungan wilayah tangkapan ikan bersama nelayan Mantigola dan Horuo di dorong menjadi PKS, melalui kerja sama Nelayan, Sara Barata, pemerintah kecamatan dan BTNW.
  • Di jadikannya Modul pembelajaran penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal.
  • Selain nelayan yang secara partisipasi melakukan pengawasan dan perlindungan lokasi tangkapan secara kelembagaan akan di bantu oleh Forum Nelayan mantigola dan Horuo (program kerja perlindungan dan pengawasan SDA) serta BTNW.
  • Lokasi Penanaman mangrove bersama masyarakat horuo dan mantigola melakukan kerjasama dengan BTNW, forum kemitraan nelayan mantigola dijadikan sebagai pengawasan bersama.
  • Termuatnya program kelompok nelayan mandiri dalam perencanaan desa (RKPDes 2020) yaitu pembuatan tungku hemat kayu bakar dan  pengadaan coolbox.
  • Lokasi tempat pemijahan ikan bersama nelayan  mantigola dan horuo, KUN, BTNW dan Forum kemitraan nelayan mantigola dilakukan pengawasan bersama.