Tahun 2023 Desa Pajam Menjadi Desa Mandiri Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Outcome 1 :

Tersedianya kebun yang berisi tanaman kapas  dan sumber pewarna alami  untuk usaha tenun masyarakat  (desa Pajam Kaledupa Selatan).

Foto 1: Kegiatan pembersihan lahan untuk tempat penanaman kapas dan pewarna alami (Oktober 2018).

Foto 3: Kegiatan penanaman kapas dan pewarna alami yang dilakukan oleh kedua kelompok penenun yaitu Kelompok Pangilia dan Djalima Desa Pajam (November 2018).

Foto 2: kegiatan penyemaian kapas yang dilakukan oleh kelomppok penenun desa Pajam  (November 2018).

Foto 4: kegiatan pemanenan kapas yang dilakukan oleh kelompok penenun  (Juni 2019).

Outcome 2 :

Adanya wilayah hutan yang dilindungi bersama untuk ketersediaan sumber air bersih di Desa Pajam.

Foto 5: Kegiatan pembibitan pohon keras yang dilakukan oleh masyarakat untuk ditanam di sekitar mata air te’e wufu (Desember 2019).

Foto 6: Kegiatan penanaman pohon keras yang dilakukan oleh karang taruna desa Pajam bersama mahasiswa UMB Wakatobi untuk menjaga ketahanan debit air te’e wufu (April 2019).

Foto 7: Kegiatan pembuatan tungu hemat kayu bakar yang dilakukan oleh kelompok Pangilia dan Djalima sebagai bukti untuk menekan penebagan pohon disekitar mata air te’e wufu (Oktober 2019).

Outcome 3 :

Meningkatnya ketahanan masyarakat melalui praktik-praktik budidaya pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan,melestarikan variasi tanaman pangan lokal dan pengolahan pasca panen.

Foto 8: Kegiatan worshop yang dilakukan bersama tokoh adat dat seluruh masyarakat untuk  membahas tentang penerapan kembali tradisi dan ritual adat dalam pemanfaatan pangan lokal (Maret 2019).

Foto 9: Kegiatan transfer pengetahuan kepada generasi muda melalui sekolah komunitas (Maret 2019).

Foto 10: Kegiatan pembersihan lahan untuk tempat kebun percontohan (Juli 2019).

Foto 11: Kegiatan kebun percontohan kelompok Panglima (Juli 2019).

Foto 13: Kegiatan  pelatihan pemanfaatan sabuk dan tempurung kelapa yang diikuti oleh generasi muda desa Pajam (Desember 2019).

Foto 12: Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos yang di ikuti oleh kelompok Pangilia dan Djalima (Agustus 2019).

Foto 14: Kegiatan sosialisasi produksi pangan lokal berbasis pertanian ramah lingkungan bersama seluruh masyarakat  desa Pajam (maret 2019).

Outcome 4 :

Meningkatnya pengetahuan dan terobosan dibidang pertanian untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan masyarakat melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki kompetensi terkait, dan revitalisasi pengetahuan lokal tentang pengelolaan sumberdaya alam.

Foto 15: Kegiatan  pelatihan pemandu parawisata yang di ikuti oleh Karang Taruna desa Pajam  (Januari 2020).

Foto 16: Kegiatan  pameran prodak lokal pada Festival Barata Kaledupa  (September 2019).

Foto 17: Kegiatan workshop Mendorong dijadikanya hasil kegiatan program GEF-SGP phase 6  sebagai potensi pariwisata di desa (Oktober 2019).

Outcome 5 :

Menguatnya tata laksana kelembangaan lokal untuk pengambilan keputusan partisipatif dan pengambilan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Foto 18: Kegiatan idetifikasi lembaga lokal yang berpotensi dalam pengelolaan lingkungan (Februari 2019).

Foto 19: Kegiatan lokakarya mendorong lembaga lokal dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan (Mei 2019).

CAPAIAN KEGITAN

Outcome 1

  • Adanya kebun kapas dan  pewarna alami.
  • Meningkatnya  pengetahuan masyarakat mengenai motif  tenun.
  • Adanya pemahaman dan pengetahuan kelompok tenun tentang berbagai macam model prodak dari tenun.
  • Adanya dokumentasi tanaman kapas dan pewarna alami (delima, kunyit, indigo, kulit nangka, kulit mangrove, batang kayu jawa, mengkudu, kulit kelapa muda) serta proses pengolahan.

Outcome 2

  • Adanya Kesepakatan mengenai wilayah yang dilindungi bersama untuk jaminan ketersediaan air bersih di Desa Pajam Kecamatan Kaledupa Selatan.
  • Tertanamnya 1000 bibit pohon keras disekitar mata air te`e wuwu.
  • Adanya  32 tungku hemat kayu bakar  yang dihasilkan pada saat pelatihan.

Outcome 3

  • Terjaminnya  keberlanjutan jenis-jenis tanaman pangan lokal di Desa Pajam.
  • Adanya modul pangan lokal yang akan ditrasferkan kepada generasi muda Desa Pajam melalui sekolah komunitas.
  • Adanya  pengadaan demplot (kebun percontohan).

Outcome 4

  • Adanya pemahaman dan pengetahuan  generasi muda  yang terlatih dalam pengelolaan sumber daya alam.
  • Terlaksananya pameran prodak pertanian, budaya  lokal dan produk kerajinan dari tenun pada Festival Barata Kaledupa.

Outcome 5

  • Adanya lembaga lokal berbasis masyarakat yang berperan dalam mengelola sumber daya alam diantaranya: BPD, LPM, KARANG TARUNA, PKK, LEMBAGA ADAT, PEMDES, KELOMPOK TANI Dan PANGLIMA (DJALIMA PANGILIA). 
  • Terjalinnya  kerja sama degan pemerintah desa dalam hal perencanaan  pembagunan di desa. 
  • Adanya kesepakatan Pemdes dan Lembaga Lokal  untuk melestarikan lingkuangan.
  • Adanya keberpihakan pemerintah desa untuk Memberikan pemberdayaan demi kesejahteraan masyarakat.

DAMPAK KEGIATAN

Outcome 1

  • Adanya tanaman kapas dan kebun pewarna alami yang telah ditanam oleh kelompok penenun di desa Pajam, selain itu masyarakat mulai menanam kapas di pekarangan rumahnya dan ada juga masyarakat menanam di kebunnya.
  • Masyarakat mulai membuat beraneka ragam kerajinan dari tenunan.
  • Tanaman kapas  dapat tumbuh di tanah yang struktur tanahnya gembur dan membutuhkan perawatan khusus yang nantinya dapat menjamin ketersediaan bahan baku tenunan.

Outcome 2

  • Adanya masyarakat yang menyumbangkan lahannya 5 Ha untuk di tanami  pohon keras di sekitar mata air te,e wufu.
  • Tertanamnya pohon di sekitar mata air dapat menjamin ketahanan debit air di sumur te’e wufu.
  • Tanaman yang di tanam di sekitar mata air te,e wufu merupakan tanaman yang dapat menyipan cadangan air.
  • Dampak posiif adanya kesadaran masyarakat untuk menanam, menjaga dan melestarikan tanaman yang telah di tanam di lokasi sumber mata air te,e wufu dampak negatif adalah adanya tanaman yang telah di tanam di sekitar mata air di pindahkan ke kebun warga.
  • Dampak positif adanya pemahaman masyarakat tentang pembuatan tungku hemat kayu bakar,dampak negatif tungku yang telah di buat tidak bertahan lama.
  • Dengan adanya tungku hemat kayu bakar  Masyarakat dapat menghemat penggunaan kayu dengan perbandingan 3 potong kayu dapat menghasilkan 3 kasoami sementara dapur biasa tiga potong kayu tidak bisa menghasilkan 1 kasoami.

Outcome 3

  • Dampak positif :akan ada modul pangan lokal yang akan di tranferkan kepada generasi muda melalui sekolah-sekolah yang ada di desa pajam. Dampak negatif : banyak generasi muda yang belum mengenal jenis,budidaya, danpengolahan pangan pangan lokal.
  • Adanya pemahaman generasi muda tentang jenis-jenis ,budidaya,dan pengolahan pangan lokal.
  • Generasi muda mulai melakukan pertanian  ramah lingkungan dengan pembibitan kapas yang menggunakan pupuk kompos.
  • Generasi muda mulai melakukan  pertaniaan ramah lingkunggan dengan menanam berbagai jenis panggan lokal.
  • Bibit kapas yang menggunakan pupuk kompos lebih subur di bandingkan kapas yang tidak mengunakan pupuk.
  • Adanya 2 orang generasi muda yang setelah pasca pelatihan mulai mencoba membuat kerajianan dari tempurung,dan sekaligus menginformasikannya keteman-teman sejawatnya untuk terus memproduksinya.
  • Adanya kesadaran masyarakat bahwa limbah organik bisa menjadi pupuk.
  • Adanya perubahan cara pandang masyarakat tentang lahan yang tidak produktif dapat di gunakan degan sistim pertanian ramah lingkungan.
  • Adanya pola pemikiran masyarakat tentang  hasil pertanian ramah lingkungan lebih subur di bandingkan dengan pertanian biasa.

Outcome 4

  • Adanya pemahaman generasi muda tentang  dasar dan tehnik pemandu wisata.
  • Masyarakat sangat  antusias dalam mengikuti kegiatan Festiwal Barata Kaledupa.
  • Adanya keuntungan yang di dapat dari kegiatan Festival Barata Kaledupa  dalam hal penjualan hasil tenunan dan kerajinan. 

Outcome 5

  • Lembaga lokal mulai berperan aktif dalam pengambilan keputusan serta kebiljakan  dalam perencanaan pembangunan di Desa.

Hambatan dan Penanganan :

Outcome 1

  • HAMBATAN: Banyaknya masyarakat yang tidak hadir dalam kegiatan musyawarah.
    PENANGANAN: Meminta kepada seluruh masyarakat yang hadir  untuk menginformasikan hasil musyawarah yang telah di putuskan.
  • HAMBATAN:  Kurangnya tanaman kapas yang ada di Desa Pajam.
    PENAGANAN:  Melakukan identifikasi ke desa-desa tetangga.
  • HAMBATAN:   Sulitnya mencari lahan untuk tempat penanaman kapas dan pewarna alami.
    PENAGANAN:  Melakukan diskusi dengan kedua kelompok  tentang pentignya tanaman kapas dan pewarna alami unuk kebutuhan penenun.
  • HAMBATAN:   Banyaknya biji kapas yang gagal tumbuh akibat di tanam  secara langsung dan ditanah yang berbatuan.
    PENAGANAN: Melakukan penyemaian biji terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman dan melakukan penanaman di tanah yang gembur.
  • HAMBATAN: Sulitnya mencari pelatih.
    PENAGANAN: Melakukan koordinasi dengan berbagai pihak utamanaya tim host (Forkani) untuk membantu kami dalam mencarikan pelatih diversifikasi produk.  

Outcome 2

  • HAMBATAN: Adanya masyarakat yang tidak merelahkan tanahnya ditanami pohon keras. 
    PENAGANAN: Memberikan penyadaran dan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya penanaman  pohon di sekitar mata air.
  • HAMBATAN: Banyaknya masyarakat yang tidak hadir dalam kegiatan musyawarah.
    PENANGANAN: Meminta kepada seluruh masyarakat yang hadir  untuk menginformasikan hasil musyawarah yang telah di putuskan.
  • HAMBATAN:  Sulitnya mencari bibit yang dapat meyimpan cadangan air.
    PENAGANAN: Mencari bibit  tanaman yang dapat menyimpan cadangan air ke desa-seda tetangga. 
  • HAMBATAN: Banyaknya tanaman yang gagal tumbuh akibat di serang hama dan kemarau panjang.
    PENANGANAN: Melakukan penyulaman kembali kepada setiap tanaman yang gagal tumbuh.
  • HAMBATAN: Banyaknya pohon yang mati dan di serang  oleh hama meski sudah melakukan penyulaman.
    PENAGANAN: Terus menerus melakukan penyulaman.
  • HAMBATAN: Sulitnya mendapatkan pelatih dalam pebuatan tungku.
    PENAGANAN: Melakukan koordinasi  dengan berbagai pihak terutama tim host (Firkani) untuk membatu kami dalam mencari pelatih pembuatan tungkuh.

Outcome 3

  • HAMBATAN: Kurangnya pemahaman kelompok panglima dalam menyusun narasi pendokumentasian tanama pangan lokal.
    PENAGANAN: Terus melakukan penyusunan dan selalu berkoordinasi dan konsultasi dengan tim host.
  • HAMBATAN: Banyaknya masyarakat yang tidak hadir pada kegiatan worshop pangan lokal.
    PENAGANAN: Menyampaikan kepada masyarakat yang hadir agar menginformasikan keputusan yang telah di tetapkan bersama.
  • HAMBATAN: Banyaknya generasi muda yang belum mengenal pangan lokal daerahnya.
    PENAGANAN: Memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang berbagai jenis pangan lokal dan pemanfaatanya melalui sekolah komunitas. 
  • HAMBATAN: Kurangnya pemahaman kelompok tentang bahan-bahan pembuatan pupuk kompos.
    PENAGANAN: Mencari pelatih yang profesional agar memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat dan kelompok tentang pembuatan pupuk kompos.
  • HAMBATAN: Tidak adanya masyarakat yang melakukan kebun percontohan.
    PENAGANAN: Memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat tentang pentingnya pertanian yang tidak berpindah-pindah.
  • HAMBATAN: Kurangya pemahaman dan pengetahuan   masyarakat serta generasi muda dalam memanfaatkan tempurung dan sabuk kelapa.
    PENAGANAN: Mencari pelatih yang profesional agar memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat dan generasi muda tentang pemanfaatan tempurung dan sabuk kelapa.
  • HAMBATAN: Kurangnya masyarakat yang melakukan pertanian ramah lingkungan di sebabkan tidak adanya pengetahuan tentang cara pembuatan pupuk.
    PENAGANAN: Memberikan pemahaman kepada  masyarakat tentang pentingnya pertanian ramah lingkungan yang tidak berpindah-pindah.

Outcome 4

  • HAMBATAN: Kurangnya pemahaman dan pengetahuan generasi muda tentang dasar dan tehnik memandu wisata.
    PENAGANAN: Mencari pelatih yang profesional agar memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada  generasi muda tentangtehnik memandu wisata.
  • HAMBATAN: Kurangnya keterlibatan masyarakat dalam menyiapkan hasil prodak pada kegiatan festival.
    PENAGANAN: Mendorong seluruh masyarakat agar meghasilkan berbagai prodak yang akan di pamerkan pada saat Festival Barata Kaledupa.
  • HAMBATAN: Pemdes  tidak peduli terhadap kegiatan yang kami lakukan
    PENAGANAN: Mendorong kegiatan Gef SGP melalui Musdes. 

Outcome 5

  • HAMBATAN: Kurangnya pemahaman lembaga lokal akan tupoksinya.
    PENAGANAN : memberiakan pemahaman kepada lembaga-lembaga lokal agar tugas dan fungsinya dapat dijalankan.
  • HAMBATAN: Kurangnya peran lembaga lokal dalam perencanaan pembangunan di desa.
    PENAGANAN: Memberikan pemahaman kepada lembaga-lembaga lokal untuk terlibat dalam perencanaan pembagunan di desa.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 20: Kegiatan pemanenan kapas yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi.

Foto 21: Kegiatan transfer pengetahuan pagan lokal kepada generasi muda melalui sekolah komunitas.

KEBERLANJUTAN PROGRAM/KEGIATAN

Outcome 1

  • Adanya penyiapan lahan oleh pemerintah desa untuk penanaman  Kapas dan pewarna alami.
  • Adanya masyarakat yang menanam di pekarangan rumah dan di kebun.
  • Adanya anggota kelompok yang mandiri dalam membuat prodak dari tenunan.

Outcome 2

  • Adanya tanaman yang di pelihara oleh masyarakat di sekitar mata air te’e fufu  untuk menjaga ketahanan debit air  serta.
  • Adanya kesepakatan  dengan pemeritah, pemilik lahan  dan masyarakat adat mengenai pemeliharaan dan pelestaraian tanaman yang ada di sekitar mata air te’e wufu.
  • Pemilik lahan terus melakukan penyulaman meskipun mecari bibit sendiri.
  • Adanya masyarakat yang menanyakan tentang bahan dan tehnik pembuatan tungku hemat kayu bakar.

Outcome 3

  • Adanya modul yang akan di transfer ke sekolah-sekolah dan masyarakat umum.
  • Masyarakat sudah mulai mencari jenis pangan lokal yang dapat dijadikan sebagai persyaratan ritual adat utuk ditanam generasi muda mulai melakukan  pertaniaan ramah lingkunggan dengan menanam berbagai jenis panggan lokal.
  • Generasi muda mengunakan pupuk kompos pada kebun percontohan.
  • Adanya generasi muda yang memanfaatkan tempurung kelapa menjadi sebuah kerajinan.
  • Generasi muda mulai melakukan  pertaniaan ramah lingkunggan dengan menanam berbagai jenis panggan lokal.  

Outcome 4

  • Pelatihan pemandu wisata sudah di masukan di Rkp-Des.
  • Kegiatan Festival Barata Kaledupa sudah menjadi agenda tahunan yang dituangkan oleh pemerintah kabupaten. 
  • Adanya bantuan pengadan lining center dan alat tenunan dari dinas perindustrian Wakatobi.

Outcome 5

  • Adanya  lembaga lokal Bpd yang terlibat langsug dalam perencanaan pembangunan di desa.