Terwujudnya Kemandirian Pangan Masyarakat Wakatobi

Terwujudnya Kemandirian Pangan Masyarakat Wakatobi

FORUM KAHEDUPA TOUDANI

(FORKANI)

INS/SGP/OP6/Y2/STAR/CD/18/008

OBJECTIVE 1.
Melakukan koordinasi dan konsultasi  dengan stakeholder terkait ditingkat kabupaten dan kecamatan tentang rencana pelaksanaan program Membangun Ketahanan Pangan Masyarakat Wakatobi.

Foto 1 : Persiapan Program Koordinasi dan konsultasi tentang program ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat Kabupaten Wakatobi. Kegiatan ini dilakukan pada  8 OPD Kabupaten, 1 instansi vertikal dan 3 NGO Internasional (April 2018).

Foto 2 : Persiapan Program Koordinasi dan konsultasi tentang program ke kecamatan dan Seksi Balai Taman Nasional Wakatobi tiap pulau. Kegiatan ini dilakukan pada  4 pemerintah Kecamatan dan 2 seksi Balai Taman Nasioanl Wakatobi serta Pemangku adat di tiap Pulau (Mei  2018).

OBJECTIVE 2.
Mengidentifikasi Lokasi dan Mitra Pelaksana Program di pulau Kaledupa, Tomia dan Binongko.

Foto 3 : Persiapan Program Identifikasi calon mitra pelaksana. Kegiatan ini dilakukan di 3 pulau dan 6 calon mitra pelaksana (Mei 2018).

Foto 4 : Persiapan Program Identifikasi calon lokasi pelaksanaan program. Kegiatan ini dilakukan di tiga pulau dan di 4 Desa serta 1 Kelurahan  (Mei 2018).

Objective 3.
Pendampingan Lapangan Mitra Pelaksana Program.

Foto 5 : Workshop tentang pelaksanaan program. Kegiatan ini dilakukan di 6 lokasi pelaksanaan program terpilih (Mei 2018).

Foto 6 : Pelatihan pembuatan proposal bagi  6 mitra terpilih. (Mei 2018).

Objective 3.
Pendampingan Lapangan Mitra Pelaksana Program.

Foto 7 : Pendampingan dan penajaman pembuatan proposal kepada 6 mitra di 6 lokasi program (Juni-Juli 2018).

foto 8 : Pelatihan pendokumentasian kepada 6 mitra pelaksana program (September 2018).

Objective 4.
Monitoring dan Evaluasi.

Foto 9 : Pendampingan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program kepada mitra pelaksana kegiatan (Oktober 2018 – Juni 2020).

Foto 10 : Monitoring pelaksanaan kegiatan mitra. Salah satu hasil kegiatan penanaman kapas dan pewarna alami oleh kelompok Panglima (Oktober 2018 – Juni 2020).

Objective 4.
Monitoring dan Evaluasi.

Foto 11 : Monitoring pelaksanaan kegiatan mitra. Wawancara dengan masyarakat penerima program disalah satu lokasi kegiatan, Kelurahan Wali Binongko (Oktober 2018 – Juni 2020).

Foto 12 : Monitoring pelaksanaan kegiatan mitra. Salah satu hasil kegiatan pemanfaatan tungku hemat kayu bakar oleh masyarakat Wali, Binongko  (Oktober 2018 – Juni 2020).

CAPAIAN KEGIATAN

Terlaksananya semua tahapan persiapan pelaksanaan program.

  • Diketahuinya program serta adanya adanya dukungan dari 8  Organisasi Perangkat Daerah kabupaten Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi, 3 NGO Internasional yg ada di Wakatobi.
  • Adanya dukungan dari pemangku adat disetiap pulau sebagai baian dari stake holder terkait dalam pelaksanaan program.
  • Diketahuinya serta adanya dukungan program dari 4 pemerintah kecamatan, 6 kepala desa serta 1 lurah dari lokasi pelaksanaan program.
  • Adanya kemampuan dari 6 mitra pelaksana kegiatan dalam melaksanakan program kegiatan dilokasi masing-masing.

CAPAIAN KEGIATAN

Tahapan pelaksanaan program (hasil kegiatan mitra)

  • Adanya perlindungan wilayah laut ditiga lokasi kegiatan dengan total luasan 52,002 Ha.
  • Terlaksananya kegiatan agro ekologi di 4 lokasi kegiatan. Seluas ± 1,586 Ha tertanami dengan tanaman kapas, pewarna alami tenunan dan sayuran.
  • Terdokumentasikanya pangan lokal dan penangkapan ikan ramah lingkungan di 6 lokasi mitra. Setiap mitra menghasilkan modul yang berisi tentang hasil pendokumentasian pangan lokal dan penagkapan ikan ramah lingkungan.
  • Terlaksananya kegiatan transfer pengetahuan kepada generasi muda dan pelibatan pemuda dalam pelaksanaan kegiatan di 6 lokasi mitra.
  • Adanya wilayah perlindungan hutan dan mata air di 5 lokasi kegiatan dengan total area 11,4 Ha.
  • Tertanamnya 11,900 pohon pada awal penanaman di 5 lokasi kegiatan mitra.
  • Terlaksananya kegiatan energy berupa pembuatan tungku hemat kayu bakar di 6 lokasi kegiatan mitra.
  • 121 orang (85% adalah perempuan) telah dilatih dalam pembuatan tungku hemat kayu bakar dan sebanyak 143 tungku berhasil dibuat  dan digunakan pada awal pelatihan.
  • Terlaksananya kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat di 6 lokasi mitra.
  • Terjalinya kerja sama dengan semua stake holder terkait di 6 lokasi mitra untuk mendukung pelaksanaan kegiatan dan jaminan keberlanjutan kegiatan.

Kegiatan SWPS di desa Pajam, pulau Kaledupa (sementara berjalan).

DAMPAK PROYEK

  • Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Wakatobi menjalin kerja sama dengan Forkani dan mitra GEF-SGP untuk pendokumentasian pangan lokal yang selama ini belum pernah ada di Kabupaten Wakatobi.
  • Balai Taman Nasional Wakatobi, DKP Kabupaten Wakatobi melalui UPTD yang ada di setiap pulau serta kelompok masyarakat melakukan pengawasan bersama terhadap wilayah laut yang dilindungi.
  • Pemerintah Kabupaten Wakatobi, melalui Dinas Perindakop memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk  kelompok penenun di desa Pajam, pulau Kaledupa untuk kegiatan pemanfaatan kembali kapas dan pewarna alami sebagai bahan baku tenunan.
  • Masyarakat dan stake holder  yang ada di keenam lokasi program berpartisipasi dalam melakukan pengawasan dan pemeliharaan terhadap hasil kegiatan, baik itu wilayah perlindungan laut, ataupun pemeliharaan pohon yang ditanam di setiap lokasi mitra (pemangku adat, kelompok masyarakat, Balai Taman Nasional Wakatobi, DKP, pemerintah desa dan kecamatan).
  • Munculnya industri pembuatan serta penyewaan  tungku hemat kayu bakar di kelurahan Wali, Binongko  dan Desa Kulati, Tomia.
  • Peningkatan pendapatan masyarakat dari kegiatan yang telah dlakukan di beberapa lokasi mitra. Misal di Binongko dan Tomia dari indusri pembuatan dan penyewaan tungku serta hasil dari pemanfaatan Bank Ikan serta di desa Pajam, kaledupa dari industri pembuatan kain tenun.
  • Kegiatan pelatihan tungku hemat kayu bakar di Kelurahan Wali, Binongko membawa dampak yang cukup besar terhadap masyarakat Wali maupaun masyarakat di desa tetangga. Sebanyak 400 KK di kelurahan Wali telah menggunakan tungku hemat kayu bakar, baik itu yg mereka buat sendiri ataupun membeli tungku dari luar. Keterampilan membuat tungku hemat kayu bakar juga telah menarik perhatian masyarakat desa Lagongga untuk membuat hal yang sama.
  • Kegiatan penanaman kembali kapas untuk bahan baku tenunan di desa Pajam berhasil merehabilitasi kembali kapas untuk bahan baku tenunan, menjaga stok bibit, menumbuhkan pengetahuan masyarakat tentang cara budi daya kapas serta mengembalikan tradisi menenun dengan menggunakan benang dari kapas dan dan pewarna alami.
  • Kegiatan mitra Panglima (Penanaman kapas dan proses penenunan kapas menjadi kain) menjadi salah satu agenda dalam Festival Tahunan Kabupaten Wakatobi pada tahun 2019 (Festival Barata Kahedupa). Dampak dari kegiatan ini diantaranya Pemda Wakatobi dan masyarakat luas mengetahui kegiatan mitra serta keberadaan dari kapas itu sendiri. Adanya promosi wisata untuk desa Pajam. Adanya dukungan dari Pemda untuk pengembangan kegiatan pengrajin tenun. Masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan  festival memperoleh pendapatan dari hasil penjualan kerajinan tenun mereka.
  • Beberapa sekolah disetiap lokasi kegiatan menjalin kerja sama dengan mitra untuk menggunakan modul tentang pangan lokal dan penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan.
  • Masyarakat di beberapa lokasi kegiatan, menganggap wilayah perlindungan laut sebagai pembatasan bagi mereka dalam mencari nafkah (melaut).

Salah seorang pengrajin tenunan di desa Pajam sedang memanen kapas yang mereka tanam.  Sekarang mereka mulai mempelajari kembali cara memintal benang dari kapas. Untuk pertama kalinya dalam program GEF-SGP kapas ditanam kembali setelah beberapa puluh tahun terakhir sempat hilang. Dan ini pertama kalinya Kapas ditanam dalam satu hamparan.

Hasil diversifikasi tungku hemat kayu bakar oleh ibu-ibu peserta pelatihan di kelurahan Wali Binongko.  Industri rumah tangga muncul dari kegiatan ini. Mereka memproduksi sekaligus menyewakan tungku hasil diversifikasi kepada masyarakat lain untuk digunakan pada acara hajatan.

PENGALAMAN TERBAIK

Perhatian dari pemerintah daerah kabupaten Wakatobi pada kegiatan pelestarian kapas dan pewarna alami sebagai bahan baku tenunan. Dari festival tenun yang diselenggarakan oleh kelompok Panglima, pemerintah kabupaten memberikan bantuan berupa peralatan tenun serta rencana pembangunan learning center di desa Pajam. Selain itu kegiatan festival yang dicetuskan oleh Forkani bersama Panglima akan dijadikan sebagai agenda tahunan kabupaten.

Keberhasilan kelompok Foneb dalam kegiatan pembuatan tungku hemat kayu bakar untuk menekan  jumlah pengambilan kayu di hutan. Pengetahuan yang didapat dari hasil pelatihan ini dimanfaatkan oleh beberapa orang peserta pelatihan sebagai peluang usaha. Selain itu munculnya kesadaran dari masyarakat wali untuk menggunakan tungku hemat kayu bakar menjadikan 400 KK di kelurahan wali menngunakan tungku ini serta menimbulkan dampak ke desa lainya untuk melakukan hal yang sama.

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Kegiatan peletarian kapas dan pewarna alami yang di pamerkan dalam Festival tenunan di desa Pajam menjadi agenda tahunan kabupaten Wakatobi.
  • Kerja sama dengan sekolah-sekolah yang ada di lokasi  kegiatan untuk penggunaan modul / buku sederha tentang pangan lokal dan penangkapan ikan ramah lingkungan.
  • Transfer pengetahuan tentang pangan lokal dan penangkapan ikan ramah lingkungan kepada generasi muda.
  • Daerah perlindungan laut menjadi kegiatan yang dikelola oleh desa bersama masyarakat.
  • Pemeliharaan pohon dan pengelolaanya dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat (pemilik lahan) di tiap lokasi kegiatan.
  • Kerja sama dengan dinas ketahanan pangan kabupaten kabupaten wakatobi dalam pelestarian pangan lokal.
  • Beberapa kegiatan mitra ditiap lokasi didorong dan menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM desa).
  • Kesepakatan yang disusun bersama dengan masyarakat dan stake holder terkait (DKP, taman nasional wakatooi serta pemangku adat)  tentang perlindungan wilayah laut.
  • Kolaborasi multi pihak dalam pelaksanaan kegiatan.

Media dan Publikasi