Terwujudnya Kemandirian Pangan Masyarakat Adat Sarano Wali Pada Tahun 2023

Terwujudnya Kemandirian Pangan Masyarakat Adat Sarano Wali Pada Tahun 2023

Forum Nelayan Binongko (FONEB)

(NO INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/020 )

Outcome 1:
Mengefektifkan Fungsi Kaombo sebagai Sumber Ketahanan Pangan Lokal Masyarakat Wali.

Foto 1: Kegiatan FGD awal dengan Sarano Wali tentang mengefektifkan fungsi Kaombo di kediaman Lakina Wali (Oktober 2019).

Foto 3: Kegiatan pemasangan peta Kaombo di Lokasi Pantai Mbara-mbara dan di 4 wilayah adat Sarano Wali, yakni Kelurahan Wali, Desa Jaya Makmur, Desa Lagongga dan Desa Kampo-Kampo (Mei 2019).

Foto 5: Kegiatan monitoring dan pengawasan bersama Adat Sarano Wali, DKP, Karang Taruna Raja Wali dan masyarakat secara rutin di wilayah Kaombo.

Foto 2: Kegiatan pemetaan/pengambilan titik koordinat Kaombo, baik didarat dan laut (September 2019).

Foto 4: Kegiatan pemasangan marka atau tanda batas wilayah Kaombo (Mei 2019).

Foto 6: Pertemuan Adat Sarano Wali tentang penyusunan model pemanfaatan Kaombo sebagai sumber  ketahanan pangan lokal (ikan) masyarakat Wali dan tentang penyusunan model pemanfaatan Kaombo sebagai sumber  ketahanan pangan lokal (ikan) masyarakat Wali.

Foto 7: Sosialisasi ke masyarakat tentang model pemanfaatan Kaombo sebagai sumber ketahanan pangan lokal (ikan) masyarakat Wali, yakni Kelurahan Wali, Desa Jaya Makmur, Desa Lagongga, dan Desa Kampo-Kampo.

Outcome 2:
Ketersediaan Hutan sebagai Daerah Resapan Air  di Wilayah Adat Wali.

Foto 8: Kegiatan identifikasi lokasi potensial dan daya dukung mata air bersih serta pemilik lahan.

Foto 9: Kegiatan FGD kesepakatan dan operasional perlindungan tanaman disekitar mata air untuk jaminan ketersediaan air bersih di Kantor Desa Lagongga.

Foto 10: Kegiatan penanaman 1000 pohon lokal di sumber mata air Tombu-tombu dengan melibatkan Pemdes Lagongga, BPD Lagongga, anggota Pramuka, Nusantara Sehat, Babinsa, tokoh agama, anggota karang taruna, dan masyarakat.

 Foto 11: Kegiatan pembuatan tungku hemat kayu bakar melibatkan masyarakat, kelompok Suka Maju dan ibu PKK.

Outcome 3:
Meningkatnya ketahanan pangan masyarakat melalui praktik-praktik budidaya pertanian dan perikanan yang lebih baik dan berkelanjutan serta melestarikan variasi tanaman lokal.

Foto 12: Kegiatan identifikasi dan pendokumentasian jenis budidaya dan tanaman pangan lokal utama (umbi-umbian dan jagung serta pemanfaatanya).

Foto 14: Kegiatan mendorong sekolah melakukan transfer pengetahuan tentang pengelolaan jenis dan budidaya tanaman pangan lokal melalui pembelajaran luar sekolah.

Foto 16: Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organic turut melibatkan ibu Lakina Wali, PKK, Kelompok Suka Maju, dan masyarakat.

Foto 13: Penyusunan modul sederhana tentang jenis, cara pengelolaan dan budidaya tanaman lokal serta teknologi yang digunakan oleh masyarakat wali dalam bidang pertanian.

Foto 15: Kegiatan mendorong PKK menjadi narasumber dalam penyebarluasan pengetahuan jenis dan ciri umbi-umbian.

Foto 17: Kegiatan pengadaan Demplot (Kebun percontohan) tanaman pangan lokal berbasis pertanian ramah lingkungan.

CAPAIAN KEGIATAN

  • Adanya kesepahaman bersama untuk mengefektifkan fungsi Kaombo.
  • Adanya data dan informasi tentang titik koordinat Kaombo  dan diketahuinya luas kawasan Kaombo.
  • Terpasangnya 6 buah tanda batas Kaombo.
  • Terlaksananya monitoring dan  pengawasan bersama untuk Wiayah pesisir Binongko dan Kaombo.
  • Adanya dokumen tentang model pemanfaatan kaombo berupa Perbup.
  • Adanya jaminan dari Pemerintah Desa Lagongga untuk memjaga tanaman yang di tanam di kawasan sumber air bersih.
  • Tertanamnya 1000 pohon lokal di kawasan sumber mata air bersih.
  • Adanya 30 tungku yang di bagi kemasyarakat setelah pelatihan  pelatihan.
  • Sebanyak 400 KK telah menggunakan tungku hemat kayu bakar.
  • Tercetaknya module pangan lokal dan alat tangkap tradisional sebagai bahan bacaan.
  • Terlaksananya kegiatan PKK sebagai narasumber dan penyebarluasan pengetahuan jenis pangan lokal.
  • Terlaksananya penggadan Demplot (Kebun percontohan).

DAMPAK

Positif:

  • Kaombo sudah mulai dikenal oleh para pihak terutama masyarakat lokal Pulau Binongko.
  • Kaombo sebagai tempat pemijahan ikan dan biota lainnya.
  • Hasil tangkapan nelayan meninggkat.
  • Terumbu karang sehat dan ikan melimpah.
  • Adanya 2 kelompok masyarakat yang membuat tungku secara mandiri  untuk disewakan diacara hajatan.
  • Adanya transfer ilmu pembuatan tungku oleh kelompok masyarakat kepada masyarakat Desa Lagongga.
  • Masyarakat sudah memahami akan pentingnya menjaga kondisi alam dan pohon.
  • Masyarakat sudah memiliki inisiatif sendiri untuk menanam pohon di sekitar kawasan mata air tombu-tombu.
  • Anak-anak memperoleh pengetahuan baru tentang manfaat menanam pohon.
  • Munculnya kesadaran masarakat untuk menggunakan pupuk berbahan lokal.
  • Masyarakat sudah merasakan dampak pertanian yang berbasis ramah lingkungan.
  • Masyarakat sudah memproduksi pangan lokal sendiri yang  berbasis pertanian ramah lingkungan dan telah memasarkan hasil produksi pertanian.

Negatif:

  • Masih ada nelayan luar Pulau Binongko yang belum mengetahui informasi Kaombo.
  • Ada 3 masyarakat yang memiliki lahan kebun disekitarnya tidak diperbolehkan berlabuh di kawasan Kaombo, sehingga menimbulkan polemik dimasyarakat.
  • Masyarakat belum sepenuhnya menggunakan pupuk buatan organik, karena sudah terbiasa menggunakan pupuk buatan pabrik yang menurut praktis.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 18: Kegiatan penanaman 1.000 pohon dikawasan area sumber mata air Tombu-tombu.

Foto 19: Kegiatan pembuatan tungku hemat kayu bakar.

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Pihak Adat Sarano Wali melakukan musyawarah bersama masyarakat.
  • Pembuatan pos jaga wilayah Kaombo dan adanya dukungan pemerintah berupa.
  • Penyelenggaraan kegiatan festival panen Kaombo.
  • Adanya penanaman 1000 pohon Kaudawa di kawasan sumber mata air Tombu-Tombu oleh masyarakat Lagongga bersama organisasi Karang Taruna Desa Lagongga.
  • Adanya penyulaman sebanyak 100 pohon lokal yang dilakukan oleh Foneb.
  • Adanya dukungan dari pemerintah kelurahan untuk dimasukan dalam RKP Kelurahan.
  • Berkurangnya pemakaian kayu bakar pada saat setiap hajatan.
  • Berkurangnya asap pada saat ibu-ibu memasakan pada saat hajatan dan mudah diangkat pada saat hujan.
  • Di Desa Lagongga dan Desa Jaya Makmur sudah di masukkan dalam RKP Desa.
  • Ada dua sekolah ( SDN1 dan SDN 2 Wali ) meminta Modul untuk dijadikan bahan ajar.
  • Sudah masuk dalam agenda program PKK Kelurahan Wali.  Adanya kerja sama yang baik untuk mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan.
  • Sudah masuk dalam agenda program PKK Kelurahan Wali.

Media dan Publikasi