Pengembangan Ekowisata di Desa Uiasa

Pengembangan Ekowisata di Desa Uiasa

1. Literasi Kampung dan Pelatihan Bahasa Inggris Sederhana untuk Anak-Remaja.

Foto 1 & Foto 2. Kelas literasi ini dilaksanakan bergantian di rumah anak-anak. Mereka sendiri yang memilih secara aklamatif di rumah siapa lagi pertemuan berikutnya digelar. Jumlah peserta semakin hari makin bertambah. Tingkat kehadiran dan keaktifan di tiap pertemuan selalu dinominasi oleh anak perempuan. Setelah sebulan berjalan, lokasi pertemuan diselingi dengan mengambil tempat di luar ruangan yang suasana dan situasi sekitarnya memungkinkan untuk dijadikan tempat belajar.

Foto 3 & Foto 4. Dua lokasi outdoor favorit sebagai tempat belajar bersama anak-anak yakni di pinggir pantai dinaungi dua pohon asam besar dan di sekitaran area Kolam Uiasa (mata air besar) yang diteduhi oleh pepohonan rindang. Dua lokasi utama ini, yang sudah cukup dikenal sebagai ikon desa Uiasa dan berpotensi besar sebagai destinasi wisata, yang kami jadikan titik masuk awal materi-materi literasi kampung. Dilanjutkan kemudian dengan mengakrabi potensi desa lainnya yang bersumber dari adat dan kebudayaan lokal. Kegiatan belajar bersama ini juga akan diakhiri dengan kegiatan pemebersihan pantai.

2. Bak Sampah Instalatif.

Foto 5 & Foto 6. Kami mencoba merespon masalah sampah di pantai dengan membangun dua patung instalasi yang menyerupai ikan laut secara karikatural. Kerangka patung ini terbuat dari bahan lokal, gabungan kayu dan bambu kemudian bagian luarnya dibungkus dengan jaring. Bagian dalamnya nanti diisi sampah-sampah plastik yang ringan seperti tas kresek, sedotan, dan semacamnya sehingga bila dipandang dari luar orang akan langsung berpikir bahwa ikan ini makanannya sampah. Patung ini bentuk dari kampanye kepada warga dan merangsang partisipasi warga untuk memungut sampah pesisir, pemerintahan desa, dan orang-orang yang datang ke pantai ini sekaligus berfungsi sebagai penghias pantai.

3. Survey Kondisi Terumbu Karang

Foto 7 & Foto 8. Survey kualitas tutupan dan sebaran terumbu karang ini dilakukan oleh tim peneliti dari Fak. Perikanan dan Kelautan Undana, di wilayah perairan yang berhadapan dengan desa Uiasa (zonasi) pada 2 kwadaran sampel, pada kedalaman air saat pasang naik mencapai 20an meter. Kesimpulannya mengatakan bahwa kualitas terumbu karang di bentang wilayah ini masih cukup baik dan massif. Tetapi agak berbeda dengan kesaksian para nelayan tangkap di Uiasa, yang kebanyakan menggunakan cara memanah sambil menyelam. Menurut mereka di kedalaman yang lebih dangkal lagi kualitas terumbu karangnya sangat memprihatinkan. Opini ini jadi kuat karena selain telah sering melihatnya sendiri, juga karena di area yang lebih dangkal itulah yang menjadi langganan bermain para nelayan pengebom meledakan mainannya.

4. Pelatihan Hospitality dan Bahasa Inggris Sederhana buat Orang Dewasa.

Foto 9 & Foto 10. Peserta pelatihan mayoritasnya berasal dari kelompok ibu-ibu penenun yang ada di desa, baru kemudian beberapa ibu rumah tangga yang lain ikut terlibat. Karena itu tempat pelatihan ini masih selalu berlangsung di rumah salah seorang ibu penenun yang mana rumahnya juga selalu jadi tempat berkumpul rutin dari kelompok penenun, baik untuk menenun bersama maupun sekedar diskusi dan berbagi informasi menyangkut tenun-menenun. Kelas pelatihan ini tentu tidak tertutup bagi para lelaki dewasa atau kaum bapak dan perempuan dewasa lainnya. Namun setelah beberapa bulan berjalan hanya ada satu dua lelaki yang mampir sebentar lalu pergi dan tak kembali lagi. Materi pertemuan selanjutnya akan dikembangkan pada ketrampilan yang berhubungan dengan penyiapan konsumsi dari bahan lokal bagi wisatawan.  

5. Pembuatan Bioreeftek.

Foto 11 & Foto 12. Maraknya pola penangkapan ikan menggunakan bom dan potasium di sekitaran pantai utara pulau semau, khususnya di area laut yang berhadapan langsung dengan wilayah Uiasa, membuat banyak terumbu karang yang rusak dan mati. Bahkan beberapa peristiwa pengeboman itu kami saksikan sendiri di lapangan. Karena itu aksi-aksi konservasi dan model pengamanan wilayah pantai lainnya mendesak untuk dilakukan. Salah satu agenda kami untuk itu adalah pembuatan dan penanaman terumbu karang buatan alami (bioreeftek) yang terbuat dari tempurung kelapa. Opsi ini kami pilih sebab selain berbiaya murah juga bahan dasarnya cukup mudah didapat di sekitaran desa.

CAPAIAN KEGIATAN

  • Pelatihan Literasi Kampung dan Bahasa Inggris Sederhana untuk Anak-Remaja telah berjalan lebih dari 5 bulan. Setiap bulannya berlangsung 8 kali pertemuan. Telah diakses oleh 27 orang anak dengan tingkat kehadiran yang flutuaktif.
  • Pelatihan Hospitality dan Bahasa Inggris Sederhana untuk Orang Dewasa telah berjalan lebih 4 bulan. Setiap bulannya berlangsung 8 kali pertemuan. Telah diakses oleh 15 orang dengan tingkat kehadiran yang flutuakti.
  • Bioreeftek yang telah dibuat sebanyak 60 unit dan akan disebar di bentangan area laut dengan sepanjang kurang lebih 600 meter garis pantai.

DAMPAK PROYEK

  • Kesadaran masyarakat dalam memelihara lingkungan semakin baik (adanya jadwal kerja bakti membersihkan lingkungan dan pantai).
  • Peningkatan minat stakeholder (ibu, anak dan remaja) terhadap pengembangan pariwisata yang berwawasan lingkungan (ekowisata).
  • Meningkatnya partisipasi warga dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan (pembuatan bioreeftek) dan penetapan zona konservasi pesisir.
  • Pengurus Pokdarwis yang telah terbentuk kurang proaktif dalam setiap kegiatan namun dukungan warga, kelompok pemuda, dan perangkat desa pada umumnya tidak berkurang sehingga seluruh kegiatan tetap berterima dan berjalan dengan lancar.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 13. Kelas literasi kampung dan bahasa inggris untuk anak-anak mendapat kunjungan dari Luisa, seorang native speaker berkebangsaan Australia, yang kebetulan sedang bekerja di Kupang, NTT dan tertarik dengan kerja yang sedang dilakukan OCD di Uiasa.

Foto 14. Kelas Literasi ini juga kedatangan beberapa voluntir lagi yang datang untuk berbagi pengalaman dan motivasi. Salah satunya adalah Kak Rima dari Walhi NTT. Ia datang untuk berbagi wawasan dan membangun kepekaan anak-anak terhadap kelestarian lingkungan di desanya.

Foto 15 & Foto 16. anak-anak yang mengikuti kelas literasi dan beberapa orang dari kelompok pemuda berinisiatif untuk membersihkan sampah yang banyak bertebaran di pantai. Kemudian mereka memilah sebagian sampah-sampah plastik yang ringan lalu dimasukan ke dalam patung ikan. Inisiatif ini berdampak pada semakin bertumbuhnya kepedulian warga terhadap lingkungan pesisir mereka dan dikeluarkannya jadwal kerja-bakti rutin dari pemerintah desa kepada seluruh warga untuk membersihkan area pantai.  

Foto 17 & Foto 18. Bentuk dukungan secara langsung dari kelompok pemuda desa salah satunya adalah dengan turut membantu mengerjakan plat bioreeftek ini. Praktis hampir seluruh teknis pengerjaannya dilakukan oleh mereka. Dengan dukungan ini 60 plat cor beton dan pengadaan tempurung kelapanya dapat diselesaikan dalam waktu 20 hari kerja. Sayang, datangnya pandemi covid-19 berefek pada tertundanya pengerjaan lanjutan yaitu pelepasan atau penanaman plat bioreeftek ini.

Foto 19 & Foto 20. Oleh jejaring komunitas peduli covid-19, OCD diberi kepercayaan untuk menyalurkan sumbangan masker kain ke desa Uiasa, yang target pembagiannya diutamakan kepada kelompok rentan (perempuan, lansia, dan anak-anak). Masker-masker sumbangan ini kami serahkan ke kelompok pemuda yang kemudian memetakan dan mendistribusikannya sesuai target yang dituju.

Foto 21. Meskipun cukup sulit untuk menjangkau seluruh anak karena kendala akses internet dan kepemilikan smarthphone, aktifitas kelas literasi tetap diusahakan terus berjalan secara daring. Fasilitator berinisiatif membentuk grup belajar via Massengger Facebook bersama beberapa anak yang memiliki ponsel dan anak-anak ini yang nanti akan mendistribusikan setiap informasi dan tugas kepada teman-teman lainnya. Di bawah adalah tangkapan layar sebagian aktifitas mereka di grup. 

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Menginisiasi forum kesepakatan warga dan seluruh pemangku kebijakan desa dan pulau Semau untuk pembentukan dan pengamanan zonasi wilayah pantai.
  • Pelestarian Terumbu Karang sekitar Pesisir Uiasa dengan penanaman bioreeftek bersama para nelayan, penyelam dan kelompok pemuda.
  • Penerbitkan buku kumpulan tulisan anak-anak dari kelas literasi kampung tentang Uiasa dan berbagai hal menyangkut kehidupan masyarakat.
  • Menambah fasilitas rekreasi seperti kaca mata selam, snorkel, dan kano serta rompi pelampungnya. Juga pengadaan tenda dome sebagai alternatif akomodasi (camping ground di area pantai).
  • Mengawal pembangunan kamar mandi dan kamar bilas di pinggiran pantai sekaligus sebagai sanggar dan art-shop bagi suvenir dan produk lokal dari warga desa, yang pembiayaannya dikolaburasikan dengan dana desa.