Agrosilvopastural Berbasis Lahan di Pulau Semau

Agrosilvopastural Berbasis Lahan di Pulau Semau

Objective 1:
Diskusi dan sosialisasi hasil kajian bentang alam Kepada masyarakat.

Sosialisasi hasil kajian Bentang Alam ini di 5 desa dampingan salah satu tujuannya adalah masyarakat paham akan kondisi wilayahnya dan dapat berpikir untuk melakukan sesuatu perubahan akan wilayahnya. Hasil kajian juga merekomendasikan jenis tanaman yang cocok di pulau semau, hasil kajian ini juga di gunakan sebagai dasar bernegosiasi dengan masyarakat agar mau memberikan sebagaian lahan untuk di jadikan sebagai lahan konservasi dengan sistim agrosilvopastural.

Foto 1 : Diskusi dengan warga di desa Hansisi

Foto 2 dan 3 : penentuan lokasi yang bisa dilakukan konservasi dengan berbagai jenis tanaman baik untuk pakan maupun tanaman keras/kayu.

Objective 2:
Pembibitan Lamtoro Taramba

Persemaian benih lamtoro ini di lakukan di 5 desa dampingan bagi warga yang mau. Manfaat dari tarambah ini sebagai pakan ternah dan juga berfungsi sebagai tanaman konservasi lahan terutama di lahan kemiringan karena dapat menahan laju erosi.

Foto 1: Warga desa Batuninan sedang melakukan persemaian  benih lamtoro taramba dengan memanfaatkan barang bekas sebagai peganti polibag.

Foto 2: Benih lamtoro yang sudah mulai hidup usia 3 minggu.

Objective 3:
Konservasi lahan dengan tanaman keras.

Foto 1: pengambilan Anakan di balai pembibitan Naioni, jenis anakan yang di ambil, Mahoni, Kadembil, Pinang, Gamalina, Mangga, Cendana.

Foto 2: Distribusi anakan di desa Uitiutuan

Foto 3,4,5 dan 6: Anakan sudah ditanam dilahan bapak Toni Upa, Bapak Ibrahim Pong, dan Bapak Samuel Lasi di desa Uitiuh Tuan.

CAPAIAN KEGIATAN

  • Hasil Kajian Bentang Alam merekomendasikan jenis tanaman yang bisa di tanam di pulau semau untuk konservasi lahan.
  • Persemaian lamtoro Tarambah sebanayak 15.895 benih, pada bulan November 2018, ditanam pada januari 2019 dan baru terdata 6.136 pohon yang di tanam.
  • Pembagian 10.000 anakan pohon (mohoni, cendana,lengkeng, jambu merah dan gamalina di 5 desa dampingan. Terdata 3.753 anakan sudah di tanam.
  • 22,955 ha lahan yang disediakan oleh 50 kk untuk lahan untuk konservasi dengan sistim ¼ dari luas lahan di jadikan area konservasi dengan sistim agrosilvopastural.

Foto 7: proses persemaian Lamtoro taramba.

Foto 9: Distribusi 20.180 anakan di 4 desa dampingan.

Foto 8: persiapan lubang tanam pohon.

Foto 10: Diskusi dengan para pemilik lahan.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 1: Peta Pulau Semau.

  • 50 KK masyarakat di pulau semau bersedia memberikan lahannya untuk di jadikan sebagai lahan konservasi. Yang terdiri dari Desa Uitiuhtuan 12 kk lahan seluas 7,53 ha, Desa Uitihana  13 kaka lahan 2,83 ha, desa Hansisi 12 kk lahan 2,125 ha, Desa Batuinan 9 kk lahan 6 ha, dan desa Huilelot 4 kk lahan 4.48 ha.
  • Masyarakat 50 KK tersebut secara berswadaya membantu transportasi anakan dari lokasi pembibitan ke desa .

Foto 2: Bapak Atus Pong pemilik lahan dan memberikan biaya transportasi anakan.

Media danPublikasi