Peningkatan Kapasitas Masyarakat Melalui Pertanian Berkelanjutan Berbasis Permakultur di Nusa Penida BALI

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Melalui Pertanian Berkelanjutan Berbasis Permakultur di Nusa Penida BALI

Yayasan Idep Selaras Alam

INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/012

December 2018 – January 2020

Foto 1: Aktivitas pendampingan pengelolaan kebun pangan keluarga

Foto 2: Aktivitas Pelatihan Mengolah Produk Pasca Panen

Foto 3: Aktivitas pendampingan pengelolaan kebun pangan keluarga

Program ditujukan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal serta pengelolaan sumber daya air yang terbatas secara maksimal melalui pendekatan permakultur (pertanian organic). Sehingga masyarakat dapat memiliki akses terhadap sumber pangan sehat  sekaligus melestarikan tanaman lokal. Lokasi pelaksanaan program adalah di Desa Batu Madeg, Desa Batukandik, Desa Tanglad dan Desa Suana, Pulau Nusa Penida, Bali.

CAPAIAN KEGIATAN

  • 322,700  Are Intervensi Lahan.
  • 60 Keluargapenerima manfaat.
  • > 7,000 bibit tanaman lokal untuk upacara terdistribusi (kamboja, kenanga, gemitir, dan Kelapa Daksina).
  • > 10,000 benih tanaman pangan lokal terdistribusi.
  • 1 tempatpembibitantanamanlokalyang dibutuhkan oleh warga.

 Foto 4: Intervensi Lahan (Sebelum).

 Foto 6: Proses pembibitan tanaman (Sebelum).

Foto 5: Intervensi Lahan (Sesudah).

 Foto 7: Proses pembibitan tanaman (Sesudah).

DAMPAK PROYEK

  • Peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap potensi sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
  • Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penurunan pengeluaran keluarga untuk kebutuhan tanaman upacara.
  • Peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan jual-beli sayur mayur yang dihasilkan di pekarangan sendiri.
  • Peningkatan  kemampuan pengolahan produk pasca-panen yang dapat menambah nilai jual.

Foto 8: Memaksimalkan sumber daya air tanah yang terbatas dengan menggunakan air laut.

Foto 10: Proses Penanaman di Kebun.

Foto 9: Pembibitan tanaman lokal.

Foto 11: Pelatihan produk pasca-panen produk VCO.

PENGALAMAN TERBAIK

  • Pada mulanya mendapat skeptisme warga terkait kemampuan lahan mereka untuk menhasilkan. Di samping itu cuaca di Pulau yang sangat panas dan mengalami kemarau Panjang. Namun kerja keras membuahkan hasil, keluarga yang serius merawat dan mengelola kebun sudah dapat menghasilkan panen.  (Foto 12).
  • Antusiasme dari kelompok wanita sangat besar khususnya dalam pengolahan produk pasca panen. Mereka menyadari potensi penjualan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan keluarga. (Foto 13).
  • Berpartisipasi dalam Festival Nusa Penida 2019 dan mendapatkan respon langsung dari masyarakat dan turis terkait produk yang dipasarkan. Selain itu kami juga mendapatkan permintaan untuk meningkatkan kualitas produk sehingga bisa dipasarkan ke wilayah yang lebih luas (Foto 14).

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  1. Keberlanjutan kegiatan diserahkan kepada pemerintah desa untuk dikembangkan: konservasi tanaman lokal (pembibitan), dll. Khususnya adanya potensi BUMDes maka pihak Desa dapat mengupayakan pengembangan potensi desa untuk mendukung kesejahteraan warga.
  2. Terdapat produk paska panen yang sudah berhasil diproduksi oleh masyarakat (VCO, Bumbu kering, keripik) yang membutuhkan proses peningkatan kualitas sehingga langkah selanjutnya adalah mengupayakan sertifikasi nasional.

Foto 15 Pameran produk dalam Nusa Penida Festival 2019.

Foto 16 Peserta pelatihan mempelajari pengolahan dan pembungkusan produk.

Foto 17 Bibit tanaman untuk mendukung ekosistem di Nusa Penida.