Pembangunan Berkelanjutan dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat serta Pelestarian Ekosistem Melalui Sektor Rumput Laut

Pembangunan Berkelanjutan dan Kemandirian Ekonomi Masyarakat serta Pelestarian Ekosistem Melalui Sektor Rumput Laut

Yayasan Kalimajari

INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/044

URAIAN PELAKSANAAN PROYEK

Objective 1:
Memperolah data ilmiah dari perairan sebagai indikator daya dukung budi daya rumput laut termasuk di dalamnya kalender musim

Gambar.1.1. Pengambilan data kualitas perairan meliputi temperature, salinitas, dan kadar keasaman (pH). Pengambilan parameter parairan dilakukan pada tanggal 1 Juli 2019, termasuk di Lembongan dibantu oleh staf lapangan Yayasan Kalimajari.

Gambar.1.3. Kunjungan lapangan Bapak Lideman dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar pada 29 Oktober 2019 dalam kerjasama riset budidaya rumput laut.

Gambar.1.2. Wawancara petani untuk menggali informasi untuk menunjang analisa kalender musim budidaya rumput laut. Pencatatan kalender musim dilakukan oleh 4 orang tim surveyor pada tanggal 28 Juni – 2 Juli 2019.

Gambar.1.4. Pemasangan logger dimulai pada 4 Maret 2020. logger ini akan merekam data suhu air dan intensitas cahaya masuk keperairan sebagai indikator fotosintesis untuk rumput laut. Logger ini sebagai tindaklanjut atas diskusi dengan Bapak Lideman dari Bali Takalar.

Capaian Kegiatan Objektif 1:
Uji kualitas air

Gambar 1.5 Contoh hasil ujilab di Lembongan.

Gambar 1.6 Contoh hasil ujilab di Semaya.

Gambar 1.5 dan 1.6 adalah hasil ujilab air dari dua lokasi yaitu Semaya dan Lembongan. Baku mutu yang dipakai oleh lab Kesehatan Bali adalah “baku mutu mahkluk hidup diperairan”. Unsur-unsur yang diuji adalah logam berat serta fospat, nitrat. Hasil ujilab tersebut tidak adanya terdeteksi logam berat di kedua perairan tersebut serta unsur hara masih layak untuk budidaya.

Hasil uji lab tahap dua dan tahap tiga juga tidak ada deteksi logam berat dari kedua sampel air Semaya dan Lembongan.

Analisa kalender musim budidaya

Gambar 1.7 hasil analisa kalender musim hasil metode wawancara kepada semua petani yang ada di Dusun Semaya. Hasil dari wawancara tersebut berupa persentasi mengenai respon petani terhadap kejadian yang ada selama budidaya rumput laut. kejadian yang masuk dari kriteria adalah kondisi rumput laut bagus, kondisi rumput laut buruk, serangan lumut/ganggang, hama ikan dan sejenisnya, serta ice-ice.

Hasil analisa suhu dan intensitas cahaya dari Balai Takalar (Bapak Lideman)

Gambar 1.8 Grafik suhu perairan di Nusa Lembongan (kiri) tgl 29 Oktober 2019 dari pukul 18.00  sampai 30 Oktober 2019 pukul 18.00, dan suhu perairan di Semaya (kanan) tgl 30 Oktober 2019 pukul 10.00 – 18.00. trend grafik yang terjadi adalah suhu perairan di Lembongan ternyata lebih dingin  18-27 o C daripada di Semaya 29 – 31o C. jika dibandingkan dengan lokasi bibit datang (Takalar) berikut perbandingan grafiknya (Gambar 1.9).

Gambar 1.9 Perbandingan trend suhu perairan di Lembongan, Semaya, dan Takalar

Objective 2:
Melakukan pemurnian / seleksi bibit yang ketat sehingga terdapat berbagai jenis bibit yang berkualitas dan adaptif terhadap pergantian musim.

Gambar 2.1  Pengembangan bibit alvarezii dari Lombok. Bibit ini memang sudah existing di Nusa Lembongan sebelum program GEF dimulai, tetapi diawal program Yayasan Kalimajari menguatkan produksi bibit ini ke dalam demoplot.

Gambar 2.2 Penanaman bibit kultur jaringan dari Balai Takalar. Bibit yang dikirim sebanyak 3 koli dengan berat kurang lebih 50 kg pada tanggal 7 Mei 2019. bibit ini mengalami fase pertumbuhan yang tidak stabil sampai saat ini dan tetap dipelajakari karakteristiknya oleh petani.

Gambar 2.3  Penanaman sacul merah dari Waingapu Sumba Timur tanggal 14 Agustus 2019. Khusus sacul merah ditanam di 3 lokasi berbeda, satu di Lembongan, dua lainnya di Semaya bagian timur dan barat. Tersebarnya penanaman bibit ini karena di Semaya memang existing saculhijauguna meningkatkan persentase hidup dari sacul merah ini.

Gambar 2.4  Penanaman bibit dari Tarakan, Kalimanatan Utara pada tanggal 12 Maret 2020. Bibit yang didatangkan sebanyak 5 koli. Saat ini, bibit Tarakan masih dalam proses adaptasi lingkungan di Lembongan.

Capaian Kegiatan Objektif 2:
Pemurnian bibit di nursery center Lembongan

  1. Pengambangan bibit kultur jaringan
    Bibit kultur jaringan dari Balai Takalar ini memang memiliki tingkat adaptasi yang sangat lambat. Sampai program berakhir petani dan tim Kalimajari tidak bisa menemukan karakteristik pertumbuhan yang tepat dari bibit ini. beberapa fase di bulan Agustus pertumbuhannya bagus hingga menjacapai 19 ris tetapi kemudian pertumbuhannya menurun dan menjadi 9 ris, hingga saat ini masih tersisa 1 ris yang bertahan. Penentuan karakteristik adaptasi bibit ini juga sempat membingungkan Bapak Lideman pakar fotosintesa Balai Takalar yang didatangkan pada bulan Oktober 2019.
  2. Pengembangan sacul merah
    Pengembangan bibit sacul merah sedikit berbeda dengan bibit lainnya karena lokasi penanaman tidak hanya di Lembongan tetapi di Semaya mempertimbangkan mengurangi resiko kematian karena Semaya cocok dengan sacul hijau yang karakteristiknya mirip dengan sacul merah. Total ris/tali bibit yang ditanam di Semaya adalah 7 ris di bagian timur, dan 6 ris di bagian barat, serta 6 ris di Lembongan. Selama amsa adaptasi 1 bulan penanaman, hanya di Semaya bagian timur dan di Lembongan bibit bertahan tetapi tidak menunjukkan pertumbuhan cabang baru sedangkan di Semaya sisi barat bibit sudah habis terserang ice-ice. Baru pada bulan Desember 2019 bibit mulai bisa dikembangkan. Sampai program berakhi, total ris bibit sacul merah di Semaya ada ±50 ris sedangkan di Lembongan ±32 ris. Jumlah itu akan sangat dinamis sesuai kondisi perairan.
  3. Pengembangan bibit Tarakan
    Bibit Tarakan ini merupakan bibit yang diidentifikasikan sebagai cotonii jahe hasil diskusi intensif antara tim Kalimajari dan petani disana. Karena bibit baru didatangkan pada bulan Maret 2020, hingga saat ini masih dikategorikan proses adaptasi lingkungan. Bibit yang didatangkan sebanyak 5 koli kurang lebih 90 kg. sampai akhir program ada 20 ris/tali. Karena proses pengiriman melebih target 2 hari dan pengemasan dari sumber bibit kurang bagus ada total 30 kg bibit sudah layu dilokasi dan memutih.
  4. Pengembangan sacul lokal / hijau
    Pengembangan sacul lokal/ hijau dari Semaya dilakukan mempertimbangkan terbatasnya bibit di Semaya ketika musim tanam sacul disana mulai bagus. langkah awal yaitu identifikasi lokasi budidaya kemudian didatangkan sacul sebanyak 65 tali pada Maret 2020. Akhir Maret bibit dipanen untuk dibibitkan kembali menjadi ±150 tali.

Objective 3:
Pengembangan bibit baru melalui demoplot tanam dasar dengan standar yang baik dan benar

Gambar 3.1 Pembuatan lokasi demoplot tanam dasar dengan menggunakan pipa galvanis. Dalam perkembangannya, untuk upaya penyelamatan bibit dari Takalar, Waingapu, dan Tarakan demoplot ini hanya sebagai percontohan. Penyelamatan bibit yang didatangkan tersebut mengikuti analisa lokasi budidaya petani agar resiko kematian bibit bisa dikurangi.

Gambar 3.2 pembuatan demoplot relatif, ketika bibit didemoplot utama tidak mengalami pertumbuhan maksimal. Sehingga petani bisa melakukan upaya penyelamatan bibit di lokasi berbeda.

Capaian Kegiatan Objektif 3:
Pembuatan demoplot

Pembuatan demoplot baku
Di awal program bulan April 2019, staf lapangan sudah memfasilitasi untuk pembuatan demoplot untuk bibit yang akan didatangkan dari berbagai wilayah sebagai percontohan / kampanye budidaya rumput laut. konstruksi demoplot ini menggunakan pipa galvanis sebagai pengganti patok kayu. Luas dari demoplot baku ini adalah 9 x 12 meter (108 m2).

Demoplot alternatif
Seiring dengan pengembangan bibit, permasalahan terjadi ketika bibit di demoplot (kultur jaringan) tidak menunjukkan pertumbuhan yang bagus, hingga akhirnya demoplot alternatif menjadi satu solusi yang ditempuh guna penyelamatan bibit. Dilapangan ternyata, meskipun masih satu teluk bibit memiliki daya tumbuh yang berbeda hal ini tergantung pada pola arus, pecah gelombang, dan aliran panas dari suhu perairan. Meskipun sifatnya alternatif / isidentil sangat membantu upaya penyelamatan bibit.

Demoplot tambahan
Demoplot tambahan ini berlokasi di Semaya dan Lembongan. Khusus di Semaya demoplot ini dibuat untuk memfasilitasi petani yang kekurangan bibit sacul karena musim paceklik sekaligus menguji karakter alvarezii Lembongan disana. Demoplot dibuat pada 7 lokasi yang berbeda dengan estimasi luas 40 m2. jadi total luas demoplot di Semaya adalah 280 m2. sedangkan demoplot tambahan di Lembongan khusus untuk penanaman sacul hijau/lokal dari Semaya. Total luas demoplot tambahan di Lembongan untuk sacul lokal adalah 100 m2.

Objective 4:
Melakukan pemetaan lokasi budidaya yang masih dimanfaatkan

Gambar 4.1 Pengambilan koordinat lokasi budidaya rumput laut yang dilakukan pada 29 Juni – 2 Juli 2019. Pengambilan ini dilakukan dengan mencatat koordinat budidaya masing-masing petani yang masih memiliki rumput laut.

Gambar 4.2 Wawancara langsung dengan petani. Wawancara ini dilakukan untuk menggali informasi dalam penyusunan kalender musim serta data budidaya meliputi jumlah produksi, total area budidaya yang dimiliki. Proses ini dilakukan secara sensus terhadap semua petani yang masih aktif berbudidaya.

Capaian Kegiatan Objektif 4:
Hasil pemetaan budidaya rumput laut

Gambar 4.3 hasil sensus tahap 1

Gambar 4.5 hasil sensus tahap 1

Gambar 4.4 hasil sensus tahap 2

Gambar 4.6 hasil sensus tahap 2

Dari survei budidaya yang dilakukan, selain posisi lokasi budidaya masing-masing petani juga didapatkan hasil persentase dari (1) jenis rumput laut yang dibudidayakan, (2) lokasi budidaya rumput laut berdasarkan dusun, (3) usia petani rumput laut, (4) luas lahan budidaya rumput laut, (5) serta total estimasi produksi basah 1 siklus panen.

Gambar 4.7 hasil sensus tahap 1

Gambar 4.9 hasil sensus tahap 1

Gambar 4.8 hasil sensus tahap 2

Gambar 4.10 hasil sensus tahap 2

Gambar 4.11 perbandingan estimasi produksi hasil sensus tahap 1 dan 2

Gambar 4.11 Peta lokasi budidaya masing-masing petani hasil sensus I

Gambar 4.12 Peta lokasi budidaya masing-masing petani hasil sensus II

Objective 5:
Meningkatkan nilai tambah dari rumput laut melalui diversifikasi produk olahan

Gambar 5.1 Pelatihan pembuatan produk tahap 1. Pada pelatihan ini fokus pada produk non makanan dari rumput laut, yaitu sabun, lulur, serta mie. Kelompok yang dilatih adalah Kelompok Wanita Tani Sari Segara. Pelatihan ini diikuti oleh kurang lebih 15 orang ibu-ibu.

Gambar 5.2 Pelatihan pembuatan produk tahap 2. berbeda dengan sebelumnya, pelatihan ini fokus kegiatan pada cara mengolah produk berupa makanan, dengan target kedepannya sebagai oleh-oleh Nusa Penida. Pelatihan diikuti oleh 5 orang anggota KWT Sari Segara.

Objective 6:
Mengembangkan media informasi sebagai sarana learning center  tentang rumput laut dari hulu sampai hilir yang diharapkan bisa menjadi acuan oleh semua kalangan

Gambar 6.1 Media-media informasi yang sudah diproduksi selama program berlangsung. Media informasi tersebut adalah poster tentang budidaya di Nusa Penida dan produk (akan terus direvisi apabila ada perubahan), serta film titorial budidaya yang bisa diakses di youtube Kalimajari.

Objective 7:
Menguatkan kemampuan petani dan pemuda lokal sebagai tour guide lokal dalam memberikan informasi yang baik dan benar mengenai budidaya rumput laut dan kegunaannya.

Gambar 7.1 pemberian materi konsep-konsep dasar ekowisata dan bagaimana mengemas potensi lokal ini menjadi sumber pengetahuan baru bagi orang lain.

Gambar 7.2 Praktek langsung menjadi seorang pemandu lokal yang menceritakan potensi dan sejarah desa. Praktek ini diikuti oleh anak muda dan proses ini masih tergolong hal yang baru di Semaya.

Capaian kegiatan Objective 7:
Menguatkan kemampuan petani dan pemuda lokal sebagai tour guide lokal dalam memberikan informasi yang baik dan benar mengenai budidaya rumput laut dan kegunaannya.

Pelatihan diawali dengan pengamatan potensi desa yang dilakukan oleh tim Kalimajari dan trainer untuk melihat hal – hal unik atau tradisi yang bisa dikawinkan dengan konsep ekowisata berbasis rumput laut. Ada hal yang menarik ditemukan oleh tim saat pengamatan potensi desa yaitu, keberadaan Pura Payogan yang dipercaya stana dari “Ulam Ageng” atau ikan besar yang erat kaitannya dengan proses perkembangan budidaya rumput laut. Keunikan lainnya adalah keberadaan pisang kerdil “kapal” yang sebagain besar tumbuh dipinggir jalan.

Pelatihan dilakukan selama 2 hari, hari pertama materi di kelas, dimana trainer memaparkan konsep ekowisata, etika guide, pemahaman penting konservasi sebagai upaya mendukung ekowisata. Hari kedua dilakukan praktek lapang, dimana peserta diminta mencoba bahwa mereka soalah-olah menjadi seorang guide dan peserta lain menjadi tamunya. Pelatihan ini diikuti oleh 13 orang, 8 orang laki – laki, dan 5 orang perempuan. Inisiasi ini kemudian dikolaborasikan dengan JED untuk bisa membentuk desa wisata ekologi dari 6 desa program GEF SGP.

Objective 8:
Membangun sistem pasar yang berkelanjutan terhadap produk yang dihasilkan

Gambar 8.1 Workshop penciptaan produk dan ekowisata berbasis rumput laut. kegiatan ini bertujuan untuk menentukan langkah bersama terkait arah pengolahan rumput laut dalam meningkatankan nilai tambah. Pada workshop ini yang menjadi narasumber ada Bapak Dewa yang membawa materi tentang wisata yang ramah lingkungan serta Bapak Surya dengan materi prospek pasar premium untuk komoditi.

Gambar 8.2 Peserta yang menghadiri workshop tersebut adalah dinas terkait di lingkungan Pemda Klungkung, pelaku pariwisata (pemilik resto dan akomodasi), penggiat pengusaha lainnya, petani dan kelompok pengolah rumput laut.

DAMPAK PROYEK

Dampak positif

  • Adanya variasi bibit di Lembongan sebagai pusat pembibitan selama program membuat petani mempunyai banyak pilihan dalam menentukan bibit yang dibudidayakan kedepannya. Terlepas dari bibit yang ada saat ini masih dikembangkan / diperbanyak.
  • Dengan terbentuknya kalender musim di Semaya dan pengalaman ujicoba demoplot di Semaya, petani dapat menentukan bibit yang ditanam ketika sacul lokal tidak bagus pertumbuhannya (mengalami masa paceklik).
  • Meningkatnya kesadaran untuk memulai berbudidaya ditengah fluktuasi pariwisata di Lembongan serta di tempat lainnya di Nusa Penida. Secara tidak langsung keberhasilan demoplot di Lembongan memicu minat budidaya masyarakat lainnya meskipun awalnya hanya untuk supplay bibit ke Semaya.
  • Peningkatan kesadaran budidaya ini terlihat pada hasil sensus petani pada Juli 2019 hanya ada 93 petani yang dapat didata sedangkan Januari 2020 mencapai 199 petani yang didata. Angka tersebut diperkirakan terus bertambah dampak dari pandemi yang melanda dunia pada umumnya saat ini.
  • Kapasitas kelompok wanita dengan adanya pengolahan rumput laut bertambah. Tidak hanya produk makanan, produk non makanan pun sudah bisa secara mandiri diproduksi.
  • Memperkenalkan model ekowisata dengan memanfaatkan rumput laut sebagai sumber pengetahuan baru bagi kaum muda di Dusun Semaya.
  • Atas meningkatnya budidaya rumput laut di lokasi pembibitan Lembongan, Kepala Desa Lembongan mengeluarkan surat edaran mengenai sistem tata kelola lahan budidaya rumput laut yang sudah cukup lama ditinggalkan oleh masyarakat.
  • Munculnya inisiasi kerjasama dengan lembaga lain diantaranya dengan Dinas Perindustrian Kabupaten Klungkung yang diawali dengan berdiskusi di Kantor Kalimajari, dengan asosiasi chef Indonesia dalam pengembangan menu rumput laut, serta dengan pihak Balai Takalar dengan memberikan alat logger untuk mengukur temperatur air di pusat pembibitan Lembongan sampai saat ini.

Dampak negatif

  • Meskipun adanya variasi bibit di nursery center, tetapi bibit tersebut belum ada dalam kuantitas banyak sehingga fokus tetap pada perbanyak bibit bukan produksi.
  • Sinergi komoditi rumput laut dengan sektor pariwisata belum berjalan secara maksimal. Berbagai kendala dihadapi diantaranya (1) petani baru memulai berbudidaya sehingga target produksi diutamakan, paket paket serta bentuk pemasaran yang menarik wisatawan perlu dikemas dengan baik.
  • Kurang maksimalnya pengembangan ekowisata rumput laut di Semaya bagi pemuda lokal yang ditargetkan menjadi pemandu lokal. Diperlukan intensitas lebih dalam mendampingi pemuda lokal untuk menjadi guide lokal.
  • Program Kalimajari di Lembongan sempat menjadi singgungan oleh Pemda Klungkung ketika pembudidaya disana mulai meningkat.

PENGALAMAN TERBAIK

Keberhasilan kampanye rumput laut. hal ini diawal program Kalimajari menjadikan Lembongan hanya sebagai nursery center saja atau pusat pembibitan. Target petaninya pun pesimis diangka 10 petani, tetapi setelah adanya pembelian bibit rumput laut untuk Semaya, petani yang memulai budidaya rumput laut di Lembongan mulai bertambah banyak menjadi 76 pembudidaya (sesuaikan dengan hasil sensus petani Januari 2020). Data tersebut diduga terus bertambah seiring turunnya pariwisata akibat pandemi corona.

Pemasaran produk, dapat mengikutsertakan produk ibu-ibu dalam mengolah rumput laut pada pameran tingkal lokal maupun nasional menjadi pengalaman cukup menarik. Meskipun target pasar dari produk ibu – ibu masih belum terpetakan dengan jelas, kedepannya sebagai bahan evaluasi aspek pasar menjadi prioritas utama.

Menemukan petani sebagai local champion. Hal ini menjadi penting untuk membantu kelancaran program kedepannya. Menemukan petani lokal terbaik sebagai partner kerja Kalimajari artinya pemberdayaan yang dilakukan selama proyek bisa menjadi contoh oleh petani lain yang cendrung melihat keuntungan orang lain terlebih dahulu. Ketika Para local champion ini dapat berbagi pengalamannya dengan orang lain , disana kami merasa bangga tatkala petani langsung yang menyampaikan dampak dampingan dari Kalimajari.

Kondisi alam dan perairan. Dengan melakukan riset dan ujicoba bibit rumput laut baik di Lembongan maupaun di Semaya, ternyata memiliki karakteristik perairan yang berbeda. Lembongan perairannya cenderung lebih dingin daripada di Semaya, kemudian mengenai ujicoba bibit juga petani harus memperhatikan kalender musim yang sudah dibuat dan yang sudah dipahami oleh petani (kalender bali). Ada jeda dimana jenis tertentu tidak bisa berkembang, sedangkan jenis lainnya dapat berkembang dengan baik. Inovasi ini petani harus didampingi agar budidaya tetap berlanjut.

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Proyek ini akan dilanjutkan beberepa poin kegiatannya seperti melakukan riset budidaya rumput laut (pemasangan logger untuk suhu perairan, monitoring pertumbuhan bibit rumput laut), seperti yang telah disebutkan diatas, kerjasama dengan ahli dari Balai Takalar. Yayasan Kalimajari akan menjadikan Nusa Penida sebagai lokasi dampingan meskipun tidak ada program sebagai bentuk komitmen dalam pendampingan.
  • Melakukan diskusi lanjutan dengan Indonesian Chef Association (ICA) dalam mensukseskan menu olahan rumput laut, serta memetakan pasar snack rumput laut beku bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Klungkung.
  • Ketika kami putuskan Nusa Penida menjadi site dampingan kami untuk komoditi rumput laut, pembagian tanggung jawab antara kami dan petani kelompok budidaya dan ibu – ibu pengolah rumput laut. Tugas mereka adalah mengikuti arahan kegiatan yang kami berikan dan begitupula Kalimajari akan selalu terbuka untuk perbaikan yang lebih baik dari petani atau kelompok. Kalimajari akan membuat agenda kunjungan rutin dalam satu bulan.Komitmen kelompok dan masyarakat dampingan untuk melanjutkan kegiatan secara swadaya pasca program menjadi hal yang perlu mendapat apresiasi sebagai upaya menjaga keberlanjutan program.