Studi Sosial dan Teknik Tentang Energi Terbarukan di Nusa Penida, Semau,Wakatobi, dan Gorontalo

Studi Sosial dan Teknik Tentang Energi Terbarukan di Nusa Penida, Semau,Wakatobi, dan Gorontalo

Garis Besar Kegiatan

Studi yang dilakukan oleh Tim UGM menggabungkan metode pendekatan sosial secara bottom-up dan metode perancangan sistem energi terbarukan untuk meningkatkan perekonomian komunitas lokal.

Salah satu rapat koordinasi tim UGM.

Kerangka kerja tim UGM

Nusa Penida

Nusa Penida merupakan tujuan wisata di Kabupaten Klungkung, Bali. Pulau ini kaya akan tradisi dan budaya yang masih dipraktekkan oleh masyarakat hingga saat ini, salah satunya tenun dan home-made pembuatan minyak kelapa.

Peta Pulau Nusa Penida.

Penyeberangan menuju Nusa Penida dari Pelabuhan Pantai Sanur.

Studi lapangan pertama di Nusa Penida dilaksanakan pada 17-21 November 2018. Studi ini dilakukan untuk melakukan pemetaan teknis dan sosial mengenai kebutuhan dan potensi energi di Nusa Penida.

Kunjungan ke lokasi energi terbarukan yang sudah tidak beroperasi di Nusa Penida.

Wawancara dengan warga Nusa Penida mengenai potensi ekonomi lokal.

Potensi Integrasi Energi Terbarukan untuk Mendukung Perekonomian Lokal

Selain pariwisata, masyarakat Nusa Penida hidup dari kegiatan berkebun. Salah satu hasil bumi yang banyak dikembangkan masyarakat adalah budidaya kelapa. Kelapa dari kebun ini beberapa dijual langsung dan beberapa diolah menjadi minyak kelapa. Minyak kelapa dapat digunakan untuk memasak, untuk upacara, dan untuk dijual di toko sekitar tempat tinggal mereka.

Seorang Ibu sedang memarut kelapa untuk diolah menjadi minyak goreng.

Mesin parut kelapa.

Warga Nusa Penida juga membuat kain tenun tradisional. Tenun Nusa Penida memiliki dua corak khas, yaitu Cepuk dan Rang rang. Salah satu desa penghasil tenun di Nusa Penida adalah desa Tanglad. Pembuatan kain tenun Tanglad masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Penenun di desa Tanglad didominasi oleh kaum Ibu

Mesin Tenun Bukan Mesin

Agenda studi lapangan kedua adalah untuk mensosialisasikan hasil pre-survey dan pengambilan data Teknik dan sosial kelembagaan. Komunitas yang diajak dalam kegiatan ini adalah rumah tangga pembuat minyak kelapa di desa Batukandik dan komunitas penenun dan kelompok pemuda pemudi desa Tanglad.

Pemetaan Teknik di desa Tanglad

Suasana diskusi dengan kelompok masyarakat desa Tanglad

Penjelasan mengenai kuesioner untuk pemetaan sosial

Pengisian kuesioner untuk pemetaan sosial kelembagaan

Capacity building dengan materi panel surya di desa Batukandik

Capacity building dengan materi agroforestry

Diskusi mengenai kelembagaan untuk mengelola energi terbarukan

Tim UGM dengan warga desa Batukandik dan Tanglad

Semau

Studi lapangan pertama di Semau. Diskusi dengan warga dilakukan untuk melihat kebutuhan energi dan potensi energi terbarukan yang ada di lapangan. Desa yang dikunjungi adalah desa Batuinan, Uiasa dan Onansila. Ketiga daerah ini memiliki masalah mengenai akses air bersih terutama di musim kemarau. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di Semau adalah pertanian, terutama bawang merah.

Survey selanjutnya di Semau bertujuan melakukan pemetaan teknis dan sosial.

Diskusi pada survey terakhir di Semau dengan warga untuk membahas persiapan kegiatan capacity building

Capacity building di Semau dilakukan Bersama dengan mengundang perwakilan warga desa Batuinan, Uiasa dan Onansila.

Capacity building mengenai produktifitas yang disampaikan di Semau berupa produktifitas untuk pertanian dan peternakan.

Capacity building pertama mengajak warga untuk berdiskusi aktif mengenai permasalahan yang ada di sekitar mereka, teruatama mengenai air dan energi.

Perwakilan masing – masing desa mempresentasikan hasil diskusi di depan seluruh peserta.

Capacity building mengenai panel surya di Semau

Capacity building mengenai sosial kelembagaan mengajak warga berdiskusi aktif untuk menentukan struktur lembaga yang paling tepat untuk mengelola energi terbarukan di desa mereka.

Tim UGM dengan peserta capacity building di Semau

Wakatobi

Desa Pajam, Wakatobi memiliki keterbatasan akses air bersih. Satu satunya sumber air bersih adalah sumur Te’euwu untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk memasak, warga biasanya membeli air dalam tandon.

Desa Mantigola di Wakatobi merupakan perkampungan Bajo (Bajau). Desa ini tidak memiliki area daratan sehingga tidak memiliki sumber air bersih. Air bersih di dapatkan di sumur Bersama di desa Horuo.

Jembatan penyeberangan menuju desa Mantigola

Warga desa Mantigola menggunakan sampan untuk mengambil air bersih di daratan. Hampir semua warga Mantigola mahir menggunakan sampan

FGD untuk pemetaan sosial kelembagaan di Wakatobi

Capacity building di Wakatobi mengundang warga desa Pajam, Horuo dan Mantigola. Materi yang diberikan sama dengan wilayah yang lain, yaitu materi keteknikan, sosial kelembagaan, dan produktifitas.

Pada saat materi keteknikan, warga juga mempraktekan penghitungan konsumsi energi dan perhitungan kebutuhan instalasi panel surya dengan panduan dari fasilitator.

Materi pengembangan produktifitas pada capacity building di Wakatobi melingkupi produktifitas perikanan dan peternakan.

Tim UGM dan peserta capacity building Wakatobi.

Kelompok tenun desa Pajam setelah materi keteknikan.

Gorontalo

Perjalanan Tim UGM menuju Dusun Muara Kopi.

Perjalanan Tim UGM menuju Dusun Tumba.

Infrastruktur jalan Dusun Tumba yang kurang memadai.

Pemetaan masalah & potensi di lapangan

Mayoritas matapencaharian Dusun Muara Kopi adalah petani namun ada permasalahan terkait penyediaan air untuk lahan pertanian.

Melimpahnya coklat di Dusun Tumba tidak didukung dengan teknologi tepat guna serta minimnya pengetahuan sumber daya manusia untuk mengolah coklat menjadi lebih bernilai.

Wawancara Tim UGM kepada responden di lapangan.

Baik penduduk Dusun Tumba maupun Dusun Muara Kopi rata-rata masih menggunakan tungku bakar untuk memasak. Ibu-ibu menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencari bahan bakar kayu, ranting, daun kering, dll untuk kebutuhan memasak.

Melimpahnya potensi air di Dusun Tumba.

Pengukuran debit air di Dusun Tumba.

Masyarakat Dusun Tumba berinsiatif memanfaatkan potensi air yang ada untuk menerangi masjid melalui teknologi picohydro yang juga berfungsi sebagai pusat kegiatan warga. Upaya pemanfaatan air sebagai sumber energi juga bertujuan agar masyarakat lebih bijaksana dalam menggunakan air serta menjaga kelestarian lingkungan khususnya di sekitar SM.

Dusun Tumba

Temuan hasil survei baik potensi dan juga permasalahan yang ada disampaikan ke warga dusun melalui focus group discussion. Selain itu, Tim UGM mendengarkan aspirasi dari masyarakat terkait permasalahan yang mereka hadapi khususnya terakit isu energi dan lingkungan.

Dusun Muara Kopi

Capacity building terkait potensi pertanian setempat. Masyarakat Dusun Muara Kopi sepakat memilih teknologi solar water pumping system untuk pertanian. Selama ini petani-petani menggunakan bahan bakar solar yang harganya mahal dan tidak ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan air pertanian

Capacity building potensi lokal Dusun Tumba dan model pengelolaan sistem rendah emisi terpadu. Masyarakat sepakat menggunakan struktur organisasi picohydro yang telah dibentuk sebelumnya. Organisasi tersebut dipimpin oleh kepala Dusun Tumba.

Capacity building teknis di Dusun Tumba. Masyarakat diedukasi tentang cara mengkalkulasi kebutuhan energi, penggunaan solar home system, serta cara perawatan dari teknologi tersebut.

Capacity building teknis di Dusun Muara Kopi mengedukasi masyarakat tentang pengoperasian dan perawatan teknologi SWPS.

Struktur kelembagaan di Dusun Muara Kopi terebentuk setelah pelaksanaan capacity building sosial dan kelembagaan.

Peserta Capacity building Dusun Muara Kopi.