festival-desa-kota

Festival Desa Kota

Perkumpulan Indonesia Berseru

(INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/027Perkumpulan Indonesia Berseru)

Festival Desa Kota 2020

Diselenggarakan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta pada 17-19 Januari 2020.  Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi jembatan bagi upaya-upaya inovatif yang sudah dilakukan berbagai komunitas desa dengan masyarakat konsumen kota, serta publik lebih luas; meningkatkan kapasitas anak-anak muda di desa-desa dampingan dalam mengembangkan bisnisnya.          

Objective 1: Menjadi ruang “belajar kembali” bagi masyarakat untuk melihat kembali sistem pangan lokal yang mensejahterakan berdasarkan potensi lokal dan keanekaragaman hayati.  Benih dan sistem pengetahuan komunitas.

Objective 2: Menjadi  ruang bagi desa untuk berbagi karya dan pembelajarannya.

Objective 3: Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam produksi dan pengolahan hasil pertanian (Pengetahuan, Pembelajaran, dan Terobosan), yang tidak bisa dilakukan karena host dan mitra lokal belum siap.

Objective 4: Kesetaraan Sosial dan Infrastruktur, didalamnya wadah bagi kelompok muda untuk saling memperkuat pengelolaan sistem pangan berkelanjutan.

  • Menggabungkan kedua objective tersebut, Festival Desa kota 2020 memilii tujuan:
  • Menjadi ruang “belajar kembali” bagi masyarakat untuk melihat kembali sistem pangan lokal yang mensejahterakan berdasarkan potensi lokal dan keanekaragaman hayai. 
  • Menjadi  ruang bagi desa untuk berbagi karya dan pembelajarannya.
  • Menjadi tempat produsen pangan, serta kegiatan ekonomi kreatif lainnya  di perdesaan dan kota dapat menunjukkan karyanya secara langsung kepada  konsumen kota. 
  • Menyediakan tempat bagi para penghasil pangan muda, dan kelompok muda yang ingin mengembangkan pertanian untuk  berkumpul, saling mengenal dan memperbincangkan sistem pangan sehat yang ingin mereka wujudkan.
  • Memberikan informasi komprehensif tentang situasi pangan kita. 
  • Menyediakan ruang untuk mengenal kekayaan pangan dan kegiatan ekonomi kreatif yang saling menghidupkan, melalui aneka kegiatan yang menyenangkan.

Objective 3: Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam produksi dan pengolahan hasil pertanian.

  • Kegiatan diskusi awal dengan anak muda yang akan mengembangkan bisnis komunitas dimulai di Desa Tampara Kaledupa pada 25 Juni 2019.
  • Diskusi diawali dengan membahas tentang persepsi anak muda tentang petani/nelayan/produsen pangan, dimana yang muncul adalah persepsinya negative: kotor, miskin, dekil.
  • Diskusi dilanjutkan dengan situasi ekonomi pulau, melalui kebutuhan pangannya. Diketahui Sebagian besar pangan didatangkan dari luar pulau tertutama dari Buton, bahkan untuk sayur mayur.
  • Melalui role model, Ermawati perempuan muda yang menanam sawi dan kangkung di 2-3 bedeng, dipaparkandan dieksplorasi potensi ekonomi . Sebagian besar  tertarik untuk berusaha holtikultura, terutama sayur mayur di datangkan dari dataran Buton. 
  • Kegiatan lanjutan adalah menghitung kebutuhan pulau, dan nilainya.  Tetapi belum berlanjut karena kesibukan host dan juga peserta. 

Menyediakan tempat bagi para penghasil pangan muda, dan kelompok muda yang ingin mengembangkan pertanian untuk  berkumpul, saling mengenal dan memperbincangkan sistem pangan sehat yang ingin mereka wujudkan. Bisnis Pertanian oleh orang Muda (kiri); Branding Produk (Kanan).

Diskusi Pangan Sehat Lokal bersama Wied Harry (Kiri). Menyediakan tempat bagi para penghasil pangan muda, dan kelompok muda yang ingin mengembangkan pertanian untuk  berkumpul, saling mengenal dan memperbincangkan sistem pangan sehat yang ingin mereka wujudkan.  Lomba Mewarnai Pangan Lokal, didahului dengan dongeng amakan sehat (Kanan).

CAPAIAN KEGIATAN

Peserta Host dan Mitra Lokal GEF di Fesdeskot 2020:

  • Fase VI: 3 dari Waktobi, 4 dari Gorontalo; 4 dari Semau (satu lagi transportasi sendiri); 2 dari Nusa Penida; dan 2 dari Jogjakarta mewakili BDT, Lawe sebagai nara sumber : 16 peserta
  • Peserta dari  fase sebelumnya, yang bergabung dengan program Petani Muda  dan jaringannya ada 3 dari Jogjakarta; 3 dari Garut; 2 dari Pangandaran dan 2 dari Bandung. Serta sebagai nara sumber inspirasi dari Salatiga. Total 11 peserta.
  • Peserta diskusi di Tampara: 20 orang. PIB 2 orang, Forkani 1, Akka Mollu (orgaisasi anak muda) 13 laki-laki, 4 perempuan, 1 perempuan dari Goje-goje.
  • Total keseluruhan para penghuni Festival Desa Kota dari komunitas desa berjumlah 150 datang dari 16 Kabupaten, dengan inisiatif ekonomi untuk menjawab tantangan di wilayah masing-masing.
  • Pengunjung selama 3 hari: sekitar 1000 peserta lebih.
  • Ada 2 rembug kebijakan pangan.
  • Ada 16 workshop teknis dan peningkatan kapasitas.
  • Ada 5 kegiatan popular: Yoga, Lomba menggambar, Lomba Melukis, Melukis Wayang di plastic bekas dan besek; Melukis di kertas bekas.
  • Ada dukungan dari 20 lebih komunitas craft dan pertanian kota.
  • Pameran produk.
  • Pertunjukan seni tradisional dan juga pertunjukan tari anak.
  • Instalasi Informasi.

DAMPAK PROYEK

  • Komunitas dapat melihat gambaran besar kebijakan pangan dan pembangunan pedesaan dari diskusi-diskusi kebijakan diantaranya: Hak atas benih; Bumdes; UU Desa.
  • Anak muda dari wilayah kerja dapat melihat peluang-peluang ekonomi yang dapat dijadikan sumber penghidupan,
  • Anak muda di desa dapat pengetahuan tentang kemasan, packaging produk, baik melalui workshop atau pun melihat langsung produk yang dikembangkan berbagai komunitas.
  • Ada liputan tentang inisiatif ekonomi warga desa.
  • Jika tidak segera ditindaklanjuti ditingkat lokal, akan sulit menggerakkan ekonomi.

Peluang-peluang yang dapat dikembangkan.                        

Kompos, pupuk cair dan benih (kiri). Workshop membuat tempe sekaligus menjual produknya (Kanan).

PENGALAMAN TERBAIK

Saat petani muda dari periode program yang didukung GEF sebelumnya berbagi kiat-kiat sukses berbisnis dari Desa. 

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Keberlanjutan program pengembangan ekonomi di desa  sangat tergantung pada kelompok anak muda yang diajak terlibat dalam kegiatan ini. Terbukti, ketertarikan mereka, dan kemampuan mereka membaca peluang sejumlah anak muda dari program sebelumnya mulai menunjukkan hasil yang baik, baik dalam bisnis maupun keterlibatan aktif di desanya. 
  • Jika lembaga host, memiliki focus pada isu pangan dan dapat melihat pengembangannya maka tingkat keberlanjutan program akan tinggi.
  • Masih sedikit host yang memberi perhatian pada generasi muda, dengan alasan tidak ada anak muda yang tertarik, tetapi sesunnguhnya belum membuat program khusus yang membuat anak muda tertarik menekuni sektor pangan. 

Media dan Publikasi

Daftar Liputan Festival Desa Kota 2020 (dari pra-kegiatan)

The Jakarta Post

Chronosdaily

Katadata

Greeners

Kompas

Katadata

Kompas

Urban News

Mongabay

Fajar Sumatera

Villagerspost

Tribunnews Jambi

Pelita Banten

Kompas Cetak, 20 Januari 2020. Berita foto.