Sekolah Desa Sejahtera

Sekolah Desa Sejahtera untuk mendorong pengembangan model pembangunan berkelanjutan yang memperkuat daya lenting masyarakat (Wakatobi, Gorontalo, Pulau Semau)

Perkumpulan Indonesia Berseru

(INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/027Perkumpulan Indonesia Berseru)

Tujuan khusus 1: Ekosistem, keanekaragaman Hayati dan sumber daya Alam (Wakatobi)

  • Sekolah Desa Sejahtera di Desa Pajam, Kaledupa bersama Kelompok Tenun Panglima, 10 Januari 2019.
  • Peserta memetakan sumber daya pangannya, serta membuat neraca konsumsi. Peserta menyadari, ketergantungan mereka pada sumberdaya pangan dari luar desa bahkan luar pulau sangat lah besar.
  • Diskusi awal ini menjadi pembuka untuk mendiskusikan sistem pangan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dan bagaimana cara agar bisa hidup berkelanjutan di pulau-pulau kecil dengan sumber daya yang terbatas.
  • Desa yang terletak di wilayah paling tinggi di Pulau Kaledupa ini menginvetaris jenis-jenis ikan paling sedikit diantara desa lainnya.
  • Keunggulannya, mereka mulai mengetahui jenis tanaman yang terkait dengan proses tenun, dan bagaimana membudiyakannya. 

Sekolah Desa Sejahtera di Desa Horuo, dilaksanakan pada 11 Januari 2019, di kantor Desa.

  • Peserta menggambarkan desa dan sumber daya pangannya dengan perdebatan keras.
  • Dari prosesyang terjadi, tampak warga belum pernah diajak untuk memikirkan cita-cita desanya sehingga terjadi perdebatan yang cukup Panjang di awal proses.
  • Mereka menyadari bahwa banyak hal yang dapat digali dari desanya, dan belum dimaksimalkan, khususnya pertanian pangan.
  • Sebagai bagian dari masyarakat Bajo, pengetahuan tentang sumber daya ikan yang dimiliki peserta sangat tinggi, sekitar 70-an jenis dalam waktu singkat. Tetapi, masih jauh dari daftar yang dimiliki oleh Forkani sekitar 250 an jenis. Ada yang pengetahuan yang hilang, dan harus didiskusikan lebih lanjut.
  • Ketergantungan yang sangat tinggi dengan daratan untuk kebutuhan pangan sehari-hari, meskipun satu atau dua orang bercerita mereka bisa menanam beberapa jenis kebutuhan dapur. 
  • Sebagai masyarakat yang kerap “dipantau” oleh TN, warga belum terlalu terbuka untuk bercerita sistem penyimpanan pangan laut mereka, yang ada di sekitar rumah. 

Tujuan khusus 1: Ekosistem, keanekaragaman Hayati dan sumber daya Alam (Gorontalo)

  • Pertemuan dilakukan di Balai Desa Tamaila Utara pada 20 Mei 2019 . Kegiatan dilakukan pertemuan dengan pak Kades Desa Tamaila Utara dan staff nya (Bukhari Buroma). Serta pengurus Bumdes dan PKK.
  • Bumdes sempat macet karena digunakan di simpan pinjam, sehingga memutuskan untuk bergerak di ekonomi yang bisa membantu warga. Tetapi karena dana terbatas, perkembangannya tidak cepat.
  • Pengurus Bumdes ada 6 , plus 1 komisaris, sebagian besar merupakan  petani yang belum terbiasa berbisnis.  Tantangannya mendefinisikan bisnis apa yang akan dikembangkan di desa. Tampak yang menjadi leader masih Pak Desa, yang kerap dipanggil ayah.
  • Beberapa sumber ekonomi yang sudah diidentifikasi: Pengelolaan rumbia, dengan batang yang bisa menghasilkan sagu. Wilayah pinggir sungaiakan menjadi kawasan peremajaan bibit. Batang tua nya yang berumur  30-40 tahun seharga 1-2 juta. Tetapi pendataan potensi pohon rumbia baru setengah.
  • Pertemuan dengan anak-anak muda desa Tamaila Utara, dilakukan di Balai Desa Tamaila Utara pada 20 Mei 2019, setelah pertemuan dengan komunitas yang lebih dewasa.
  • Sebagian peserta merupakan anggota Karang Taruna dan ada yang masih bersekolah di luar desa.
  • Terlihat anak muda ini belum memahami sumber daya yang dimiliki desa, dan belum memiliki wadah untuk mengembangkan kapasitasnya.  Tetai sebagai anak muda, mereka ingin desanya Maju, dan salah satu yang disebut adalah pengembangan pariwisata air terjun, agar desa lebih dikenal.  
  • Pertemuan dengan anggota komunitas di SP3 dan anak-anak mudanya dilakukan bersamaan, tetapi di dua ruang berbeda pada  21 Mei 2019.
  • Sementara yang dewasa membahas isu-isu meningkatkan produktivitas kebun, mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan anggota Marsudi Lestantun melalui kegiatan ekonomi tambahan (membuat tahu dan beternak).  Anak-anak muda banyak mengeksplorasi masa depan mereka yang pindah ke wilayah “entah berantah” dari kampung halamannya.
  • Meski pun galau, anak-anak muda transmigran ini juga membangun mimpi bersama orang tuanya, dan menyatakan idola mereka adalah pak Bunaeri, yang memiliki kebun paling produktif.  Mimpinya, mereka bisa langsung  menjual hasil kebunnya, karena selama ini masih melalui para tengkulak yang menentukan harga. 
  • Perlu pendampingan yang intensif, agar anak-anak muda ini dapat mewujudkan mimpinya, sementara anggota Marsudi Lestatun sendiri masih sibuk dengan kelompoknya.  
  • Anak perempuan belum ada yang bisa bergabung.

Tujuan khusus 1: Ekosistem, keanekaragaman Hayati dan sumber daya Alam (Pulau Semau bagian Selatan)

  • Untuk Wilayah Semau  Selatan (Ui Boa, UitiuhTuah, Uitiuh Ana, Onan sila) dilaksanakan pada 16-17 September di Kantor Penyuluh Pertanian Desa Uihtiuh Anna, Pulau Semau.
  • Komunitas mengidentifikasikan kekayaan sumber pangannya, dan benih yang dimiliki berserta tantangannya: produktivitas kurang, kualitas benih tidak baik, gampang diserang hama, harga hasil panen benih lokal lebih rendah.
  • Ada lebih dari 50 jenis sumber pangan lokal yang berhasil diidentifikasi dari proses ini. 
  • Pertanian organic, menjadi salah satu jawban, yang dalam skala terbatas sudah terbukti :Dalem Messa.
  • Tantangan lain dalam menghasilkan pangan:  air yang sulit, curah hujan tak pasti, ketergantungan pada saprotan dan benih dari luar pulau, tengkulak, tidak ada pasar lokal, kemampuan teknis yang masih terbatas tetapi tertarik untuk menerapkan pertanian alami; biaya tenaga kerja mahal.
  • Sepakat untuk merancang strategi agar dapat  mendukung kesejahteraan petani: Pembahasan UU Desa, Bumdes, bagaimana mempengaruhi keputusan desa, dimulai melalui musyawarah dusun.
  • Tiap desa menyusun rencananya sendiri yang diantaranya akan difasilitasi melalui Forum MSD yang akan dikawal olah Tafena Tabua.
  • Kegiatan di Semau Utara dilakukan pada Rabu, 18-19 September 2019, bertempat di kantor Desa Uiasa.
  • Kawasan Samau Utara menghadapi tantangan kemampuan mengolah lahan agar hasil lebih baik perlu ditingkatkan.
  • Jenis tanaman relatif sama dengan Semau Selatan, dan Sebagian besar benih lokal hilang karena program pemerintah yang memperkenalkan benih unggul.
  • Melihat bersama Sumber Daya yang ada di desa juga kabupaten: dana desa, Bumdes. Tetapi saat ini Bumdes dianggap  belum melihat kebutuhan petani. Unit usaha Bumdes kebanyakan usaha penyewaan alat pesta, tenda. Bahkan malah menjadi  tengkulak baru.
  • Perlu jaringan yang bisa mendukung petani, bagaimana agar Bumdes bisa memfasilitasi barter dan memasarkan produk petani, memberikan informasi dan perturan yang dibutuhkan untuk kesejahterraan petani.  
  • Akan ditindaklanjuti dalam Forum MSD, dengan catatan keaktifan warga untuk mempengaruhi penggunaan dana desa.

CAPAIAN KEGIATAN

Wakatobi:

Desa Pajam diikuti oleh  26 orang, terdiri dari  Kelompok Pangilia(6 Orang); Kelompok Djalima (5 orang); Forkani dan Anggota implementor (6) orang; PIB 2 dan para anak muda Mahasiswa UGM yang akan mendampingi komunitas 9).

Desa Horuo Darat (11/1/2019), dengan peserta 37 orang peserta: terdiri dari Kepala Desa dan aparatnya; masyarakat, komunitas pendamping dan juga mahasiswa UGM. Diskusi kelompok menjadi menarik, karena ada perdebatan tentang apa yang terdapat di desa mereka tidak selalu disepakati.

Desa Mantigola diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari nelayan dan kelompok perempuan.

Total: 83 peserta.

Gorontalo:

Tamaila Utara (Dewasa)  25 orang

Tamaila Utara (Anak Muda): 11 peserta,

SP3 Dewasa: 22 orang

SP3 anak Muda:  10 orang anak muda

Pulau Semau:

Semau Selatan 37 orang, dengan komposisi petani: 12 laki-laki , 12 perempuan. Sementara dari Mitra Nasional, Host (Pikul), Tafena Tabua, Geng Motor Imut, Kupang Batanam, Dalem Mesa: 7 perempuan, 6 laki-laki.

Semau  Utara oleh 32 Orang, dengan komposisi. Kelompok petani: 9 perempuan, 11 laki-laki. Sementara dari Mitra Nasional, Host (Pikul), Tafena Tabua, Geng Motor Imut, Kupang Batanam, Dalem Mesa: 6 perempuan, 6 laki-laki.    

DAMPAK PROYEK

Positif:

  1. Masyarakat mengenal potensi desanya, berbagai keanekaragaman hayati yang pernah ada dan perlu dikembalikan.
  2. Masyarakat menyadari pola konsumsi pangan yang sangat tergantung pada asupan luar.
  3. Masyarakat mulai memahami hak-haknya sebagai earga desa dan juga petani yang menggunakan/membenihkan sendiri.
  4. Masyarakat mau mencari solusi bersama-sama, dan memiliki mimi/visi bersama tentang desanya.
  5. Masyarakat memiliki perencanaan untuk memecahkan tantangan yang dihadapi.

PENGALAMAN TERBAIK

Proses di Pulau Semau (bagian Utara dan Selatan) merupakan pengalaman terbaik, karena organisasi mitra lokal memahami kaitan-kaitan program Sekolah Desa Sejahtera dengan kegiatan teknis yang mereka lalukan, kemudian ada organisasi mitra yang langsung menindaklanjuti proses-proses yang disepakati. Sehingga saling terkait, mengisi dan memperkuat.

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Jika kegiatan MSD berjalan, atau pun mitra lokal dapat menghubungkan dengan kebijakan desa, baik melalui musyawarah desa atau pun bumdes kegiatan ini dapat berlanjut.
  • Kegiatan juga dapat berlanjut selama memberikan keuntungan bagi komunitas, baik dari sisi pemenuhan kebutuhan sendiri maupun ekonomi.  Tampaknya dari pelatihan teknis dan bukti-bukti di sejumlah tempat (Semau, Gorontalo) hal ini bisa berlanjut karena manfaatnya sangat dirasakan komunitas. Kami tidak dapat memberikan pendapat untuk Wakatobi, karena tampaknya kegiatan mitra lokalnya seperti tidak tersambung, sementara untuk Nusa Penida belum dilakukan Sekolah Desa baru assessment karena keteresdiaan waktu host dan mitra lokal yang sulit sekali bertemu.