biologi-fmipa-universitas-negeri-gorontalo-cover

KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KAWASAN HUTAN: Pengelolaan keanekaragaman dan ekosistem hutan dengan pendekatan sosiokultural (karakter konservasi) yang berbasis kearifan lokal masyarakat sekitar hutan

Pusat Kajian Ekologi Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (PKEPKL) Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Gorontalo

INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/18/024

Tujuan 1 :
Analisa vegetasi kawasan hutan wilayah Tumba

Foto 1: Kegiatan tahapan pengamatan dan pengambilan data vegetasi tumbuhan budidaya dan tumbuhan non budidaya di wilayah Tumba (Oktober  2018).

Foto 2: Kegiatan diskusi lapangan menyangkut identifikasi jenis dan keragaman vegetasi di wilayah Tumba. Latar belakang dalam foto adalah wilayah lahan sekitar Tumba yang memiliki betbagai jenis vegetasi non budidaya maupun vegetasi budidaya (Oktober  2018).

Foto 3 : Beberapa lokasi yang menjadi titik sampling analisis vegetasi di wilayah Tumba yang ditumbuhi oleh tumbahan non budidaya dan tanaman budidaya (Oktober 2018).

Tujuan 2 :
Identifikasi/inventarisasi bentuk kearifan lokal kelompok masyarakat serta pemahaman Nilai-nilai sosiokultural, budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan hutan.

Foto 4 dan 5 : Proses Focus Group Discussion (FGD) menyangkut inventarisasi kearifan lokal masyarakat (November 2020).

Foto 6, 7 dan 8 : Diskusi kampung bersama masyarakat wilayah Tumba dalam menetapkan bentuk kearifan lokal yang dimiliki yang terdiri atas 10 jenis kearifan lokal diantaranya:

Mengenal tanaman tumbuhan liar yang berkhasiat obat menyembuhkan; membuat ramuan untuk kebutuhan sendiri, misalnya: Pisang yakis: luti air/cacar. Tomula bambu kuning/cina obat liver, akar kucing: sesak nafas; Komunikasi melalui pesan berantai; Mohuyula yang berbasis gender Saat menamnam: pembegian peran antara laki-laki dan perempuan; ada kesepakatan berupa diberlakukannya pungutan dari setiap anggota huyula tersebut sebagai biaya operasional untuk melaksanakan Huyula; Pengetahuan dan keterampilan lokal; mereka mengenal bibit biji yg biar tdk mudah diserang tikus. Jumlah biji yg ditanam ganjil; Hajatan keluarga, dimana adanya kesadaran bersama pada setiap pelaksanaan kegiatan/hajatan keluarga dalam bentuk membawa/meberikan sumbangan bahan untuk keperluan hajatan tersebut dalam bentuk  seperti hewan ternak (ayam) hasil kebun sayur dan rempah-rempah; Memiliki hubungan emosional yg tinggi dg linkungan dan alam.  Sempat bekerja diluar Gorontalo lebih dari 10 tahun dan tetap akan kembali balik ke Tumba; Keterampilan dan pengetahuan lokal tentangMolapo = pengasapan” pengendalian hama penggerek tongkol jagung; Pengetahuan tentang Ilmu perbintangan (Panggoba).

Tujuan 3 :
Pengembangan dan penerapan pembelajaran keanekaragaman dan ekosistem hutan yang berkarakter kearifan lokal di tingkat pendidikan formal (SD) yang memunculkan kesadaran  yang dapat mendukung pengelolaan keanekaragaman dan ekosistem hutan

Foto 10, 11 dan 12 : Penerapan pembelajaran ekosistem hutan yang berkarakter kearifan lokal dengan menggunakan produk modul pembelajaran untuk siswa SD wilayah tumba yang difasilitasi oleh tim PKEPKL dan dibantu oleh Kelompok Mahasiswa KKN.

Tujuan 4 :
Produksi dan penggunaan pupuk dan pestisida alami dengan memanfaatkan Gulma Siam (Chromolema odorata) sebagai bahan baku, pada lahan pertanian jagung maupun tanaman budidaya lainnya (Pembuatan pestisida alami)
.

Foto 13, 14 dan 15 : Aktivitas praktek pembuatan pupuk dan pestisida Alami dari bahan baku Gulma siam (Chromolemaodorata).

Foto 16, 17, 18, 19 dan 20: Penerapan pupuk dan pestisida alami pada bibit kakao dan cabai serta pada demplot percontohan.

Tujuan 5 :
Penerapan system Agroforestry dalam peningkatan dan pemanfatan tanaman Kakao dan Kelapa sebagai salah satu alternatif peningkatan kemandirian masyarakat Tumba

Foto21 dan 22: Diskusi dan praktek secara personal antara penanggung jawab program, koordinator program, fasilitator pendamping lapangan dengan petani dampingan secara kontinyu untuk meningkatkan pemahaman para petani tentang tata cara pemeliharaan tanaman kakao dan sistem pertanian yang ramah lingkungan (Agroforestry) yang lebih baik.

Foto 23 dan 24: Aktivitas penyiapan lahan untuk sistem pertanian agroforestry. Penyiapan lahan dilakukan dengan mengacu pada bentuk kearifan lokal yang menggunakan sistem perhitungan tanggal dan bulan.

Foto 25 dan 26: Praktek penerapan tata cara pemeliharaan/perawatan tanaman kakao (pemangkasan cabang air dan pembersihan lahan) serta sistem pertanian yang ramah lingkungan dan pemanfaatan pupuk organik, pestisida alami serta pembuatan kompos.

Foto 27 dan 28: Diskusi bersama antara penanggung jawab program, koordinator program, fasilitator pendamping lapangan dengan para petani secara kontunyu tetap dilakukan untuk meningkatkan pemahaman
para petani tentang tata cara pemeliharaan/perawatan tanaman kakao dan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan pemanfaatan pupuk organik, pestisida alami dan peningkatan kapasitas para petani dengan membahas kebutuhan petani terkait pendapatan dapat terjawab dengan membandingkan hasil keuntungan yang diperoleh jika menggunakan pupuk organik dan pupuk yang dibeli dari tengkulak.

Foto 29 dan 30: Praktek pengolahan pasca panen kelapa menjadi VCO oleh kelompok perempuan.

Tujuan 6 :
Membuat sebuah bentuk panduan dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan yang bebasis pada kearifan lokal masyarakat yang diatur dan disahkan oleh Keputusan Kepala Desa.

Foto 31 dan 32: Diskusi proses penyusunan buku panduan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan yang bebasis pada kearifan lokal masyarakat.

Foto 33: Produk buku yang telah di hasilkan.

DAMPAK KEGIATAN

  • Penerapan sistem agroforestry yang berkelanjutan. Penggunaan dan Pemanfaatan tanaman tahunan pada lahan yang dimiliki oleh masyarakat dampingan merupakan sebuah solusi dalam memperkaya keanekaragaman pangan yang sistematis untuk menjaga stabilitas dan ketahanan bentang lahan dan kawasan hutan yang terintegrasi pada stabilitas wilayah tangkapan air dan keanekaragaman hayati. Kerberlanjutan sistem produksi target diperkuat dengan terobosan pengetahuan baru seperti perawatan dan pemiliharan komoditas tanaman terutama kakao dan pemanfaatan buah kelapa menjadi olahan minyak kelapa VCO. Produksi minyak kelapa VCO merupakan sebuah intervensi pengetahuan dan terobosan teknologi baru bagi masyarakat dampingan. Luarannya adalah terbentuknya kelompok perempuan yang mengembangkan usaha rumah tangga skala kecil namun dapat meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga.
  • Adanya program yang dilakanakan oleh organisasi mitra yakni PKEPKL bersama LPPM UNG melakukan kerja sama dalam bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang diselenggarakan di wilayah dampingan (Tumba) dan Dipusat Desa sebagai keberlanjutan program yang telah dijalankan.
  • Menguatnya peran kelompok perempuan dalam pengelolaan sumber daya dan hasil pertanian di wilayah Tumba.
  • Adanya dukungan pemerintah kabupaten Gorontalo yang secara langsung disampaikan oleh Bupati selaku pemangku wilayah yang menjadi lokasi intervensi program.

Foto 33: Teras miring yang diterapkan mekanik pada lahan demplot di Wilayah Tumba

Foto34: kelompok perempuan (ibu-ibu) pada kegiatan pembuatan minyak kelapa VCO

Foto 35 dan 36: Produk – produk hasil olahan kelompok dampingan yang telah dipamerkan dalam beberapa evet kegiatan di tingkat Lokal maupun Nasional serta dipasarkan dalam skala terbatas.

Foto 37 dan 38: Diskusi dan uraian dukungan Bupati Kabupaten Gorontalo selaku pemangku wilayah yang menjadi lokasi intervensi Program

Pengalaman Terbaik

  • Kondisi bentang alam di wilayah Tumba yang memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi, telah memberikan inspirasi untuk dapat memvariasikan bentuk-bentuk aktivitas yang dilaksanakan. Adanya aktivitas/kegiatan yang dilaksanakan pada dasarnya akan bermuara pada keberlanjutan potensi bentang alam yang tersedia di lokasi Tumba.
  • Terbangunnya ide-ide dari tim untuk melakukan riset menyangkut potensipotensi bentang alam yang ada di lokasi dampingan, misalnya riset tentang potensi kesuburan tanah. Antusias warga dampingan dalam pengembangan progress yang telah diintervensikan merupakan sebuah dorongan dan semangat untuk menjalankan kegiatan.
  • Aktivitas perempuan di wilayah dampingan (Tumba) sangat tinggi, baik dalam kegiatan pertanian maupun kegiatan dalam rumah tangga. Pengambilan keputusan oleh kaum perempuan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pertanian merupakan suatu tindakan yang sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  • Terbangunnya sebuah konpetensi melalui intervensi dalam pengelolaan, pemeliharaan, perawatan dan pemanfaatan potensi sumber daya yang ada serta dibarengi dengan strategi pemberian edukasi isu sistemik terkait ruang lingkup pasar dan untung rugi dari kegiatan pertanian dengan maksud agar langkah tersebut akan memberi sebuah perubahan mindset/pola pikir warga petani dampingan.

Keberlanjutan Program

Kebutuhan pengetahuan yang bersifat baru dan membangun dalam penguatan kapasitas warga terintegrasi pada pemanfaatan dan pengelolaan potensi bentang lahan, pengelolaan lebih lanjut terhadap komoditas lokal yang disandingkan dengan penggunaan system agroforestry yang bijak dan tepat oleh warga petani dalam hal ini adalah tata cara dan perlakuan petani dalam mengelola lahan, penanaman, perawatan, pemeliharaan serta pengetahuan pengelolaan pasca panen.

Media Publikasi

Publikasi kegiatan melalui media sosial Facebook

Publikasi kegiatan melalui website: https://pkepkl-ung.org