Tenun untuk Kehidupan

Tenun Untuk Kehidupan adalah sebuah gerakan yang merupakan buah gagasan dari banyak orang, melibatkan mitra-mitra yang tergabung dalam Terasmitra. Hampir semua daerah di Indonesia atau sekitar 29 provinsi memiliki tenun sebagai kain tradisional

Gerakan bersama tersebut dijalankan oleh Lawe Indonesia lewat beberapa tahapan. Tahap pertama Tenun Untuk Kehidupan berlangsung di Molo, Timor Tengah Selatan. Kemudian gerakan tersebut berlanjut di Dusun Sejati Desa, Yogyakarta dan Biboki, Timor Tengah Utara. Pada 2019, Tenun Untuk Kehidupan melaksanakan pelatihan di Wakatobi, Nusa Penida, dan Semau. Pada tahap-tahap selanjutnya, program tersebut akan memperkuat kegiatan tenun yang sudah ada seperti yang dilakukan para pengrajin tenun di Bayan, Lombok Utara dan Palu, Sulawesi Tengah. Tujuannya yaitu untuk mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat lewat kolaborasi para mitra dari Terasmitra dengan dukungan dari GEF SGP (Global Environment Facility- Small Grant Programme) Indonesia.

Gagasan adanya gerakan ini terinspirasi dari kisah masyarakat Tiga Batu Tungku, yaitu Suku Molo, Amanatun dan Amanuban, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT yang menggunakan tenun sebagai alat untuk menghalau para pengusaha tambang marmer dari wilayah mereka, bak kisah pejuang Indonesia yang mengusir Belanda dengan bambu runcing.

Ketua Perkumpulan Lawe Indonesia Adinindyah mengatakan dari sanalah tenun bermetamorfosis dari kain penutup tubuh menjadi sarana untuk menambah penghasilan para pengrajinnya. Lebih jauh lagi, tenun menjadi media untuk menyuarakan kepentingan mereka yang hidup dari tenun tersebut. Kegiatan-kegiatan Tenun Untuk Kehidupan sendiri berfokus pada pelatihan-pelatihan, menambah kemampuan para pengrajinnya untuk memperbaiki kualitas kain tenun, dan mengembangkan produk turunannya.

Koordinator GEF SGP Indonesia Catharina Dwihastarini melihat tenun tidak hanya meningkatkan pendapatan, namun meningkatkan posisi tawar para pengrajinnya yang kebanyakan adalah perempuan. Tenun juga menjadi media kreatif yang bisa menjadi advokasi bagi para pengrajin tenun dan masyarakat sekitarnya. Gerakan Tenun Untuk Kehidupan memberi nilai tambah terhadap tenun itu sendiri. Dwihastarini memaparkan bahwa dahulu tenun dianggap sebagai kain yang hanya bisa diakses oleh orangorang tertentu karena harganya yang mahal. Lewat program Tenun Untuk Indonesia yang memberikan variasi dalam produk tenun maka berbagai kalangan kini bisa menggunakan tenun. Mereka yang menggunakan tenun juga menjadi bagian dari perjuangan dan advokasi untuk masyarakat tersebut.

Pada konkretnya, anak-anak muda di Jakarta misalnya bisa turut serta menjadi bagian dari perubahan dengan membeli produk setagen pelangi yang diproduksi ibu-ibu di Dusun Sejati Desa. Dengan membeli setagen pelangi mendorong warga Dusun Sejati Desa Moyudan untuk lebih banyak menenun ketimbang menambang pasir di dasar Sungai Progo. Atau dengan membeli kain tenun dengan pewarna alami yang diproduksi di Nusa Penida bisa menjadikan para pembeli untuk andil dalam memperlambat laju perubahan iklim.

Kisah-kisah di balik tenun itulah yang menciptakan rasa kepemilikan bersama terhadap sepotong kain sehingga mereka yang membeli produk tenun tersebut dapat mengenakannya dengan rasa bangga. Tenun Untuk Kehidupan bukan lagi soal bagaimana menyusun benang, membuat motif, dan menjadikan ia cantik saat dikenakan sebagai kain atau aksesoris, namun tenun berubah menjadi soal keberlangsungan hidup yang meliputi peningkatan taraf hidup, pendidikan, dan pengetahuan, serta menjadi medium untuk bersuara.