edukasi-hutan-mangrove-horuo-matingola-wakatobi-akar-embun-cover

Pengembangan Desa Horuo dan Desa Mantigola Melalui Pemanfaatan serta Edukasi Hutan Mangrove

Yayasan Akar Embun Indonesia

INS/SGP/OP6/Y2/STAR/BD/19/049

URAIAN PELAKSANAAN PROYEK

Salah satu isu yang diangkat oleh SGP/ GEF adalah pelestarian hutan mangrove di kawasan pesisir pulau kecil, secara spesifik di Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Di samping alasan belum banyaknya program yang memanfaatkan Mangrove sebagai produk makanan di kawasan timur Indonesia (terutama Kaledupa dan Wakatobi), maka  Akar Embun mengambil tema tersebut untuk strategi pelestarian Mangrove dengan melakukan pendekatan olahan pangan produk mangrove dan ‘Kelompok Belajar Pesisir’ yang berkelanjutan. Luasnya cakupan jumlah Mangrove yang ada di sepanjang pesisir Kaledupa khususnya Desa Horuo dan Mantigola juga menguatkan alasan kami untuk memilih tema tersebut sebagai program intervensi yang dijalankan selama kurun waktu dua belas bulan, mulai dari Bulan April 2019 s.d. Maret 2020.

Foto 1 dan 2: Proses pengolahan buah mangrove jenis Bruguiera Gymnorrhiza (Lindur/ Tancang) menjadi camilan stik mangrove dan tepung mangrove oleh Kelompok Saompu. Sebelum memasuki tahap tersebut, buah mangrove yang dipetik secara tradisional oleh Saompu, direbus, dan direndam selama dua hari dua malam sampai racunnya hilang dan siap diolah.

Foto 3: Produk Mangrotobi berupa stik dan kerupuk mangrove hasil kreasi Kelompok Saompu.

Foto 4: Tidak hanya memproduksi, Saompu juga berusaha memasarkan produknya di acara adat seperti Festival Barata Kahedupa 2019 dan Wakatobi Wave 2019.  Kegiatan promosi dan distribusi produk merupakan bagian dari serangkaian pelatihan manajemen dari Akar Embun.

Foto 5: Selain sociopreneurship, program Akar Embun juga fokus pada pendidikan kontekstual, khususnya bagi anak-anak pesisir Suku Bajo. Setiap seminggu sekali, anak-anak diajak belajar sambil bermain tentang lingkungan tempat mereka tinggal.

Foto 6: Bu Zarima, salah satu fasilitator KBP tengah menjelaskan macam-macam sampah dan bagaimana mengolahnya menjadi ecobrick kepada peserta KBP dan murid SMP Ambeua yang berkunjung ke Mantigola.

Foto 7 dan 8: Kegiatan KBP tidak hanya dilaksanakan di Rumah Adat Mantigola, anak-anak juga diajak menyusuri padang lamun dan hutan mangrove. Mereka diberi tugas secara berkelompok lalu mempresentasikan hasil tugasnya dan berdiskusi dengan kelompok lain.

CAPAIAN KEGIATAN

  • Teridentifikasi ekosistem dan dua (2) jenis mangrove yang dapat dikonsumsi, yaitu Bruguiera Gymnorrhiza/ lindur dan Avicennia Sp. / api-api. Dari sebelas (11) sampua/ tempat berlabuhnya sampan, di wilayah hutan Horuo dapat menghasilkan ± 10.560 buah setiap musimnya.
  • Adanya kesepakatan lisan antar pemangku kepentingan terlibat tentang pemanfaatan mangrove untuk menjadi produk olahan pangan.
  • Terbentuknya satu (1) kelompok masyarakat berbasis komunitas yang aktif dalam pemanfaatan, pelestarian, dan pengolahan mangrove. Kelompok beranggotakan sepuluh (10) ibu-ibu Desa Horuo.
  • Pemberdayaan Kelompok Dampingan Masyarakat melalui kegiatan peningkatan kapasitas SDM guna produksi dan pemasaran produk pangan olahan mangrove.
  • Menghasilkan empat (4) produk olahan mangrove siap jual sebagai bentuk kewirausahaan sosial.
  • Sosialisasi hasil produk olahan mangrove sebanyak dua (2) kali.
  • Meningkatnya produktivitas penjualan dengan promosi aktif produk olahan mangrove.
  • Adanya kesepakatan lisan antar pemangku kepentingan terlibat tentang kegiatan belajar mengajar informal tentang kelautan dan lingkungan hidup bertema pesisir.
  • Upaya-upaya transfer pengetahuan lingkungan hidup dan kearifan lokal kepada generasi muda di Horuo dan Mantigola.
  • Penerapan media pembelajaran aktif yang menarik dan kreatif.
  • Pengembangan kapasitas SDM dua (2)  tenaga pendidik.
  • Berkurangnya sampah plastik di wilayah Desa Horuo laut dan Mantigola.

Laporan Monitoring dan Evaluasi Program

DAMPAK PROYEK

  1. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu yang diangkat dan diimplementasikan. Masyarakat semakin sadar bahwa mangrove bisa diolah menjadi alternatif pangan yang lezat dan bergizi.
  2. Peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak signifikan namun kesejahteraan kelompok Saompu itu sendiri meningkat seiring dengan produktivitas kinerja mereka.
  3. Peningkatan kapasitas lembagaan lokal (KSM, KUD, Kelompok Tani. dll) tidak terlalu berpengaruh dalam pelaksanaan program ini.
  4. Pertukaran informasi/ kerjasama dengan lembaga lain terjalin namun tidak semua berjalan baik. Hubungan dengan FORKANI sebagai host cenderung negatif karena tidak ada dukungan selama kami di lapangan. Tetapi kami justru berhubungan baik dengan instansi pemerintah, seperti dengan Balai Taman Nasional Wakatobi.
  5. Kebijakan pemerintah dalam program ini tidak berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah. Mungkin dengan adanya program kami, memberikan wacana lain kepada pemerintah untuk perancangan kegiatan tahun mendatang.
  6. Peningkatan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang terkait. Akar Embun bekerja sama dengan Wakatobi Dive Trip, BTNW, Maimo (toko oleh-oleh), dan KLHK.
  7. Adanya peningkatan kualitas sumberdaya alam yang digarap. Hutan mangrove di Horuo wilayah kelompok Saompu menjadi setidaknya terjaga.

PENGALAMAN TERBAIK

Foto 9 & 10: Pendampingan masyarakat tak semudah yang dipikirkan. Banyak faktor yang tidak dapat diprediksi akan mempengaruhi jalannya program atau menghambat. Perbedaan latar berlakang sosial, kultur, dan ekonomi menjadi kompleksitas tersendiri. Bagaimana cara kami menghadapi pun tidak serta merta dapat kami temukan melalui buku-buku melainkan bersinggungan langsung dengan mereka.

KEBERLANJUTAN PROYEK/KEGIATAN

  • Program diserahkan kepada komunitas agar mandiri, terutama untuk kelompok Saompu. Diharapkan dengan bekal pelatihan produksi hingga manajemen, Saompu mampu menghasilkan produk dan keuangan berjalan lancar. Meski tidak lagi memfasilitasi, Akar Embun sangat terbuka apabila Saompu hendak berkonsultasi mengenai produk dan manajemen. 
  • Untuk program KBP, Akar Embun berniat untuk membuat paket wisata edukasi budaya Bajo dan Wakatobi berjudul ‘Travolunteer’.
  • Program Kelompok Belajar Pesisir akan direplikasikan ke daerah pesisir lain agar anak-anak pesisir lebih mencintai lingkungan dan turut serta melestarikannya.

Media dan Publikasi

Kelompok Belajar Pesisir Bajo Mantigola

KelompokPengolah Mangrove Saompu