<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mitra Nasional Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/mitra-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sgp-indonesia.org/en/tag/mitra-nasional/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Mitra Nasional Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>http://sgp-indonesia.org/en/tag/mitra-nasional/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17330</guid>

					<description><![CDATA[<p>(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) BJ Habibie, Provinsi Gorontalo, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan ekonomi alternatif bagi masyarakat. Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025). Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-17331" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pupuk organik cair sebagai solusi ekonomi alternatif bagi warga di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie, Gorontalo.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>, Provinsi <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan <a href="https://www.suara.com/tag/ekonomi">ekonomi</a> alternatif bagi masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum itu menjadi ajang <em>curhat</em> terkait masalah yang terjadi, terutama di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, salah satu masalah yang diangkat terkait aktivitas tambang emas ilegal di SM Nantu-Boliohuto. Aktivitas ini dinilai meresahkan masyarakat serta mengancam ekosistem di wilayah tersebut. Sejumlah pihak berupaya untuk memberikan solusi terhadap masalah yang ditimbulkan dari eksploitasi sumber daya alam tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya solusi dari pemerintah untuk melakukan pendampingan warga yang terdampak dan edukasi terkait geologi, sektor ekonomi pun tak pelak menjadi sorotan. Ada beberapa solusi alternatif yang dikemukakan sebagai bentuk nyata transformasi ekonomi lokal ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alternatif yang diperkuat adalah budidaya lebah madu atau yang dikenal dengan nama latin Apis Cerana di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo. Inovasi ini dinilai memiliki prospek cerah. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan ekonomi warga tanpa mengorbankan hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Turut hadir dalam pertemuan lintas sektor tersebut, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengatakan pihaknya membantu untuk memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan yang mereka hadapi, salah satunya yang terjadi di SM Nantu Boliohuto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dengan mendukung inisiatif lokal, GEF SGP membantu memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan mereka sendiri. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam, sehingga mendorong praktek yang lebih berkelanjutan,” ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ragam Solusi Tingkat Tapak</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, dalam kesempatan tersebut, beragam lembaga mitra GEF SGP Indonesia Fase 7 memaparkan hasil kerja mereka selama program. Pemaparan tersebut menunjukkan berbagai inovasi dan dampak positif di tingkat tapak setelah mendapatkan manfaat dari program GEF SGP Indonesia Fase 7.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pemaparan dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Gorontalo dan Institute for Human and Ecological Studies (Inhides) yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan advokasi. Mereka menyoroti kerusakan hutan akibat pertambangan ilegal dan ancaman Hutan Tanaman Energi (HTE). Selain itu, mereka juga memfasilitasi terbentuknya kolektif perempuan tani dan mitigasi konflik satwa liar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pula Women Institute for Research and Empowerment (WIRE-G) mendampingi perempuan dan orang muda di Desa Bihe dan Pangahu. Fokus mereka adalah penguatan agensi perempuan dan anak muda, serta mendorong perencanaan pembangunan desa yang responsif gender.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Marsudi Lestantun menonjol melalui program agroforestri Silvopastura atau praktik mengintegrasikan pohon, hijauan, dan penggembalaan hewan peliharaan dengan cara yang saling menguntungkan. Lembaga ini menerapkan penanaman penghijauan berbasis peternakan dan mendampingi kelompok tani agar beralih dari pola tanam monokultur jagung ke sistem tanaman tahunan dan multikultur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ranah pengembangan komoditas, Agraria Institute bekerja di Desa Bihek dan Bondula guna menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Mereka memfasilitasi penandaan batas partisipatif, mendorong penanaman bibit kakao dan tanaman adat seperti agar, serta berkolaborasi dengan barista untuk mengembangkan kopi lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelompok Tani Hutan (KTH) Pobuto Nantu, menggandeng Marsudi Lestantun sejak program GEF SGP Indonesia Fase 6. Mereka mengembangkan komoditas kakao hingga menembus expo di Jakarta. Uniknya, kakao ini bahkan diolah menjadi camilan lokal seperti keripik atau cemilan. Buntutnya, inisiatif ini memberikan nilai tambah bagi petani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah dari sisi akademik, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) UNG terlibat dalam pemetaan partisipatif, rehabilitasi lahan melalui distribusi 5.000 bibit Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman kekayuan multiguna, serta penyusunan Peraturan Desa tentang Penataan Ruang Wilayah dan Batas Desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, LP2M UNG melalui Pusat Studi Energi menitikberatkan pada konservasi lahan dengan mendirikan kebun energi. Mereka juga membangun pico-hydro 700 watt, dan membentuk komunitas ekowisata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekonomi kreatif lokal pun enggan ketinggalan. Aspek ini juga memantik perhatian melalui pendampingan Rumah Kebun, yang membantu akses pasar dan branding produk seperti gula aren batu, sambal ayam kampung, dan keripik pepaya. Mereka juga berperan dalam pengembangan infrastruktur ekowisata di Air Terjun Bondula, Gorontalo.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Lewat rangkaian inovasi ini, desa-desa penyangga menunjukkan ekonomi dapat tumbuh tanpa merusak lingkungan. Dukungan multipihak dan pendampingan berkelanjutan membuat masyarakat dapat memperoleh sumber penghidupan baru sembari menjaga kawasan hutan yang menjadi penopang kehidupan mereka,”</em> ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/12/01/092409/inovasi-desa-perkuat-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem-dari-lebah-kakao-hingga-kopi-lokal?page=1</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 13:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17277</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Tradisi pertanian di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok perempuan petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun kakao dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa. Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia,&#160; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&#160; Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png" alt="" class="wp-image-17278" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(22/10/2025) <em>Tradisi pertanian di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia,&nbsp; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya mengenalkan kakao sebagai tanaman alternatif ramah lingkungan, eh ternyata justru perempuan yang cepat beradaptasi. Kaum hawa pun langsung mengambil peran penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Kami melihat kakao bisa menjadi komoditas unggulan sekaligus menjaga hutan tetap lestari. Awalnya kami cuma mau memperkenalkan tanaman alternatif yang lebih ramah lingkungan ketimbang jagung. Tapi ternyata, justru perempuan yang paling cepat beradaptasi dan mengambil peran penting,</em>” kata Catur saat diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Catur, program tersebut sejak awal memang menekankan keterlibatan perempuan, terutama bagi mereka yang suaminya tidak produktif atau bekerja di luar daerah. Dalam konteks seperti ini, perempuan menjadi tulang punggung keluarga yang menopang ekonomi rumah tangga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Sebenarnya, sokoguru ekonomi keluarga itu ya ibu-ibu. Nah, bapak-bapak hanya mencari uang. Tapi kalau urusan manajemen keuangan, pengaturan kebutuhan, sampai keputusan untuk menanam apa, semua dipegang oleh ibu-ibu. Mereka jauh lebih peka pada kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak</em>,” terang Catur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di banyak desa termasuk Saritani, imbuh Catur, perempuan merupakan pihak pertama yang merasakan dampak perubahan ekonomi. Ketika penghasilan melorot atau hasil panen gagal, mereka yang justru bergerak mencari solusi lebih dulu. Nah, menurut Catur, ketekunan perempuan inilah yang menjadi keunggulan tersendiri dalam budidaya kakao.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Kami sering menyebut mereka ‘ibu-ibu perkasa’,</em>” kata Catur sambil tertawa kecil. “<em>Mereka lebih telaten dan sabar, dua hal yang penting dalam merawat kakao. Buah kakao harus dibersihkan, dijemur, dan dipisahkan bijinya setiap hari. Laki-laki biasanya tidak sekuat dan setelaten itu.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, lokasi kebun kakao yang tidak terlalu jauh dari permukiman membuat perempuan lebih mudah mengelolanya. Mereka nggak perlu masuk jauh ke hutan. Banyak dari mereka yang bekerja bersama suami, anak, atau tetangga. Alhasil, aktivitas bertani kakao kini menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan sosial desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perubahan ekonomi yang muncul pun terasa nyata. Catur mengatakan, pendapatan dari kakao hingga kiwari jauh lebih stabil dibandingkan jagung. Padahal, sebelum beralih ke tanaman kakao, jagung menjadi komoditas utama masyarakat, terutama di Desa Saritani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Petani yang dulunya kesulitan kini bisa membeli kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, bahkan menabung untuk masa depan</em>,” tutur dia. “<em>Ketika harga kakao naik di pasar internasional, masyarakat Saritani benar-benar merasakan dampaknya. Mereka mulai menikmati hasil dari kerja keras sendiri.</em>”</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peran penting perempuan</h2>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.arkadia.me/v2/articles/ancillavinta/cVVSqiMbC7LT0jUT7KIXtowfeFvF0kGv.png" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Peran perempuan di Desa Saritani kekinian tidak lagi berhenti di ranah domestik. Mereka mengambil keputusan. Mereka juga mengelola hasil, dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi desa. Suratinah, 63 tahun, salah satunya. Dia merupakan petani kakao yang menjadi contoh nyata transformasi perempuan di Desa Saritani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Dulu hidup saya susah. (Saya) cuma bisa kerja jadi buruh, nggak punya modal, semua serba kurang. Tapi sejak menanam kakao, saya bisa panen tiap dua minggu. Hasilnya saya pakai buat beli beras, ayam, bahkan kirim uang sekolah anak di Jawa,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suratinah menuturkan, keterlibatan perempuan di kebun kakao bukan hanya sebatas membantu. Mereka kini mampu mengelola seluruh proses produksi, mulai dari menanam, merawat, hingga menjual hasil panen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Saya suka kerja, (tujuannya) biar bisa nyekolahin anak dan hidup lebih layak</em>,” ujar Suratinah. “<em>Sekarang kami sudah bisa mengatur waktu, kerja di kebun pagi sampai jam sebelas, lanjut lagi sore hari. Dulu, jangankan mikir sekolah, makan aja kadang susah.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rutinitas baru ini perlahan membentuk budaya baru di Saritani. Budaya kerja ini menempatkan perempuan sebagai pusaran aktivitas ekonomi di Desa Saritani. Dengan hasil panen 10 hingga 15 kilogram setiap dua pekan, mereka kini memiliki penghasilan rutin yang menopang kebutuhan keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Sekarang bukan cuma saya, tapi perempuan-perempuan lain juga sudah bisa beli beras dan ayam sendiri</em>,” kata Suratinah dengan bangga. “<em>Dulu kalau mau beli apa-apa harus pinjam uang. Sekarang nggak lagi.</em>”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, ia berharap perempuan lain di desanya berani mengikuti jejak yang sama. “<em>Ayo bertani, menanam kakao secara berkala. Supaya hidup kita bisa agak enak</em>,” pesannya. “<em>Jangan takut mulai dari kecil, karena kalau telaten, hasilnya akan kelihatan.</em>”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah perempuan Saritani membuktikan kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari tanah desa yang sederhana. Dari biji-biji kakao, kekinian mereka bukan hanya petani, tapi juga simbol ketekunan dan kemandirian yang membuat keluarga dan desa lebih sejahtera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/135952/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2025 10:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ICE BSD]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Trade Expo Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17271</guid>

					<description><![CDATA[<p>(17/10/2025) Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) terus memperkuat upaya peningkatan ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan model bisnis waralaba (franchise) dan toko unggulan (flagship store). Kedua skema ini diharapkan&#160; mampumemperluas jangkauan pasar produk UMKM Indonesia di Eropa, khususnya di Belanda yang memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan tersebut. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal PEN Fajarini Puntodewi saat membuka seminar “Facilitating Indonesian SME Export Through Franchisesand Flagship Stores in the Netherlands” padaTrade Expo Indonesia ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (16/10). ”Belanda memiliki posisi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/">Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="800" height="533" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57.png" alt="" class="wp-image-17272" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57.png 800w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-300x200.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-768x512.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-600x400.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em><strong>Menteri Perdagangan, Budi Santoso menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara eksportir dengan buyer di pagelaran Trade Expo Indonesia ke-40, ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025). (Foto Kemendag/Niaga.Asia)</strong></em><br></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(17/10/2025) Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) terus memperkuat upaya peningkatan ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan model bisnis waralaba (franchise) dan toko unggulan (flagship store).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua skema ini diharapkan&nbsp; mampumemperluas jangkauan pasar produk UMKM Indonesia di Eropa, khususnya di Belanda yang memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal PEN Fajarini Puntodewi saat membuka seminar “Facilitating Indonesian SME Export Through Franchisesand Flagship Stores in the Netherlands” padaTrade Expo Indonesia ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (16/10).</p>



<p class="wp-block-paragraph">”Belanda memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang bagi produk Indonesia menuju masyarakat Eropa. Selain memiliki hubungan historis yang panjang dengan Indonesia, Belanda juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan logistik dunia. Dengan demikian, perluasan kehadiran UMKM Indonesia di Belanda melalui skema waralaba dan toko unggulan merupakan langkah yang tidak hanya realistis, tetapi juga strategis,” ujar Puntodewi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puntodewi menjelaskan, konsep waralaba dan toko unggulan dapat menjadi solusi efektif bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar internasional tanpa harus menanggung biaya ekspansi penuh secara mandiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui skema waralaba, pelaku UMKM dapat menstandarkan kualitas produk dan membangun merek global dengan lebih cepat. Sementara itu, toko unggulan berfungsi sebagai etalase utama yang menampilkan citra dan keunikan produk Indonesia secara langsung kepada masyarakat Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puntodewi menambahkan, upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi membangun penjenamaan negara (nation branding) bagi produk Indonesia yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mencerminkan identitas dan budaya bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Produk yang kuat secara budaya akan lebih mudah diterima dan dihargai oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, kualitas, keunikan, dan nilai budaya merupakan bagian yangtak terpisahkan dari strategi ekspor kita,”lanjutPuntodewi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui seminar ini, Puntodewi berharap pelaku UMKM dapat memperoleh wawasan, memperluas jejaring bisnis, serta menjalin peluang kerja sama guna memperluas jangkauan produk ke pasar Belanda. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan seminar tersebut sebaik mungkin sebagai ajang membangun jaringan (networking) dan kolaborasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seminar yang diikuti 110 peserta ini menghadirkan berbagai narasumber yang meliputi Direktur Utama (Chief Executive Officer/CEO) Sarirasa Nusantaraatau Sate Khas Senayan Benny Hadisurjo, Direktur Sarirasa Europe BV Felix Ang, Direktur Utama InterAromat BV Suryo Tutuko, serta Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertindak sebagai moderator seminar yaitu Koordinator Nasional Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Sidi Rana Menggala. Turut memberikan sambutan Atase Perdagangan RI Den Haag Annisa Hapsari dan Kepala Perwakilan Netherlands Business Support Office (NBSO) Indonesia Mario Lauw .</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Kepala Perwakilan NBSO Indonesia Mario Lauw menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha dari kedua negara dan memperluas peluang kerja sama di berbagai sektor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita hadir di sini untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Semoga pertemuan hari ini dapat membuka wawasan dan melahirkan kerja sama baru,” ujar Mario.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://www.niaga.asia/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/">Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 14:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17265</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk “Pelatihan Pertanian Petani Keren” di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&#160;Petani Keren, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17266" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55.png 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>“Pelatihan Pertanian Petani Keren”</em> di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan <em>Global Environment Facility Small Grants Programme</em> (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&nbsp;<em>Petani Keren</em>, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar menanam padi, tapi juga bisnis modern berbasis inovasi, teknologi, dan kreativitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pertanian Keren, Generasi Tangguh</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Program ini dirancang menyeluruh: mulai dari pelatihan&nbsp;<em>smart farming</em>&nbsp;hingga pembekalan kewirausahaan agribisnis. Para peserta dilatih untuk mengelola lahan secara efisien dengan bantuan teknologi modern, seperti sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, hingga penggunaan aplikasi pertanian digital. FAO berharap, pendekatan ini dapat mencetak petani muda yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga cakap dalam mengelola bisnisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain teknologi, pelatihan ini juga menanamkan kesadaran lingkungan. Para peserta diajak menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan melalui konsep&nbsp;<em>agroecology</em>, yang menekankan keseimbangan antara hasil panen dan pelestarian alam. Mereka belajar bahwa tanah yang sehat, air yang bersih, dan udara yang bebas polusi adalah modal utama untuk menciptakan hasil tani yang berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aspek kewirausahaan menjadi elemen penting lain dalam pelatihan ini. Peserta diajarkan bagaimana menyusun rencana bisnis, mengatur keuangan usaha, hingga strategi pemasaran produk pertanian. Mereka tidak hanya diajak menjadi petani, tapi juga&nbsp;<em>agripreneur</em>—petani pengusaha yang mampu membaca peluang pasar dan menciptakan produk bernilai tambah.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kolaborasi Lintas Lembaga</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;tak lepas dari kolaborasi berbagai lembaga strategis, mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Semuanya bergandengan tangan membangun ekosistem baru bagi generasi muda untuk berani turun ke sawah dengan cara yang modern dan berkelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebanyak 30 anak muda dari berbagai daerah—Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat—terpilih menjadi peserta. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan datang dari latar belakang beragam: mulai dari keluarga petani, mahasiswa jurusan pertanian, hingga lulusan agribisnis dan agroteknologi. Keragaman ini menjadikan proses belajar semakin dinamis dan kaya perspektif.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Belajar dari Lada Bangka</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu sesi yang menarik datang dari&nbsp;<em>GEF SGP Indonesia</em>, yang diwakili oleh Koordinator Nasional,&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>. Dalam sesi tersebut, Sidi berbagi pengalaman melalui studi kasus pertanian lada di Bangka Belitung—khususnya Lada Muntok, yang sudah terkenal di pasar dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi menjelaskan bahwa banyak petani lada kini menghadapi tantangan berat akibat ketergantungan pada bahan kimia pertanian. “Biaya produksi meningkat, kualitas tanah menurun, dan jangka waktu panen yang panjang membuat pendapatan petani tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, solusi terbaik adalah beralih dari sistem pertanian konvensional menuju&nbsp;<em>agroekologi</em>&nbsp;atau organik. “Dengan penggunaan pestisida alami dan pupuk organik, kualitas tanah bisa dipulihkan. Memang hasil panen menurun di awal, tapi nilai jualnya meningkat karena pasar ekspor lebih menghargai produk organik,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi petani muda agar tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan begitu, pertanian bisa menjadi profesi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian bumi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membangun Petani Muda yang Percaya Diri</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Harapan besar disematkan pada program&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;ini. Melalui semangat kolaborasi dan pelatihan yang aplikatif, FAO berupaya mencetak generasi muda yang melihat pertanian sebagai sektor masa depan—bukan masa lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Food System Specialist FAO Indonesia,&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan pangan nasional. “Dengan keterlibatan aktif anak muda, ketahanan pangan di masa depan bisa terjaga. Kita tidak hanya menanam untuk hari ini, tapi juga menanam harapan bagi masa depan Indonesia,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, lewat program&nbsp;<em>Petani Keren</em>, pertanian tak lagi identik dengan lumpur dan cangkul semata. Ia menjelma menjadi dunia inovatif yang memadukan ilmu, teknologi, dan keberlanjutan. Dari sawah hingga pasar global, dari bibit hingga strategi bisnis, para “petani keren” ini siap membawa perubahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tak mungkin, suatu hari nanti, Indonesia akan kembali berjaya di sektor pertanian—dipimpin oleh anak-anak muda yang bangga menyebut dirinya:&nbsp;<strong>petani modern yang keren, berdaya, dan berdaulat.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://daily-life.id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 07:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17207</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan. Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&#160;smart&#160;farming, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “agripreneur keren”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="543" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png" alt="" class="wp-image-17208" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-300x159.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-768x407.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-600x318.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-10x5.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45.png 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’. Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh <strong>Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO),</strong> pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&nbsp;<strong>smart</strong>&nbsp;<strong>farming</strong>, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “<strong>agripreneur keren</strong>”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tapi sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program ini juga mendapat dukungan kuat dari&nbsp;<strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</strong>, yang berbagi pengalaman soal strategi penghasilan tani berkeadilan. Kolaborasi antara&nbsp;<strong>Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,&nbsp;</strong>and<strong>&nbsp;Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)</strong>&nbsp;turut memperkuat semangat pelatihan ini. Semua pihak sepakat bahwa masa depan pertanian bergantung pada generasi muda yang berani berinovasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sekitar 30 peserta berusia 17–29 tahun yang ikut dalam pelatihan ini. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Uniknya, latar belakang para peserta juga beragam. Ada yang berasal dari keluarga petani, tapi ada pula yang merupakan lulusan jurusan&nbsp;<strong>pertanian, agribisnis, dan agroteknologi</strong>. Perpaduan ini membuat suasana belajar jadi hidup dan interaktif, karena masing-masing membawa pengalaman dan ide berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain memahami teknologi pertanian modern, peserta juga dibekali kemampuan&nbsp;<strong>mengelola bisnis pertanian profesional</strong>&nbsp;— mulai dari perencanaan, produksi, hingga pemasaran. Artinya, mereka nggak cuma diajarkan menanam, tapi juga berpikir strategis bagaimana hasil pertanian bisa memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu sesi menarik dibawakan oleh&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia sekaligus perwakilan&nbsp;<strong>Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL)</strong>. Ia membagikan studi kasus tentang pengembangan&nbsp;<strong>pertanian lada</strong>&nbsp;yang berkeadilan dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan ke arah&nbsp;<strong>pertanian agroekologi atau organik&nbsp;</strong>bisa jadi solusi atas permasalahan petani lada yang selama ini harus menghadapi biaya tinggi dan masa tanam panjang. Dengan pupuk organik dan pestisida alami, kualitas tanah bisa pulih dan hasil panen lebih diminati pasar ekspor premium — meski jumlah panennya lebih sedikit, nilai jualnya justru lebih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program “Petani Keren” ini bukan hanya pelatihan, tapi juga simbol harapan baru. Harapan bahwa bertani bisa jadi profesi yang modern, berdaya saing, dan tetap peduli pada bumi. Seperti yang disampaikan&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, Food System Specialist FAO Indonesia, “Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional bisa terjamin. Kita membangun fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Urbie’s, bisa jadi inilah saatnya anak muda memandang sawah bukan sekadar lahan, tapi masa depan. Karena jadi petani hari ini bukan lagi soal lumpur di kaki, tapi inovasi, teknologi, dan semangat mencintai tanah air dalam arti sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/10/08/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 06:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17237</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menggagas program pelatihan intensif bertajuk &#8220;Pelatihan Pertanian Petani Keren.&#8221; Tujuannya membekali generasi muda dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi petani dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan. Pelatihan &#8220;Petani Keren&#8221; digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi smart...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png" alt="" class="wp-image-17263" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Para peserta pelatihan &#8216;Petani Keren&#8217; yang digagas oleh FAO dan menghadirkan GEF SGP Indonesia untuk berbagi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (<a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a>) menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>&#8220;Pelatihan Pertanian <a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>.&#8221;</em> Tujuannya membekali <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi <a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a> dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. <em>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em> turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelatihan <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi <em>smart farming</em>, yakni pendekatan modern yang memungkinkan penggunaan sumber daya secara efisien untuk meningkatkan produktivitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Praktik pertanian ramah lingkungan juga menjadi fokus utama. Peserta diajak menerapkan metode budidaya yang menjaga kelestarian alam sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, aspek kewirausahaan dan pengelolaan bisnis agribisnis turut diajarkan secara mendalam. Para peserta dilatih untuk mengelola usaha pertanian secara profesional, mulai dari tahap perencanaan, produksi, hingga strategi pemasaran produk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan program <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak strategis. Mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), semua turut bergandengan tangan mendukung inisiatif ini. Tujuannya jelas: membangkitkan semangat kepemudaan agar terjun kembali ke sektor pertanian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebanyak 30 anak muda terpilih menjadi peserta dalam pelatihan ini. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Keberagaman asal daerah ini mencerminkan potensi besar pertanian Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Latar belakang mereka pun beragam. Nggak cuma dari keluarga petani yang sudah akrab dengan dunia pertanian, banyak pula yang merupakan lulusan jurusan pertanian, agribisnis, agroteknologi, dan bidang lain yang relevan. Perpaduan latar belakang ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan interaktif, membuka ruang pertukaran ide serta perspektif antarpeserta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fokus utama pelatihan ini adalah membekali para pemuda agar mampu menerapkan sistem pertanian modern. Dalam praktiknya, peserta diajarkan memanfaatkan teknologi terkini tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari itu, mereka juga dilatih untuk mengembangkan rencana bisnis yang inovatif. Jadi bukan semata mengincar cuan, tapi juga memaksimalkan potensi tanaman lokal serta memahami dinamika permintaan pasar. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan tumbuh menjadi <em>&#8220;agripreneur&#8221;</em> yang cerdas dan bertanggung jawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam salah satu sesi pelatihan, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, yang juga mewakili Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), menyampaikan studi kasus mengenai pengembangan strategi penghasilan yang adil dan berkelanjutan bagi petani, dengan fokus khusus pada pertanian lada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan tersebut diharapkan menjadi model inspiratif untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara holistik. Alhasil, mereka nggak hanya memperoleh penghasilan yang layak, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik pertanian yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lada memang menjadi salah satu komoditas perdagangan penting bagi Indonesia. Khususnya di Bangka Belitung, Lada Muntok telah lama dikenal mendominasi pasar lada dunia. Tapi, perubahan pola pertanian yang kini banyak menggunakan input kimia malah bikin biaya produksi membengkak. Kualitas tanah pun melorot jika tidak digunakan secara bijak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh lagi, petani lada harus menghadapi masa pengembangan lahan yang panjang. Bayangkan, mereka harus menunggu hingga tiga tahun tanpa panen. Kondisi ini tak pelak membuat pendapatan mereka tidak sebanding dengan upaya yang dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sidi menjelaskan, <em>“Butuh adanya transisi dari pertanian konvensional ke pertanian agroekologi atau organik yang mengedepankan pada kualitas tanah. Nah, penggunaan pestisida alami dan pupuk organik bisa menjadi solusi mengembalikan kembali unsur hara dalam tanah dan juga lebih murah dalam implementasinya.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menambahkan, dengan menerapkan sistem agroekologi atau organik memang kuantitas panen akan menurun, tetapi terbuka peluang ke pasar ekspor yang lebih premium. Hal ini mampu meningkatkan harga jual sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program <em>&#8220;<a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>&#8220;</em> ini memikul harapan besar mengubah stigma pertanian adalah pekerjaan kuno dan kurang menarik. Yusmanetti Sari, selaku Food System Specialist <a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a> Indonesia, berharap lewat program ini banyak <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> kepincut menjadi “agripreneur keren”, yakni individu inovatif dan berdaya saing yang mampu memajukan sektor pertanian.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional di masa depan dapat terjamin, menciptakan fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia,”</em> pungkasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/08/064151/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur?page=2#goog_rewarded</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2025 17:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[amsterdam]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat adat]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17200</guid>

					<description><![CDATA[<p>(4/9/2025) Kain tenun bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah warisan, doa, dan cerita yang terjalin dalam setiap helai benang. Begitulah makna yang tersampaikan dalam momen bersejarah ketika&#160;Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&#160;mendonasikan&#160;kain tenun Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada&#160;Indonesia House Amsterdam. Donasi ini bukan hanya sebuah simbol, tapi juga bagian dari diplomasi budaya yang bernilai tinggi, bahkan jika dihitung secara nilai koleksi, kain ini bisa disejajarkan dengan karya seni bernilai jutaan rupiah. Acara ini berlangsung pada&#160;Selasa, 2 September 2026, dengan kehangatan yang terasa kental. Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia menyerahkan kain...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/">GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="832" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1024x832.png" alt="" class="wp-image-17201" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1024x832.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-300x244.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-768x624.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-15x12.png 15w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-600x488.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-10x8.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42.png 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam, foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(4/9/2025) Kain tenun bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah warisan, doa, dan cerita yang terjalin dalam setiap helai benang. Begitulah makna yang tersampaikan dalam momen bersejarah ketika&nbsp;<strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&nbsp;</strong>mendonasikan&nbsp;<strong>kain tenun Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan</strong>, kepada&nbsp;<strong><a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;source=web&amp;rct=j&amp;opi=89978449&amp;url=https://www.instagram.com/indonesiahouseamsterdam/%3Fhl%3Den&amp;ved=2ahUKEwjb1ODfyL6PAxXqwTgGHbW-HccQFnoECCMQAQ&amp;sqi=2&amp;usg=AOvVaw3NZU59oWW0FWWyB0DIRlWc">Indonesia House Amsterdam</a></strong>. Donasi ini bukan hanya sebuah simbol, tapi juga bagian dari diplomasi budaya yang bernilai tinggi, bahkan jika dihitung secara nilai koleksi, kain ini bisa disejajarkan dengan karya seni bernilai jutaan rupiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara ini berlangsung pada&nbsp;<strong>Selasa, 2 September 2026</strong>, dengan kehangatan yang terasa kental. Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia menyerahkan kain tenun Kajang langsung kepada&nbsp;<strong>Ine Waworuntu</strong>, pendiri&nbsp;<strong>Hibiscus Foundation</strong>, di jantung kota Amsterdam. Menurut Sidi, kehormatan besar bagi GEF SGP Indonesia bisa membawa karya megah masyarakat adat hingga ke panggung global.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Kami bangga mendonasikan kain tenun hasil karya masyarakat adat Kajang. Ini bukan sekadar kain, tapi simbol filosofi hidup, hubungan spiritual dengan alam, serta doa yang diwariskan lintas generasi,”</strong>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Filosofi Hidup “Kamase-masea”</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa, menenun bukan pekerjaan biasa. Prosesnya penuh doa, dengan bahan alami dari alam sekitar. Motif dan warna hitam yang khas melambangkan kesederhanaan, persamaan, serta kekuatan. Semua itu berpijak pada filosofi hidup “<strong>Kamase-masea</strong>”, yang berarti hidup sederhana, secukupnya, bahkan “miskin” di dunia demi mencapai kekayaan batin dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kain ini pun jadi simbol perlawanan terhadap gaya hidup serba instan, mengingatkan kita bahwa harmoni dengan alam adalah kunci keberlanjutan. Proses pewarnaannya menggunakan daun tarum atau indigo, kapur, hingga abu kayu, dan disempurnakan dengan teknik tradisional&nbsp;<strong>garrusu</strong>—menggosok kain dengan cangkang keong hingga berkilau. Nilai budaya dan spiritualnya menjadikan kain tenun Kajang tak ternilai harganya, meski bila diukur sebagai karya seni, bisa mencapai puluhan juta rupiah.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://urbanvibes.id/wp-content/uploads/2025/09/1000158260-1024x713.jpg" alt="" class="wp-image-21641"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Diplomasi Budaya di Amsterdam</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Donasi kain Kajang ini bertepatan dengan pameran “<strong>Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude”</strong>&nbsp;yang digelar di lantai dua&nbsp;<strong>Indonesia House Amsterdam</strong>. Acara ini hasil kerja sama antara&nbsp;<strong>KBRI Belanda</strong>&nbsp;dan Yayasan Kembang Sepatu yang dipimpin oleh&nbsp;<strong>Ine Waworuntu</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ine menekankan pentingnya mengenalkan tenun kepada masyarakat Belanda. Sebab, selama ini batik lebih dikenal, sementara banyak yang bahkan keliru menyebut tenun sebagai batik.&nbsp;<strong>“Masyarakat Belanda perlu tahu bahwa tenun adalah karya seni berharga, bukan sekadar tekstil biasa. Dengan pameran ini, kami ingin memperkenalkan kisah dan identitas para penenun Indonesia,”</strong>&nbsp;tutur Ine.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecintaan Ine terhadap tenun sudah mendarah daging. Tinggal di Belanda tak menghalanginya mengenakan tenun dalam keseharian, baik musim panas maupun dingin. Menurutnya, tenun adalah “<strong>selimut Nusantara</strong>” yang memberikan kehangatan, sekaligus menjadi identitas budaya yang melekat ke mana pun ia pergi. Tak jarang, orang Belanda bertanya tentang kain yang ia kenakan, dan dari situlah percakapan tentang Indonesia dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Misi Global untuk Warisan Lokal</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi menegaskan bahwa donasi kain Kajang ini adalah bagian dari strategi GEF SGP Indonesia untuk membawa kearifan lokal ke kancah internasional. Misinya jelas: memperkenalkan warisan budaya, mendukung mata pencaharian komunitas adat, dan membuka akses pasar baru untuk para penenun. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa tenun Kajang ke Amsterdam, kami berharap tercipta kolaborasi global yang menghormati kearifan lokal,”&nbsp;</strong>kata Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Ine Waworuntu sendiri, donasi ini bukan sekadar kain, melainkan pengingat pentingnya membimbing penenun agar mandiri secara sosial, budaya, dan ekonomi.&nbsp;<strong>“Terima kasih kepada GEF SGP Indonesia yang telah memperjuangkan pelestarian karya-karya kriya bangsa. Semoga penenun kita semakin dikenal dunia dan mandiri ke depannya,” pungkas Ine</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Warisan yang Mendunia</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Urbie’s, donasi kain tenun Kajang ke Indonesia House Amsterdam ini bukan hanya langkah simbolis, melainkan bukti nyata bahwa budaya lokal Indonesia memiliki daya saing global. Setiap helai benang adalah doa, setiap corak adalah cerita, dan setiap warna adalah identitas. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga membuka peluang bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/09/04/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/">GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2025 16:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17197</guid>

					<description><![CDATA[<p> (4/9/2025) Tenun bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya. Ya,&#160;kain tenun&#160;memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&#160;Amsterdam,&#160;Belanda. GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&#160;Kajang&#160;dari&#160;Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Ine...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41.png" alt="" class="wp-image-17198" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-10x7.png 10w" sizes="auto, (max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kain tenun khas masyarakat adat Kajang yang dipajang di Indonesia House Amsterdam, Belanda.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong> </strong><a href="https://www.guideku.com/tag/tenun">(4/9/2025) </a><em><a href="https://www.guideku.com/tag/tenun">Tenun</a> bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/kain-tenun">kain tenun</a>&nbsp;memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/amsterdam">Amsterdam</a>,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/belanda">Belanda</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/kajang">Kajang</a>&nbsp;dari&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/bulukumba">Bulukumba</a>, Sulawesi Selatan, kepada Ine Waworuntu selaku Founder Hibiscus Foundation di Indonesia House Amsterdam,Selasa (2/9/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen tersebut bukan sekadar serah terima cinderamata belaka, melainkan puncak dari aksi lokal yang dirancang untuk menghasilkan dampak global. Ini merupakan upaya membawa karya megah penenun dari masyarakat adat agar gemilang di kancah internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi merasa pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan luar biasa. Terlebih, GEF SGP Indonesia bisa memfasilitasi hubungan budaya mendalam yang disimbolkan dengan donasi sehelai kain tenun hasil buah tangan masyarakat adat Kajang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami bangga mendonasikan sehelai kain tenun tangan yang megah, yang dibuat dengan cermat oleh masyarakat adat Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Indonesia House Amsterdam,&#8221; ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat adat Kajang, menenun bukan cuma membuat karya seni. Ini merupakan suatu narasi kehidupan. Setiap helai dipintal dengan pewarna dari alam. Goresan corak dibuat dengan makna filosofis mendalam. Tersirat pula hubungan mereka dengan sang pencipta yang dimanifestasikan sebagai ekosistem hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Setiap corak dijiwai dengan makna filosofis serta hubungan dengan ekosistem hutan sakral mereka, yang telah mereka lindungi selama berabad-abad di bawah prinsip &#8220;Kamase-masea&#8221; yakni hidup sederhana dan secukupnya,” ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun “Kamase-masea” adalah sebuah prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Suku Kajang Ammatoa. Arti dari prinsip itu sangat mendalam: hidup bersahaja, sederhana, atau &#8220;miskin&#8221; di dunia untuk meraih kekayaan dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadiah ini menjadi tanda apresiasi yang tulus. Dengan buah tangan ini, ada komitmen bersama untuk mengangkat visibilitas budaya masyarakat adat Indonesia serta ragam praktik berkelanjutan yang mereka lakukan ke panggung global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi menuturkan donasi ini lebih dari sekadar syarat, namun juga menjadi langkah strategis dalam misi GEF SGP Indonesia. Salah satunya untuk mempromosikan warisan budaya masyarakat adat, termasuk masyarakat Kajang. Caranya tentu dengan menampilkan cara hidup mereka yang berkelanjutan kepada khalayak internasional, terutama di Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Misi lain dari kami yakni mendukung mata pencaharian komunitas, dengan menciptakan jalur agar produk-produk budaya diakui dan mendapatkan akses ke pasar baru. Jadi, hal ini bisa memberikan manfaat ekonomi kepada penjaga keanekaragaman hayati kita,” ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya, maksud lain dari donasi tersebut juga sebagai sarana untuk membina kemitraan internasional, termasuk negara-negara di Eropa. Salah satu caranya dengan memperkuat jembatan antara komunitas lokal di Indonesia dan institusi global yang menghargai pelestarian budaya serta pembangunan berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami meyakini kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa tenun Kajang ke Indonesia House Amsterdam, semoga bisa memantik percakapan, apresiasi, serta membuka pintu kolaborasi yang menghormati dan mendukung kearifan masyarakat adat,” kata Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Diplomasi kain ala Ine Waworuntu</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Donasi tersebut bertepatan dengan momen pameran bertajuk ‘Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude’ di Indonesia House Amsterdam. Pameran di lantai dua Indonesia House Amsterdam ini dihelat KBRI menggandeng Yayasan Kembang Sepatu (Stichting Hibiscus) yang dimotori Ine Waworuntu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ine membeberkan alasan mengapa tenun harus diperkenalkan kepada masyarakat Belanda. Dia mengatakan banyak dari masyarakat Belanda yang tidak terlalu mengenal tenun. Ketimbang tenun, batik dinilai lebih populer di Negeri Tulip. Bahkan, masyarakat Belanda kerap salah melabeli tenun sebagai batik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Masyarakat Belanda kerap mengadakan pasar yang menjual barang seken. Di sana, beberapa dari mereka menjual tenun sebagai batik. Ya, sebagian besar dari mereka sepertinya belum mengenal kain tenun, songket, ulos maupun ikat. Inilah kenapa diperlukan pengenalan hingga tenun mendapatkan nama di benak publik Belanda,” tutur Ine.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, selain diplomasi budaya, pameran tersebut untuk mengangkat identitas para penenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kendati tidak langsung terasa dampaknya, setidaknya pameran tersebut bisa menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil karya para penenun ke masyarakat di Belanda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lewat pameran ini, kami sejatinya ingin mengedukasi masyarakat Belanda. Ini supaya mereka memahami bahwa kain tenun merupakan karya seni. Tenun tersebut dinilai sebagai sebuah karya seni yang berharga, bukan hanya sebagai tekstil industri belaka,” ujar Ine saat dihubungi melalui sambungan telepon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, Ine memang bukan pakar di bidang kain tenun. Namun, kecintaan terhadap tenun seperti cintanya kepada Indonesia. Menurut Ine, tenun merupakan kain yang benar-benar spesial. Bahkan, di Belanda, tenun melekat di jati diri Ine. Sebab, ke mana pun dia pergi, Ine hampir selalu mengenakan tenun untuk membalut tubuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, berbeda dengan batik, menurut pegiat budaya tersebut, tenun bisa digunakan dalam beragam situasi maupun cuaca. Baik ketika musim dingin maupun musim panas, diaspora yang sudah lama berdiam di Belanda itu selalu nyaman mengenakan kain tenun.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Di indonesia, ada desainer yang menyebut tenun sebagai selimut nusantara yang berarti memberikan kehangatan. Di Eropa, saya masih bisa memakai tenun di musim dingin. Jadi saya tetap membawa ‘Indonesia’ saya di Belanda dalam bentuk kain. Ya, seperti mengenalkan budaya Indonesia melalui tenun dalam kondisi apapun,” tutur Ine.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, dengan dirinya mengenakan tenun, tak jarang ada yang bertanya mengenai kain yang dikenakannya. Dengan tenun, Ine bisa membuka komunikasi dengan masyarakat Belanda. Tak hanya itu, salah satu kepuasan Ine adalah ketika dia bisa menceritakan kisah di balik kain tenun tersebut. Jadi tenun bukan sekadar kain, tapi sarana untuk bercerita tentang Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait tenun khas masyarakat adat Kajang, yang salah satunya diberikan GEF SGP Indonesia, Ine benar-benar kepincut. Menurut Ine, ketika mengenal tenun ini, dirinya menemukan filosofis dari kain tersebut yang melambangkan kedekatan dengan alam dan Tuhan. Tenun ini membuat Ine mengapresiasi hal-hal kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melansir dari laman situs Dekranasda Bulukumba, kain tenun Kajang dibuat oleh perempuan dari masyarakat adat tersebut secara tradisional. Sebelum menenun, mereka harus menentukan hari baik, bahkan merapalkan doa-doa terbaik. Tujuannya untuk mendapatkan warna hitam di kain yang ditenun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilihan warna hitam pun bukan tanpa alasan. Masyarakat adat Kajang memiliki ciri khas dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpakaian serba hitam. Ya, hitam merupakan warna yang kental akan kesakralan, serta mengandung makna persamaan dalam segala hal, kekuatan dan kesederhanaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, tenun Kajang dibuat menggunakan bahan alami, benang direndam dalam larutan daun Tarumatau Indigo, kemudian dicampur kapur dan abu kayu. Kain yang mengkilap dihasilkan dari proses garrusu atau menggosok kain dengan punggung cangkang keong agar kain terlihat berkharisma saat dikenakan oleh siapa pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ine pun mengapresiasi donasi kain tenun Kajang yang diberikan oleh GEF SGP Indonesia sebagai misi untuk mengenalkan budaya lokal agar gemilang di kancah global. Selain itu, Ine mendukung program dari GEF SGP Indonesia yang menyokong para penenun hingga ke generasi berikutnya agar mereka dikenal oleh masyarakat luas, terutama internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pemberian ini, Ine berharap agar GEF SGP bisa membimbing para penenun hingga siap mandiri. Sebab, menurut dia, para penenun itu harus mandiri. Di awal, mungkin mereka membutuhkan dorongan. Tapi, nantinya mereka harus bisa lebih mandiri dan berkelanjutan baik secara sosial, budaya maupun ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GEF SGP Indonesia atas komitmennya dalam mendukung karya-karya kriya Indonesia. Dedikasi dan kerja keras tanpa lelah ini sangat penting bagi pelestarian dan pengembangan para perajin lokal kita. Terima kasih telah memperjuangkan tujuan penting ini!” ujar Ine Waworuntu.(*)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://www.guideku.com/news/2025/09/04/164509/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2025 13:39:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17194</guid>

					<description><![CDATA[<p>(4/9/2025) Tenun&#160;bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya. Ya, kain tenun memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&#160;Amsterdam,&#160;Belanda. GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&#160;Kajang&#160;dari Bulukumba, Sulawesi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-768x1024.png" alt="" class="wp-image-17195" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-768x1024.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-225x300.png 225w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-9x12.png 9w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-600x800.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-8x10.png 8w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40.png 970w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala (kiri) dan Founder Hibiscus Foundation Ine Waworuntu (kiri).(Dokumentasi pribadi)<br></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(4/9/2025) <em><a href="https://www.suara.com/tag/tenun">Tenun</a>&nbsp;bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, kain tenun memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/amsterdam">Amsterdam</a>,&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/belanda">Belanda</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kajang">Kajang</a>&nbsp;dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Ine Waworuntu selaku Founder Hibiscus Foundation di Indonesia House Amsterdam,Selasa (2/9/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen tersebut bukan sekadar serah terima cinderamata belaka, melainkan puncak dari aksi lokal yang dirancang untuk menghasilkan dampak global. Ini merupakan upaya membawa karya megah penenun dari masyarakat adat agar gemilang di kancah internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi merasa pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan luar biasa. Terlebih, GEF SGP Indonesia bisa memfasilitasi hubungan budaya mendalam yang disimbolkan dengan donasi sehelai kain tenun hasil buah tangan masyarakat adat Kajang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami bangga mendonasikan sehelai kain tenun tangan yang megah, yang dibuat dengan cermat oleh masyarakat adat Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Indonesia House Amsterdam,&#8221; ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat adat Kajang, menenun bukan cuma membuat karya seni. Ini merupakan suatu narasi kehidupan. Setiap helai dipintal dengan pewarna dari alam. Goresan corak dibuat dengan makna filosofis mendalam. Tersirat pula hubungan mereka dengan sang pencipta yang dimanifestasikan sebagai ekosistem hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Setiap corak dijiwai dengan makna filosofis serta hubungan dengan ekosistem hutan sakral mereka, yang telah mereka lindungi selama berabad-abad di bawah prinsip&nbsp;<em>&#8220;Kamase-masea&#8221;</em>&nbsp;yakni hidup sederhana dan secukupnya,” ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun&nbsp;<em>“Kamase-masea”</em>&nbsp;adalah sebuah prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Suku Kajang Ammatoa. Arti dari prinsip itu sangat mendalam: hidup bersahaja, sederhana, atau&nbsp;<em>&#8220;miskin&#8221;</em>&nbsp;di dunia untuk meraih kekayaan dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadiah ini menjadi tanda apresiasi yang tulus. Dengan buah tangan ini, ada komitmen bersama untuk mengangkat visibilitas budaya masyarakat adat Indonesia serta ragam praktik berkelanjutan yang mereka lakukan ke panggung global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidi menuturkan donasi ini lebih dari sekadar syarat, namun juga menjadi langkah strategis dalam misi GEF SGP Indonesia. Salah satunya untuk mempromosikan warisan budaya masyarakat adat, termasuk masyarakat Kajang. Caranya tentu dengan menampilkan cara hidup mereka yang berkelanjutan kepada khalayak internasional, terutama di Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Misi lain dari kami yakni mendukung mata pencaharian komunitas, dengan menciptakan jalur agar produk-produk budaya diakui dan mendapatkan akses ke pasar baru. Jadi, hal ini bisa memberikan manfaat ekonomi kepada penjaga keanekaragaman hayati kita,” ujar Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya, maksud lain dari donasi tersebut juga sebagai sarana untuk membina kemitraan internasional, termasuk negara-negara di Eropa. Salah satu caranya dengan memperkuat jembatan antara komunitas lokal di Indonesia dan institusi global yang menghargai pelestarian budaya serta pembangunan berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami meyakini kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tenun-kajang">tenun Kajang</a>&nbsp;ke Indonesia House Amsterdam, semoga bisa memantik percakapan, apresiasi, serta membuka pintu kolaborasi yang menghormati dan mendukung kearifan masyarakat adat,” kata Sidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Diplomasi kain ala Ine Waworuntu</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Donasi tersebut bertepatan dengan momen pameran bertajuk&nbsp;<em>&#8220;Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude&#8221;</em>&nbsp;di Indonesia House Amsterdam. Pameran di lantai dua Indonesia House Amsterdam ini dihelat KBRI menggandeng Yayasan Kembang Sepatu (Stichting Hibiscus) yang dimotori Ine Waworuntu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ine membeberkan alasan mengapa tenun harus diperkenalkan kepada masyarakat Belanda. Dia mengatakan banyak dari masyarakat Belanda yang tidak terlalu mengenal tenun. Ketimbang tenun, batik dinilai lebih populer di Negeri Tulip. Bahkan, masyarakat Belanda kerap salah melabeli tenun sebagai batik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Masyarakat Belanda kerap mengadakan pasar yang menjual barang seken. Di sana, beberapa dari mereka menjual tenun sebagai batik. Ya, sebagian besar dari mereka sepertinya belum mengenal kain tenun, songket, ulos maupun ikat. Inilah kenapa diperlukan pengenalan hingga tenun mendapatkan nama di benak publik Belanda,” tutur Ine.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, selain diplomasi budaya, pameran tersebut untuk mengangkat identitas para penenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kendati tidak langsung terasa dampaknya, setidaknya pameran tersebut bisa menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil karya para penenun ke masyarakat di Belanda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lewat pameran ini, kami sejatinya ingin mengedukasi masyarakat Belanda. Ini supaya mereka memahami bahwa kain tenun merupakan karya seni. Tenun tersebut dinilai sebagai sebuah karya seni yang berharga, bukan hanya sebagai tekstil industri belaka,” ujar Ine saat dihubungi melalui sambungan telepon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, Ine memang bukan pakar di bidang kain tenun. Namun, kecintaan terhadap tenun seperti cintanya kepada Indonesia. Menurut Ine, tenun merupakan kain yang benar-benar spesial. Bahkan, di Belanda, tenun melekat di jati diri Ine. Sebab, ke mana pun dia pergi, Ine hampir selalu mengenakan tenun untuk membalut tubuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, berbeda dengan batik, menurut pegiat budaya tersebut, tenun bisa digunakan dalam beragam situasi maupun cuaca. Baik ketika musim dingin maupun musim panas, diaspora yang sudah lama berdiam di Belanda itu selalu nyaman mengenakan kain tenun.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Di indonesia, ada desainer yang menyebut tenun sebagai selimut nusantara yang berarti memberikan kehangatan. Di Eropa, saya masih bisa memakai tenun di musim dingin. Jadi saya tetap membawa ‘Indonesia’ saya di Belanda dalam bentuk kain. Ya, seperti mengenalkan budaya Indonesia melalui tenun dalam kondisi apapun,” tutur Ine.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, dengan dirinya mengenakan tenun, tak jarang ada yang bertanya mengenai kain yang dikenakannya. Dengan tenun, Ine bisa membuka komunikasi dengan masyarakat Belanda. Tak hanya itu, salah satu kepuasan Ine adalah ketika dia bisa menceritakan kisah di balik kain tenun tersebut. Jadi tenun bukan sekadar kain, tapi sarana untuk bercerita tentang Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait tenun khas masyarakat adat Kajang, yang salah satunya diberikan GEF SGP Indonesia, Ine benar-benar kepincut. Menurut Ine, ketika mengenal tenun ini, dirinya menemukan filosofis dari kain tersebut yang melambangkan kedekatan dengan alam dan Tuhan. Tenun ini membuat Ine mengapresiasi hal-hal kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melansir dari laman situs&nbsp;<em>Dekranasda Bulukumba</em>, kain tenun Kajang dibuat oleh perempuan dari masyarakat adat tersebut secara tradisional. Sebelum menenun, mereka harus menentukan hari baik, bahkan merapalkan doa-doa terbaik. Tujuannya untuk mendapatkan warna hitam di kain yang ditenun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilihan warna hitam pun bukan tanpa alasan. Masyarakat adat Kajang memiliki ciri khas dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpakaian serba hitam. Ya, hitam merupakan warna yang kental akan kesakralan, serta mengandung makna persamaan dalam segala hal, kekuatan dan kesederhanaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, tenun Kajang dibuat menggunakan bahan alami, benang direndam dalam larutan daun Tarumatau Indigo, kemudian dicampur kapur dan abu kayu. Kain yang mengkilap dihasilkan dari proses garrusu atau menggosok kain dengan punggung cangkang keong agar kain terlihat berkharisma saat dikenakan oleh siapa pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ine pun mengapresiasi donasi kain tenun Kajang yang diberikan oleh GEF SGP Indonesia sebagai misi untuk mengenalkan budaya lokal agar gemilang di kancah global. Selain itu, Ine mendukung program dari GEF SGP Indonesia yang menyokong para penenun hingga ke generasi berikutnya agar mereka dikenal oleh masyarakat luas, terutama internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pemberian ini, Ine berharap agar GEF SGP bisa membimbing para penenun hingga siap mandiri. Sebab, menurut dia, para penenun itu harus mandiri. Di awal, mungkin mereka membutuhkan dorongan. Tapi, nantinya mereka harus bisa lebih mandiri dan berkelanjutan baik secara sosial, budaya maupun ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GEF SGP Indonesia atas komitmennya dalam mendukung karya-karya kriya Indonesia. Dedikasi dan kerja keras tanpa lelah ini sangat penting bagi pelestarian dan pengembangan para perajin lokal kita. Terima kasih telah memperjuangkan tujuan penting ini!” ujar Ine Waworuntu.(*)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/09/04/132914/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2025 20:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[UNDP]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17182</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents. A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17183" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1536x864.png 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36.png 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents.</p>



<p class="wp-block-paragraph">A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a university in Makassar, juggling his classes with part-time work as an embroidery operator and designer. Later, he moved to Morowali for another job. Yet, after 12 long years away from his hometown, his biggest decision wasn’t about climbing the corporate ladder, it was about going home to Kahayya village in Bulukumba, to start over as a coffee farmer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“I wanted to be closer to my family, especially since my parents are getting older. Besides, coffee farming provides enough to meet daily needs,” Hamzah explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Planting Coffee, Preserving Heritage</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Hamzah’s choice was not a nostalgic retreat but a conscious decision to protect his family’s legacy and build a sustainable future. His parents passed down three hectares of farmland, divided among him and his six siblings. Their only wish: that the land should not be left idle, but cultivated. Hamzah has already fulfilled that wish, planting coffee across one hectare of the land.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coffee farming, in fact, runs deep in his bloodline. For generations, the people of Kahayya—including Hamzah’s ancestors—have lived from coffee. “Almost everyone here is a coffee farmer. Since childhood, even when we went to school in the morning, we’d spend the rest of the day helping in the fields,” Hamzah recalled.</p>



<p class="wp-block-paragraph">From planting seedlings to harvesting ripe cherries, known as&nbsp;<em>petik merah</em>, the technique of picking only fully ripened beans, Hamzah learned everything from his parents. He didn’t make this journey alone, either. With support from the&nbsp;<a href="https://www.thegef.org/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Global Environment Facility (GEF)&nbsp;</a>Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Hamzah received training in sustainable farming and coffee processing. The results speak for themselves: in just two years, his farm has yielded up to one ton of Arabica coffee.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.undp.org/sites/g/files/zskgke326/files/styles/wysiwyg_full_width/public/2025-08/whatsapp_image_2025-08-01_at_10.45.54.jpeg?itok=wu-KaTBD" alt="A woven basket filled with coffee cherries on the ground among green leaves and dried foliage."/></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>A Simpler, Fuller Life</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">The first months back home felt unfamiliar after years in the city. But soon, the tranquility of village life replaced his unease. “It felt strange at first. But now it’s better, life is calmer and more comfortable here,” Hamzah shared.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coffee farming has given him something city jobs could not: freedom. In Kahayya, he enjoys autonomy over his time and embraces a&nbsp;<em>slow living</em>&nbsp;lifestyle, finding meaning in every step of the farming process. “Farming is liberating. There’s no boss pressuring you every day. You just need discipline. Whether I start in the morning or afternoon, it’s up to me,” he said with a smile.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Now, Hamzah is dreaming bigger. Together with his family, he is transforming their coffee plantation into an eco-tourism destination. Plans are underway to welcome visitors for coffee-picking activities and educational tours. “We want to make it more than just camping, we want people to learn about coffee, too,” he explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Inspiring the Next Generation of Farmers</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Despite the promise of coffee farming, Hamzah notices how few young people in his village are following the same path. Agriculture is often seen as an undesirable career compared to city jobs. Hamzah hopes his story can inspire others to change that mindset.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Not many young people here want to become coffee farmers. Most still dream of working in the city. My message is: don’t feel ashamed of being a farmer, especially a coffee farmer. Coffee has great potential, and it can really provide for us,” Hamzah emphasized.</p>



<p class="wp-block-paragraph">With his academic background in forestry, his passion for his homeland, and his determination to nurture both his family’s legacy and the environment, Hamzah shows that farming is not a step backward. It’s a way forward, toward economic resilience, environmental sustainability, and a life rooted in meaning.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Every coffee bean Hamzah plants carries a message: going back to the village is not a retreat, but a leap toward a more grounded and sustainable future.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://www.undp.org/indonesia/stories/brewing-hope-young-farmers-journey-home</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>