<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Festival Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/festival/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/festival/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 03:55:49 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Festival Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/festival/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Festival Bodri 2025: Diskusi Lintas Sektor Hasilkan Solusi Nyata untuk Kelestarian DAS Bodri</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-diskusi-lintas-sektor-hasilkan-solusi-nyata-untuk-kelestarian-das-bodri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 18 Sep 2025 13:40:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Bodri]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17225</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/9/2025) Festival Bodri 2025 yang dihelat di Hutan Edukasi, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 13 dan 14 September 2025, salah satunya diisi dengan focus group discussion (FGD). FGD dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah serta merumuskan solusi demi kelestarian ekosistem di daerah aliran sungai Bodri atau DAS Bodri. Mengusung tema &#8220;Pengelolaan DAS Bodri Sebagai Upaya Membangun Peradaban&#8221;, beragam pihak turut andil dalam diskusi tersebut. Peserta yang hadir, memiliki kesamaan visi yakni mencari solusi konkret yang bisa diterapkan untuk kelestarian&#160;lingkungan&#160;di DAS Bodri. Sulistyo selaku perwakilan dari panitia pelaksana dan Lembaga Fordas Bodri, menjadi moderator dalam sesi ini. FGD terbagi dalam lima kelompok....</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-diskusi-lintas-sektor-hasilkan-solusi-nyata-untuk-kelestarian-das-bodri/">Festival Bodri 2025: Diskusi Lintas Sektor Hasilkan Solusi Nyata untuk Kelestarian DAS Bodri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51.png" alt="" class="wp-image-17226" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-51-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Festival Bodri 2025 (Ist)</figcaption></figure>



<p><a href="https://www.suara.com/tag/festival-bodri">(18/9/2025) Festival Bodri</a> 2025 yang dihelat di Hutan Edukasi, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 13 dan 14 September 2025, salah satunya diisi dengan focus group discussion (FGD). FGD dimaksudkan untuk mengidentifikasi masalah serta merumuskan solusi demi kelestarian ekosistem di daerah aliran sungai <a href="https://www.suara.com/tag/bodri">Bodri</a> atau DAS Bodri.</p>



<p>Mengusung tema &#8220;Pengelolaan DAS Bodri Sebagai Upaya Membangun Peradaban&#8221;, beragam pihak turut andil dalam diskusi tersebut. Peserta yang hadir, memiliki kesamaan visi yakni mencari solusi konkret yang bisa diterapkan untuk kelestarian&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/lingkungan">lingkungan</a>&nbsp;di DAS Bodri. Sulistyo selaku perwakilan dari panitia pelaksana dan Lembaga Fordas Bodri, menjadi moderator dalam sesi ini.</p>



<p>FGD terbagi dalam lima kelompok. Masing-masing fokus pada satu isu utama. Pembahasan dimulai dengan isu alih fungsi lahan yang disampaikan Muhammad Yusuf Muda dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah.</p>



<p>Yusuf menjelaskan bagaimana lahan pertanian produktif seringkali menjadi area perumahan. Bukan hanya menghilangkan area resapan air, kondisi ini juga memicu konflik. Solusinya, menurut Yusuf, perlu regulasi yang lebih kuat dan pengawasan ketat.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.suara.com/pictures/original/2025/09/18/35109-festival-bodri-2025.jpg" alt="Festival Bodri 2025 (Ist)"/><figcaption class="wp-element-caption">Festival Bodri 2025 (Ist)</figcaption></figure>



<p>Isu kedua, degradasi lahan dan ketahanan pangan, diulas oleh Dewi Larasati dari Universitas Semarang (USM). Ia menyoroti dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebihan yang membuat tanah mengeras. Ia menekankan pentingnya kembali ke metode pertanian organik yang dapat memperbaiki kesuburan tanah.</p>



<p>Berikutnya, Suparno dari Forum DAS Jateng membahas masalah bencana rutin, seperti banjir dan tanah longsor. Kondisi DAS yang kritis dengan minimnya tutupan lahan menjadi penyebab utama bencana ini. Ia mengusulkan tindakan preventif, seperti konsep Zero Delta G, untuk memastikan air hujan dapat meresap ke dalam tanah secara maksimal.</p>



<p>Diskusi berlanjut dengan menyoroti pentingnya perubahan perilaku dan ekonomi hijau sebagai dua pilar utama dalam mencapai keberhasilan inisiatif lingkungan. Hery Budiarto, Asisten Program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP Indonesia), menyampaikan pandangan yang sangat relevan dan mendalam mengenai hal ini.</p>



<p>Menurutnya, inisiatif lingkungan tidak akan mencapai potensi maksimalnya jika tidak diintegrasikan secara menyeluruh dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan harus berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi dan sosial bagi komunitas yang terlibat.</p>



<p>Hery Budiarto memberikan contoh konkret kelompok tani dampingan mitra GEF SGP Indonesia di Temanggung dan Wonosobo. Di sana, kelompok petani kopi yang menerima dana hibah dari GEF SGP Indonesia berhasil menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dan positif. Perubahan ini bukan hanya terjadi pada aspek praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, tetapi juga pada pola pikir dan motivasi mereka untuk memajukan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam upaya konservasi.</p>



<p>“Keberhasilan ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kegiatan konservasi yang mereka lakukan juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan langsung terasa,” jelasnya.</p>



<p>Ia menjelaskan, para petani tidak hanya diajak untuk menjaga lingkungan, tetapi juga melihat bagaimana konservasi tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup mereka.</p>



<p>&#8220;Konservasi akan dapat terlaksana dengan baik, apabila perutnya juga dapat terisi,&#8221; ujar Hery Budiarto.</p>



<p>Ia menegaskan bahwa kebutuhan dasar manusia, terutama kebutuhan ekonomi, adalah faktor krusial dalam keberhasilan setiap inisiatif lingkungan. Ketika masyarakat merasa bahwa upaya konservasi tidak mengorbankan atau bahkan dapat meningkatkan mata pencarian mereka, motivasi untuk berpartisipasi dan mempertahankan praktik berkelanjutan akan jauh lebih tinggi.</p>



<p>Terakhir, isu manajemen sampah keluarga dibahas secara mendalam. Perwakilan DLHK Kendal, Wasito menyoroti buruknya pengelolaan sampah di wilayah DAS Bodri dan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Solusi yang diusulkan adalah mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, melalui pemilahan sampah dan program bank sampah.</p>



<p>Hasil diskusi dari kelima kelompok ini disimpulkan dalam sebuah dokumen berisi peta masalah, dampak, dan solusi. Puncaknya, FGD ini berhasil melahirkan Deklarasi Hijau Bodri 2025, sebuah komitmen yang berisi 10 poin aksi nyata.</p>



<p>Sepuluh poin tersebut di antaranya penyusunan peraturan desa (Perdes) tentang pengelolaan sampah yang mewajibkan warga memilah sampah di rumah, pengurangangan penggunaan pupuk kimia dan beralih ke praktik pertanian berkelanjutan, konservasi air dengan metode biopori dan sumur resapan yang dapat dirundingkan bersama pemerintah desa, memperjuangkan perlindungan area konservasi agar tidak dialihfungsikan menjadi lahan pertanian atau perumahan, serta peningkatan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, termasuk dengan menanam tanaman konservasi di lahan miring.</p>



<p>Ali Mashar, Sekretaris Desa Sidodadi mewakili panitia, mengungkapkan bahwa deklarasi ini akan menjadi panduan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melaksanakan program konservasi secara terpadu.</p>



<p>Dokumen ini rencananya akan dikirimkan kepada seluruh instansi terkait di empat kabupaten yang dilalui DAS Bodri yaitu Kab. Wonosobo, Kab. Kendal, Kab. Semarang, dan Kab. Temanggung.</p>



<p>Selain itu, FGD juga menjadi fondasi bagi pembentukan Komunitas Hijau Bodri, sebuah wadah bagi para relawan dan masyarakat untuk melanjutkan kolaborasi pasca-acara. Hal ini sejalan dengan semangat kolaborasi yang ditekankan Ali Mashar.</p>



<p>&#8220;Masa depan DAS Bodri nanti ada di tangan Saya, Bapak, dan Ibu sekalian. Alam tidak Sekali lagi, Bapak itu adalah masa berlanjutan, bukan alam yang luar biasa kita telah terokai, tapi kita bisa berkolaborasi untuk berkomunikasi menyelesaikannya,&#8221; pungkasnya.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/09/18/134029/festival-bodri-2025-diskusi-lintas-sektor-hasilkan-solusi-nyata-untuk-kelestarian-das-bodri</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-diskusi-lintas-sektor-hasilkan-solusi-nyata-untuk-kelestarian-das-bodri/">Festival Bodri 2025: Diskusi Lintas Sektor Hasilkan Solusi Nyata untuk Kelestarian DAS Bodri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Bodri 2025 Jadi Wadah Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kelestarian DAS Bodri</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-jadi-wadah-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-kelestarian-das-bodri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 18 Sep 2025 11:05:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Bodri]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17222</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/9/2025) Hutan Edukasi di Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Kendal, diramaikan ratusan peserta selama dua hari penuh pada 13 dan 14 September 2025. Mereka menghadiri Festival Bodri 2025. Acara digagas kolaborasi Pemerintah Desa Sidodadi, Forum DAS (Fordas) Bodri, Sepkuba, dan beberapa mitra GEF SGP Indonesia. Tujuannya menjadi wadah demi memperkuat kesadaran dan kolaborasi dalam menghadapi masalah lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri. Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyoroti pentingnya gaya hidup sehat dan peran generasi muda dalam menjaga alam. Menurut dia, anak muda jangan bermalas-malasan, tapi bergerak agar untuk menjaga kesehatan, menikmati dan turut menjaga alam. Dia menekankan perlunya edukasi lingkungan agar...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-jadi-wadah-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-kelestarian-das-bodri/">Festival Bodri 2025 Jadi Wadah Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kelestarian DAS Bodri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50.png" alt="" class="wp-image-17223" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-50-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kemeriahan Festival DAS Bodri 2025 yang diwarnai dengan kegiatan jalan sehat dan diskusi di kawasan Hutan Edukasi, Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, Kendal, Jawa Tengah, pada 13 dan 14 September 2025.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(18/9/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/hutan-edukasi">Hutan Edukasi</a> di Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, <a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, diramaikan ratusan peserta selama dua hari penuh pada 13 dan 14 September 2025. Mereka menghadiri Festival Bodri 2025. Acara digagas kolaborasi Pemerintah Desa Sidodadi, Forum DAS (Fordas) Bodri, Sepkuba, dan beberapa mitra GEF SGP Indonesia. Tujuannya menjadi wadah demi memperkuat kesadaran dan kolaborasi dalam menghadapi masalah lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri.</p>



<p>Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyoroti pentingnya gaya hidup sehat dan peran generasi muda dalam menjaga alam. Menurut dia, anak muda jangan bermalas-malasan, tapi bergerak agar untuk menjaga kesehatan, menikmati dan turut menjaga alam. Dia menekankan perlunya edukasi lingkungan agar kelestarian alam bisa diwariskan ke generasi mendatang.</p>



<p><em>&#8220;Anak-anak zaman sekarang kan tambah ke sini itu tambah mager, males berat. Apalagi setelah hampir semuanya memiliki HP, nah lewat jalan pagi ini yuk kita olahraga bareng dan juga nanti di finish kita ikutan festival <a href="https://www.suara.com/tag/das-bodri">DAS Bodri</a> di Hutan Edukasi untuk menikmati dan turut menjaga alam,&#8221;</em> ujar Dyah Kartika Permanasari.</p>



<p>Rangkaian acara ini sangat beragam. Di hari pertama, diisi dengan kegiatan jalan sehat, dilanjutkan dengan focus group discussion bertema <em>&#8220;Pengelolaan DAS Bodri Sebagai Upaya Membangun Peradaban&#8221;</em>. Ada pula pembagian hadiah dan ditutup penampilan budaya Jaran Kepang. Besoknya, puncak acara dimeriahkan Festival Gledekan Nusantara musim ke-5 permainan tradisional khas warga Kendal. Jumlah partisipannya membludak. Ya, ada 16 tim dengan 49 peserta dari berbagai wilayah di sekitar Kabupaten Kendal.</p>



<p>Bukan cuma itu, untuk memasarkan produk berkelanjutan yang telah dikembangkan MItra GEF SGP Indonesia di wilayah DAS Bodri, ada satu booth di samping panggung utama. Beragam produk kelompok dampingan GEF SGP Indonesia menyita perhatian pengunjung. Sebut saja, kopi, alpukat, madu hutan, tanaman hias dari limbah plastik,ecoprint, dan berbagai produk penunjang pertanian organik seperti pupuk kotoran hewan cair, bakteri fotosintesis, eco enzym, dan pembenah tanah.</p>



<p><strong>Isu-Isu Krusial DAS Bodri dan Solusi Lintas Sektor</strong></p>



<p>Tak hanya sebagai wadah untuk berkolaborasi, Festival DAS Bodri 2025 juga menjadi ajang untuk membahas seputar isu krusial yang menimpa ekosistem lingkungan di daerah alirasi Sungai Bodri. Bukan cuma masalah, mereka juga mendiskusikan solusi-solusi lintas sektor yang bisa diterapkan demi keberlangsungan ekologi di DAS Bodri.</p>



<p>Sekretaris Desa Sidodadi Ali Mashar, tidak memungkiri kondisi DAS Bodri kekinian terus-menerus mengalami kerusakan signifikan. Karena itu, hal ini tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu pihak, melainkan kolaborasi lintas sektor agar masalah tersebut mencapai titik terang.</p>



<p><em>&#8220;Masalah DAS Bodri itu tidak bisa diselesaikan hanya oleh salah satu pihak, tapi diperlukan kolaborasi lintas sektor,&#8221;</em> ucap Ali Mashar yang juga didaulat sebagai perwakilan panitia penyelenggara Festival DAS Bodri 2025. </p>



<p>Oleh karena itu, acara ini dirancang untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam Green Workshop yang berfokus pada lima isu krusial, yakni alih fungsi lahan, degradasi pangan dan ketahanan pangan, bencana rutin, perubahan perilaku dan ekonomi hijau, hingga manajemen sampah keluarga.</p>



<p>Salah satu isu utama yang dibahas adalah alih fungsi lahan. Praktik ini marak terjadi di DAS Bodri. Perwakilan dari kehutanan, Muhammad Yusuf Muda, menjelaskan bahwa alih fungsi lahan sering kali tidak memperhatikan dampak ekologis.</p>



<p><em>&#8220;Alih fungsi yang harusnya menghasilkan kaya tukang-tukang raksasa,&#8221;</em> ujarnya.</p>



<p>Pun Yusuf Muda mencontohkan bagaimana lahan pertanian produktif diubah menjadi perumahan atau industri tanpa perencanaan yang matang. Kondisi ini tidak hanya menghilangkan area resapan air, namun juga memicu konflik lahan antarpihak dan merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.</p>



<p>Makanya, menurut Yusuf Muda, ada kebutuhan terkait regulasi yang tegas dan pengawasan ketat dari pihak pemerintah untuk memastikan optimalisasi tata guna lahan yang berkelanjutan.</p>



<p>Isu degradasi lahan juga menjadi sorotan utama dalam kaitannya dengan ketahanan pangan. Pembicara dari Universitas Semarang (USM) Dewi Larasati, menjelaskan, penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan menjadi penyebab utama lahan mengeras dan produktivitasnya menurun.</p>



<p>Dewi Larasati membandingkan praktik pertanian modern dengan metode tradisional yang lebih ramah lingkungan, seperti penanaman bergilir yang dahulu sering dilakukan.</p>



<p><em>&#8220;Kalau sekarang itu kan memang penggunaan pokok yang sangat tinggi, kemudian pestisida, dan lain-lain, itu memang bisa menyebabkan kerusakan lahan,&#8221;</em> jelasnya.</p>



<p>Solusi yang diusulkan adalah mengurangi input bahan kimia dan kembali menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang berfokus pada perbaikan kesuburan tanah.</p>



<p>Bencana banjir di hilir dan tanah longsor di hulu telah menjadi rutinitas yang memprihatinkan di <a href="https://www.suara.com/tag/das-bodri">DAS Bodri</a>. Suparno dari Forum DAS Jateng mengungkapkan bahwa kondisi DAS yang kritis, dengan tutupan lahan yang minim dan tanah yang rentan erosi, menjadi pemicu utama.</p>



<p><em>&#8220;Apapun yang diusahakan apabila terjadi bencana maka dengan seketika semuanya menjadi sia-sia,&#8221;</em> kata Suparno sambil, menekankan pentingnya tindakan preventif.</p>



<p>Suparno juga menyinggung hasil pengukuran daya dukung sungai yang menunjukkan ketidakmampuan sungai menampung debit air saat curah hujan ekstrem. Pada Januari 2025, misalnya, peningkatan kapasitas tanggul dan penerapan konsep Zero Delta G—memastikan air hujan meresap ke dalam tanah—menjadi solusi vital yang perlu segera diimplementasikan.</p>



<p>Hery Budiarto dari GEF SGP Indonesia menyoroti bahwa perubahan perilaku masyarakat akan efektif jika memberikan manfaat ekonomi langsung. <em>&#8220;Perut, perut terisi itu yang penting,&#8221;</em> ujarnya.</p>



<p>Selain itu, Hery juga menjelaskan pentingnya pendekatan yang menyentuh kesejahteraan masyarakat. Ia mencontohkan keberhasilan kelompok petani kopi di Kendal yang menerapkan sistem pertanian agroforestri.</p>



<p>Dengan menanam kopi, menurut Hery, mereka tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tapi juga turut dalam upaya konservasi lahan. Inisiatif ekonomi hijau semacam ini terbukti mampu menggerakkan masyarakat untuk peduli lingkungan secara sukarela karena selaras dengan kebutuhan hidup.</p>



<p>Sementara itu, isu pengelolaan sampah menjadi tantangan serius di empat kabupaten yang dilalui DAS Bodri. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kendal, Wasito, menyampaikan tempat pemrosesan akhir (TPA) di wilayah ini diawasi ketat Kementerian Lingkungan Hidup.</p>



<p>Ia menjelaskan, metode pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan, yaitu hanya ditampung, diangkut, dan dibuang, tidak menyelesaikan masalah, malah cuma mengalihkan persoalan.</p>



<p><em>&#8220;Apabila ini berlangsung secara terus-menerus turun-temurun tentunya daerah pesisir sebagai hilir dari DAS Bodri akan menjadi tumpukan dari sampah tersebut,&#8221;</em> ungkap Wasito.</p>



<p>Solusi yang disepakati adalah mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, melalui pemilahan sampah dan program bank sampah. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang dapat didaur ulang.</p>



<p><strong>Deklarasi Hijau Bodri 2025: Pijakan Aksi Nyata</strong></p>



<p>Diskusi yang intensif dan produktif, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, swasta, masyarakat sipil, hingga akademisi, telah mencapai puncaknya. Pertukaran ide dan gagasan yang dinamis, diiringi semangat kolaborasi yang kuat, telah membuahkan hasil yang signifikan dan monumental: terbentuknya Deklarasi Hijau Bodri 2025.</p>



<p><strong> </strong><a href="https://www.suara.com/tag/hutan-edukasi">Hutan Edukasi</a> di Desa Sidodadi, Kecamatan Patean, <a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, diramaikan ratusan peserta selama dua hari penuh pada 13 dan 14 September 2025. Mereka menghadiri Festival Bodri 2025. Acara digagas kolaborasi Pemerintah Desa Sidodadi, Forum DAS (Fordas) Bodri, Sepkuba, dan beberapa mitra GEF SGP Indonesia. Tujuannya menjadi wadah demi memperkuat kesadaran dan kolaborasi dalam menghadapi masalah lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri.</p>



<p>Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyoroti pentingnya gaya hidup sehat dan peran generasi muda dalam menjaga alam. Menurut dia, anak muda jangan bermalas-malasan, tapi bergerak agar untuk menjaga kesehatan, menikmati dan turut menjaga alam. Dia menekankan perlunya edukasi lingkungan agar kelestarian alam bisa diwariskan ke generasi mendatang.</p>



<p>&#8220;Anak-anak zaman sekarang kan tambah ke sini itu tambah mager, males berat. Apalagi setelah hampir semuanya memiliki HP, nah lewat jalan pagi ini yuk kita olahraga bareng dan juga nanti di finish kita ikutan festival DAS Bodri di Hutan Edukasi untuk menikmati dan turut menjaga alam,&#8221; ujar Dyah Kartika Permanasari.</p>



<p>Rangkaian acara ini sangat beragam. Di hari pertama, diisi dengan kegiatan jalan sehat, dilanjutkan dengan focus group discussion bertema <em>&#8220;Pengelolaan DAS Bodri Sebagai Upaya Membangun Peradaban&#8221;</em>. Ada pula pembagian hadiah dan ditutup penampilan budaya Jaran Kepang. Besoknya, puncak acara dimeriahkan Festival Gledekan Nusantara musim ke-5 permainan tradisional khas warga Kendal. Jumlah partisipannya membludak. Ya, ada 16 tim dengan 49 peserta dari berbagai wilayah di sekitar Kabupaten Kendal.</p>



<p>Bukan cuma itu, untuk memasarkan produk berkelanjutan yang telah dikembangkan MItra GEF SGP Indonesia di wilayah DAS Bodri, ada satu booth di samping panggung utama. Beragam produk kelompok dampingan GEF SGP Indonesia menyita perhatian pengunjung. Sebut saja, kopi, alpukat, madu hutan, tanaman hias dari limbah plastik,ecoprint, dan berbagai produk penunjang pertanian organik seperti pupuk kotoran hewan cair, bakteri fotosintesis, eco enzym, dan pembenah tanah.</p>



<p><strong>Isu-Isu Krusial DAS Bodri dan Solusi Lintas Sektor</strong></p>



<p>Tak hanya sebagai wadah untuk berkolaborasi, Festival DAS Bodri 2025 juga menjadi ajang untuk membahas seputar isu krusial yang menimpa ekosistem lingkungan di daerah alirasi Sungai Bodri. Bukan cuma masalah, mereka juga mendiskusikan solusi-solusi lintas sektor yang bisa diterapkan demi keberlangsungan ekologi di DAS Bodri.</p>



<p>Sekretaris Desa Sidodadi Ali Mashar, tidak memungkiri kondisi DAS Bodri kekinian terus-menerus mengalami kerusakan signifikan. Karena itu, hal ini tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu pihak, melainkan kolaborasi lintas sektor agar masalah tersebut mencapai titik terang.</p>



<p><em>&#8220;Masalah DAS Bodri itu tidak bisa diselesaikan hanya oleh salah satu pihak, tapi diperlukan kolaborasi lintas sektor,&#8221;</em> ucap Ali Mashar yang juga didaulat sebagai perwakilan panitia penyelenggara Festival DAS Bodri 2025.</p>



<p>Oleh karena itu, acara ini dirancang untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam Green Workshop yang berfokus pada lima isu krusial, yakni alih fungsi lahan, degradasi pangan dan ketahanan pangan, bencana rutin, perubahan perilaku dan ekonomi hijau, hingga manajemen sampah keluarga.</p>



<p>Salah satu isu utama yang dibahas adalah alih fungsi lahan. Praktik ini marak terjadi di DAS Bodri. Perwakilan dari kehutanan, Muhammad Yusuf Muda, menjelaskan bahwa alih fungsi lahan sering kali tidak memperhatikan dampak ekologis.</p>



<p><em>&#8220;Alih fungsi yang harusnya menghasilkan kaya tukang-tukang raksasa,&#8221;</em> ujarnya.</p>



<p>Pun Yusuf Muda mencontohkan bagaimana lahan pertanian produktif diubah menjadi perumahan atau industri tanpa perencanaan yang matang. Kondisi ini tidak hanya menghilangkan area resapan air, namun juga memicu konflik lahan antarpihak dan merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.</p>



<p>Makanya, menurut Yusuf Muda, ada kebutuhan terkait regulasi yang tegas dan pengawasan ketat dari pihak pemerintah untuk memastikan optimalisasi tata guna lahan yang berkelanjutan.</p>



<p>Isu degradasi lahan juga menjadi sorotan utama dalam kaitannya dengan ketahanan pangan. Pembicara dari Universitas Semarang (USM) Dewi Larasati, menjelaskan, penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan menjadi penyebab utama lahan mengeras dan produktivitasnya menurun.</p>



<p>Dewi Larasati membandingkan praktik pertanian modern dengan metode tradisional yang lebih ramah lingkungan, seperti penanaman bergilir yang dahulu sering dilakukan.</p>



<p><em>&#8220;Kalau sekarang itu kan memang penggunaan pokok yang sangat tinggi, kemudian pestisida, dan lain-lain, itu memang bisa menyebabkan kerusakan lahan,&#8221;</em> jelasnya.</p>



<p>Solusi yang diusulkan adalah mengurangi input bahan kimia dan kembali menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang berfokus pada perbaikan kesuburan tanah.</p>



<p>Bencana banjir di hilir dan tanah longsor di hulu telah menjadi rutinitas yang memprihatinkan di DAS Bodri. Suparno dari Forum DAS Jateng mengungkapkan bahwa kondisi DAS yang kritis, dengan tutupan lahan yang minim dan tanah yang rentan erosi, menjadi pemicu utama.</p>



<p><em>&#8220;Apapun yang diusahakan apabila terjadi bencana maka dengan seketika semuanya menjadi sia-sia,&#8221;</em> kata Suparno sambil, menekankan pentingnya tindakan preventif.</p>



<p>Suparno juga menyinggung hasil pengukuran daya dukung sungai yang menunjukkan ketidakmampuan sungai menampung debit air saat curah hujan ekstrem. Pada Januari 2025, misalnya, peningkatan kapasitas tanggul dan penerapan konsep Zero Delta G—memastikan air hujan meresap ke dalam tanah—menjadi solusi vital yang perlu segera diimplementasikan.</p>



<p>Hery Budiarto dari GEF SGP Indonesia menyoroti bahwa perubahan perilaku masyarakat akan efektif jika memberikan manfaat ekonomi langsung. <em>&#8220;Perut, perut terisi itu yang penting,&#8221;</em> ujarnya.</p>



<p>Selain itu, Hery juga menjelaskan pentingnya pendekatan yang menyentuh kesejahteraan masyarakat. Ia mencontohkan keberhasilan kelompok petani kopi di Kendal yang menerapkan sistem pertanian agroforestri.</p>



<p>Dengan menanam kopi, menurut Hery, mereka tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tapi juga turut dalam upaya konservasi lahan. Inisiatif ekonomi hijau semacam ini terbukti mampu menggerakkan masyarakat untuk peduli lingkungan secara sukarela karena selaras dengan kebutuhan hidup.</p>



<p>Sementara itu, isu pengelolaan sampah menjadi tantangan serius di empat kabupaten yang dilalui DAS Bodri. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kendal, Wasito, menyampaikan tempat pemrosesan akhir (TPA) di wilayah ini diawasi ketat Kementerian Lingkungan Hidup.</p>



<p>Ia menjelaskan, metode pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan, yaitu hanya ditampung, diangkut, dan dibuang, tidak menyelesaikan masalah, malah cuma mengalihkan persoalan.</p>



<p><em>Apabila ini berlangsung secara terus-menerus turun-temurun tentunya daerah pesisir sebagai hilir dari DAS Bodri akan menjadi tumpukan dari sampah tersebut,&#8221;</em> ungkap Wasito.</p>



<p>Solusi yang disepakati adalah mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, melalui pemilahan sampah dan program bank sampah. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang dapat didaur ulang.</p>



<p><strong>Deklarasi Hijau Bodri 2025: Pijakan Aksi Nyata</strong></p>



<p>Diskusi yang intensif dan produktif, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, swasta, masyarakat sipil, hingga akademisi, telah mencapai puncaknya. Pertukaran ide dan gagasan yang dinamis, diiringi semangat kolaborasi yang kuat, telah membuahkan hasil yang signifikan dan monumental: terbentuknya Deklarasi Hijau Bodri 2025.</p>



<p>Deklarasi ini menjadi sebuah komitmen kolektif yang berisikan 10 poin aksi nyata. Kesepuluh poin ini mencerminkan prioritas utama dalam upaya konservasi dan keberlanjutan lingkungan di wilayah Bodri, meliputi aspek-aspek krusial seperti pengelolaan sumber daya air, perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, pemberdayaan ekonomi hijau, serta edukasi dan pemberdayaan masyarakat.</p>



<p>Deklarasi Hijau Bodri 2025 menjadi pedoman jelas bagi para pemangku kepentingan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program-program konservasi secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan adanya peta jalan ini, diharapkan setiap inisiatif tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terkoordinasi dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.</p>



<p>Untuk memastikan dampak yang luas dan implementasi yang efektif, Deklarasi Hijau Bodri 2025 akan segera disosialisasikan dan dikirimkan kepada seluruh instansi terkait. Harapannya dengan adanya deklarasi ini, akan tercipta sinergi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, komunitas lokal, dan organisasi non-pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan Bodri untuk generasi mendatang.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/09/18/110528/festival-bodri-2025-jadi-wadah-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-kelestarian-das-bodri?page=all</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/festival-bodri-2025-jadi-wadah-kolaborasi-lintas-sektor-untuk-kelestarian-das-bodri/">Festival Bodri 2025 Jadi Wadah Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kelestarian DAS Bodri</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>