<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GEF SGP Indonesia Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/gef-sgp-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/gef-sgp-indonesia/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:20 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>GEF SGP Indonesia Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/gef-sgp-indonesia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:15 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17330</guid>

					<description><![CDATA[<p>(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) BJ Habibie, Provinsi Gorontalo, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan ekonomi alternatif bagi masyarakat. Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025). Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-17331" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pupuk organik cair sebagai solusi ekonomi alternatif bagi warga di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie, Gorontalo.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>, Provinsi <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan <a href="https://www.suara.com/tag/ekonomi">ekonomi</a> alternatif bagi masyarakat.</p>



<p>Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025).</p>



<p>Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum itu menjadi ajang <em>curhat</em> terkait masalah yang terjadi, terutama di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie.</p>



<p>Nah, salah satu masalah yang diangkat terkait aktivitas tambang emas ilegal di SM Nantu-Boliohuto. Aktivitas ini dinilai meresahkan masyarakat serta mengancam ekosistem di wilayah tersebut. Sejumlah pihak berupaya untuk memberikan solusi terhadap masalah yang ditimbulkan dari eksploitasi sumber daya alam tersebut.</p>



<p>Tidak hanya solusi dari pemerintah untuk melakukan pendampingan warga yang terdampak dan edukasi terkait geologi, sektor ekonomi pun tak pelak menjadi sorotan. Ada beberapa solusi alternatif yang dikemukakan sebagai bentuk nyata transformasi ekonomi lokal ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p>



<p>Salah satu alternatif yang diperkuat adalah budidaya lebah madu atau yang dikenal dengan nama latin Apis Cerana di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo. Inovasi ini dinilai memiliki prospek cerah. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan ekonomi warga tanpa mengorbankan hutan.</p>



<p>Turut hadir dalam pertemuan lintas sektor tersebut, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengatakan pihaknya membantu untuk memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan yang mereka hadapi, salah satunya yang terjadi di SM Nantu Boliohuto.</p>



<p>“Dengan mendukung inisiatif lokal, GEF SGP membantu memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan mereka sendiri. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam, sehingga mendorong praktek yang lebih berkelanjutan,” ujar Sidi.</p>



<p><strong>Ragam Solusi Tingkat Tapak</strong></p>



<p>Nah, dalam kesempatan tersebut, beragam lembaga mitra GEF SGP Indonesia Fase 7 memaparkan hasil kerja mereka selama program. Pemaparan tersebut menunjukkan berbagai inovasi dan dampak positif di tingkat tapak setelah mendapatkan manfaat dari program GEF SGP Indonesia Fase 7.</p>



<p>Salah satu pemaparan dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Gorontalo dan Institute for Human and Ecological Studies (Inhides) yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan advokasi. Mereka menyoroti kerusakan hutan akibat pertambangan ilegal dan ancaman Hutan Tanaman Energi (HTE). Selain itu, mereka juga memfasilitasi terbentuknya kolektif perempuan tani dan mitigasi konflik satwa liar.</p>



<p>Ada pula Women Institute for Research and Empowerment (WIRE-G) mendampingi perempuan dan orang muda di Desa Bihe dan Pangahu. Fokus mereka adalah penguatan agensi perempuan dan anak muda, serta mendorong perencanaan pembangunan desa yang responsif gender.</p>



<p>Marsudi Lestantun menonjol melalui program agroforestri Silvopastura atau praktik mengintegrasikan pohon, hijauan, dan penggembalaan hewan peliharaan dengan cara yang saling menguntungkan. Lembaga ini menerapkan penanaman penghijauan berbasis peternakan dan mendampingi kelompok tani agar beralih dari pola tanam monokultur jagung ke sistem tanaman tahunan dan multikultur.</p>



<p>Dalam ranah pengembangan komoditas, Agraria Institute bekerja di Desa Bihek dan Bondula guna menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Mereka memfasilitasi penandaan batas partisipatif, mendorong penanaman bibit kakao dan tanaman adat seperti agar, serta berkolaborasi dengan barista untuk mengembangkan kopi lokal.</p>



<p>Kelompok Tani Hutan (KTH) Pobuto Nantu, menggandeng Marsudi Lestantun sejak program GEF SGP Indonesia Fase 6. Mereka mengembangkan komoditas kakao hingga menembus expo di Jakarta. Uniknya, kakao ini bahkan diolah menjadi camilan lokal seperti keripik atau cemilan. Buntutnya, inisiatif ini memberikan nilai tambah bagi petani.</p>



<p>Nah dari sisi akademik, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) UNG terlibat dalam pemetaan partisipatif, rehabilitasi lahan melalui distribusi 5.000 bibit Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman kekayuan multiguna, serta penyusunan Peraturan Desa tentang Penataan Ruang Wilayah dan Batas Desa.</p>



<p>Sementara itu, LP2M UNG melalui Pusat Studi Energi menitikberatkan pada konservasi lahan dengan mendirikan kebun energi. Mereka juga membangun pico-hydro 700 watt, dan membentuk komunitas ekowisata.</p>



<p>Ekonomi kreatif lokal pun enggan ketinggalan. Aspek ini juga memantik perhatian melalui pendampingan Rumah Kebun, yang membantu akses pasar dan branding produk seperti gula aren batu, sambal ayam kampung, dan keripik pepaya. Mereka juga berperan dalam pengembangan infrastruktur ekowisata di Air Terjun Bondula, Gorontalo.</p>



<p><em>“Lewat rangkaian inovasi ini, desa-desa penyangga menunjukkan ekonomi dapat tumbuh tanpa merusak lingkungan. Dukungan multipihak dan pendampingan berkelanjutan membuat masyarakat dapat memperoleh sumber penghidupan baru sembari menjaga kawasan hutan yang menjadi penopang kehidupan mereka,”</em> ujar Sidi.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/12/01/092409/inovasi-desa-perkuat-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem-dari-lebah-kakao-hingga-kopi-lokal?page=1</p>



<p></p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sat, 29 Nov 2025 10:30:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[BJ Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[SM nantu]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17327</guid>

					<description><![CDATA[<p>(29/11/2025) Suara keresahan menggema dari kawasan penyangga Suaka Margasatwa Nantu-Boliohuto, Provinsi Gorontalo. Mereka gelisah atas kondisi lingkungan di sana. Salah satu yang momok yakni masifnya aktivitas tambang emas ilegal. Kondisi ini tak pelak mengancam ekosistem dan kehidupan warga. ‘Nyanyian pilu’ itu terdengar lantang saat momen pertemuan para para pihak dalam rangka penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Pertemuan tersebut digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (27/11/2025). Acara ini merupakan penerapan exit-strategy penutup program GEF SGP Indonesia Fase 7 Gorontalo. Event ini menjadi momentum penting untuk mengkonsolidasikan komitmen multi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie-2/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1.png" alt="" class="wp-image-17328" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender dan Pencegahan Diskriminasi serta Pelecehan Seksual di Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (27/11/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(29/11/2025) Suara keresahan menggema dari kawasan penyangga Suaka Margasatwa Nantu-Boliohuto, Provinsi <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>. Mereka gelisah atas kondisi lingkungan di sana. Salah satu yang momok yakni masifnya aktivitas tambang emas ilegal. Kondisi ini tak pelak mengancam ekosistem dan kehidupan warga.</p>



<p>‘Nyanyian pilu’ itu terdengar lantang saat momen pertemuan para para pihak dalam rangka penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Pertemuan tersebut digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (27/11/2025).</p>



<p>Acara ini merupakan penerapan exit-strategy penutup program GEF SGP Indonesia Fase 7 Gorontalo. Event ini menjadi momentum penting untuk mengkonsolidasikan komitmen multi pihak dalam pelestarian sumber daya air , khususnya di kawasan penyangga <a href="https://www.suara.com/tag/sm-nantu">SM Nantu</a>-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>.</p>



<p>Forum Multi Pihak (FMP) dalam acara ini menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Salah satu isu mendesak yang mengemuka adalah aktivitas pertambangan emas ilegal yang masif di kawasan penyangga SM Nantu-Boliohuto.</p>



<p>Dalam sesi aduan, perwakilan masyarakat setempat, Bunaeri menyampaikan keresahan mendalam. Dia menggambarkan bagaimana aktivitas tambang ilegal merusak lingkungan. Tidak hanya itu, imbuh Bunaeri, aktivitas tersebut juga menciptakan tekanan besar bagi warga di sekitar kawasan SM Nantu-Boliohuto.</p>



<p>Karena itu, Bunaeri mendesak pemerintah segera bertindak, bahkan menyetop eksploitasi sumber daya alam di kawasan SM Nantu-Boliohuto. Namun, Bunaeri memohon agar solusi yang diterapkan konkret serta manusiawi. Tentunya, tanpa menyakiti masyarakat yang terlanjur menggantungkan hidup di sana.</p>



<p><em>&#8220;Kami sangat prihatin melihat kerusakan lingkungan akibat pertambangan ilegal yang masif. Kami meminta pemerintah segera bertindak untuk menghentikan kegiatan ini, namun kami juga memohon agar solusi yang diterapkan benar-benar konkrit dan manusiawi, tanpa menyakiti masyarakat yang sudah terlanjur menggantungkan hidup di sana,&#8221;</em> ujar Bunaeri.</p>



<p>Aspirasi ini tak pelak mendorong perhatian serius dari pemerintah daerah dan lembaga konservasi. Perwakilan BKSDA serta BAPPEDA Gorontalo maupun Boalemo menegaskan penanganan masalah tambang ilegal membutuhkan kolaborasi multipihak, termasuk aparat penegak hukum seperti TNI dan Polri.</p>



<p>Selain penegakan hukum, pemerintah dan mitra program juga menyiapkan langkah-langkah pendukung, seperti edukasi geologi kepada masyarakat untuk memahami bahwa tidak semua wilayah mengandung emas.</p>



<p>Upaya lain berupa pembentukan tim pendampingan bagi masyarakat yang menjadi korban aktivitas tambang ilegal serta pengembangan ekonomi alternatif, termasuk budidaya lebah madu yang dinilai prospektif di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo.</p>



<p>Turut hadir dalam pertemuan lintas sektor tersebut, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengatakan pihaknya membantu untuk memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan yang mereka hadapi, salah satunya yang terjadi di SM Nantu Boliohuto.</p>



<p>“Dengan mendukung inisiatif lokal, GEF SGP membantu memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan mereka sendiri. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam, sehingga mendorong praktek yang lebih berkelanjutan,” ujar Sidi.</p>



<p>Acara ditutup dengan konsolidasi komitmen yang ditandai dengan penandatanganan dua dokumen penting oleh seluruh perwakilan pihak terkait. Salah satunya dokumen kesepahaman bersama Pengelola Kawasan Penyangga SM Nantu-Boliohuto berfungsi sebagai landasan kolaborasi multi-pihak dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan penyangga SM Nantu-Boliohuto.</p>



<p>Selain itu, mereka juga meneken Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender dan Pencegahan Diskriminasi Seksual di Kawasan Penyangga SM Nantu dan Tahura BJ Habibie sebagai wujud komitmen mendukung kampanye stop diskriminasi terhadap perempuan dan masyarakat adat.</p>



<p>Dalam pakta integritas terkait pengarusutamaan gender dan antidiskriminasi tersebut, para pihak juga berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh upaya konservasi dan pembangunan berkelanjutan berjalan secara inklusif dan berkeadilan gender.</p>



<p>Melalui forum ini, warga berharap aduan mereka agar kegiatan tambang ilegal dihentikan, mendapatkan wadah dan dukungan. Konsolidasi komitmen hari itu menegaskan bahwa penyelamatan kawasan <a href="https://www.suara.com/tag/sm-nantu">SM Nantu</a> tidak bisa ditunda dan membutuhkan aksi nyata yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/29/103000/komitmen-multipihak-di-sm-nantu-boliohuto-cari-solusi-konkret-hadapi-tambang-ilegal?</p>



<p></p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie-2/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 28 Nov 2025 01:33:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[BJ Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17324</guid>

					<description><![CDATA[<p>(28/11/2025) “Tak ada batasan bagi apa yang bisa kita capai sebagai perempuan.” Kutipan eks ibu negara Amerika Serikat Michelle Obama seolah mempertegas bahwa peran perempuan itu nirbatas. Nah, sepenting ini pula peran perempuan dalam konservasi di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya BJ Habibie. Kesadaran inilah yang mendorong beragam pihak berkumpul di Aula Unit Pelaksana Akademik Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (27/11/2025), dalam momentum penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Di sana, beberapa pihak lintas sektor bersamuh. Dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pendamping lapangan, kelompok masyarakat, hingga perwakilan dari GEF SGP Indonesia, mereka menandatangani...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image.png" alt="" class="wp-image-17325" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Peran vital perempuan dalam keberlangsungan ekosistem di SM Nantu dan Tahura BJ Habibie memantik sorotan.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(28/11/2025) <em>“Tak ada batasan bagi apa yang bisa kita capai sebagai <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a>.” Kutipan eks ibu negara Amerika Serikat Michelle Obama seolah mempertegas bahwa peran perempuan itu nirbatas. Nah, sepenting ini pula peran perempuan dalam konservasi di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>.</em></p>



<p>Kesadaran inilah yang mendorong beragam pihak berkumpul di Aula Unit Pelaksana Akademik Perpustakaan Universitas Negeri <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, Kamis (27/11/2025), dalam momentum penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7.</p>



<p>Di sana, beberapa pihak lintas sektor bersamuh. Dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pendamping lapangan, kelompok masyarakat, hingga perwakilan dari GEF SGP Indonesia, mereka menandatangani meneken Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender dan Pencegahan Diskriminasi serta Pelecehan Seksual.</p>



<p>Tujuan penandatanganan pakta integritas ini sejatinya simpel namun sangat penting. Ya, pakta integritas ini ingin memastikan perempuan mendapatkan ruang aman, kesempatan yang setara, dan peran nyata dalam menjaga ekosistem di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya BJ Habibie.</p>



<p><strong>Mendorong Kepemimpinan Perempuan, Bukan Sekadar Kehadiran</strong></p>



<p>Masyarakat di wilayah penyangga memahami, perempuan berperan vital. Mereka menjaga pangan keluarga, mempraktikkan pengetahuan lokal soal tanaman, hingga memastikan sumber air terjaga. Banyak pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan. Pengetahuan ini tidak tertulis, tapi sangat berharga.</p>



<p>Sayangnya, ketika tiba pada tahap pengambilan keputusan atau penyusunan kebijakan kelompok, peran perempuan kerap diabaikan. Peran mereka belum sepenuhnya diakomodasi. Nah, lewat pakta integritas ini, semua pihak sepakat mengubah itu. Perempuan harus punya akses sama untuk bicara, memutuskan, dan memimpin.</p>



<p>Salah satu komitmen terbesar dalam pakta ini yakni meningkatkan kepemimpinan perempuan. Artinya, perempuan tidak cuma hadir sebagai peserta. Mereka didorong terlibat dalam bentuk yang lebih strategis. Semisalnya, perempuan didorong memimpin kelompok, merancang kegiatan konservasi, atau terlibat dalam konsultasi kebijakan lokal.</p>



<p>Perempuan dinilai membawa perspektif berbeda, yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contoh: bagaimana tanaman tertentu bisa memberi manfaat ganda, atau bagaimana sebuah area hutan menjadi sumber air penting bagi desa. Perspektif ini tidak melulu muncul dalam diskusi teknis, tapi sangat menentukan efektivitas konservasi.</p>



<p><strong>Ruang Aman untuk Perempuan</strong></p>



<p>Di lapangan, perempuan acapkali menghadapi tantangan tambahan. Sebut saja mulai dari risiko pelecehan, diskriminasi, atau diremehkan. Karena itu, pakta integritas ini memuat komitmen tegas terhadap Zero Tolerance atau toleransi nol pada kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual.</p>



<p>Komitmen ini tidak hanya berbentuk janji, tetapi juga rencana nyata: memastikan adanya mekanisme pelaporan, memberikan perlindungan, dan menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi perempuan dalam semua aktivitas konservasi. Ini penting karena perempuan hanya bisa aktif berkontribusi jika mereka merasa aman.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menegaskan bahwa komitmen ini bukan sekadar formalitas. Menurut Sidi, pakta integritas ini menegaskan tanggung jawab kolektif para pemangku kepentingan dalam memastikan kesetaraan gender dapat diterapkan hingga ke tingkat tapak.</p>



<p>“Hal ini perlu kami dorong sebagai komitmen bersama demi keberlanjutan alam dan kesejahteraan masyarakat di wilayah penyangga SM Nantu dan Tahura B.J. Habibie,” ujar Sidi.</p>



<p>Pernyataan ini mengingatkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya isu manusia, tetapi juga isu lingkungan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berperan penuh, praktik konservasi menjadi lebih kaya dan efektif.</p>



<p><strong>Menuju Masa Depan Konservasi yang Lebih Adil</strong></p>



<p>Penandatanganan pakta ini menandai langkah besar menuju masa depan konservasi yang lebih inklusif. Ya, perempuan bukan sekadar “pelengkap”, tetapi justru sebagai aktor utama yang punya pengetahuan, pengalaman, dan peran penting dalam menjaga kelestarian hutan.</p>



<p><em>“Dengan kolaborasi lintas lembaga dan kemauan bersama untuk menciptakan ruang aman dan setara, kawasan Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie kini bergerak menuju model konservasi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan,”</em> kata Sidi.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/28/132338/seruan-ruang-aman-bagi-peran-perempuan-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie?</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 20 Nov 2025 03:33:06 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Bodri]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosobo]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17312</guid>

					<description><![CDATA[<p>(20/11/2025) Para perempuan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’. Inisiasi ini merupakan salah satu dampak berkelanjutan dari dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia terkait upaya pelestarian lingkungan yang berakar pada kearifan lokal. ‘Meditasi Mata Air’ diprakarsai Samitra Lingkungan, inisiatif yang lahir dari rekomendasi Kongres Mata Air. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Fokus utamanya yakni merefleksikan kembali kelekatan perempuan terhadap sumber mata air. Bukan cuma itu, kegiatan ini juga merupakan dampak lanjutan dari program &#8220;Pengurangan Degradasi Lahan di Hulu DAS Bodri Melalui Pemanfaatan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/">Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65.png" alt="" class="wp-image-17313" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Para perempuan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(20/11/2025) Para <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/wonosobo">Wonosobo</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/jawa-tengah">Jawa Tengah</a>, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’. Inisiasi ini merupakan salah satu dampak berkelanjutan dari dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia terkait upaya pelestarian lingkungan yang berakar pada kearifan lokal.</p>



<p>‘Meditasi Mata Air’ diprakarsai Samitra Lingkungan, inisiatif yang lahir dari rekomendasi Kongres Mata Air. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Fokus utamanya yakni merefleksikan kembali kelekatan perempuan terhadap sumber mata air.</p>



<p>Bukan cuma itu, kegiatan ini juga merupakan dampak lanjutan dari program &#8220;Pengurangan Degradasi Lahan di Hulu DAS Bodri Melalui Pemanfaatan Aktivitas Kearifan Lokal dan Penguatan Ekonomi dengan Pariwisata Alam dan Budaya.&#8221;</p>



<p>Aktivitas ini diawali dengan ‘Meditasi Hening’ di lapangan Desa Sigedang. Dalam sesi ini, para peserta kegiatan diajak untuk menenangkan pikiran. Sejenak, para peserta diajak untuk melepaskan diri dari riuh kehidupan. Mereka diminta untuk membuka kepekaan terhadap hubungan esensial antara manusia dan alam.</p>



<p>Sesi hening rampung. Lalu, peserta diajak menempuh perjalanan menuju Mata Air Sendang. Sambil berjalan, mereka membawa 1.000 bibit pohon <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a> siap tanam. Bibit kopi ini ditanam di sepanjang jalan menuju mata air. Beragam organisasi perempuan terlibat, sebut saja PKK, Fatayat, Muslimat, Aisyiah, Nasyiatul Aisyiah, serta kelompok permakultur, akarwangi, dan restorasi hutan.</p>



<p>Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo Endang Lisdyaningsih menyampaikan data penting menyoal pelestarian sumber air. Endang mengungkapkan bahwa data di musim kemarau tahun 2025 menunjukkan ada 1.670 mata air yang tetap hidup.</p>



<p>&#8220;Nah, penanaman pohon 200 meter di atas sumber mata air akan menyelamatkan mata air di musim kemarau. Karena itu, pentingnya intervensi vegetatif di kawasan hulu,&#8221; ujar Endang.</p>



<p>Kegiatan ini juga memantik antusiasme para pemimpin organisasi perempuan. Mereka menyambut baik kegiatan ‘Meditasi Mata Air’ karena bisa memberikan manfaat ganda. Menurut Umi Amkhudloh selaku Pimpinan Anak Cabang Fatayat Kejajar, kegiatan ini bisa memberikan manfaat secara ekologi sekaligus manfaat ekonomi jangka panjang.</p>



<p>&#8220;Menanam pohon bisa memberikan manfaat secara ekologi untuk mencegah longsor dan banjir. Juga bisa memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Kita wajib bersyukur tinggal di kawasan dataran tinggi Dieng karena berlimpah mata air. Namun kita wajib menjaganya dengan menanam pohon,&#8221; ujar Umi.</p>



<p>Sementara itu, Direktur Samitra Lingkungan Rumiyati menjelaskan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan implementasi nyata dari rekomendasi ‘Kongres Mata Air’ yang diadakan di Desa Igirmranak pada Agustus 2025. Dia juga menegaskan komitmen komunitas untuk memastikan warisan lingkungan yang lestari.</p>



<p>Perempuan menjaga mata air dengan menanam pohon sebagai bentuk perawatan kehidupan. Setiap akar yang kita tanam menjadi harapan. Setiap tetes air yang kita rawat menjadi keberlanjutan. Bersama kita titipkan bumi yang lebih teduh bagi generasi mendatang. Karena hari ini kita memilih Merawat bukan meninggalkan,&#8221; tutup Rumiyati.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/20/082846/meditasi-mata-air-perempuan-wonosobo-tanam-1000-kopi-untuk-kelestarian-das-bodri?</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/">Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 15:14:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[IFC]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Ramah Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17309</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025&#160;menghadirkan sesi pleno II yang berfokus pada masa depan beras berkelanjutan dan upaya global menghadapi tantangan pangan pokok dunia. Diskusi ini tidak hanya menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, tetapi juga mencari solusi konkret melalui inovasi teknologi, model pembiayaan baru, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan tema&#160;“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras”, forum ini mempertemukan pemimpin dari sektor publik, swasta, serta lembaga penelitian global. Bertempat di&#160;Discovery Ancol, Jakarta Utara, pada&#160;Senin (17/11/2025), sesi ini menjadi ajang berbagi wawasan dan strategi untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah perubahan iklim yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/">International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17310" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1536x864.png 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64.png 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Seremoni pembukaan acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025). Dok Istimewa<br></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) <strong>International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025</strong>&nbsp;menghadirkan sesi pleno II yang berfokus pada masa depan beras berkelanjutan dan upaya global menghadapi tantangan pangan pokok dunia. Diskusi ini tidak hanya menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, tetapi juga mencari solusi konkret melalui inovasi teknologi, model pembiayaan baru, dan kolaborasi lintas sektor.</p>



<p>Dengan tema&nbsp;<strong>“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras”</strong>, forum ini mempertemukan pemimpin dari sektor publik, swasta, serta lembaga penelitian global. Bertempat di&nbsp;<strong>Discovery Ancol, Jakarta Utara</strong>, pada&nbsp;<strong>Senin (17/11/2025)</strong>, sesi ini menjadi ajang berbagi wawasan dan strategi untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Urgensi Transformasi Sektor Beras</h3>



<p>Paparan utama disampaikan oleh&nbsp;<strong>Alan Johnson</strong>, Senior Operations Officer di&nbsp;<strong>International Finance Corporation (IFC)</strong>, bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada pembangunan sektor swasta, sekaligus&nbsp;<strong>Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP)</strong>.</p>



<p>Dalam sambutannya, Johnson menegaskan bahwa beras memegang peranan vital dalam&nbsp;<strong>keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta dampaknya terhadap emisi karbon dan penggunaan air.</strong><br>Meski berbagai teknologi pertanian berkelanjutan seperti&nbsp;<strong>Alternate Wetting and Drying (AWD)</strong>&nbsp;dan benih tahan penyakit telah tersedia lebih dari dua dekade,&nbsp;<strong>adopsinya masih sangat rendah</strong>.</p>



<p>“Hanya sekitar 5 hingga 6 persen dari total produksi beras global yang dapat dikategorikan berkelanjutan,” ungkap Johnson. Ia menambahkan, perubahan ini membutuhkan kombinasi insentif pasar, pembiayaan inklusif, serta perubahan perilaku di tingkat petani.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kolaborasi Lintas Sektor: Dari Aksi Lokal ke Dampak Global</h3>



<p>Setelah paparan utama, Johnson mengundang sejumlah panelis untuk berdiskusi, antara lain&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>&nbsp;(Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia),&nbsp;<strong>Anoushka Harris</strong>&nbsp;(Sustainability Manager Associated British Foods),&nbsp;<strong>Senthilkumar Kalimuthu</strong>&nbsp;(Program Leader Africa Rice), dan&nbsp;<strong>Arjumand Nizami</strong>&nbsp;(Pakistan Country Director Helvetas).</p>



<p>Dalam diskusi, <strong>Sidi Rana Menggala</strong> menyoroti kiprah <strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP)</strong> di Indonesia sejak 1997. Program tersebut berfokus pada aksi lokal berdampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di area lebih dari <strong>2.500 hektare</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok masyarakat, masing-masing mengelola dana hibah antara USD 10.000 hingga USD 50.000, atau sekitar Rp167 juta hingga Rp838 juta,” jelasnya.</p>
</blockquote>



<p>Sidi menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah&nbsp;<strong>mengubah perilaku petani</strong>&nbsp;yang cenderung menghindari risiko. Ia menekankan pentingnya menyamakan bahasa dengan petani agar inisiatif karbon tidak hanya menjadi jargon global, tetapi juga&nbsp;<strong>meningkatkan kesejahteraan mereka secara nyata.</strong></p>



<p>Sebagai contoh, GEF SGP Indonesia menjalankan program pertanian berkelanjutan di&nbsp;<strong>Sulawesi Selatan</strong>, melibatkan&nbsp;<strong>lebih dari 200 petani di 15 desa.</strong>&nbsp;Program ini mendorong transisi dari penggunaan pestisida ke&nbsp;<strong>pupuk organik</strong>&nbsp;serta memperkuat hubungan komunitas melalui&nbsp;<em>learning circle</em>&nbsp;atau lingkar belajar.</p>



<p>“Kami mungkin satu-satunya lembaga di Indonesia yang masih memberikan hibah langsung kepada petani dan inisiatif lokal. Karena itu, kami ingin memperluas kolaborasi dengan kementerian dan pemerintah daerah agar dampaknya lebih luas,” tambahnya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://daily-life.id/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-18-at-10.52.51-1024x576.jpeg" alt=" Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat berbicara dalam sesi panel acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025) dok Istimewa" class="wp-image-2558"/><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat berbicara dalam sesi panel acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025) dok Istimewa</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Perspektif Global tentang Keberlanjutan Beras</h3>



<p>Dari sisi industri,&nbsp;<strong>Anoushka Harris</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Associated British Foods</strong>&nbsp;menjelaskan bahwa penerapan&nbsp;<strong>standar SRP</strong>&nbsp;bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga untuk&nbsp;<strong>mendorong dampak sosial dan lingkungan yang positif.</strong></p>



<p>Namun, tantangan terbesar menurutnya ada pada sisi komunikasi kepada konsumen.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Konsumen Inggris misalnya, belum memahami sepenuhnya konsep keberlanjutan. Narasi yang efektif adalah mengaitkannya dengan&nbsp;<strong>kesehatan dan nutrisi</strong>, bukan sekadar klaim penghematan air,” ujarnya.</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu,&nbsp;<strong>Senthilkumar Kalimuthu</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Africa Rice</strong>&nbsp;memaparkan kondisi benua Afrika yang masih&nbsp;<strong>mengimpor sekitar 40% dari total konsumsi beras sebesar 48 juta ton per tahun.</strong>&nbsp;Nilainya mencapai&nbsp;<strong>USD 8,2 miliar (Rp137 triliun)</strong>&nbsp;per tahun.<br>Menurutnya, adopsi sistem beras berkelanjutan adalah&nbsp;<strong>langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor</strong>. Afrika memiliki peluang untuk langsung mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan tanpa harus mengulang langkah-langkah inefisien yang pernah dilalui Asia.</p>



<p>Adapun&nbsp;<strong>Arjumand Nizami</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Helvetas Pakistan</strong>&nbsp;menyoroti soal&nbsp;<strong>premi harga</strong>&nbsp;bagi petani. Menurutnya, sistem insentif sementara memang memotivasi petani, tetapi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.<br>Ia berpendapat bahwa insentif yang lebih efektif justru datang dari&nbsp;<strong>penurunan biaya produksi, jaminan pasar, serta peningkatan layanan pertanian.</strong></p>



<p>“Intinya, kita perlu membangun&nbsp;<em>business case</em>&nbsp;yang kuat untuk menjadikan keberlanjutan sebagai pilihan rasional dan menguntungkan bagi petani,” tegas Nizami.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Menuju Beras Berkelanjutan Sebagai “Normal Baru”</h3>



<p>Kesimpulan dari sesi ini menegaskan bahwa&nbsp;<strong>transisi menuju sistem perberasan berkelanjutan</strong>&nbsp;membutuhkan&nbsp;<strong>kemitraan multi-pemangku kepentingan</strong>&nbsp;yang solid — mulai dari pemerintah, lembaga riset, sektor swasta, hingga petani.</p>



<p>Pendekatan&nbsp;<strong>publik-swasta yang holistik</strong>&nbsp;menjadi kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari sekadar proyek percontohan menjadi&nbsp;<strong>“normal baru” dalam produksi global.</strong><br>Dengan investasi yang tepat, edukasi berkelanjutan, serta dukungan kebijakan inklusif, transformasi ini bukan hanya memungkinkan, tapi juga menjadi fondasi penting bagi&nbsp;<strong>masa depan pangan dunia yang tangguh, adil, dan hijau.</strong></p>



<p>Sumber: https://daily-life.id/9092-20-november-2025-news-international-sustainable-rice-forum-2025-kolaborasi-global-untuk-masa-depan-pangan-dunia/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/">International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 11:55:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17303</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) Senior Operations Officer  International Finance Corporation (IFC), Alan Johnson, menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan. Dia mengungkap pentingnya beras terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air. Alan Johnson yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP) ini&#160;&#160;menyoroti, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti&#160;Alternate Wetting and Drying (AWD)&#160;serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade. Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen&#160;beras global&#160;yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan, kata dia dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025). Dilansir dari keterangan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/">Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="830" height="556" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62.png" alt="" class="wp-image-17304" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62.png 830w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-300x201.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-768x514.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-600x402.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-10x7.png 10w" sizes="auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>nternational Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025).</em></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) Senior Operations Officer  International Finance Corporation (IFC), Alan Johnson, menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan. Dia mengungkap pentingnya beras terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Alan Johnson yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP) ini&nbsp;&nbsp;menyoroti, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti&nbsp;<em>Alternate Wetting and Drying (AWD)</em>&nbsp;serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade.</p>



<p>Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen<a href="https://republika.co.id/tag/beras-global">&nbsp;beras global&nbsp;</a>yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan, kata dia dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025).</p>



<p>Dilansir dari keterangan tertulis kepada&nbsp;<em>Republika</em>, diskusi yang mengangkat tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras&#8221; tersebut&nbsp; mempertemukan pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan penelitian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Jalan menuju investasi dan insentif yang efektif</h3>



<p>Ketika paparan tersebut selesai, Johnson pun mengajak diskusi para panelis. Mereka adalah Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Anoushka Harris selaku Sustainability Manager Associated British Foods, Senthilkumar Kalimuthu sebagai Program Leader Africa Rice dan Arjumand Nizami yakni Pakistan Country Director Helvetas.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menyoroti pekerjaan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) di Indonesia sejak 1997. Selama ini, kata dia, program tersebut berfokus pada aksi lokal dengan dampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di lahan seluas lebih dari 2.500 hektare.</p>



<p>“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok, dan 86 kelompok ini masing-masing mengelola dana hibah mulai dari USD10.000 hingga USD 50.000–atau setara dengan Rp 167 juta hingga Rp 838 juta,” jelas dia.</p>



<p>Ilmuwan dari Ghent University tersebut menyatakan, tantangan terbesar adalah kemanusiaan dan perubahan perilaku petani yang cenderung menghindari risiko. Untuk pasar karbon, imbuh dia, kuncinya yakni menyamakan bahasa dengan petani, memastikan inisiatif karbon pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan mata pencaharian mereka.</p>



<p>Berbicara soal padi, komoditas ini menjadi salah satu yang dikembangkan GEF SGP Indonesia melalui berbagai inisiatif. Meski memiliki 39 komoditas lainnya seperti kakao, kopi hingga rumput laut, menurut Sidi, padi merupakan komoditas yang sangat menarik.</p>



<p>“Program ini dijalankan di Sulawesi Selatan dan melibatkan lebih dari 200 petani, dan memberikan dampak yang sangat signifikan dengan pembentukan lingkar belajar di 15 Desa. Dari inisiatif ini, ada peningkatan penggunaan pupuk organik—bukan lagi pestisida. Selain memperbaiki proses pertanian, kami juga membangun hubungan komunitas yang kuat,” ujar Sidi.</p>



<p>Sidi mengatakan, ke depannya, GEF SGP Indonesia ingin melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Sebagai penyalur hibah yang ingin berkolaborasi, imbuh Sidi, pihaknya dapat memberikan dukungan menyeluruh.</p>



<p>“Kami mungkin adalah penyalur hibah terakhir di Indonesia yang masih menyediakan hibah langsung untuk insiatif lokal dan petani. Jadi, kami ingin mengajak semua pihak bekerja sama. Kami menggandeng pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan—semuanya mendukung kami,” ujar Sidi.</p>



<p>Sementara Anoushka Harris dari Associated British Foods, salah satu pendiri SRP, menjelaskan, motivasi perusahaan adalah manfaat lingkungan dan sosial dari standar SRP, serta kebutuhan untuk mengkomunikasikan isu lingkungan seputar beras kepada konsumen.</p>



<p>Saat ditanya soal premi harga, Harris menyatakan, “konsumen Inggris tidak mengetahui tentang keberlanjutan, tetapi pelanggan yang perlu memahami standar tersebut. Narasi keberlanjutan lebih baik dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi daripada klaim seperti penghematan air, karena itu lebih menarik bagi konsumen.”</p>



<p>Senthilkumar Kalimuthu dari Africa Rice, lembaga penelitian di 28 negara Afrika, memaparkan signifikansi beras di benua tersebut. Sekitar 40 persen dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi masih diimpor. Kondisi ini menelan biaya sekitar USD 8,2 miliar per tahun atau setara dengan Rp 137 triliun.</p>



<p>Kalimuthu menegaskan beras berkelanjutan adalah prioritas besar. Pasalnya, Afrika dapat melewatkan langkah-langkah yang kurang efisien yang dilalui Asia. Mereka langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan. Nah, tantangan utama di Afrika adalah rantai nilai yang terputus, infrastruktur terbatas, dan kurangnya investasi.</p>



<p>Nizami dari Helvetas menyampaikan pandangan soal premi harga. Dalam jangka pendek, premi harga memang mendorong motivasi dan keuntungan segera bagi petani. Tapi, imbuh dia, kondisi ini bisa menimbulkan masalah keberlanjutan dan kepercayaan jika premi tersebut dihapus atau berfluktuasi.</p>



<p>Dia berargumen insentif yang lebih berkelanjutan adalah pengurangan biaya produksi (melalui praktik seperti Alternative Wetting and Drying/AWD), peningkatan layanan ekstensi pertanian, dan jaminan pasar. Intinya adalah membangun kasus bisnis untuk keberlanjutan.</p>



<p>Transisi keberlanjutan beras memerlukan kemitraan multi-pemangku kepentingan yang bekerja secara koheren untuk mengatasi risiko, memperkuat sistem standar, dan paling penting, menjadikan pertanian berkelanjutan sebagai keputusan bisnis yang menguntungkan bagi petani.</p>



<p>Kemitraan publik-swasta dan pendekatan holistik adalah kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari ceruk pasar menjadi &#8220;normal baru&#8221; dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: <a href="https://esgnow.republika.co.id/berita/t5wocf483/hanya-5-persen-beras-global-masuk-kategori-berkelanjutan-part3">https://esgnow.republika.co.id/berita/t5wocf483/hanya-5-persen-beras-global-masuk-kategori-berkelanjutan-part3</a></p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/">Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Panggung ISRF 2025: Inovasi, Investasi, dan Insentif untuk Solusi Beras Berkelanjutan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/panggung-isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-untuk-solusi-beras-berkelanjutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 11:51:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17300</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 menghadirkan sesi pleno II yang menyoroti urgensi dan solusi kolektif untuk mengatasi tantangan yang dihadapi sektor pangan pokok global. Sesi juga membahas masa depan beras berkelanjutan, pentingnya kolaborasi mitra lintas sektor, inovasi teknologi hingga model pembiayaan untuk petani. Diskusi mengangkat tema&#160;“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan&#160;Beras.”&#160;Para pakar dihadirkan pada sesi ini. Paparan utama dan diskusi panel ini mempertemukan pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan penelitian. Sesi dibuka dengan paparan utama dari Alan Johnson, Senior Operations Officer di International Finance Corporation (IFC)—bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/panggung-isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-untuk-solusi-beras-berkelanjutan/">Panggung ISRF 2025: Inovasi, Investasi, dan Insentif untuk Solusi Beras Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61.png" alt="" class="wp-image-17301" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-61-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sidi Rana Menggala saat membahas masa depan beras berkelanjutan dalam salah satu sesi di International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025, Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/international-sustainable-rice-forum">International Sustainable Rice Forum</a> (<a href="https://www.suara.com/tag/isrf">ISRF</a>) 2025 menghadirkan sesi pleno II yang menyoroti urgensi dan solusi kolektif untuk mengatasi tantangan yang dihadapi sektor pangan pokok global. Sesi juga membahas masa depan <a href="https://www.suara.com/tag/beras-berkelanjutan">beras berkelanjutan</a>, pentingnya kolaborasi mitra lintas sektor, inovasi teknologi hingga model pembiayaan untuk petani.</p>



<p>Diskusi mengangkat tema&nbsp;<em>“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/beras">Beras</a>.”</em>&nbsp;Para pakar dihadirkan pada sesi ini. Paparan utama dan diskusi panel ini mempertemukan pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan penelitian.</p>



<p>Sesi dibuka dengan paparan utama dari Alan Johnson, Senior Operations Officer di International Finance Corporation (IFC)—bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada sektor swasta sebagai vektor pembangunan—dan juga Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP).</p>



<p>Dalam acara yang digelar di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025), Johnson menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, mengingat perannya terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Memang, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade. Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen beras global yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan.</p>



<p><strong>Jalan Menuju Investasi dan Insentif yang Efektif</strong></p>



<p>Ketika paparan tersebut selesai, Johnson pun mengajak diskusi para panelis. Mereka adalah Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Anoushka Harris selaku Sustainability Manager Associated British Foods, Senthilkumar Kalimuthu sebagai Program Leader Africa Rice dan Arjumand Nizami yakni Pakistan Country Director Helvetas.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menyoroti pekerjaan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) di Indonesia sejak 1997. Selama ini, kata dia, program tersebut berfokus pada aksi lokal dengan dampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di lahan seluas lebih dari 2.500 hektare.</p>



<p><em>“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok, dan 86 kelompok ini masing-masing mengelola dana hibah mulai dari USD10.000 hingga USD 50.000–atau setara dengan Rp 167 juta hingga Rp 838 juta,”</em>&nbsp;jelasnya.</p>



<p>Menurut ilmuwan dari Ghent University tersebut, tantangan terbesar adalah kemanusiaan dan perubahan perilaku petani yang cenderung menghindari risiko. Untuk pasar karbon, imbuh dia, kuncinya yakni menyamakan bahasa dengan petani, memastikan inisiatif karbon pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan mata pencaharian mereka.</p>



<p>Berbicara soal padi, komoditas ini menjadi salah satu yang dikembangkan GEF SGP Indonesia melalui berbagai inisiatif. Meski memiliki 39 komoditas lainnya seperti kakao, kopi hingga rumput laut, menurut Sidi, padi merupakan komoditas yang sangat menarik.</p>



<p><em>“Program ini dijalankan di Sulawesi Selatan dan melibatkan lebih dari 200 petani, dan memberikan dampak yang sangat signifikan dengan pembentukan lingkar belajar di 15 Desa. Dari inisiatif ini, ada peningkatan penggunaan pupuk organik—bukan lagi pestisida. Selain memperbaiki proses pertanian, kami juga membangun hubungan komunitas yang kuat,”</em>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p>Sidi mengatakan, ke depannya, GEF SGP Indonesia ingin melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Sebagai penyalur hibah yang ingin berkolaborasi, imbuh Sidi, pihaknya dapat memberikan dukungan menyeluruh.</p>



<p><em>“Kami mungkin adalah penyalur hibah terakhir di Indonesia yang masih menyediakan hibah langsung untuk insiatif lokal dan petani. Jadi, kami ingin mengajak semua pihak bekerja sama. Kami menggandeng pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan—semuanya mendukung kami,”</em>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p>Sementara Anoushka Harris dari Associated British Foods, salah satu pendiri SRP, menjelaskan bahwa motivasi perusahaan adalah manfaat lingkungan dan sosial dari standar SRP, serta kebutuhan untuk mengkomunikasikan isu lingkungan seputar&nbsp;<a href="https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/18/103059/solusi-beras-berkelanjutan-dari-panggung-isrf-2025-inovasi-investasi-hingga-insentif?page=1#"><br>&nbsp;beras</a>&nbsp;kepada konsumen.</p>



<p>Saat ditanya soal premi harga, Harris menyatakan,&nbsp;<em>“konsumen Inggris tidak mengetahui tentang keberlanjutan, tetapi pelanggan yang perlu memahami standar tersebut. Narasi keberlanjutan lebih baik dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi daripada klaim seperti penghematan air, karena itu lebih menarik bagi konsumen.”</em></p>



<p>Kemudian, Senthilkumar Kalimuthu dari Africa Rice, lembaga penelitian di 28 negara Afrika, memaparkan signifikansi&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/beras">beras</a>&nbsp;di benua tersebut. Sekitar 40 persen dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi masih diimpor. Kondisi ini menelan biaya sekitar USD 8,2 miliar per tahun atau setara dengan Rp 137 triliun.</p>



<p>Kalimuthu menegaskan&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/beras-berkelanjutan">beras berkelanjutan</a>&nbsp;adalah prioritas besar. Pasalnya, Afrika dapat melewatkan langkah-langkah yang kurang efisien yang dilalui Asia. Mereka langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan. Nah, tantangan utama di Afrika adalah rantai nilai yang terputus, infrastruktur terbatas, dan kurangnya investasi.</p>



<p>Nizami dari Helvetas menyampaikan pandangan soal premi harga. Dalam jangka pendek, premi harga memang mendorong motivasi dan keuntungan segera bagi petani. Tapi, imbuh dia, kondisi ini bisa menimbulkan masalah keberlanjutan dan kepercayaan jika premi tersebut dihapus atau berfluktuasi.</p>



<p>Dia berargumen insentif yang lebih berkelanjutan adalah pengurangan biaya produksi (melalui praktik seperti Alternative Wetting and Drying/AWD), peningkatan layanan ekstensi pertanian, dan jaminan pasar. Intinya adalah membangun kasus bisnis untuk keberlanjutan.</p>



<p>Transisi keberlanjutan beras memerlukan kemitraan multi-pemangku kepentingan yang bekerja secara koheren untuk mengatasi risiko, memperkuat sistem standar, dan paling penting, menjadikan pertanian berkelanjutan sebagai keputusan bisnis yang menguntungkan bagi petani.</p>



<p>Kemitraan publik-swasta dan pendekatan holistik adalah kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari ceruk pasar menjadi&nbsp;<em>&#8220;normal baru&#8221;</em>&nbsp;dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/18/103059/solusi-beras-berkelanjutan-dari-panggung-isrf-2025-inovasi-investasi-hingga-insentif?page=1</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/panggung-isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-untuk-solusi-beras-berkelanjutan/">Panggung ISRF 2025: Inovasi, Investasi, dan Insentif untuk Solusi Beras Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 00:07:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17306</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia. Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17307" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Seremoni pembukaan acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025). Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia.</p>



<p>Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer IFC sekaligus Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP). Dalam paparannya, Johnson menyoroti ironi besar sektor perberasan global: teknologi untuk praktik pertanian berkelanjutan seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) dan benih tahan penyakit sebenarnya telah tersedia selama lebih dari dua dekade, tetapi tingkat adopsinya masih sangat rendah. Hanya 5–6 persen dari total produksi beras dunia yang dapat dikategorikan berkelanjutan. Padahal, komoditas ini menyangkut keamanan pangan miliaran orang, kehidupan jutaan petani, hingga kontribusi signifikan terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Setelah sesi pembuka, diskusi panel menghadirkan empat pemikir kunci:<br>Sidi Rana Menggala (Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia), Anoushka Harris (Sustainability Manager Associated British Foods), Senthilkumar Kalimuthu (Program Leader Africa Rice), dan Arjumand Nizami (Pakistan Country Director Helvetas). Masing-masing membawa perspektif berbeda, tetapi satu pesan sama-sama menggema: transformasi sektor beras membutuhkan dukungan menyeluruh dari hulu ke hilir.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menguraikan perjalanan panjang GEF SGP Indonesia dalam mendukung aksi lokal sejak 1997. Program mereka telah membantu 86 kelompok masyarakat melalui pendanaan hibah antara USD 10.000 hingga USD 50.000. Tidak hanya soal pendanaan, Sidi juga menekankan bahwa perubahan perilaku petani menjadi tantangan terbesar. Mereka cenderung menghindari risiko, sehingga penting untuk menjembatani komunikasi, terutama terkait inisiatif pasar karbon. Salah satu inisiatif yang menarik adalah program pengembangan padi berkelanjutan di Sulawesi Selatan yang melibatkan lebih dari 200 petani. Inisiatif ini telah membentuk lingkar belajar di 15 desa, meningkatkan penggunaan pupuk organik, serta memperkuat hubungan komunitas.</p>



<p>Dari perspektif perusahaan global, Anoushka Harris menekankan pentingnya standar SRP sebagai alat komunikasi antara industri dan konsumen. Ia menyebut bahwa dalam konteks pasar Inggris, narasi keberlanjutan lebih mudah diterima konsumen apabila dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi ketimbang klaim teknis seperti penghematan air.</p>



<p>Sementara itu, Senthilkumar Kalimuthu menggambarkan kondisi beras di Afrika yang menarik perhatian dunia. Dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi per tahun, sekitar 40 persennya masih diimpor dengan nilai fantastis: USD 8,2 miliar. Hal ini menunjukkan urgensi Afrika untuk langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan tanpa melalui tahapan panjang seperti Asia. Namun, tantangan mereka tidak sederhana: infrastruktur terbatas, rantai nilai terputus, dan minimnya investasi.</p>



<p>Dari Pakistan, Arjumand Nizami menekankan bahwa ketergantungan pada premi harga bisa menimbulkan masalah jangka panjang. Menurutnya, insentif paling efektif justru bersumber dari efisiensi biaya produksi, peningkatan layanan penyuluhan, serta kepastian pasar. Strategi inilah yang akan membangun model bisnis berkelanjutan bagi petani.</p>



<p>Pada akhirnya, sesi pleno ini menegaskan bahwa masa depan beras berkelanjutan tidak hanya membutuhkan inovasi dan teknologi, tetapi juga komitmen lintas pemangku kepentingan. Kolaborasi publik-swasta, sistem standar yang kuat, dan pendekatan holistik diperlukan agar praktik berkelanjutan menjadi “normal baru” dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/11/18/isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-demi-masa-depan-beras-berkelanjutan/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:59:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17277</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Tradisi pertanian di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok perempuan petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun kakao dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa. Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia,&#160; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&#160; Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png" alt="" class="wp-image-17278" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Tradisi pertanian di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa.</em></p>



<p>Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia,&nbsp; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&nbsp;</p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya mengenalkan kakao sebagai tanaman alternatif ramah lingkungan, eh ternyata justru perempuan yang cepat beradaptasi. Kaum hawa pun langsung mengambil peran penting.</p>



<p>“<em>Kami melihat kakao bisa menjadi komoditas unggulan sekaligus menjaga hutan tetap lestari. Awalnya kami cuma mau memperkenalkan tanaman alternatif yang lebih ramah lingkungan ketimbang jagung. Tapi ternyata, justru perempuan yang paling cepat beradaptasi dan mengambil peran penting,</em>” kata Catur saat diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Menurut Catur, program tersebut sejak awal memang menekankan keterlibatan perempuan, terutama bagi mereka yang suaminya tidak produktif atau bekerja di luar daerah. Dalam konteks seperti ini, perempuan menjadi tulang punggung keluarga yang menopang ekonomi rumah tangga.</p>



<p>“<em>Sebenarnya, sokoguru ekonomi keluarga itu ya ibu-ibu. Nah, bapak-bapak hanya mencari uang. Tapi kalau urusan manajemen keuangan, pengaturan kebutuhan, sampai keputusan untuk menanam apa, semua dipegang oleh ibu-ibu. Mereka jauh lebih peka pada kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak</em>,” terang Catur.</p>



<p>Di banyak desa termasuk Saritani, imbuh Catur, perempuan merupakan pihak pertama yang merasakan dampak perubahan ekonomi. Ketika penghasilan melorot atau hasil panen gagal, mereka yang justru bergerak mencari solusi lebih dulu. Nah, menurut Catur, ketekunan perempuan inilah yang menjadi keunggulan tersendiri dalam budidaya kakao.</p>



<p>“<em>Kami sering menyebut mereka ‘ibu-ibu perkasa’,</em>” kata Catur sambil tertawa kecil. “<em>Mereka lebih telaten dan sabar, dua hal yang penting dalam merawat kakao. Buah kakao harus dibersihkan, dijemur, dan dipisahkan bijinya setiap hari. Laki-laki biasanya tidak sekuat dan setelaten itu.”</em></p>



<p>Selain itu, lokasi kebun kakao yang tidak terlalu jauh dari permukiman membuat perempuan lebih mudah mengelolanya. Mereka nggak perlu masuk jauh ke hutan. Banyak dari mereka yang bekerja bersama suami, anak, atau tetangga. Alhasil, aktivitas bertani kakao kini menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan sosial desa.</p>



<p>Perubahan ekonomi yang muncul pun terasa nyata. Catur mengatakan, pendapatan dari kakao hingga kiwari jauh lebih stabil dibandingkan jagung. Padahal, sebelum beralih ke tanaman kakao, jagung menjadi komoditas utama masyarakat, terutama di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Petani yang dulunya kesulitan kini bisa membeli kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, bahkan menabung untuk masa depan</em>,” tutur dia. “<em>Ketika harga kakao naik di pasar internasional, masyarakat Saritani benar-benar merasakan dampaknya. Mereka mulai menikmati hasil dari kerja keras sendiri.</em>”</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peran penting perempuan</h2>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.arkadia.me/v2/articles/ancillavinta/cVVSqiMbC7LT0jUT7KIXtowfeFvF0kGv.png" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Peran perempuan di Desa Saritani kekinian tidak lagi berhenti di ranah domestik. Mereka mengambil keputusan. Mereka juga mengelola hasil, dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi desa. Suratinah, 63 tahun, salah satunya. Dia merupakan petani kakao yang menjadi contoh nyata transformasi perempuan di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Dulu hidup saya susah. (Saya) cuma bisa kerja jadi buruh, nggak punya modal, semua serba kurang. Tapi sejak menanam kakao, saya bisa panen tiap dua minggu. Hasilnya saya pakai buat beli beras, ayam, bahkan kirim uang sekolah anak di Jawa,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2026).</p>



<p>Suratinah menuturkan, keterlibatan perempuan di kebun kakao bukan hanya sebatas membantu. Mereka kini mampu mengelola seluruh proses produksi, mulai dari menanam, merawat, hingga menjual hasil panen.</p>



<p>“<em>Saya suka kerja, (tujuannya) biar bisa nyekolahin anak dan hidup lebih layak</em>,” ujar Suratinah. “<em>Sekarang kami sudah bisa mengatur waktu, kerja di kebun pagi sampai jam sebelas, lanjut lagi sore hari. Dulu, jangankan mikir sekolah, makan aja kadang susah.”</em></p>



<p>Rutinitas baru ini perlahan membentuk budaya baru di Saritani. Budaya kerja ini menempatkan perempuan sebagai pusaran aktivitas ekonomi di Desa Saritani. Dengan hasil panen 10 hingga 15 kilogram setiap dua pekan, mereka kini memiliki penghasilan rutin yang menopang kebutuhan keluarga.</p>



<p>“<em>Sekarang bukan cuma saya, tapi perempuan-perempuan lain juga sudah bisa beli beras dan ayam sendiri</em>,” kata Suratinah dengan bangga. “<em>Dulu kalau mau beli apa-apa harus pinjam uang. Sekarang nggak lagi.</em>”</p>



<p>Lebih jauh, ia berharap perempuan lain di desanya berani mengikuti jejak yang sama. “<em>Ayo bertani, menanam kakao secara berkala. Supaya hidup kita bisa agak enak</em>,” pesannya. “<em>Jangan takut mulai dari kecil, karena kalau telaten, hasilnya akan kelihatan.</em>”</p>



<p>Kisah perempuan Saritani membuktikan kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari tanah desa yang sederhana. Dari biji-biji kakao, kekinian mereka bukan hanya petani, tapi juga simbol ketekunan dan kemandirian yang membuat keluarga dan desa lebih sejahtera.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/135952/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:48:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kakao]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17274</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Biji kakao menjadi saksi bisu perjuangan para petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang. Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan. “Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png" alt="" class="wp-image-17275" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Biji <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> menjadi saksi bisu perjuangan para petani <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang.</em></p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em>. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan.</p>



<p>“<em>Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau berkunjung ke sana, pemandangannya ekstrem,</em>” ujar Catur ketika diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Catur mengisahkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Saritani di masa silam. Kendati pemerintah menyediakan bibit, benih, dan pupuk untuk komoditas jagung, praktik bertani di daerah ini malah acapkali merugikan petani kecil. Banyak lahan yang tidak cocok tetap ditanami jagung, bahkan di lereng-lereng ekstrem.</p>



<p>“<em>Nggak cuma itu, kondisi tersebut juga membuat petani terjerat tengkulak dan hasil panennya tak mampu meningkatkan kesejahteraan. Alhasil, hanya yang tuan tanah yang menikmati ekonomi dari jagung tersebut,</em>” tegas Catur.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/22/76955-petani-perempuan-desa-saritani.jpg" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Ia menambahkan bahwa tak heran bila Gorontalo termasuk salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Menurut Catur, pengolahan tanah pada masa itu dilakukan secara ugal-ugalan demi mengejar hasil panen cepat. Tapi faktanya, terang Catur, hasil dari pertanian tersebut bukannya malah meroket, melainkan terus melorot.</p>



<p>Melihat kondisi tersebut, Catur bersama tim mulai mengenalkan alternatif tanaman yang lebih ramah lingkungan. Nggak cuma itu, nilai ekonomi tanaman alternatif pun cukup tinggi. Tanaman tersebut yakni kakao. Inisiatif ini memantik sambutan positif dari kelompok perempuan di Saritani.</p>



<p>Ya, selama ini, kelompok perempuan di Saritani berperan sebagai pendamping suami di ladang. Namun, melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan, mereka belajar mengelola kebun kakao secara mandiri, dari penanaman hingga pengolahan pascapanen. Program ini juga mengajarkan praktik pertanian yang ramah lingkungan sekaligus berorientasi ekonomi.</p>



<p>Menurut Catur, sebagian besar petani perempuan di Saritani hadir sebagai tulang punggung keluarga. Biasanya, kondisi tersebut gara-gara sang suami sudah tidak produktif atau telah bekerja di tempat lain. Nah, menurut Catur, tanaman kakao cocok berada di tangan para perempuan tersebut yang dinilai cenderung lebih tekun serta telaten,</p>



<p>“<em>Kita memahami bahwa tanaman kakao memang membutuhkan perawatan rutin dan ketelatenan. Hal ini berbeda jauh dengan jagung yang monokultur dan cepat panen. Kakao mendorong kehadiran gaya hidup perempuan yang cenderung lebih tekun dan telaten,</em>” ujar Catur.</p>



<p>Titik terang pun terlihat. Nadi perekonomian mulai berdenyut setelah panen pertama tiba. Dengan luas lahan rerata 1 hingga 1,5 hektare, pendapatan mereka mulai meningkat signifikan. Apalagi, kondisi tersebut semakin menjadi-jadi ketika harga kakao di pasar internasional meroket.</p>



<p>Menurut Catur, masyarakat yang dulunya terjerat belenggu ekonomi, kiwari bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli kendaraan, bahkan menyekolahkan anak-anaknya. Ia berharap program ini terus berlanjut agar manfaat ekonomi dari kakao dapat dinikmati secara berkelanjutan. “<em>Kami ingin masyarakat menikmati hasil pertanian mereka sendiri.</em>”</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Perubahan Suratinah</strong></h3>



<p>Suratinah, 63 tahun, merasakan perubahan besar dalam hidupnya usai berkenalan dengan kakao. Dulu, hidup salah seorang petani perempuan di Desa Saritani tersebut, mengalami kesulitan ekonomi. Namun, titik balik terjadi ketika dia dan beberapa perempuan di Desa Saritani diperkenalkan dan mulai menanam kakao.</p>



<p>“<em>Saya dulu hanyalah buruh. Saat itu, saya belum bisa bertani, bahkan nggak punya modal. Hidup saya dulu sengsara, hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan tanaman kakao,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2025).</p>



<p>Dia pun menerawang. Suratinah mengingat ketika itu Catur dan rekannya menyarankan warga untuk beralih dari jagung lalu menanam kakao. Sejak saat itu, denyut perekonomian mulai berdetak. Panen dilakukan dua pekan sekali. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak-anak.</p>



<p>“<em>Setiap dua minggu, saya bisa memanen sekitar 10 hingga 15 kilogram kakao. Dulu harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Tapi sekarang (harganya) turun menjadi Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Meski harga turun naik, kakao tetap jadi sumber penghasilan keluarga</em>,” ujar Suratinah.</p>



<p>Hebatnya. dari hasil kebun itu, Suratinah kini mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Pulau Jawa. Ia juga menekankan keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan perempuan lain di desa. Pendapatan dari kakao memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada orang lain.</p>



<p>“<em>Sekarang sudah agak mendingan. Kalau dulu, harus pinjam-pinjam uang sama orang,</em>” jelas Suratinah.</p>



<p>Kekinian, budidaya kakao telah mengubah wajah ekonomi perempuan di Desa Saritani. Dari buruh tani yang hidup pas-pasan, mereka menjelma menjadi pelaku utama ekonomi desa. Kakao bukan lagi sekadar tanaman. Kakao menjadi jalan menuju kemandirian, stabilitas, dan kesejahteraan.</p>



<p>Sumber: http://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/134853/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>