<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ISRF Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/isrf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/isrf/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Thu, 20 Nov 2025 03:20:45 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>ISRF Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/isrf/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 15:14:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[IFC]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Ramah Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17309</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025&#160;menghadirkan sesi pleno II yang berfokus pada masa depan beras berkelanjutan dan upaya global menghadapi tantangan pangan pokok dunia. Diskusi ini tidak hanya menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, tetapi juga mencari solusi konkret melalui inovasi teknologi, model pembiayaan baru, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan tema&#160;“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras”, forum ini mempertemukan pemimpin dari sektor publik, swasta, serta lembaga penelitian global. Bertempat di&#160;Discovery Ancol, Jakarta Utara, pada&#160;Senin (17/11/2025), sesi ini menjadi ajang berbagi wawasan dan strategi untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah perubahan iklim yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/">International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17310" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1536x864.png 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-64.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Seremoni pembukaan acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025). Dok Istimewa<br></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) <strong>International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025</strong>&nbsp;menghadirkan sesi pleno II yang berfokus pada masa depan beras berkelanjutan dan upaya global menghadapi tantangan pangan pokok dunia. Diskusi ini tidak hanya menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, tetapi juga mencari solusi konkret melalui inovasi teknologi, model pembiayaan baru, dan kolaborasi lintas sektor.</p>



<p>Dengan tema&nbsp;<strong>“Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras”</strong>, forum ini mempertemukan pemimpin dari sektor publik, swasta, serta lembaga penelitian global. Bertempat di&nbsp;<strong>Discovery Ancol, Jakarta Utara</strong>, pada&nbsp;<strong>Senin (17/11/2025)</strong>, sesi ini menjadi ajang berbagi wawasan dan strategi untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Urgensi Transformasi Sektor Beras</h3>



<p>Paparan utama disampaikan oleh&nbsp;<strong>Alan Johnson</strong>, Senior Operations Officer di&nbsp;<strong>International Finance Corporation (IFC)</strong>, bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada pembangunan sektor swasta, sekaligus&nbsp;<strong>Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP)</strong>.</p>



<p>Dalam sambutannya, Johnson menegaskan bahwa beras memegang peranan vital dalam&nbsp;<strong>keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta dampaknya terhadap emisi karbon dan penggunaan air.</strong><br>Meski berbagai teknologi pertanian berkelanjutan seperti&nbsp;<strong>Alternate Wetting and Drying (AWD)</strong>&nbsp;dan benih tahan penyakit telah tersedia lebih dari dua dekade,&nbsp;<strong>adopsinya masih sangat rendah</strong>.</p>



<p>“Hanya sekitar 5 hingga 6 persen dari total produksi beras global yang dapat dikategorikan berkelanjutan,” ungkap Johnson. Ia menambahkan, perubahan ini membutuhkan kombinasi insentif pasar, pembiayaan inklusif, serta perubahan perilaku di tingkat petani.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kolaborasi Lintas Sektor: Dari Aksi Lokal ke Dampak Global</h3>



<p>Setelah paparan utama, Johnson mengundang sejumlah panelis untuk berdiskusi, antara lain&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>&nbsp;(Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia),&nbsp;<strong>Anoushka Harris</strong>&nbsp;(Sustainability Manager Associated British Foods),&nbsp;<strong>Senthilkumar Kalimuthu</strong>&nbsp;(Program Leader Africa Rice), dan&nbsp;<strong>Arjumand Nizami</strong>&nbsp;(Pakistan Country Director Helvetas).</p>



<p>Dalam diskusi, <strong>Sidi Rana Menggala</strong> menyoroti kiprah <strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP)</strong> di Indonesia sejak 1997. Program tersebut berfokus pada aksi lokal berdampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di area lebih dari <strong>2.500 hektare</strong>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok masyarakat, masing-masing mengelola dana hibah antara USD 10.000 hingga USD 50.000, atau sekitar Rp167 juta hingga Rp838 juta,” jelasnya.</p>
</blockquote>



<p>Sidi menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah&nbsp;<strong>mengubah perilaku petani</strong>&nbsp;yang cenderung menghindari risiko. Ia menekankan pentingnya menyamakan bahasa dengan petani agar inisiatif karbon tidak hanya menjadi jargon global, tetapi juga&nbsp;<strong>meningkatkan kesejahteraan mereka secara nyata.</strong></p>



<p>Sebagai contoh, GEF SGP Indonesia menjalankan program pertanian berkelanjutan di&nbsp;<strong>Sulawesi Selatan</strong>, melibatkan&nbsp;<strong>lebih dari 200 petani di 15 desa.</strong>&nbsp;Program ini mendorong transisi dari penggunaan pestisida ke&nbsp;<strong>pupuk organik</strong>&nbsp;serta memperkuat hubungan komunitas melalui&nbsp;<em>learning circle</em>&nbsp;atau lingkar belajar.</p>



<p>“Kami mungkin satu-satunya lembaga di Indonesia yang masih memberikan hibah langsung kepada petani dan inisiatif lokal. Karena itu, kami ingin memperluas kolaborasi dengan kementerian dan pemerintah daerah agar dampaknya lebih luas,” tambahnya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://daily-life.id/wp-content/uploads/2025/11/WhatsApp-Image-2025-11-18-at-10.52.51-1024x576.jpeg" alt=" Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat berbicara dalam sesi panel acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025) dok Istimewa" class="wp-image-2558"/><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat berbicara dalam sesi panel acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025) dok Istimewa</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Perspektif Global tentang Keberlanjutan Beras</h3>



<p>Dari sisi industri,&nbsp;<strong>Anoushka Harris</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Associated British Foods</strong>&nbsp;menjelaskan bahwa penerapan&nbsp;<strong>standar SRP</strong>&nbsp;bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga untuk&nbsp;<strong>mendorong dampak sosial dan lingkungan yang positif.</strong></p>



<p>Namun, tantangan terbesar menurutnya ada pada sisi komunikasi kepada konsumen.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>“Konsumen Inggris misalnya, belum memahami sepenuhnya konsep keberlanjutan. Narasi yang efektif adalah mengaitkannya dengan&nbsp;<strong>kesehatan dan nutrisi</strong>, bukan sekadar klaim penghematan air,” ujarnya.</p>
</blockquote>



<p>Sementara itu,&nbsp;<strong>Senthilkumar Kalimuthu</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Africa Rice</strong>&nbsp;memaparkan kondisi benua Afrika yang masih&nbsp;<strong>mengimpor sekitar 40% dari total konsumsi beras sebesar 48 juta ton per tahun.</strong>&nbsp;Nilainya mencapai&nbsp;<strong>USD 8,2 miliar (Rp137 triliun)</strong>&nbsp;per tahun.<br>Menurutnya, adopsi sistem beras berkelanjutan adalah&nbsp;<strong>langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor</strong>. Afrika memiliki peluang untuk langsung mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan tanpa harus mengulang langkah-langkah inefisien yang pernah dilalui Asia.</p>



<p>Adapun&nbsp;<strong>Arjumand Nizami</strong>&nbsp;dari&nbsp;<strong>Helvetas Pakistan</strong>&nbsp;menyoroti soal&nbsp;<strong>premi harga</strong>&nbsp;bagi petani. Menurutnya, sistem insentif sementara memang memotivasi petani, tetapi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.<br>Ia berpendapat bahwa insentif yang lebih efektif justru datang dari&nbsp;<strong>penurunan biaya produksi, jaminan pasar, serta peningkatan layanan pertanian.</strong></p>



<p>“Intinya, kita perlu membangun&nbsp;<em>business case</em>&nbsp;yang kuat untuk menjadikan keberlanjutan sebagai pilihan rasional dan menguntungkan bagi petani,” tegas Nizami.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Menuju Beras Berkelanjutan Sebagai “Normal Baru”</h3>



<p>Kesimpulan dari sesi ini menegaskan bahwa&nbsp;<strong>transisi menuju sistem perberasan berkelanjutan</strong>&nbsp;membutuhkan&nbsp;<strong>kemitraan multi-pemangku kepentingan</strong>&nbsp;yang solid — mulai dari pemerintah, lembaga riset, sektor swasta, hingga petani.</p>



<p>Pendekatan&nbsp;<strong>publik-swasta yang holistik</strong>&nbsp;menjadi kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari sekadar proyek percontohan menjadi&nbsp;<strong>“normal baru” dalam produksi global.</strong><br>Dengan investasi yang tepat, edukasi berkelanjutan, serta dukungan kebijakan inklusif, transformasi ini bukan hanya memungkinkan, tapi juga menjadi fondasi penting bagi&nbsp;<strong>masa depan pangan dunia yang tangguh, adil, dan hijau.</strong></p>



<p>Sumber: https://daily-life.id/9092-20-november-2025-news-international-sustainable-rice-forum-2025-kolaborasi-global-untuk-masa-depan-pangan-dunia/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/international-sustainable-rice-forum-2025-partnership-internasional-untuk-masa-depan-pangan-dunia/">International Sustainable Rice Forum 2025: Partnership Internasional untuk Masa Depan Pangan Dunia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 11:55:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17303</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) Senior Operations Officer  International Finance Corporation (IFC), Alan Johnson, menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan. Dia mengungkap pentingnya beras terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air. Alan Johnson yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP) ini&#160;&#160;menyoroti, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti&#160;Alternate Wetting and Drying (AWD)&#160;serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade. Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen&#160;beras global&#160;yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan, kata dia dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025). Dilansir dari keterangan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/">Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="830" height="556" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62.png" alt="" class="wp-image-17304" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62.png 830w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-300x201.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-768x514.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-600x402.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-62-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 830px) 100vw, 830px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>nternational Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025).</em></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) Senior Operations Officer  International Finance Corporation (IFC), Alan Johnson, menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan. Dia mengungkap pentingnya beras terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Alan Johnson yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP) ini&nbsp;&nbsp;menyoroti, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti&nbsp;<em>Alternate Wetting and Drying (AWD)</em>&nbsp;serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade.</p>



<p>Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen<a href="https://republika.co.id/tag/beras-global">&nbsp;beras global&nbsp;</a>yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan, kata dia dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin (17/11/2025).</p>



<p>Dilansir dari keterangan tertulis kepada&nbsp;<em>Republika</em>, diskusi yang mengangkat tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras&#8221; tersebut&nbsp; mempertemukan pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan penelitian.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Jalan menuju investasi dan insentif yang efektif</h3>



<p>Ketika paparan tersebut selesai, Johnson pun mengajak diskusi para panelis. Mereka adalah Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Anoushka Harris selaku Sustainability Manager Associated British Foods, Senthilkumar Kalimuthu sebagai Program Leader Africa Rice dan Arjumand Nizami yakni Pakistan Country Director Helvetas.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menyoroti pekerjaan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) di Indonesia sejak 1997. Selama ini, kata dia, program tersebut berfokus pada aksi lokal dengan dampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di lahan seluas lebih dari 2.500 hektare.</p>



<p>“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok, dan 86 kelompok ini masing-masing mengelola dana hibah mulai dari USD10.000 hingga USD 50.000–atau setara dengan Rp 167 juta hingga Rp 838 juta,” jelas dia.</p>



<p>Ilmuwan dari Ghent University tersebut menyatakan, tantangan terbesar adalah kemanusiaan dan perubahan perilaku petani yang cenderung menghindari risiko. Untuk pasar karbon, imbuh dia, kuncinya yakni menyamakan bahasa dengan petani, memastikan inisiatif karbon pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan mata pencaharian mereka.</p>



<p>Berbicara soal padi, komoditas ini menjadi salah satu yang dikembangkan GEF SGP Indonesia melalui berbagai inisiatif. Meski memiliki 39 komoditas lainnya seperti kakao, kopi hingga rumput laut, menurut Sidi, padi merupakan komoditas yang sangat menarik.</p>



<p>“Program ini dijalankan di Sulawesi Selatan dan melibatkan lebih dari 200 petani, dan memberikan dampak yang sangat signifikan dengan pembentukan lingkar belajar di 15 Desa. Dari inisiatif ini, ada peningkatan penggunaan pupuk organik—bukan lagi pestisida. Selain memperbaiki proses pertanian, kami juga membangun hubungan komunitas yang kuat,” ujar Sidi.</p>



<p>Sidi mengatakan, ke depannya, GEF SGP Indonesia ingin melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Sebagai penyalur hibah yang ingin berkolaborasi, imbuh Sidi, pihaknya dapat memberikan dukungan menyeluruh.</p>



<p>“Kami mungkin adalah penyalur hibah terakhir di Indonesia yang masih menyediakan hibah langsung untuk insiatif lokal dan petani. Jadi, kami ingin mengajak semua pihak bekerja sama. Kami menggandeng pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan—semuanya mendukung kami,” ujar Sidi.</p>



<p>Sementara Anoushka Harris dari Associated British Foods, salah satu pendiri SRP, menjelaskan, motivasi perusahaan adalah manfaat lingkungan dan sosial dari standar SRP, serta kebutuhan untuk mengkomunikasikan isu lingkungan seputar beras kepada konsumen.</p>



<p>Saat ditanya soal premi harga, Harris menyatakan, “konsumen Inggris tidak mengetahui tentang keberlanjutan, tetapi pelanggan yang perlu memahami standar tersebut. Narasi keberlanjutan lebih baik dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi daripada klaim seperti penghematan air, karena itu lebih menarik bagi konsumen.”</p>



<p>Senthilkumar Kalimuthu dari Africa Rice, lembaga penelitian di 28 negara Afrika, memaparkan signifikansi beras di benua tersebut. Sekitar 40 persen dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi masih diimpor. Kondisi ini menelan biaya sekitar USD 8,2 miliar per tahun atau setara dengan Rp 137 triliun.</p>



<p>Kalimuthu menegaskan beras berkelanjutan adalah prioritas besar. Pasalnya, Afrika dapat melewatkan langkah-langkah yang kurang efisien yang dilalui Asia. Mereka langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan. Nah, tantangan utama di Afrika adalah rantai nilai yang terputus, infrastruktur terbatas, dan kurangnya investasi.</p>



<p>Nizami dari Helvetas menyampaikan pandangan soal premi harga. Dalam jangka pendek, premi harga memang mendorong motivasi dan keuntungan segera bagi petani. Tapi, imbuh dia, kondisi ini bisa menimbulkan masalah keberlanjutan dan kepercayaan jika premi tersebut dihapus atau berfluktuasi.</p>



<p>Dia berargumen insentif yang lebih berkelanjutan adalah pengurangan biaya produksi (melalui praktik seperti Alternative Wetting and Drying/AWD), peningkatan layanan ekstensi pertanian, dan jaminan pasar. Intinya adalah membangun kasus bisnis untuk keberlanjutan.</p>



<p>Transisi keberlanjutan beras memerlukan kemitraan multi-pemangku kepentingan yang bekerja secara koheren untuk mengatasi risiko, memperkuat sistem standar, dan paling penting, menjadikan pertanian berkelanjutan sebagai keputusan bisnis yang menguntungkan bagi petani.</p>



<p>Kemitraan publik-swasta dan pendekatan holistik adalah kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari ceruk pasar menjadi &#8220;normal baru&#8221; dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: <a href="https://esgnow.republika.co.id/berita/t5wocf483/hanya-5-persen-beras-global-masuk-kategori-berkelanjutan-part3">https://esgnow.republika.co.id/berita/t5wocf483/hanya-5-persen-beras-global-masuk-kategori-berkelanjutan-part3</a></p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/hanya-5-beras-di-dunia-termasuk-dalam-kategori-berkelanjutan/">Hanya 5% beras di dunia termasuk dalam kategori berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>IRF 2025 Berkolaborasi dengan Negara Lain untuk Meningkatkan Transisi Emisi Padi Rendah</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/irf-2025-berkolaborasi-dengan-negara-lain-untuk-meningkatkan-transisi-emisi-padi-rendah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 10:38:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Alami]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17297</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 digelar di Discovery Ancol, Jakarta Utara. Acara ini merupakan pertemuan global penting, dihadiri lebih dari 300 peserta dari 23 negara di enam benua. Acara ini memanfaatkan momentum Hari Petani Nasional yang jatuh pada 24 September untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan wawasan pasar, dan mendorong adopsi praktik pertanian padi rendah karbon di Indonesia dan Asia. Adapun ISRF 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Preferred by Nature, Sustainable Rice Platform, Rikolto, International Rice Research Institution (IRRI), dan World Bank Group. Kegiatan ini juga didukung inisiatif program Low Carbon Rice dan EU Switch Asia, serta organisasi seperti Perpadi, Koalisi Rakyat untuk...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/irf-2025-berkolaborasi-dengan-negara-lain-untuk-meningkatkan-transisi-emisi-padi-rendah/">IRF 2025 Berkolaborasi dengan Negara Lain untuk Meningkatkan Transisi Emisi Padi Rendah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60.png" alt="" class="wp-image-17298" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-60-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Acara pembukaan International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025).</figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/international-sustainable-rice-forum">International Sustainable Rice Forum</a> (<a href="https://www.suara.com/tag/isrf">ISRF</a>) 2025 digelar di Discovery Ancol, Jakarta Utara. Acara ini merupakan pertemuan global penting, dihadiri lebih dari 300 peserta dari 23 negara di enam benua.</p>



<p>Acara ini memanfaatkan momentum Hari Petani Nasional yang jatuh pada 24 September untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan wawasan pasar, dan mendorong adopsi praktik pertanian <a href="https://www.suara.com/tag/padi">padi</a> rendah karbon di Indonesia dan Asia.</p>



<p>Adapun ISRF 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Preferred by Nature, Sustainable Rice Platform, Rikolto, International Rice Research Institution (IRRI), dan World Bank Group. Kegiatan ini juga didukung inisiatif program Low Carbon Rice dan EU Switch Asia, serta organisasi seperti Perpadi, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan disponsori oleh String.</p>



<p>Ya, sektor padi kini tengah berada di persimpangan jalan. Perubahan iklim pun menantang kondisi ini. Peter Filber, Direktur Eksekutif Preferred by Nature, menyoroti perlunya transformasi mendesak di sektor padi. Ia menyoroti fakta sawah menghasilkan gas rumah kaca (GRK) lebih banyak daripada seluruh sektor penerbangan, sekaligus menjadi konsumen air irigasi terbesar di dunia.</p>



<p>Kendati demikian, imbuh Peter Filber, hal ini juga menawarkan peluang besar untuk perubahan positif, mengingat pengetahuan untuk mengurangi emisi dan menghemat sumber daya sudah tersedia.</p>



<p><em>“Kunci keberhasilan adalah membangun jembatan yang menghubungkan peningkatan pendapatan petani, lanskap yang lebih sehat, dan manfaat iklim yang nyata. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan harus dibangun bersama petani, sebagai penjaga lanskap, bukan tanpa melibatkan mereka,”</em> ujar Peter Filber.</p>



<p>Terkait hal ini, pemerintah Indonesia dan Uni Eropa menegaskan kembali komitmen kuat mereka terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan. Menteri Koordinator Urusan Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan Indonesia telah mencapai swasembada beras. Bahkan, dengan perkiraan surplus sekitar 4 juta ton tahun ini, Indonesia menghilangkan kebutuhan impor.</p>



<p>Selain karbohidrat, pemerintah juga mendorong kedaulatan pangan protein, termasuk pembangunan ternak dan unggas besar-besaran di 20 provinsi, untuk mendukung program makanan bergizi gratis bagi 82,9 juta penerima tahun depan.</p>



<p><em>“Kedaulatan pangan tidak boleh ditawar. Berapa pun ongkosnya, kita harus lakukan. Ini adalah perintah Presiden Prabowo yang harus dilaksanakan, dan memerlukan kerja sama global dalam hal teknologi baru, mekanisasi, dan ilmu pengetahuan,”</em> ujar Zulkifli Hasan.</p>



<p>Di sisi lain, Duta Besar Uni Eropa (UE), Denis Chaibi, menyoroti peran program Switch Asia. Sejak 2007, program ini menginvestasikan lebih dari 300 juta Euro atau setara dengan sekitar Rp 5,8 triliun untuk produksi dan konsumsi berkelanjutan di Asia.</p>



<p>Chaibi mengatakan penguatan koperasi menjadi salah satu elemen yang sangat penting dalam menekan biaya produksi. Tidak cuma itu, tambah Chaibi, penguatan tersebut juga sekaligus memperkuat daya tawar petani di rantai nilai pangan.</p>



<p><em>“Koperasi memberi petani posisi tawar lebih kuat karena mereka bisa membeli benih, mengatur asuransi, dan menekan biaya secara kolektif,”</em> kata Chaibi.</p>



<p>UE sebelumnya mendanai <em>Low Carbon Rice Project</em> yang merupakan proyek beras rendah karbon selama empat tahun. Hasilnya yakni peningkatan produktivitas dan efisiensi di tingkat petani maupun penggilingan. Berdasarkan laporan <em>Low Carbon Rice Project 2025</em>, inisiatif itu telah mendukung 67 penggilingan padi kecil beralih dari bahan bakar diesel ke listrik serta membangun kemitraan dengan lebih dari 2.650 petani di area 1.037 hektare menuju produksi beras berkelanjutan.</p>



<p>Proyek tersebut merupakan inisiatif yang didanai Uni Eropa melalui SWITCH-Asia Grants Programme dan diimplementasikan oleh Preferred by Nature bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Perpadi.</p>



<p>Uni Eropa kini berfokus pada peningkatan skala model-model sukses menjadi investasi skala besar yang memperkuat rantai nilai regional. Kemitraan ini didorong oleh kepentingan bersama dalam pembangunan ekonomi dan lingkungan, serta adanya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang baru disepakati.</p>



<p>Nah, sesi selanjutnya menampilkan panel diskusi. Pembahasannya terkait beragam praktik dan implementasi pertanian beras berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga internasional, korporasi, institusi pertanian, donor internasional, perwakilan petani lokal, dan pihak bergengsi lainnya.</p>



<p>Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi dan masih harus diatasi adalah menyelaraskan kebijakan-kebijakan yang seringkali saling bertentangan serta memastikan efektivitas dan keberlanjutan kemitraan publik-swasta. Kesuksesan jangka panjang dari semua inisiatif ini akan sangat bergantung pada kemampuan sektor <a href="https://www.suara.com/tag/padi">padi</a> untuk menarik dan mempertahankan minat petani muda.</p>



<p>Tidak hanya itu, jaminan untuk memberikan harga yang adil dan kompetitif bagi hasil panen mereka adalah faktor penentu agar petani dapat melihat masa depan yang jelas, menjanjikan, dan pasti dalam sektor padi.</p>



<p><a href="https://www.suara.com/tag/isrf">ISRF</a> 2025 menjadi platform krusial untuk melahirkan kemitraan baru dan merumuskan peta jalan yang jelas dan terperinci guna memajukan hak-hak berkelanjutan serta praktik pertanian rendah emisi di Asia dan kawasan-kawasan lain di dunia.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/18/090356/isrf-2025-dorong-transisi-padi-rendah-emisi-lewat-kemitraan-global?page=2</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/irf-2025-berkolaborasi-dengan-negara-lain-untuk-meningkatkan-transisi-emisi-padi-rendah/">IRF 2025 Berkolaborasi dengan Negara Lain untuk Meningkatkan Transisi Emisi Padi Rendah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 00:07:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17306</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia. Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17307" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63.png 1536w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Seremoni pembukaan acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025). Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia.</p>



<p>Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer IFC sekaligus Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP). Dalam paparannya, Johnson menyoroti ironi besar sektor perberasan global: teknologi untuk praktik pertanian berkelanjutan seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) dan benih tahan penyakit sebenarnya telah tersedia selama lebih dari dua dekade, tetapi tingkat adopsinya masih sangat rendah. Hanya 5–6 persen dari total produksi beras dunia yang dapat dikategorikan berkelanjutan. Padahal, komoditas ini menyangkut keamanan pangan miliaran orang, kehidupan jutaan petani, hingga kontribusi signifikan terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Setelah sesi pembuka, diskusi panel menghadirkan empat pemikir kunci:<br>Sidi Rana Menggala (Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia), Anoushka Harris (Sustainability Manager Associated British Foods), Senthilkumar Kalimuthu (Program Leader Africa Rice), dan Arjumand Nizami (Pakistan Country Director Helvetas). Masing-masing membawa perspektif berbeda, tetapi satu pesan sama-sama menggema: transformasi sektor beras membutuhkan dukungan menyeluruh dari hulu ke hilir.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menguraikan perjalanan panjang GEF SGP Indonesia dalam mendukung aksi lokal sejak 1997. Program mereka telah membantu 86 kelompok masyarakat melalui pendanaan hibah antara USD 10.000 hingga USD 50.000. Tidak hanya soal pendanaan, Sidi juga menekankan bahwa perubahan perilaku petani menjadi tantangan terbesar. Mereka cenderung menghindari risiko, sehingga penting untuk menjembatani komunikasi, terutama terkait inisiatif pasar karbon. Salah satu inisiatif yang menarik adalah program pengembangan padi berkelanjutan di Sulawesi Selatan yang melibatkan lebih dari 200 petani. Inisiatif ini telah membentuk lingkar belajar di 15 desa, meningkatkan penggunaan pupuk organik, serta memperkuat hubungan komunitas.</p>



<p>Dari perspektif perusahaan global, Anoushka Harris menekankan pentingnya standar SRP sebagai alat komunikasi antara industri dan konsumen. Ia menyebut bahwa dalam konteks pasar Inggris, narasi keberlanjutan lebih mudah diterima konsumen apabila dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi ketimbang klaim teknis seperti penghematan air.</p>



<p>Sementara itu, Senthilkumar Kalimuthu menggambarkan kondisi beras di Afrika yang menarik perhatian dunia. Dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi per tahun, sekitar 40 persennya masih diimpor dengan nilai fantastis: USD 8,2 miliar. Hal ini menunjukkan urgensi Afrika untuk langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan tanpa melalui tahapan panjang seperti Asia. Namun, tantangan mereka tidak sederhana: infrastruktur terbatas, rantai nilai terputus, dan minimnya investasi.</p>



<p>Dari Pakistan, Arjumand Nizami menekankan bahwa ketergantungan pada premi harga bisa menimbulkan masalah jangka panjang. Menurutnya, insentif paling efektif justru bersumber dari efisiensi biaya produksi, peningkatan layanan penyuluhan, serta kepastian pasar. Strategi inilah yang akan membangun model bisnis berkelanjutan bagi petani.</p>



<p>Pada akhirnya, sesi pleno ini menegaskan bahwa masa depan beras berkelanjutan tidak hanya membutuhkan inovasi dan teknologi, tetapi juga komitmen lintas pemangku kepentingan. Kolaborasi publik-swasta, sistem standar yang kuat, dan pendekatan holistik diperlukan agar praktik berkelanjutan menjadi “normal baru” dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/11/18/isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-demi-masa-depan-beras-berkelanjutan/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>