<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jawa Tengah Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/jawa-tengah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/jawa-tengah/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 11:12:14 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Jawa Tengah Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/jawa-tengah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 15 Oct 2025 10:02:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Mitra]]></category>
		<category><![CDATA[Trade Expo Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17268</guid>

					<description><![CDATA[<p>(15/10/2025) Trade Expo Indonesia&#160;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&#160;event&#160;ini,&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat. Dari&#160;penerima hibah&#160;menjadi&#160;pelaku pasar. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&#160;TEI&#160;2025. Lewat&#160;event&#160;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan. Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png" alt="" class="wp-image-17269" style="width:840px;height:auto" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Booth GEF SGP di Pameran Trade Expo Indonesia 2025.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(15/10/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/trade-expo-indonesia">Trade Expo Indonesia</a>&nbsp;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&nbsp;<em>event</em>&nbsp;ini,&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat.</p>



<p>Dari&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/penerima-hibah">penerima hibah</a>&nbsp;menjadi&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/pelaku-pasar">pelaku pasar</a>. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tei">TEI</a>&nbsp;2025. Lewat&nbsp;<em>event</em>&nbsp;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan.</p>



<p>Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan hasilnya. Tapi ada satu hal yang mengganjal.</p>



<p>“Tak dapat dipungkiri, model ini memang telah mendorong berbagai pekerjaan luar biasa yang dihasilkan dari setiap wilayah mitra. Kendati demikian, sering kali meninggalkan satu pertanyaan penting yang belum terjawab: Apa yang terjadi ketika dana hibah berakhir?” ujar Sidi dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (14/10/2025).</p>



<p>Tentunya, pertanyaan ini cukup menantang. Ada jawaban yang lebih berkelanjutan menanti. Nah, jawaban itulah yang dibawa ke panggung nasional TEI. Ya, pameran bukan sembarang pameran. Melalui&nbsp;<em>event</em>&nbsp;itu, GEF SGP Indonesia mau menggeser peran penyandang dana tradisional menjadi pembuat pasar yang proaktif.</p>



<p>Trade Expo Indonesia (TEI), merupakan ajang perdagangan dan investasi nasional yang menjadi tempat pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli internasional. Sidi mengatakan pihaknya tidak cuma menampilkan laporan dan foto, melainkan produk nyata, layak investasi, dan siap dipasarkan dari komunitas yang mereka dampingi.</p>



<p>“Kita di dunia di mana konsumen dan pembeli B2B kian menuntut transparansi dan tujuan jelas. Nah, cerita di balik produk menjadi nilai terbesarnya. Di TEI, kami tidak hanya menjual madu; kami menampilkan hubungan erat kami dengan petani kopi dan keterkaitan mereka dengan habitat alami,” kata Sidi.</p>



<p>Menurut dia, hubungan antarrelasi manusia menciptakan dampak yang sangat kuat. Salah satunya adalah pemberdayaan komunitas. Pihaknya membawa kisah-kisah komunitas di daerah ke panggung nasional untuk memberikan pengakuan atas kerja kerasnya mereka selama ini.</p>



<p>“Kami ingin menyampaikan pesan kepada para mitra komunitas, bahwa mereka bukan penerima bantuan; mereka adalah inovator, pengusaha, dan penjaga modal alam bangsa kita,” terang Sidi.</p>



<p>Tidak bisa dipungkiri, perjalanan dari proyek berbasis komunitas hingga ke panggung nasional bukanlah jalan sunyi. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dengan mitra berpikiran maju, mulai dari sektor swasta, pemerintah hingga lembaga keuangan.</p>



<p>“Kami mencari mitra yang melihat apa yang kami lihat: bahwa berinvestasi dalam usaha berbasis komunitas bukan sekadar CSR, melainkan investasi strategis dalam rantai pasok yang lebih stabil, berkelanjutan, dan adil bagi Indonesia,” tutup Sidi.</p>



<p>Kementerian Perdagangan menggelar Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 ke-40 pada 15-19 Oktober 2025 dengan mengusung tema &#8220;<em>Discover Indonesia&#8217;s Excellence: Trade Beyond Boundaries</em>&#8220;. Ajang yang digelar di ICE BSD City ini menjadi tempat bertemu para eksportir dan importir untuk dapat bertransaksi hingga menarik investasi.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/15/100254/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Sep 2025 17:12:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Temanggung]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17191</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/9/2025) Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji kopi robusta di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan. Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus, remaja berusia 17 tahun asal&#160;Temanggung,&#160;Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu. Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39.png" alt="" class="wp-image-17192" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Maya, remaja berusia 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, sehari-hari membantu memilah biji kopi robusta yang dipanen petani setempat.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(1/9/2025) <em>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah <a href="https://www.guideku.com/tag/maya">Maya</a>. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji <a href="https://www.guideku.com/tag/kopi-robusta">kopi robusta</a> di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan.</em></p>



<p>Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus, remaja berusia 17 tahun asal&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/temanggung">Temanggung</a>,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/jawa-tengah">Jawa Tengah</a>, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu.</p>



<p>Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.</p>



<p>Di balik senyum hangatnya, hidup Maya sarat ternyata dengan lika liku. Dia terpaksa mengalami trauma ketika duduk di bangku sekolah dasar karena menjadi korban perundungan. Dunianya begitu sempit. Dia hanya mengurung di rumah. Keseharian, dia cuma membantu sang nenek.</p>



<p>Nah, dengan dukungan salah satunya dari sang nenek, Maya kini mulai merasa berdaya. Dia kekinian sehari-hari membantu memilah biji kopi di sebuah rumah produksi kopi yang didampingi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur.</p>



<p>Maya adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang ditemukan kawan-kawan KTH Ngudi Makmur saat menunaikan program selaku penerima manfaat dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengibaratkan sosok Maya ini seperti biji kopi yang belum disangrai. Menurut Sidi, Maya memiliki potensi yang sangat besar namun masih terpendam. Ya, seperti biji kopi, potensinya tersembunyi dalam cangkang keras.</p>



<p>Menurut Sidi, sosok Maya yang inspiratif ini merupakan bukti nyata konservasi lingkungan kala dirancang secara inklusif dan dipimpin masyarakat, dapat menjadi katalisator mendalam bagi pengembangan manusia yang holistik.</p>



<p>“Dengan begitu, peran kami di GEF SGP Indonesia sejatinya bukan sekadar mendanai proyek atau program, tetapi juga menciptakan kondisi di mana mereka yang paling rentan dapat menemukan tempat dan kedamaiannya,” tutur Sidi.</p>



<p>Filosofi GEF SGP Indonesia, menurut Sidi, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal. “Dukungan kami bukan hanya soal membudidayakan kopi; tapi menumbuhkan martabat dan ketangguhan manusia,” lanjut dia.</p>



<p>Transformasi dimulai ketika program menciptakan ruang yang menghargai kemampuan yang berbeda-beda. Bagi Maya, imbuh Diri, proses ritmis dan taktis dalam memilah biji kopi menjadi bahasanya sendiri.</p>



<p>“Ini adalah tugas yang lebih menekankan pada fokus dan ketelitian dibandingkan kemampuan berbicara. Di lingkungan ini, dengan dukungan neneknya dan KTH Ngudi Makmur lainnya, ia tidak lagi didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya,” terang Sidi.</p>



<p><strong>Dukungan Alami bagi Maya</strong></p>



<p>Program pendampingan ini memang tidak memberikan terapi khusus untuk Maya. Namun, program ini membantu menciptakan usaha milik komunitas yang secara alami menghargai keterampilannya.</p>



<p>“Kami menyediakan platform untuk inklusi ekonomi, yakni rumah produksi yang menjadi ruang netral dan produktif di mana Maya dapat terlibat dalam perekonomian lokal dengan caranya sendiri. Partisipasi ekonomi ini penting menuju kepercayaan diri dan integrasi sosial,” ujar Sidi.</p>



<p>Selain itu, program ini juga memperkuat kapasitas kolektif komunitas untuk saling peduli dengan mendukung kelompok seperti KTH Ngudi Makmur. Dalam hal ini, sang nenek dan penerima manfaat lainnya menjadi sistem dukungan alami bagi Maya.</p>



<p>“Jaringan penguatan ini tentunya seringkali sulit ditiru oleh program formal yang belum tentu berbasis keterlibatan masyarakat,” terang Sidi.</p>



<p>Nah, cerita Maya ini sejatinya tidak berhenti sampai di sini. Ini merupakan landasan awal ke fase berikutnya. Salah satunya adalah mengeksplorasi keberhasilan model ini dapat digunakan untuk mengikutsertakan pemuda lain yang memiliki kebutuhan berbeda di komunitas.</p>



<p>“Selain itu, kisah Maya menjadi studi kasus yang kuat bagi penerima hibah komunitas lainnya, menunjukkan bahwa proyek lingkungan dapat dan seharusnya dirancang sebagai sarana untuk inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan,” ujar Sidi.</p>



<p>Cerita Maya menjadi bukti bahwa proyek lingkungan bisa menjadi pintu inklusi sosial. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan kembali rasa percaya dirinya, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya.(*)</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Sep 2025 05:00:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17188</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/9/2025) Maya adalah remaja 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir dengan keterbatasan dalam mendengar dan berbicara. Meski begitu, kehidupannya kini perlahan berubah berkat biji kopi robusta. Dari aktivitas sederhana memilah kopi, Maya menemukan rasa percaya diri, kemandirian, hingga harapan baru untuk masa depannya. Di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, tempat ia tinggal bersama sang nenek, Maya setiap hari membantu memilih satu per satu biji kopi robusta. Aktivitas itu dilakukan di rumah produksi kopi yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menjadi simbol kebangkitannya setelah bertahun-tahun hidup dalam trauma. Maya Dari Trauma ke Rasa...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/">Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17189" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38.png 1536w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung &#8211; sumber foto Istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(1/9/2025) Maya adalah remaja 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir dengan keterbatasan dalam mendengar dan berbicara. Meski begitu, kehidupannya kini perlahan berubah berkat biji kopi robusta. Dari aktivitas sederhana memilah kopi, Maya menemukan rasa percaya diri, kemandirian, hingga harapan baru untuk masa depannya.</p>



<p>Di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, tempat ia tinggal bersama sang nenek, Maya setiap hari membantu memilih satu per satu biji kopi robusta. Aktivitas itu dilakukan di rumah produksi kopi yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menjadi simbol kebangkitannya setelah bertahun-tahun hidup dalam trauma.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Maya Dari Trauma ke Rasa Percaya Diri</strong></h3>



<p>Masa kecil Maya tidak mudah. Ia pernah menjadi korban perundungan di sekolah dasar yang membuatnya memilih menutup diri dari lingkungan. Dunianya begitu sempit: hanya rumah, nenek, dan sunyi. Namun kehadiran program pendampingan berbasis masyarakat dari GEF SGP Indonesia yang bekerja sama dengan KTH Ngudi Makmur membuka lembaran baru.</p>



<p>Di sana, ia tidak dilihat dari keterbatasannya, melainkan dari kontribusinya. Pekerjaan memilah biji kopi yang membutuhkan ketelitian lebih penting daripada kemampuan verbal. Dengan ritme yang konsisten, aktivitas ini menjadi bahasa Maya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga mampu.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="http://urbanvibes.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-01-at-10.52.34-1024x576.jpeg" alt="kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung - sumber foto Istimewa" class="wp-image-21492"/><figcaption class="wp-element-caption">kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung – sumber foto Istimewa</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Filosofi Kopi dan Inklusi</strong></h3>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, mengibaratkan Maya seperti biji kopi yang belum disangrai. Potensinya masih tersembunyi, namun dengan perawatan dan kesempatan, ia bisa menjadi sesuatu yang berharga.</p>



<p>Menurut Sidi, kisah Maya adalah bukti bahwa konservasi lingkungan yang inklusif dapat menjadi katalis pengembangan manusia yang holistik. GEF SGP Indonesia, kata dia, tidak hanya mendukung budidaya kopi, tetapi juga menumbuhkan martabat manusia dan memberikan ruang bagi mereka yang rentan.</p>



<p>“Keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal,” tegas Sidi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Kopi Sebagai Terapi Alami</strong></h3>



<p>Program ini tidak memberikan terapi medis khusus bagi Maya. Namun, ia menemukan “terapi alami” dalam kegiatan sehari-hari. Rumah produksi kopi menjadi ruang aman dan produktif yang memberinya kesempatan untuk ikut terlibat dalam ekonomi lokal.</p>



<p>Dukungan nenek dan komunitas petani juga menjadi sistem pendukung alami yang tak ternilai. Kehangatan dan kebersamaan di lingkungan itu memberi remaja difabel ini kekuatan untuk kembali membuka diri.</p>



<p>Partisipasi ekonomi ini penting, bukan hanya untuk membantu keuangan keluarga, tetapi juga sebagai langkah menuju integrasi sosial. Maya kini tidak lagi mendefinisikan dirinya dengan kata “terbatas,” melainkan dengan kontribusi nyata bagi komunitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Dari Satu Maya ke Banyak Maya</strong></h3>



<p>Cerita remaja ini hanyalah permulaan. Model pendampingan inklusif ini diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk memberdayakan pemuda lain dengan kebutuhan berbeda. Menurut Sidi, Maya menjadi studi kasus yang kuat: proyek lingkungan bisa sekaligus menjadi sarana inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan.</p>



<p>Bayangkan, dari sebuah program kopi yang tampak sederhana, lahir kisah inspiratif yang bisa ditiru oleh banyak komunitas lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Secangkir Kopi, Segenggam Harapan</strong></h3>



<p>Urbie’s, kisah Maya mengingatkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir segalanya. Dengan dukungan komunitas dan ruang yang inklusif, setiap orang bisa menemukan tempatnya. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan asa baru, dan dari kisahnya, kita belajar tentang arti inklusi, keberanian, dan harapan.</p>



<p>Jadi, lain kali saat kamu menyesap secangkir kopi robusta, ingatlah bahwa di balik setiap butir ada cerita perjuangan, ada tangan-tangan penuh ketelitian, dan ada senyum hangat seorang gadis bernama Maya yang membuktikan bahwa hidup selalu punya jalan untuk bangkit.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/09/01/9092-20-september-2025-news-maya-remaja-difabel-dari-temanggung-yang-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/">Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sun, 31 Aug 2025 20:39:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[difabel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji&#160;kopi robusta&#160;di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan. Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus,&#160;remaja&#160;berusia 17 tahun asal&#160;Temanggung, Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu. Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37.png" alt="" class="wp-image-17186" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Maya, remaja difabel Temanggung yang sukses mengembangkan kopi robusta. (Ist)</figcaption></figure>



<p><em>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kopi-robusta">kopi robusta</a>&nbsp;di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan.</em></p>



<p>Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus,&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/remaja">remaja</a>&nbsp;berusia 17 tahun asal&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/temanggung">Temanggung</a>, Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu.</p>



<p>Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.</p>



<p>Di balik senyum hangatnya, hidup Maya&nbsp;sarat ternyata dengan lika liku. Dia terpaksa mengalami trauma ketika duduk di bangku sekolah dasar karena menjadi korban perundungan. Dunianya begitu sempit. Dia hanya mengurung di rumah. Keseharian, dia cuma membantu sang nenek.</p>



<p>Nah, dengan dukungan salah satunya dari sang nenek, Maya kini mulai merasa berdaya. Dia kekinian sehari-hari membantu memilah biji kopi di sebuah rumah produksi kopi yang didampingi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur.</p>



<p>Maya adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang ditemukan kawan-kawan KTH Ngudi Makmur saat menunaikan program selaku penerima manfaat dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengibaratkan sosok Maya ini seperti biji kopi yang belum disangrai. Menurut Sidi, Maya memiliki potensi yang sangat besar namun masih terpendam. Ya, seperti biji kopi, potensinya tersembunyi dalam cangkang keras.</p>



<p>Menurut Sidi, sosok Maya yang inspiratif ini merupakan bukti nyata konservasi lingkungan kala dirancang secara inklusif dan dipimpin masyarakat, dapat menjadi katalisator mendalam bagi pengembangan manusia yang holistik.</p>



<p>“Dengan begitu, peran kami di GEF SGP Indonesia sejatinya bukan sekadar mendanai proyek atau program, tetapi juga menciptakan kondisi di mana mereka yang paling rentan dapat menemukan tempat dan kedamaiannya,” tutur Sidi.</p>



<p>Filosofi GEF SGP Indonesia, menurut Sidi, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal. “Dukungan kami bukan hanya soal membudidayakan kopi; tapi menumbuhkan martabat dan ketangguhan manusia,” lanjut dia.</p>



<p>Transformasi dimulai ketika program menciptakan ruang yang menghargai kemampuan yang berbeda-beda. Bagi Maya, imbuh Diri, proses ritmis dan taktis dalam memilah biji kopi menjadi bahasanya sendiri.</p>



<p>“Ini adalah tugas yang lebih menekankan pada fokus dan ketelitian dibandingkan kemampuan berbicara. Di lingkungan ini, dengan dukungan neneknya dan KTH Ngudi Makmur lainnya, ia tidak lagi didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya,” terang Sidi.</p>



<p><strong>Dukungan Alami bagi Maya</strong></p>



<p>Program pendampingan ini memang tidak memberikan terapi khusus untuk Maya. Namun, program ini membantu menciptakan usaha milik komunitas yang secara alami menghargai keterampilannya.</p>



<p>“Kami menyediakan platform untuk inklusi ekonomi, yakni rumah produksi yang menjadi ruang netral dan produktif di mana Maya dapat terlibat dalam perekonomian lokal dengan caranya sendiri. Partisipasi ekonomi ini penting menuju kepercayaan diri dan integrasi sosial,” ujar Sidi.</p>



<p>Selain itu, program ini juga memperkuat kapasitas kolektif komunitas untuk saling peduli dengan mendukung kelompok seperti KTH Ngudi Makmur. Dalam hal ini, sang nenek dan penerima manfaat lainnya menjadi sistem dukungan alami bagi Maya.</p>



<p>“Jaringan penguatan ini tentunya seringkali sulit ditiru oleh program formal yang belum tentu berbasis keterlibatan masyarakat,” terang Sidi.</p>



<p>Nah, cerita Maya ini sejatinya tidak berhenti sampai di sini. Ini merupakan landasan awal ke fase berikutnya. Salah satunya adalah mengeksplorasi keberhasilan model ini dapat digunakan untuk mengikutsertakan pemuda lain yang memiliki kebutuhan berbeda di komunitas.</p>



<p>“Selain itu, kisah Maya menjadi studi kasus yang kuat bagi penerima hibah komunitas lainnya, menunjukkan bahwa proyek lingkungan dapat dan seharusnya dirancang sebagai sarana untuk inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan,” ujar Sidi.</p>



<p>Cerita Maya menjadi bukti bahwa proyek lingkungan bisa menjadi pintu inklusi sosial. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan kembali rasa percaya dirinya, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/08/31/190149/cerita-maia-remaja-difabel-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta?</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 19 Jun 2025 04:13:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17044</guid>

					<description><![CDATA[<p>(19/6/2025) Jalan perubahan memang tidak selalu mulus. Seringkali landai, tak jarang pula terjal. Hal ini dialami oleh sekelompok&#160;petani&#160;di Dusun&#160;Tegalsari&#160;di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten&#160;Kendal, Jawa Tengah. Mereka membawa inovasi tanaman organik. Namun, upaya tersebut sempat memantik keraguan. Bisakah mereka membawa perubahan? Dulu, Dusun Tegalsari di Desa Wonosari mungkin merupakan desa agraris biasa. Mayoriitas warganya memang menanam jagung. Namun kini, sekelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo menciptakan inovasi dalam pola tanam yang berbeda. Alhasil, inovasi ini pun dilirik oleh banyak orang. Berawal ketika Ngarimin, 52 tahun, selaku Ketua KUB Sarimulyo bersama salah seorang anggota, Fandoli, 49 tahun,...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/">Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png" alt="" class="wp-image-17045" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Fandoli, salah satu anggota KUB Sarimulyo, saat diwawancarai di halaman kediamannya di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. (Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(19/6/2025) Jalan perubahan memang tidak selalu mulus. Seringkali landai, tak jarang pula terjal. Hal ini dialami oleh sekelompok&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a>&nbsp;di Dusun&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tegalsari">Tegalsari</a>&nbsp;di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, Jawa Tengah. Mereka membawa inovasi tanaman organik. Namun, upaya tersebut sempat memantik keraguan. Bisakah mereka membawa perubahan?</p>



<p>Dulu, Dusun Tegalsari di Desa Wonosari mungkin merupakan desa agraris biasa. Mayoriitas warganya memang menanam jagung. Namun kini, sekelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo menciptakan inovasi dalam pola tanam yang berbeda. Alhasil, inovasi ini pun dilirik oleh banyak orang.</p>



<p>Berawal ketika Ngarimin, 52 tahun, selaku Ketua KUB Sarimulyo bersama salah seorang anggota, Fandoli, 49 tahun, memberikan lahan seluas 5.000 meter persegi atau 0,5 hektare sebagai ‘kebun pembelajaran’. Di sana, mereka dan anggota lainnya belajar melakukan diversifikasi tanaman menggunakan sayuran dan pupuk organik cair (POC).</p>



<p>“Awalnya itu, saya punya tanah di sini. Saya sendiri punya tanah seperempat hektare. Saat itu mau tanam gimana, nah saya ngomong sama teman-teman. ‘Udah ini tanah saya aja buat pembelajaran! Kalau nggak punya lahan pembelajaran, kita mau belajar gimana. Akhirnya ya tidak apa-apa tanah saya dibikin tempat penanaman untuk kita,” kata Ngarimin ketika ditemui beberapa waktu silam.</p>



<p>Lahan itu kini dikelola bersama dan ditanami berbagai sayur seperti terong, pare, labu madu, sereh wangi, hingga kacang panjang. Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Mereka mendapatkan kesulitan dalam mengubah pola tanam masyarakat. Ini terutama bagi warga yang memang sudah dari dulu menanam jagung.</p>



<p>Ngarimin pun bersaksi, “Dulu, (masyarakat–RED) sempat menanam kacang tanah dan padi. Tapi sekarang semua menanam jagung. Sampai hari ini, jika (masyarakat–RED) disuruh beralih ke tanaman lain itu, tidak mau. Berarti jika ingin mengubah (perilaku masyarakat–RED), memang harus perlahan. Pokoknya mana yang lebih menghasilkan dari sisi pendapatan.”</p>



<p>Nggak cuma itu, meski banyak yang menerima, tak jarang pula yang menolak upaya perubahan dari KUB Sarimulyo. Resistensi umumnya datang dari sebagian masyarakat yang terbiasa menggunakan pupuk kimia dan menerapkan sistem pertanian konvensional. Banyak dari mereka yang merasa skeptis terhadap sistem tanam KUB Sarimulyo.</p>



<p>“Tanggapan masyarakat itu beragam—ada yang tertarik, tapi ada juga yang menentang. Mereka bilang, ‘Oh, kamu kok menanam seperti ini? Memangnya tanpa pupuk kimia bisa tumbuh? Itu nggak boleh,” ujar Ngarimin.</p>



<p>Namun waktu membuktikan bahwa pupuk organik yang mereka racik sendiri mampu menghasilkan sayuran lebih hijau dan sehat. Terlebih sebelum menjualnya, Ngarimin dan KUB Sarimulyo bereksperimen menggunakan pupuk organik di kebun sendiri. Ngarimin menekankan kini masyarakat mulai bisa membandingkan sendiri kualitas hasil panen organik mereka.</p>



<p>“Tetangga saya yang menanam kacang panjang dengan pupuk kimia, daunnya malah kuning-kuning. Sementara tanaman saya yang pakai pupuk organik, daunnya justru kebanyakan hijau. Selain itu, tanaman yang menggunakan kimia, ada yang bisa dipanen namun tak jarang yang gagal (panen–RED),” terang dia.</p>



<p>Ngarimin pun mengakui, “Memang sulit mengajak masyarakat beralih ke organik karena dianggap lebih ribet. Misalnya, pupuk organik harus disemprot setiap tiga hari selama seminggu. Sedangkan kalau pakai kimia, jagung umur 12 hari dipupuk satu kali, setengah hari saja cukup untuk menggarap 1,5 hektare. Nanti umur 35 sampai 40 hari tinggal dipupuk lagi.”</p>



<p>Pernyataan tak jauh berbeda disampaikan oleh Fandoli. Tak jarang warga yang meremehkan cara mereka menanam sayuran. Bahkan, menurut Fandoli, “(Diremehkan–RED) Itu sudah biasa bagi kami. Mereka yang meremehkan biasanya beranggapan bahwa menanam sayur itu ya lebih repot dibandingkan menanam jagung seperti yang mereka lakukan.”</p>



<p>KUB Sarimulyo tak hanya berhasil dari sisi pertanian, tetapi juga membentuk sistem pembelajaran terbuka yang fleksibel. Ngarimin mengungkapkan bahwa tak ada jadwal tetap dalam pembelajaran ini. Setiap anggota bebas bergabung saat ada waktu luang, dan kegiatan dilakukan secara spontan berdasarkan kebutuhan kelompok.</p>



<p>“Tidak ada jadwal yang baku atau kewajiban tertentu untuk belajar. Misalnya, kalau ada dua orang yang sedang tidak ada pekerjaan, kami ajak bikin POC. Kalau ada empat orang yang lowong, kami ajak bikin kompos. Jadi tidak harus semua 16 orang anggota terlibat sekaligus. Kadang hanya 2 sampai 4 orang saja yang aktif membuat POC,” tukas Ngarimin.</p>



<p>Menurut Ngarimin, pendekatan dengan model fleksilibitas seperti ini lebih efektif. Sebab, pengerjaan produk pupuk organik cair ini tidak membebani anggota dengan rutinitas kaku dan justru meningkatkan solidaritas antarpetani.</p>



<p><strong>Perubahan kecil berdampak besar</strong></p>



<p>Sambil menatap nanar, Fandoli menuturkan kebanggaannya terhadap perubahan yang telah dicapai oleh dirinya dan para anggota KUB Sarimulyo. Ia mengaku bahwa awalnya banyak warga yang tidak memperhatikan kebun mereka. Namun, lahan mereka mulai mencuri perhatian terutama bagi warga yang melewati wilayah tersebut.</p>



<p>Kebanggaan Fandoli memang beralasan. Lahan pembelajaran tersebut memang berbeda dari sebagian besar wilayah yang notabene dihuni tanaman jagung. Lahan seluas 0,5 hektare itu dihuni beragam tanaman sayur. Di bagian tengah lahan tersebut, ada sebuah bangunan kecil tempat warga bersantai dan juga menampung pupuk organik cair buatan mereka.</p>



<p>“Saya bangga ketika warga yang lewat memuji lahan sayur saya, dan saya merasa senang karena hasil panen sayur lebih menguntungkan dibandingkan jagung,” kata Fandoli menatap nanar.</p>



<p>Nah, salah seorang pendorong utama perubahan ini adalah Eko Maryanto, Ketua Yayasan Rebo Ijo. Ia ingin membangun kesadaran pentingnya pertanian berkelanjutan. Dia memberikan pelatihan tentang pengelolaan lahan, pembuatan pupuk organik hingga manajemen kelompok.</p>



<p>Eko pun mengatakan, “Saya selama 7 tahun melatih masyarakat secara gratis untuk masyarakat yang ingin berubah.”</p>



<p>Menurut Eko, tantangan utama di Wonosari adalah minimnya pemahaman tentang teknik bertani yang baik. Ia melihat banyak petani tidak mengetahui proses penanaman secara tepat, mulai dari pengolahan tanah hingga pengendalian hama secara alami. Terlebih, tingginya biaya transportasi hasil panen. Ini menjadi hambatan untuk menjangkau pasar di kota.</p>



<p>&#8220;Selain soal kebijakan, kurangnya ilmu atau pemahaman tentang sektor pertanian juga menjadi masalah karena mereka tidak tahu proses penanaman yang benar. Selain itu, biaya transportasi hasil panen juga tinggi,&#8221; ujar dia.</p>



<p>Namun pelan tapi pasti, perubahan terlihat. Eko mengamati anggota KUB kini mampu memenuhi kebutuhan dapur mereka sendiri dengan hasil panen dari kebun organik. Ini, kata dia, merupakan bentuk ketahanan pangan yang nyata di tingkat keluarga.</p>



<p>“Kalaupun hasil panen tidak terjual, minimal bisa untuk makan sendiri, dimasak sendiri dan mendapatkan manfaat dari sayur yang sehat,” terang Eko.</p>



<p>Dampak ekonomi juga tak bisa dipandang remeh. Ngarimin menjelaskan meskipun hasil panen tidak selalu besar, hasilnya cukup untuk menopang kebutuhan harian dan lebih bernilai dibanding hanya menanam jagung.</p>



<p>“Biar sedikit, tapi kalau dihitung, bisa lebih banyak meraup pendapatan dari hasil tanaman sayuran,&#8221; ujar Ngarimin.</p>



<p>Memang, belum semua warga Dusun Tegalsari beralih ke organik. Tapi, jejak perubahan yang dilakoni KUB Sarimulyo sudah jelas. Fandoli berharap nantinya semua masyarakat bisa beralih menggunakan pupuk organik agar tidak merusak lingkungan sekitar.</p>



<p>“Harapannya, semoga apa yang KUB mimpikan bisa terwujud. Masyarakat bisa berpindah menggunakan pupuk organik setelah melihat keberhasilan kami, jadi kami sangat bersungguh-sungguh menjalankan program ini,” kata Fandoli.</p>



<p>Adapun program ini merupakan bagian dari kemitraan Yayasan Rebo Ijo bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang mendukung inisiatif masyarakat sipil dalam adaptasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup di tingkat lokal.</p>



<p>Inisiatif ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dilakukan dari tingkat lokal. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, petani Tegalsari membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan bisa menjadi solusi masa depan.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/06/19/111456/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik</p>



<p></p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/">Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 17 Jun 2025 14:09:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17035</guid>

					<description><![CDATA[<p>(17/6/2025) &#8220;Untuk menjadi lebih baik berarti berubah; untuk menjadi sempurna berarti sering berubah.” Kutipan dari eks Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ini, layak disematkan untuk anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo. Melalui jalan perubahan, mereka menabuh genderang perang melawan krisis iklim. Cuaca kekinian memang tidak menentu. Penyebabnya perubahan iklim yang terjadi. Thus, sekelompok petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pun mulai menanam sayuran alih-alih bertani jagung. Hebatnya, mereka menggunakan pupuk organik buatan sendiri! Langkah perubahan ini di antaranya dipelopori oleh Ketua KUB Sarimulyo, Ngarimin, 52 tahun dan Fandoli, 49 tahun. Mereka menghibahkan lahan pribadi seluas...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/">Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari.webp" alt="" class="wp-image-17036" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-10x6.webp 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ketua KUB Sarimulyo Ngarimin dan kebun pembelajaran di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)</figcaption></figure>



<p>(17/6/2025) <em>&#8220;Untuk menjadi lebih baik berarti berubah; untuk menjadi sempurna berarti sering berubah.” Kutipan dari eks Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ini, layak disematkan untuk anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo. Melalui jalan perubahan, mereka menabuh genderang perang melawan krisis iklim.</em></p>



<p>Cuaca kekinian memang tidak menentu. Penyebabnya perubahan iklim yang terjadi. Thus, sekelompok petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pun mulai menanam sayuran alih-alih bertani jagung. Hebatnya, mereka menggunakan pupuk organik buatan sendiri!</p>



<p>Langkah perubahan ini di antaranya dipelopori oleh Ketua <a href="https://www.suara.com/tag/kub-sarimulyo">KUB Sarimulyo</a>, Ngarimin, 52 tahun dan Fandoli, 49 tahun. Mereka menghibahkan lahan pribadi seluas 0,5 hektare atau 5.000 meter persegi untuk dikelola secara komunal oleh KUB Sarimulyo. Lahan itu dinamakan sebagai ‘Kebun Pembelajaran’. Di sana, mereka bereksperimen dengan menanam sayuran.</p>



<p>Ditemui di kebun pembelajaran beberapa waktu silam, Ngarimin selaku ketua KUB Sarimulyo, menjelaskan keputusan perlahan beralih dari jagung ke sayuran diambil. Dia beralasan tanaman sayur lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Hasilnya pun lebih cepat. Jagung hanya bisa dipanen 3-4 bulan sekali. Sementara, kuantitas panen sayuran bisa lebih tinggi dari itu.</p>



<p>“Kami beralih ke sayuran seperti terong, kacang panjang, dan labu madu karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan cepat panen. Selain itu, sayur lebih fleksibel dikelola secara gotong royong. Ini membuat kami lebih mandiri dan saling mendukung di tengah kesulitan,” ujar Ngarimin.</p>



<p>Tak hanya menanam sayuran, bertempat di lahan pembelajaran tersebut, para anggota juga memproduksi sendiri pupuk organik cair (POC) dari bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah. Ada enam jenis, mulai dari POC Oyot Pring, Biourine, Biopestisida, Rumen, Lindi hingga Bioactivator. Harganya pun beragam dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.</p>



<p>Keenam POC tersebut memiliki kegunaannya masing-masing. POC Biourine, misalnya, biasa digunakan para petani untuk merangsang serta mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Sementara, POC jenis Lindi biasanya digunakan untuk menjaga kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan dengan pupuk kimia.</p>



<p>Ngarimin mengakui, “Pupuk ini lebih murah, tidak mencemari tanah, dan hasilnya nyata. Tanaman lebih sehat, hijau, dan cepat tumbuh. Kami juga tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dari luar. Ini penting untuk menjaga tanah tetap subur dalam jangka panjang.”</p>



<p>Memang, tanah yang terkena pupuk dengan bahan kimia cenderung lebih kering dan tidak subur cum gembur. Bahkan, berdasarkan pantauan jurnalis di lapangan, beberapa ruas tanah cenderung berwarna merah. Teksturnya terlihat pecah-pecah, persis seperti tanah yang tengah terimbas kekeringan.</p>



<p>Tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan tanah, Salah satu penggagas kegiatan ini, Fandoli, menambahkan hasil dari pertanian organik ternyata jauh lebih menjanjikan ketimbang dibandingkan pola tanam jagung yang selama ini dilakukan.</p>



<p>“Sayur bisa dipanen lebih sering. Jagung butuh empat bulan, belum tentu untung. Sekarang dapur kami lebih terjamin isinya. Anak istri ikut merasakan manfaat langsung,” kata pria yang kerap menjadi juru bicara KUB Sarimulyo.</p>



<p>Kegiatan bertani ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru dari hasil penjualan produk pertanian dan pupuk organik. Ya, kata Ngarimin, anggota KUB Sarimulyo tidak memperoleh pupuk dengan cuma-cuma. Mereka diwajibkan untuk membeli. Nantinya, penghasilan dari pupuk untuk mengisi kas kelompok.</p>



<p>“Kami atur hasil penjualan (pupuk organik cair–RED) masuk kas kelompok supaya bisa beli bibit atau alat tanam bersama. Kami ingin usaha ini terus berkembang dan bisa menghidupi lebih banyak keluarga,” terang Ngarimin.</p>



<p>Berdasarkan pengakuan Ngarimin, warga sekitar awalnya masih ragu terhadap metode baru tersebut. Maklum, perubahan terkadang terasa asing dan menakutkan, terlebih mereka sudah merasa cukup dengan bercocok tanam jagung. Kendati begitu, lambat laun mereka mulai menunjukkan minat setelah melihat hasilnya.</p>



<p>Ngarimin mengatakan, “Awalnya banyak (Warga–RED) yang tidak percaya (dengan hasil dari pupuk organik–RED). Tapi begitu lihat hasilnya, banyak yang tertarik ikut (menanam dan menggunakan pupuk organik–RED). Sekarang bahkan ada warga dari dusun tetangga yang datang belajar ke sini.”</p>



<p>Keberhasilan inisiatif tersebut tentunya tak lepas dari dukungan dan peran dari Yayasan Rebo Ijo. Yayasan tersebut menginisiasi program pertanian ramah iklim berbasis komunitas ini, terutama di <a href="https://www.suara.com/tag/kub-sarimulyo">KUB Sarimulyo</a>, sejak akhir tahun 2023.</p>



<p>Eko Maryanto, 56 tahun, selaku Ketua Yayasan Rebo Ijo berujar, “Kami hanya memantik. Yang menjalankan adalah warga. Kini mereka tidak perlu lagi berutang untuk makan. Ini bukan sekadar pertanian, tapi cara membangun kemandirian dan martabat warga melalui ekosistem yang sehat.”</p>



<p>Adapun program ini merupakan bagian dari kemitraan Yayasan Rebo Ijo bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang mendukung inisiatif masyarakat sipil dalam adaptasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup di tingkat lokal.</p>



<p>Inisiatif ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dilakukan dari tingkat lokal. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, <a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a> <a href="https://www.suara.com/tag/tegalsari">Tegalsari</a> membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan bisa menjadi solusi masa depan.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/06/17/094048/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim?page=2</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/">Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inovasi Mangrove Ibu-ibu Pidodo Kulon, Produk Olahan Datangkan Cuan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-mangrove-ibu-ibu-pidodo-kulon-produk-olahan-datangkan-cuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 26 May 2025 08:52:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Bodri]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=16967</guid>

					<description><![CDATA[<p>(26/5) Dari ancaman abrasi menjadi peluang ekonomi. Tanaman mangrove seketika mendatangkan cuan ketika diolah di tangan para ibu di Dusun Pilangsari, Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Di tengah ancaman abrasi, para ibu tersebut tak henti berinovasi. Produk olahan pun disulap menjadi peluang meraup cuan. Tak hanya membantu melindungi pemukiman dari abrasi, mangrove juga memiliki nilai ekonomi ketika diolah. Setidaknya, upaya ini yang dilakukan warga Desa Pidodo Kulon. Di tengah aktivitas penanaman dan pembibitan, kaum perempuan di wilayah pesisir diberdayakan untuk membuat sejumlah produk olahan yang terbuat dari Mangrove. Diketahui, rata-rata para ibu di Desa Pidodo Kulon rata berprofesi sebagai ibu...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-mangrove-ibu-ibu-pidodo-kulon-produk-olahan-datangkan-cuan/">Inovasi Mangrove Ibu-ibu Pidodo Kulon, Produk Olahan Datangkan Cuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati.webp" alt="" class="wp-image-16968" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/75259-nurhayati-10x6.webp 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Nurhayati, salah seorang perempuan yang menggerakkan komunitas ibu-ibu untuk membuat produk olahan dari mangrove di Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)</figcaption></figure>



<p>(26/5) <em>Dari ancaman abrasi menjadi peluang ekonomi. Tanaman <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a> seketika mendatangkan cuan ketika diolah di tangan para ibu di Dusun Pilangsari, Desa <a href="https://www.suara.com/tag/pidodo-kulon">Pidodo Kulon</a>, Kecamatan Patebon, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, Jawa Tengah. Di tengah ancaman abrasi, para ibu tersebut tak henti berinovasi. Produk olahan pun disulap menjadi peluang meraup cuan.</em></p>



<p>Tak hanya membantu melindungi pemukiman dari abrasi, mangrove juga memiliki nilai ekonomi ketika diolah. Setidaknya, upaya ini yang dilakukan warga Desa Pidodo Kulon. Di tengah aktivitas penanaman dan pembibitan, kaum perempuan di wilayah pesisir diberdayakan untuk membuat sejumlah produk olahan yang terbuat dari Mangrove.</p>



<p>Diketahui, rata-rata para ibu di Desa Pidodo Kulon rata berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Ada pula yang memiliki usaha warung. Banyak juga yang membuat terasi dari udang rebon khas wilayah tersebut. Sejak membuat produk olahan dari mangrove, ekonomi mereka terbantu. Setidaknya mereka memiliki usaha sampingan. Lapangan kerja tercipta dari budidaya mangrove.</p>



<p>Ada beberapa produk olahan dari mangrove yang dibuat oleh ibu-ibu di Dusun Pilangsari. Salah satunya keripik daun mangrove. Untuk membuat keripik, daun yang dipakai berasal dari mangrove jenis Avicennia Marina. Daun Avicennia Marina ini memang tergolong unik. Bahkan sebelum diolah, daunnya memiliki rasa asin yang khas.</p>



<p>Berdasarkan data American Museum of Natural History, banyak spesies mangrove bertahan hidup dengan menyaring sebanyak 90 persen garam yang ditemukan di air laut saat memasuki akarnya. Beberapa spesies mengeluarkan garam lewat kelenjar di daunnya. Daun-daun ini, yang ditutupi dengan kristal garam kering, terasa asin jika dijilat maupun dikonsumsi.</p>



<p>Kami sempat diminta untuk mencicipi daun mentah Avicennia Marina sebelum diolah. Hmm.. benar saja. Rasanya asin, sama seperti yang dikatakan data dari American Museum of Natural History. Namun, rasa tersebut semakin kaya ketika daun dicampur tepung lalu digoreng. Nah, ketika sudah matang, rasa daun tersebut mempertemukan sensasi asin dan gurih.</p>



<p>Eits, ternyata keripik daun hanya satu dari beberapa olahan mangrove. Ternyata, daun mangrove pun bisa lho dijadikan sirup. Selain sirup, mereka juga membuat dodol terbuat dari mangrove. Tiga produk olahan mangrove tersebut selama ini menjadi penghasilan tambahan bagi warga Pilangsari, terutama para ibu.</p>



<p>Nurhayati, 42 tahun, bekerja sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Dia pun memiliki usaha warung di rumahnya. Nur–panggilan karibnya–merupakan satu dari beberapa ibu yang diberikan pelatihan cara membuat olahan dari tanaman mangrove. Pelatihannya tak hanya satu kali, melainkan dua kali. Bukan cuma itu, ada pula praktik sebagai bagian dari pelatihan.</p>



<p>Sudah 2 sampai 3 tahun belakangan ini, Nur bersama beberapa ibu di Pilangsari membuat produk olahan mangrove. Dari sirup, dodol hingga keripik daun mangrove, mahir diolah oleh Nur cum suis. Selama ini, produk olahan mangrove tersebut turut memberikan andil dalam perekonomian keluarga Nur. Kata dia, hasil penjualannya lumayan sebagai uang tambahan.</p>



<p>“Selama ini saya dibantu oleh 3 kelompok berjumlah 25 perempuan dalam pembuatan produk mangrove. Ini tergantung banyaknya pesanan ya. Nah, nanti hasil penjualannya kami bagi-bagi ke kelompok, tergantung siapa saja yang ikut membuat (produk mangrove–RED),” tutur Nur.</p>



<p>Nur mengatakan pembeli dari produk olahan mangrove ini beragam. Ada warga yang langsung ke rumahnya. Ada pula yang memesan via online. Bahkan, imbuh Nur, produk olahan mangrove cukup menjadi primadona dalam kunjungan rombongan Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi. Saat itu, klaim Nur, banyak yang membeli.</p>



<p>“Yang beli produk dari mangrove, ada warga, ada yang pesan online. Biasanya, tamu yang datang pun bisa pesan <a href="https://www.suara.com/tag/keripik-mangrove">keripik mangrove</a>, bahkan ada pesanan juga dari pemerintah. Saat kunjungan wakil bupati, suasananya ramai dan banyak yang membeli. Mereka penasaran dengan daun mangrove. Setelah coba, enak rasanya sampai kehabisan,” ujar Nur.</p>



<p>Ketua Pusat Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat Pesisir (P3MP) Kendal Wasito pemberdayaan ibu-ibu Pidodo Kulon memang menjadi salah satu perhatian dari program konservasi mangrove yang dijalankan. Untuk menyokong keterampilan, para ibu mendapatkan serangkaian pelatihan. Wasito pun berinisiatif menyokong mereka dengan alat-alat untuk membuat olahan mangrove tersebut.</p>



<p>“Bukan cuma membuat terasi dari udang rebon, ibu-ibu kita latih untuk membuat keripik daun mangrove dan sirup mangrove. Kebutuhannya, seperti panci dan peralatan lain untuk memasak, kami fasilitasi. Yang penting, mereka bisa membuat produk tersebut,” ujar Wasito.</p>



<p>Produk olahan mangrove, imbuh dia, juga ternyata digemari kaum jetset. Dia mengisahkan, minat tersebut terlihat melalui kegiatan menanam dengan Rotary Club beberapa waktu silam. Ketika itu, para ibu dari Rotary Club memborong seluruh produk olahan mangrove yang dibuat oleh warga Pilangsari. Laris manis!</p>



<p>“Saat itu, ibu-ibu membuat keripik, sirup, terasi serta bandeng presto. Alhamdulillah laris. Mereka membeli keripik. Merek suka karena renyah dan langsung habis,” kata Wasito.</p>



<p>Meski demikian, para ibu ini memang tidak berani untuk membuat produk olahan mangrove dalam jumlah besar. Produk tersebut memang disukai oleh beberapa kalangan. Tapi, pemasaran menjadi salah satu tantangan dalam menjual produk olahan mangrove ini. Mereka masih ragu-ragu menjual dalam skala besar.</p>



<p>“Besok-besok ketika ibu-ibu gawe (membuat–RED) keripik mangrove dalam jumlah banyak, malah nggak laku. Didol (Dijual) di tempat umum, masyarakat masih ragu-ragu. Kita masih menjual produk di event-event tertentu,” ujar Wasito.</p>



<p>Namun, tantangan tidak sampai di situ. Mereka masih berkutat tentang pemahaman dan pengetahuan masyarakat bahwa daun mangrove–terutama jenis Avicennia Marina–aman untuk dikonsumsi. Selain itu, mereka hanya memahami bahwa hanya buah mangrove yang bisa dimasak dan dipangan.</p>



<p>Kata Wasito, “Orang-orang sana belum tahu. Mereka hanya mengetahui bahwa buah mangrove dimasak dan dipangan. Ternyata daunnya bisa dimasak, kan jadi paham. Mereka tidak usah belanja bahan karena ada daun yang  bisa dimasak. Jadi sirup juga, bisa jadi duit. Pokoknya kita cari dengan pendekatan yang lebih mudah, sehingga mereka paham.”</p>



<p><strong>Peluang ekonomi lewat tangkapan ikan</strong></p>



<p>Supriadi, salah seorang nelayan penggerak yang digandeng Wasito dalam konservasi, menuturkan betapa rekan-rekannya terbantu secara ekonomi dari keberadaan mangrove ini. Seperti diketahui bahwa penghasilan utama nelayan dari tangkapan ikan. Nah, keberadaan mangrove ini mempermudah pekerjaan mereka. Alhasil, menjaring ikan menjadi lebih mudah.</p>



<p>Mangrove ini tak cuma menjadi tameng bagi ancaman abrasi, tapi juga menjadi tempat berlindung beberapa jenis ikan dan kepiting. Dengan adanya ikan dan kepiting yang berlindung di hutan mangrove, tak pelak hal ini memudahkan nelayan menjaring. Buntutnya, nelayan tidak perlu ke tengah laut untuk menjaring ikan.</p>



<p>“Untuk ekosistem, mangrove ini berfungsi sebagai tempat perkembangbiakkan ikan dan kepiting, Biasanya, kepiting ketika hendak bertelur mencari perlindungan di akar-akar mangrove. Ada banyak jenis ikan yang berlindung di akar mangrove ketika bertelur,” ujar Supriadi.</p>



<p>Tak hanya itu, Supri juga mengatakan masyarakat memanfaatkan ikan dan kepiting di akar mangrove. “(Ikan dan kepiting–RED) untuk dijual. Ada juga yang dikonsumsi. Tapi kebanyakan dijual, karena itu mata pencaharian. Ada ikan belanak, kakap, kerapu, dan jenis ikan lainnya. Ada banyak jenisnya, termasuk kepiting,” kata Supri.</p>



<p>Sekadar informasi, pesisir pantai Pidodo Kulon merupakan muara Sungai Bodri. Berdasarkan data yang dikutip dari Pusdataru Jawa Tengah, Bodri adalah sungai yang memiliki panjang 171 kilometer dengan luas daerah aliran sungai (DAS) yakni 612 kilometer persegi. Sungai ini melintasi 6 kecamatan di Kendal, salah satunya yakni Kecamatan Patebon.</p>



<p>Komunitas warga pesisir di Pidodo Kulon merupakan salah satu mitra Program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) karena merupakan konservasi mangrove berbasis inisiasi warga. Dengan kemitraan tersebut, komunitas nelayan membuat rumah pembibitan mangrove, penanaman serta memberdayakan masyarakat setempat.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/05/26/171546/inovasi-mangrove-ibu-ibu-pidodo-kulon-produk-olahan-datangkan-cuan?page=all</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/inovasi-mangrove-ibu-ibu-pidodo-kulon-produk-olahan-datangkan-cuan/">Inovasi Mangrove Ibu-ibu Pidodo Kulon, Produk Olahan Datangkan Cuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mangrove Academy, Ruang Tumbuh Anak Muda Penjaga Pesisir Kendal</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/mangrove-academy-ruang-tumbuh-anak-muda-penjaga-pesisir-kendal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 26 May 2025 06:28:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kendal]]></category>
		<category><![CDATA[Mangrove Academy]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=16964</guid>

					<description><![CDATA[<p>(26/5) “Jika bukan kita yang menanam mangrove, siapa lagi?” Kalimat yang meluncur dari bibir Wasito, 52 tahun, membuat kami terhenyak. Pertanda ada urgensitas dan tanggung jawab untuk mencari bibit-bibit baru yang akan menjalankan konservasi mangrove. Tentunya, bibit-bibit muda ini bisa melanjutkan perjuangan Wasito membuat benteng di pesisir. Saat menyusuri Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah–lokasi kediaman Wasito–terpampang tulisan Mangrove Academy. Papan tersebut berdiri di depan pekarangan rumah Wasito. Kendati papan tersebut kusam, tulisan Mangrove Academy tak lekang waktu. Tulisan masih terpampang nyata di sana. Ya, Mangrove Academy merupakan salah satu inisiasi yang diprakarsai oleh Wasito. Sebagai ketua Pusat Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat Pesisir...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/mangrove-academy-ruang-tumbuh-anak-muda-penjaga-pesisir-kendal/">Mangrove Academy, Ruang Tumbuh Anak Muda Penjaga Pesisir Kendal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy.webp" alt="" class="wp-image-16965" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/36555-peserta-kegiatan-mangrove-academy-10x6.webp 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah seorang siswa peserta kegiatan Mangrove Academy di Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Dokumentasi warga)</figcaption></figure>



<p>(26/5) <em>“Jika bukan kita yang menanam <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a>, siapa lagi?” Kalimat yang meluncur dari bibir <a href="https://www.suara.com/tag/wasito">Wasito</a>, 52 tahun, membuat kami terhenyak. Pertanda ada urgensitas dan tanggung jawab untuk mencari bibit-bibit baru yang akan menjalankan konservasi mangrove. Tentunya, bibit-bibit muda ini bisa melanjutkan perjuangan Wasito membuat benteng di pesisir.</em></p>



<p>Saat menyusuri Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, Jawa Tengah–lokasi kediaman Wasito–terpampang tulisan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove-academy">Mangrove Academy</a>. Papan tersebut berdiri di depan pekarangan rumah Wasito. Kendati papan tersebut kusam, tulisan Mangrove Academy tak lekang waktu. Tulisan masih terpampang nyata di sana.</p>



<p>Ya, Mangrove Academy merupakan salah satu inisiasi yang diprakarsai oleh Wasito. Sebagai ketua Pusat Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat Pesisir (P3MP) Kendal, Wasito pun tidak memungkiri. Dia butuh generasi penerus. Tongkat estafet kepedulian terhadap mangrove untuk menjaga pesisir pantai perlu ditanamkan.</p>



<p>Karena itu, dia mencetuskan inovasi, yakni Mangrove Academy. Tak cuma bibit mangrove yang dibudidaya, Mangrove Academy menjadi tempat bibit para pelestari diberikan pemahaman tentang tanaman tersebut. Menurut Wasito, Mangrove Academy bakal menjadi tempat lahirnya para pelestari muda yang peduli terhadap ancaman abrasi di pesisir.</p>



<p>Mangrove Academy tercetus ketika Wasito menerima penghargaan Kalpataru pada 2020 untuk kategori Pengabdi Lingkungan karena dinilai mengabdikan diri dalam melestarikan mangrove di pesisir Kendal. Tujuannya mulia. Dia membuat Mangrove Academy untuk memupuk generasi untuk mencintai ekosistem di pesisir.</p>



<p>Meski sempat nonaktif, Mangrove Academy kembali diluncurkan setelah Wasito menjalin kemitraan dengan Program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Wasito mengundang sekolah di Kendal berpartisipasi. Dampaknya, mereka meminta Mangrove Academy dijadikan bagian dari program pengenalan terhadap lingkungan di sekolah.</p>



<p>“Ketika saya menerima Kalpataru 2020, saya membuat Mangrove Academy. Saya ingin memupuk anak muda untuk mencintai ekosistem di pesisir. Generasi muda yang memiliki andil nanti. Setelah mendapatkan program dari GEF SGP, saya meluncurkan lagi Mangrove Academy,” tutur Wasito yang merupakan seorang aparatur sipil negara di Kendal.</p>



<p>Sejatinya ide pembuatan Mangrove Academy tersebut muncul karena rasa iri Wasito terhadap pecinta alam. Kebanyakan para pencinta alam beranjangsana ke gunung untuk melihat hutan di sana. Padahal, di pesisir pun terdapat hutan yang perlu dilestarikan. Jadi tidak melulu mencintai serta menikmati alam itu di gunung, melainkan pula di pesisir pantai.</p>



<p>“Kita ingin membentuk mereka untuk menjadi pionir di pesisir sebagai generasi penerus. Lewat Mangrove Academy, saya ingin membidik siswa SMA. Saya cenderung meminta mereka menginap agar bisa merasakan sensasi hidup di pesisir. Di sana, kami memberikan pemahaman tentang mangrove dari cara membibit, menanam hingga merawat,” ujar Wasito.</p>



<p>Tak cuma kegiatan penanaman biasa, Mangrove Academy ternyata juga dilirik oleh pihak sekolah maupun kampus. Beberapa guru mengusulkan ke sekolah agar Mangrove Academy ini menjadi salah satu program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Ini  merupakan kegiatan pembelajaran berbasis proyek dalam kurikulum merdeka.</p>



<p>“Ada orang yang setelah ikut Mangrove Academy mengusulkan ke pihak sekolah agar dijadikan program rutin supaya anak-anak bisa mendapatkan pemahaman yang komprehensif soal mangrove. Menurut mereka, pemahaman ini merupakan hal yang penting,” ujar Wasito kepada <em><strong>Suara.com</strong></em>, belum lama ini.</p>



<p>Tidak cuma siswa SMA, Wasito juga mengajak mahasiswa bahkan relawan untuk menanam mangrove di pesisir pantai kendal. Mereka diberikan pemahaman mengenai mangrove, praktik menanamnya. Untuk penanaman mangrove, Wasito kerap meminta mereka menginap di pesisir. Tujuannya agar merasakan sensasi menjadi warga pesisir dengan segala kondisinya.</p>



<p>Sekadar informasi, pesisir pantai Pidodo Kulon merupakan muara Sungai Bodri. Berdasarkan data yang dikutip dari Pusdataru Jawa Tengah, Bodri adalah sungai yang memiliki panjang 171 kilometer dengan luas daerah aliran sungai (DAS) yakni 612 kilometer persegi. Sungai ini melintasi 6 kecamatan di Kendal, salah satunya yakni Kecamatan Patebon.</p>



<p>Komunitas warga pesisir di Pidodo Kulon merupakan salah satu mitra Program GEF SGP Indonesia karena merupakan konservasi mangrove berbasis inisiasi warga. Dengan kemitraan tersebut, komunitas nelayan membuat rumah pembibitan mangrove, penanaman serta memberdayakan masyarakat setempat.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/05/26/111350/mangrove-academy-ruang-tumbuh-anak-muda-penjaga-pesisir-kendal#goog_rewarded</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/mangrove-academy-ruang-tumbuh-anak-muda-penjaga-pesisir-kendal/">Mangrove Academy, Ruang Tumbuh Anak Muda Penjaga Pesisir Kendal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>