<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Petani Keren Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-keren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-keren/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 10:40:11 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Petani Keren Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-keren/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 14:36:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17265</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk “Pelatihan Pertanian Petani Keren” di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&#160;Petani Keren, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17266" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>“Pelatihan Pertanian Petani Keren”</em> di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan <em>Global Environment Facility Small Grants Programme</em> (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.</p>



<p>Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&nbsp;<em>Petani Keren</em>, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar menanam padi, tapi juga bisnis modern berbasis inovasi, teknologi, dan kreativitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pertanian Keren, Generasi Tangguh</h3>



<p>Program ini dirancang menyeluruh: mulai dari pelatihan&nbsp;<em>smart farming</em>&nbsp;hingga pembekalan kewirausahaan agribisnis. Para peserta dilatih untuk mengelola lahan secara efisien dengan bantuan teknologi modern, seperti sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, hingga penggunaan aplikasi pertanian digital. FAO berharap, pendekatan ini dapat mencetak petani muda yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga cakap dalam mengelola bisnisnya.</p>



<p>Selain teknologi, pelatihan ini juga menanamkan kesadaran lingkungan. Para peserta diajak menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan melalui konsep&nbsp;<em>agroecology</em>, yang menekankan keseimbangan antara hasil panen dan pelestarian alam. Mereka belajar bahwa tanah yang sehat, air yang bersih, dan udara yang bebas polusi adalah modal utama untuk menciptakan hasil tani yang berkelanjutan.</p>



<p>Aspek kewirausahaan menjadi elemen penting lain dalam pelatihan ini. Peserta diajarkan bagaimana menyusun rencana bisnis, mengatur keuangan usaha, hingga strategi pemasaran produk pertanian. Mereka tidak hanya diajak menjadi petani, tapi juga&nbsp;<em>agripreneur</em>—petani pengusaha yang mampu membaca peluang pasar dan menciptakan produk bernilai tambah.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kolaborasi Lintas Lembaga</h3>



<p>Keberhasilan&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;tak lepas dari kolaborasi berbagai lembaga strategis, mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Semuanya bergandengan tangan membangun ekosistem baru bagi generasi muda untuk berani turun ke sawah dengan cara yang modern dan berkelas.</p>



<p>Sebanyak 30 anak muda dari berbagai daerah—Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat—terpilih menjadi peserta. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan datang dari latar belakang beragam: mulai dari keluarga petani, mahasiswa jurusan pertanian, hingga lulusan agribisnis dan agroteknologi. Keragaman ini menjadikan proses belajar semakin dinamis dan kaya perspektif.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Belajar dari Lada Bangka</h3>



<p>Salah satu sesi yang menarik datang dari&nbsp;<em>GEF SGP Indonesia</em>, yang diwakili oleh Koordinator Nasional,&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>. Dalam sesi tersebut, Sidi berbagi pengalaman melalui studi kasus pertanian lada di Bangka Belitung—khususnya Lada Muntok, yang sudah terkenal di pasar dunia.</p>



<p>Sidi menjelaskan bahwa banyak petani lada kini menghadapi tantangan berat akibat ketergantungan pada bahan kimia pertanian. “Biaya produksi meningkat, kualitas tanah menurun, dan jangka waktu panen yang panjang membuat pendapatan petani tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan,” ujarnya.</p>



<p>Menurutnya, solusi terbaik adalah beralih dari sistem pertanian konvensional menuju&nbsp;<em>agroekologi</em>&nbsp;atau organik. “Dengan penggunaan pestisida alami dan pupuk organik, kualitas tanah bisa dipulihkan. Memang hasil panen menurun di awal, tapi nilai jualnya meningkat karena pasar ekspor lebih menghargai produk organik,” tambahnya.</p>



<p>Pendekatan ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi petani muda agar tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan begitu, pertanian bisa menjadi profesi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian bumi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membangun Petani Muda yang Percaya Diri</h3>



<p>Harapan besar disematkan pada program&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;ini. Melalui semangat kolaborasi dan pelatihan yang aplikatif, FAO berupaya mencetak generasi muda yang melihat pertanian sebagai sektor masa depan—bukan masa lalu.</p>



<p>Food System Specialist FAO Indonesia,&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan pangan nasional. “Dengan keterlibatan aktif anak muda, ketahanan pangan di masa depan bisa terjaga. Kita tidak hanya menanam untuk hari ini, tapi juga menanam harapan bagi masa depan Indonesia,” ujarnya.</p>



<p>Kini, lewat program&nbsp;<em>Petani Keren</em>, pertanian tak lagi identik dengan lumpur dan cangkul semata. Ia menjelma menjadi dunia inovatif yang memadukan ilmu, teknologi, dan keberlanjutan. Dari sawah hingga pasar global, dari bibit hingga strategi bisnis, para “petani keren” ini siap membawa perubahan.</p>



<p>Bukan tak mungkin, suatu hari nanti, Indonesia akan kembali berjaya di sektor pertanian—dipimpin oleh anak-anak muda yang bangga menyebut dirinya:&nbsp;<strong>petani modern yang keren, berdaya, dan berdaulat.</strong></p>



<p>Sumber: https://daily-life.id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 06:41:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17237</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menggagas program pelatihan intensif bertajuk &#8220;Pelatihan Pertanian Petani Keren.&#8221; Tujuannya membekali generasi muda dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi petani dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan. Pelatihan &#8220;Petani Keren&#8221; digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi smart...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png" alt="" class="wp-image-17263" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Para peserta pelatihan &#8216;Petani Keren&#8217; yang digagas oleh FAO dan menghadirkan GEF SGP Indonesia untuk berbagi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (<a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a>) menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>&#8220;Pelatihan Pertanian <a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>.&#8221;</em> Tujuannya membekali <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.</p>



<p>Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi <a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a> dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. <em>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em> turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan.</p>



<p>Pelatihan <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi <em>smart farming</em>, yakni pendekatan modern yang memungkinkan penggunaan sumber daya secara efisien untuk meningkatkan produktivitas.</p>



<p>Praktik pertanian ramah lingkungan juga menjadi fokus utama. Peserta diajak menerapkan metode budidaya yang menjaga kelestarian alam sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.</p>



<p>Tak hanya itu, aspek kewirausahaan dan pengelolaan bisnis agribisnis turut diajarkan secara mendalam. Para peserta dilatih untuk mengelola usaha pertanian secara profesional, mulai dari tahap perencanaan, produksi, hingga strategi pemasaran produk.</p>



<p>Keberhasilan program <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak strategis. Mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), semua turut bergandengan tangan mendukung inisiatif ini. Tujuannya jelas: membangkitkan semangat kepemudaan agar terjun kembali ke sektor pertanian.</p>



<p>Sebanyak 30 anak muda terpilih menjadi peserta dalam pelatihan ini. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Keberagaman asal daerah ini mencerminkan potensi besar pertanian Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah.</p>



<p>Latar belakang mereka pun beragam. Nggak cuma dari keluarga petani yang sudah akrab dengan dunia pertanian, banyak pula yang merupakan lulusan jurusan pertanian, agribisnis, agroteknologi, dan bidang lain yang relevan. Perpaduan latar belakang ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan interaktif, membuka ruang pertukaran ide serta perspektif antarpeserta.</p>



<p>Fokus utama pelatihan ini adalah membekali para pemuda agar mampu menerapkan sistem pertanian modern. Dalam praktiknya, peserta diajarkan memanfaatkan teknologi terkini tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan lingkungan.</p>



<p>Lebih dari itu, mereka juga dilatih untuk mengembangkan rencana bisnis yang inovatif. Jadi bukan semata mengincar cuan, tapi juga memaksimalkan potensi tanaman lokal serta memahami dinamika permintaan pasar. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan tumbuh menjadi <em>&#8220;agripreneur&#8221;</em> yang cerdas dan bertanggung jawab.</p>



<p>Dalam salah satu sesi pelatihan, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, yang juga mewakili Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), menyampaikan studi kasus mengenai pengembangan strategi penghasilan yang adil dan berkelanjutan bagi petani, dengan fokus khusus pada pertanian lada.</p>



<p>Pendekatan tersebut diharapkan menjadi model inspiratif untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara holistik. Alhasil, mereka nggak hanya memperoleh penghasilan yang layak, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik pertanian yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.</p>



<p>Lada memang menjadi salah satu komoditas perdagangan penting bagi Indonesia. Khususnya di Bangka Belitung, Lada Muntok telah lama dikenal mendominasi pasar lada dunia. Tapi, perubahan pola pertanian yang kini banyak menggunakan input kimia malah bikin biaya produksi membengkak. Kualitas tanah pun melorot jika tidak digunakan secara bijak.</p>



<p>Lebih jauh lagi, petani lada harus menghadapi masa pengembangan lahan yang panjang. Bayangkan, mereka harus menunggu hingga tiga tahun tanpa panen. Kondisi ini tak pelak membuat pendapatan mereka tidak sebanding dengan upaya yang dikeluarkan.</p>



<p>Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sidi menjelaskan, <em>“Butuh adanya transisi dari pertanian konvensional ke pertanian agroekologi atau organik yang mengedepankan pada kualitas tanah. Nah, penggunaan pestisida alami dan pupuk organik bisa menjadi solusi mengembalikan kembali unsur hara dalam tanah dan juga lebih murah dalam implementasinya.”</em></p>



<p>Ia menambahkan, dengan menerapkan sistem agroekologi atau organik memang kuantitas panen akan menurun, tetapi terbuka peluang ke pasar ekspor yang lebih premium. Hal ini mampu meningkatkan harga jual sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.</p>



<p>Program <em>&#8220;<a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>&#8220;</em> ini memikul harapan besar mengubah stigma pertanian adalah pekerjaan kuno dan kurang menarik. Yusmanetti Sari, selaku Food System Specialist <a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a> Indonesia, berharap lewat program ini banyak <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> kepincut menjadi “agripreneur keren”, yakni individu inovatif dan berdaya saing yang mampu memajukan sektor pertanian.</p>



<p><em>“Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional di masa depan dapat terjamin, menciptakan fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia,”</em> pungkasnya.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/08/064151/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur?page=2#goog_rewarded</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>