<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Petani perempuan Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-perempuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-perempuan/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 10:59:35 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Petani perempuan Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/petani-perempuan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:59:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17277</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Tradisi pertanian di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok perempuan petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun kakao dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa. Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia,&#160; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&#160; Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png" alt="" class="wp-image-17278" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Tradisi pertanian di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa.</em></p>



<p>Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia,&nbsp; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&nbsp;</p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya mengenalkan kakao sebagai tanaman alternatif ramah lingkungan, eh ternyata justru perempuan yang cepat beradaptasi. Kaum hawa pun langsung mengambil peran penting.</p>



<p>“<em>Kami melihat kakao bisa menjadi komoditas unggulan sekaligus menjaga hutan tetap lestari. Awalnya kami cuma mau memperkenalkan tanaman alternatif yang lebih ramah lingkungan ketimbang jagung. Tapi ternyata, justru perempuan yang paling cepat beradaptasi dan mengambil peran penting,</em>” kata Catur saat diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Menurut Catur, program tersebut sejak awal memang menekankan keterlibatan perempuan, terutama bagi mereka yang suaminya tidak produktif atau bekerja di luar daerah. Dalam konteks seperti ini, perempuan menjadi tulang punggung keluarga yang menopang ekonomi rumah tangga.</p>



<p>“<em>Sebenarnya, sokoguru ekonomi keluarga itu ya ibu-ibu. Nah, bapak-bapak hanya mencari uang. Tapi kalau urusan manajemen keuangan, pengaturan kebutuhan, sampai keputusan untuk menanam apa, semua dipegang oleh ibu-ibu. Mereka jauh lebih peka pada kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak</em>,” terang Catur.</p>



<p>Di banyak desa termasuk Saritani, imbuh Catur, perempuan merupakan pihak pertama yang merasakan dampak perubahan ekonomi. Ketika penghasilan melorot atau hasil panen gagal, mereka yang justru bergerak mencari solusi lebih dulu. Nah, menurut Catur, ketekunan perempuan inilah yang menjadi keunggulan tersendiri dalam budidaya kakao.</p>



<p>“<em>Kami sering menyebut mereka ‘ibu-ibu perkasa’,</em>” kata Catur sambil tertawa kecil. “<em>Mereka lebih telaten dan sabar, dua hal yang penting dalam merawat kakao. Buah kakao harus dibersihkan, dijemur, dan dipisahkan bijinya setiap hari. Laki-laki biasanya tidak sekuat dan setelaten itu.”</em></p>



<p>Selain itu, lokasi kebun kakao yang tidak terlalu jauh dari permukiman membuat perempuan lebih mudah mengelolanya. Mereka nggak perlu masuk jauh ke hutan. Banyak dari mereka yang bekerja bersama suami, anak, atau tetangga. Alhasil, aktivitas bertani kakao kini menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan sosial desa.</p>



<p>Perubahan ekonomi yang muncul pun terasa nyata. Catur mengatakan, pendapatan dari kakao hingga kiwari jauh lebih stabil dibandingkan jagung. Padahal, sebelum beralih ke tanaman kakao, jagung menjadi komoditas utama masyarakat, terutama di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Petani yang dulunya kesulitan kini bisa membeli kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, bahkan menabung untuk masa depan</em>,” tutur dia. “<em>Ketika harga kakao naik di pasar internasional, masyarakat Saritani benar-benar merasakan dampaknya. Mereka mulai menikmati hasil dari kerja keras sendiri.</em>”</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peran penting perempuan</h2>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.arkadia.me/v2/articles/ancillavinta/cVVSqiMbC7LT0jUT7KIXtowfeFvF0kGv.png" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Peran perempuan di Desa Saritani kekinian tidak lagi berhenti di ranah domestik. Mereka mengambil keputusan. Mereka juga mengelola hasil, dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi desa. Suratinah, 63 tahun, salah satunya. Dia merupakan petani kakao yang menjadi contoh nyata transformasi perempuan di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Dulu hidup saya susah. (Saya) cuma bisa kerja jadi buruh, nggak punya modal, semua serba kurang. Tapi sejak menanam kakao, saya bisa panen tiap dua minggu. Hasilnya saya pakai buat beli beras, ayam, bahkan kirim uang sekolah anak di Jawa,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2026).</p>



<p>Suratinah menuturkan, keterlibatan perempuan di kebun kakao bukan hanya sebatas membantu. Mereka kini mampu mengelola seluruh proses produksi, mulai dari menanam, merawat, hingga menjual hasil panen.</p>



<p>“<em>Saya suka kerja, (tujuannya) biar bisa nyekolahin anak dan hidup lebih layak</em>,” ujar Suratinah. “<em>Sekarang kami sudah bisa mengatur waktu, kerja di kebun pagi sampai jam sebelas, lanjut lagi sore hari. Dulu, jangankan mikir sekolah, makan aja kadang susah.”</em></p>



<p>Rutinitas baru ini perlahan membentuk budaya baru di Saritani. Budaya kerja ini menempatkan perempuan sebagai pusaran aktivitas ekonomi di Desa Saritani. Dengan hasil panen 10 hingga 15 kilogram setiap dua pekan, mereka kini memiliki penghasilan rutin yang menopang kebutuhan keluarga.</p>



<p>“<em>Sekarang bukan cuma saya, tapi perempuan-perempuan lain juga sudah bisa beli beras dan ayam sendiri</em>,” kata Suratinah dengan bangga. “<em>Dulu kalau mau beli apa-apa harus pinjam uang. Sekarang nggak lagi.</em>”</p>



<p>Lebih jauh, ia berharap perempuan lain di desanya berani mengikuti jejak yang sama. “<em>Ayo bertani, menanam kakao secara berkala. Supaya hidup kita bisa agak enak</em>,” pesannya. “<em>Jangan takut mulai dari kecil, karena kalau telaten, hasilnya akan kelihatan.</em>”</p>



<p>Kisah perempuan Saritani membuktikan kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari tanah desa yang sederhana. Dari biji-biji kakao, kekinian mereka bukan hanya petani, tapi juga simbol ketekunan dan kemandirian yang membuat keluarga dan desa lebih sejahtera.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/135952/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:48:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kakao]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17274</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Biji kakao menjadi saksi bisu perjuangan para petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang. Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan. “Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png" alt="" class="wp-image-17275" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Biji <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> menjadi saksi bisu perjuangan para petani <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang.</em></p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em>. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan.</p>



<p>“<em>Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau berkunjung ke sana, pemandangannya ekstrem,</em>” ujar Catur ketika diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Catur mengisahkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Saritani di masa silam. Kendati pemerintah menyediakan bibit, benih, dan pupuk untuk komoditas jagung, praktik bertani di daerah ini malah acapkali merugikan petani kecil. Banyak lahan yang tidak cocok tetap ditanami jagung, bahkan di lereng-lereng ekstrem.</p>



<p>“<em>Nggak cuma itu, kondisi tersebut juga membuat petani terjerat tengkulak dan hasil panennya tak mampu meningkatkan kesejahteraan. Alhasil, hanya yang tuan tanah yang menikmati ekonomi dari jagung tersebut,</em>” tegas Catur.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/22/76955-petani-perempuan-desa-saritani.jpg" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Ia menambahkan bahwa tak heran bila Gorontalo termasuk salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Menurut Catur, pengolahan tanah pada masa itu dilakukan secara ugal-ugalan demi mengejar hasil panen cepat. Tapi faktanya, terang Catur, hasil dari pertanian tersebut bukannya malah meroket, melainkan terus melorot.</p>



<p>Melihat kondisi tersebut, Catur bersama tim mulai mengenalkan alternatif tanaman yang lebih ramah lingkungan. Nggak cuma itu, nilai ekonomi tanaman alternatif pun cukup tinggi. Tanaman tersebut yakni kakao. Inisiatif ini memantik sambutan positif dari kelompok perempuan di Saritani.</p>



<p>Ya, selama ini, kelompok perempuan di Saritani berperan sebagai pendamping suami di ladang. Namun, melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan, mereka belajar mengelola kebun kakao secara mandiri, dari penanaman hingga pengolahan pascapanen. Program ini juga mengajarkan praktik pertanian yang ramah lingkungan sekaligus berorientasi ekonomi.</p>



<p>Menurut Catur, sebagian besar petani perempuan di Saritani hadir sebagai tulang punggung keluarga. Biasanya, kondisi tersebut gara-gara sang suami sudah tidak produktif atau telah bekerja di tempat lain. Nah, menurut Catur, tanaman kakao cocok berada di tangan para perempuan tersebut yang dinilai cenderung lebih tekun serta telaten,</p>



<p>“<em>Kita memahami bahwa tanaman kakao memang membutuhkan perawatan rutin dan ketelatenan. Hal ini berbeda jauh dengan jagung yang monokultur dan cepat panen. Kakao mendorong kehadiran gaya hidup perempuan yang cenderung lebih tekun dan telaten,</em>” ujar Catur.</p>



<p>Titik terang pun terlihat. Nadi perekonomian mulai berdenyut setelah panen pertama tiba. Dengan luas lahan rerata 1 hingga 1,5 hektare, pendapatan mereka mulai meningkat signifikan. Apalagi, kondisi tersebut semakin menjadi-jadi ketika harga kakao di pasar internasional meroket.</p>



<p>Menurut Catur, masyarakat yang dulunya terjerat belenggu ekonomi, kiwari bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli kendaraan, bahkan menyekolahkan anak-anaknya. Ia berharap program ini terus berlanjut agar manfaat ekonomi dari kakao dapat dinikmati secara berkelanjutan. “<em>Kami ingin masyarakat menikmati hasil pertanian mereka sendiri.</em>”</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Perubahan Suratinah</strong></h3>



<p>Suratinah, 63 tahun, merasakan perubahan besar dalam hidupnya usai berkenalan dengan kakao. Dulu, hidup salah seorang petani perempuan di Desa Saritani tersebut, mengalami kesulitan ekonomi. Namun, titik balik terjadi ketika dia dan beberapa perempuan di Desa Saritani diperkenalkan dan mulai menanam kakao.</p>



<p>“<em>Saya dulu hanyalah buruh. Saat itu, saya belum bisa bertani, bahkan nggak punya modal. Hidup saya dulu sengsara, hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan tanaman kakao,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2025).</p>



<p>Dia pun menerawang. Suratinah mengingat ketika itu Catur dan rekannya menyarankan warga untuk beralih dari jagung lalu menanam kakao. Sejak saat itu, denyut perekonomian mulai berdetak. Panen dilakukan dua pekan sekali. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak-anak.</p>



<p>“<em>Setiap dua minggu, saya bisa memanen sekitar 10 hingga 15 kilogram kakao. Dulu harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Tapi sekarang (harganya) turun menjadi Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Meski harga turun naik, kakao tetap jadi sumber penghasilan keluarga</em>,” ujar Suratinah.</p>



<p>Hebatnya. dari hasil kebun itu, Suratinah kini mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Pulau Jawa. Ia juga menekankan keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan perempuan lain di desa. Pendapatan dari kakao memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada orang lain.</p>



<p>“<em>Sekarang sudah agak mendingan. Kalau dulu, harus pinjam-pinjam uang sama orang,</em>” jelas Suratinah.</p>



<p>Kekinian, budidaya kakao telah mengubah wajah ekonomi perempuan di Desa Saritani. Dari buruh tani yang hidup pas-pasan, mereka menjelma menjadi pelaku utama ekonomi desa. Kakao bukan lagi sekadar tanaman. Kakao menjadi jalan menuju kemandirian, stabilitas, dan kesejahteraan.</p>



<p>Sumber: http://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/134853/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>