<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumput Laut Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/rumput-laut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/rumput-laut/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 07:52:31 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Rumput Laut Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/rumput-laut/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 01 Oct 2025 09:43:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi hijau]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17234</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/10/2025) Siapa bilang jaga alam itu cuma soal larangan tebang pohon atau stop aktivitas di laut? Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru. Serius, kerjaan-kerjaan ini nggak cuma kasih penghasilan tapi juga bikin lingkungan makin sehat. Kuncinya ada di satu rumus simpel: konservasi + pemberdayaan masyarakat = ekonomi&#160;hijau&#160;yang kuat. Dan ini udah terbukti nyata, karena ratusan kerjaan hijau tercipta di empat wilayah bentang alam Indonesia. Program ini digagas lewat&#160;Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&#160;Fase ke-7, yaitu program pendanaan berbasis komunitas. Nggak cuma fokus jaga ekosistem, tapi juga bikin pintu rezeki baru...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/">Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53.png" alt="" class="wp-image-17235" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah satu petani rumput laut, pekerjaan yang tercipta dari inisiasi berbasis komunitas.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(1/10/2025) Siapa bilang jaga alam itu cuma soal larangan tebang pohon atau stop aktivitas di laut? Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru. Serius, kerjaan-kerjaan ini nggak cuma kasih penghasilan tapi juga bikin <a href="https://www.guideku.com/tag/lingkungan">lingkungan</a> makin sehat.</p>



<p>Kuncinya ada di satu rumus simpel: konservasi + pemberdayaan masyarakat = ekonomi&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/hijau">hijau</a>&nbsp;yang kuat. Dan ini udah terbukti nyata, karena ratusan kerjaan hijau tercipta di empat wilayah bentang alam Indonesia.</p>



<p>Program ini digagas lewat&nbsp;<em>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em>&nbsp;Fase ke-7, yaitu program pendanaan berbasis komunitas. Nggak cuma fokus jaga ekosistem, tapi juga bikin pintu rezeki baru buat warga lokal.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, bilang kalau program&nbsp;<em>“Bentang Alam”</em>&nbsp;ini udah nyatat pencapaian keren banget: ada lebih dari 103 jenis pekerjaan hijau dan usaha komunitas yang terbentuk atau makin kuat di empat bentang alam utama Indonesia.</p>



<p><em>“Ini bukan sekadar angka, melainkan kisah nyata tentang orang-orang yang membangun mata pencaharian berkelanjutan yang berakar pada konservasi lingkungan mereka,”</em>&nbsp;ujar Sidi dalam pernyataannya, Selasa (23/9/2025).</p>



<p>Artinya, tiap angka punya cerita warga desa yang berhasil nyambungin antara alam yang lestari dan dapur yang tetap ngebul. Dari sawah, hutan, sampai pesisir, mereka sekarang bukan cuma jadi penjaga alam, tapi juga pelaku ekonomi yang punya daya.</p>



<p><strong>Agroforestri: Dari Sawah ke Produk Bernilai Tinggi</strong></p>



<p>Pertanian berkelanjutan jadi mesin utama lahirnya kerjaan hijau. Kalau dulu petani cuma andalin pola tanam biasa, sekarang mereka pelan-pelan pindah ke sistem agroforestri dan bikin produk bernilai tambah.</p>



<p>Mulai dari gula semut, lada, sampai kopi, semua itu melahirkan kerjaan baru: ada koperasi tani, petani organik, operator persemaian bibit, sampai produsen lokal yang siap masuk pasar. Contohnya bisa dilihat di masyarakat sekitar DAS Balantieng, Sulawesi Selatan.</p>



<p>Di sana, BUMDes Tumarila (Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba) bikin banyak usaha: produksi keripik, gula semut, bubuk lada, sampai pakan ternak. Jadi hasil tani nggak berhenti di panen, tapi lanjut ke pengolahan dan pemasaran. Efeknya? Ekonomi naik, lahan tetap aman.</p>



<p><strong>Kreativitas Lokal: Tradisi Ketemu Pasar</strong></p>



<p>Industri kreatif juga nggak mau ketinggalan. Warga mulai manfaatin hasil hutan nonkayu jadi produk keren bernilai tinggi. Tujuannya? Biar bisa bikin kerajinan dan fesyen yang ramah lingkungan.</p>



<p>Kerjaan baru pun lahir: perajin ecoprint, penenun pandan, perajin lontar, sampai desainer busana berbahan alami. Contoh nyata ada di Sabu Raijua, di mana kelompok kayak Bapalok dan PMPB kembangin usaha tenun pandan dan lontar. Mereka gabungin kearifan lokal dengan inovasi, jadinya tenun bisa bersaing di pasar modern.</p>



<p>Bahkan dari pohon lontar aja bisa keluar banyak produk, kayak sopi (minuman tradisional) dan pemanis alami. Kreativitas ini bikin tradisi tetap hidup sekaligus jadi sumber cuan berkelanjutan.</p>



<p><strong>Ekonomi Biru: Laut Lestari, Dompet Terisi</strong></p>



<p>Di daerah pesisir, warga nemuin cara biar bisa jaga laut sambil tetap hidup sejahtera. Caranya lewat budidaya&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/rumput-laut">rumput laut</a>, persemaian mangrove, dan produk perikanan berkelanjutan. Semua ini bikin kerjaan hijau baru sekaligus menciptakan rantai ekonomi biru yang menguntungkan.</p>



<p><em>“Jenis pekerjaan yang tercipta, yakni petani &amp; pengolah rumput laut, pengelola persemaian mangrove, pengolah produk perikanan berkelanjutan, penjaga laut berbasis komunitas,”</em>&nbsp;kata Sidi.</p>



<p>Contohnya ada Komunitas IMAN dan SEACREST INDONESIA. Mereka libatin banyak perempuan buat ambil peran utama. Bukan cuma nanem dan panen, tapi juga ngolah rumput laut jadi produk bernilai jual.</p>



<p>Lebih kerennya lagi, para perempuan ini juga jadi garda depan penjaga laut. Jadi bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga penjaga ekosistem pesisir.</p>



<p><strong>Rantai Nilai yang Nggak Putus</strong></p>



<p><em>“Keberhasilan GEF SGP Indonesia Fase 7 ini menunjukkan bahwa, selain menciptakan&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/lapangan-kerja">lapangan kerja</a>, kita juga membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari pembibitan dan budidaya, hingga pengolahan, branding, dan pemasaran,”</em>&nbsp;kata Sidi.</p>



<p>Menurut Sidi, model pembangunan berbasis masyarakat ini bisa jadi blueprint kuat buat bangun ekonomi yang bukan cuma sejahtera, tapi juga adil dan nyatu sama alam.</p>



<p>Intinya, keberlanjutan itu bukan jargon kosong. Ini tumbuh dari sistem yang inklusif, di mana petani, perajin, sampai nelayan semua punya peran nyata buat jaga lingkungan sambil ngejaga ekonomi keluarga. Rantai nilai yang terbentuk bikin masyarakat makin berdaya, alam pun tetap terjaga.</p>



<p>Sumber: https://www.guideku.com/news/2025/10/01/094356/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/">Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 22 Jul 2025 07:55:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lontar]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sabu Raijua]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17075</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/7/2025) Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, membuka pintu lebar untuk kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah dan mitra pembangunan guna mempercepat pembangunan daerah. Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mengembangkan potensi lokal yang sebenarnya melimpah. “Kami sangat membutuhkan dukungan karena kapasitas fiskal kami sangat rendah,” ujar Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly, saat menerima audiensi Seknas GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Senin (21/7). “Kami hanya mengandalkan dana dari pusat dan sumber daya alam yang ada.” Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menegaskan bahwa kerja sama dengan LSM dan lembaga donor bukan hanya penting, tetapi krusial. Kepala Bappeda Sabu Raijua, Victor Rada Muri,...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/">Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="970" height="546" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12.png" alt="" class="wp-image-17076" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12.png 970w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 970px) 100vw, 970px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. (Dok. Istimewa)</figcaption></figure>



<p>(22/7/2025) Pemerintah Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/sabu-raijua">Sabu Raijua</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/nusa-tenggara-timur">Nusa Tenggara Timur</a>, membuka pintu lebar untuk kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah dan mitra pembangunan guna mempercepat pembangunan daerah.</p>



<p>Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mengembangkan potensi lokal yang sebenarnya melimpah.</p>



<p>“Kami sangat membutuhkan dukungan karena kapasitas fiskal kami sangat rendah,” ujar Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly, saat menerima audiensi Seknas GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Senin (21/7).</p>



<p>“Kami hanya mengandalkan dana dari pusat dan sumber daya alam yang ada.”</p>



<p>Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menegaskan bahwa kerja sama dengan LSM dan lembaga donor bukan hanya penting, tetapi krusial. Kepala Bappeda Sabu Raijua, Victor Rada Muri, menyatakan bahwa kolaborasi semacam ini bisa menjadi jalan keluar bagi keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia di daerah.</p>



<p>“Harapan kami, teman-teman LSM dan NGO bisa bantu mendorong pengembangan potensi lokal. Kami terbuka untuk dialog dan kerja sama,” kata Victor.</p>



<p><strong>Dari Lontar hingga <a href="https://www.suara.com/tag/rumput-laut">Rumput Laut</a>: Potensi yang Belum Termanfaatkan</strong></p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menyoroti potensi besar tanaman lontar di Sabu Raijua. Salah satu upaya yang sedang didorong adalah pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) untuk menjaga nilai ekonomi lontar.</p>



<p>Sabu Raijua juga memiliki varietas tanaman unik seperti bawang merah lokal berwarna putih yang khas, kacang hijau hitam, sorgum, hingga padi merah khas. GEF SGP Indonesia bersama mitra seperti Kupang Batanam dan Klinik Agro tengah mengembangkan kultivar lokal ini dengan pendekatan self-declare, agar petani dapat mematenkan dan mempromosikan produk mereka secara mandiri.</p>



<p>“Dengan self-declare, petani bisa mengangkat produk lokal mereka sekaligus meningkatkan daya saing di pasar,” jelas Hery Budiarto dari GEF SGP Indonesia.</p>



<p>Dalam RPJMN, dua komoditas utama Sabu Raijua yang masuk prioritas nasional adalah garam dan rumput laut. Namun tantangannya besar. Pabrik pengolahan rumput laut yang sudah ada belum bisa beroperasi karena kekurangan tenaga ahli.</p>



<p>Wakil Bupati Thobias mengusulkan pembangunan kebun bibit rumput laut dan mendorong pengolahan produk turunan agar komoditas ini punya nilai tambah.</p>



<p>“Kami tidak ingin hanya menjual mentah. Harus ada nilai tambah untuk tingkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.</p>



<p>Pertemuan antara Pemkab dan GEF SGP Indonesia ini diharapkan jadi langkah awal untuk membangun ekosistem pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan—dengan potensi lokal sebagai fondasi, dan gotong royong lintas pihak sebagai penggeraknya.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/22/110042/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/">Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sat, 14 Jun 2025 02:01:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17032</guid>

					<description><![CDATA[<p>(14/6/2025) Tiga wilayah di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, yakni Desa Manjalling, Desa Garanta, dan Kelurahan Dannuang, memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2002, budidaya ini terus tumbuh. Pada awal 2025, pemetaan partisipatif oleh komunitas Saukang mencatat bahwa luas lahan budidaya di tiga wilayah tersebut mencapai 710 hektare. Data ini juga digunakan untuk menyusun profil kampung budidaya. Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum, dua spesies dengan kandungan karagenan tinggi yang banyak dibutuhkan dalam industri makanan dan kosmetik. Permintaan terhadap karagenan cukup stabil, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor. Para petani menggunakan metode tali...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/">Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="800" height="600" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png" alt="" class="wp-image-17033" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png 800w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-300x225.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-768x576.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-16x12.png 16w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-600x450.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-10x8.png 10w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Andi Fatahuddin, Ketua Saukang saat meninjau lokasi rumput laut di Kelurahan Dannuang. @Jejakfakta/dok. Balang Institute</figcaption></figure>



<p>(14/6/2025) Tiga wilayah di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS)<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng"> Balantieng</a>, yakni Desa Manjalling, Desa Garanta, dan Kelurahan Dannuang, memiliki potensi besar dalam budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut"> rumput laut</a>. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2002, budidaya ini terus tumbuh. Pada awal 2025, pemetaan partisipatif oleh<a href="https://jejakfakta.com/tag/komunitas-saukang"> komunitas Saukang</a> mencatat bahwa luas lahan budidaya di tiga wilayah tersebut mencapai 710 hektare. Data ini juga digunakan untuk menyusun profil kampung budidaya.</p>



<p>Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis<em><a href="https://jejakfakta.com/tag/eucheuma-cottonii"> Eucheuma cottonii</a> </em>dan <em>Eucheuma spinosum</em>, dua spesies dengan kandungan karagenan tinggi yang banyak dibutuhkan dalam industri makanan dan kosmetik. Permintaan terhadap karagenan cukup stabil, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor.</p>



<p>Para petani menggunakan metode tali bentang; rata-rata satu bentangan memiliki panjang 16,5 meter. Hingga awal 2025, tercatat 202.099 tali bentangan dikelola oleh 318 kepala keluarga. Setiap keluarga rata-rata menghasilkan 1.206 kilogram<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;kering setiap musim panen (data Profil Kampung Budidaya Saukang 2025).</p>



<p>Kondisi geografis pesisir ini mendukung budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>. Wilayahnya berada di antara Laut Flores dan Selat Makassar, dengan arus laut yang cukup kuat dan kedalaman yang bervariasi. Selain itu, ada aliran air tawar dari Sungai<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;yang membantu menjaga kualitas lingkungan laut.</p>



<p>Di balik bentangan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>, perempuan memainkan peran penting. Mereka terlibat aktif dan menjadi tulang punggung dalam rantai produksi serta keberlanjutan ekonomi rumah tangga. Mulai dari menyiapkan bibit, mengikat tali, menjemur, menyortir, hingga mengolah<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;menjadi produk bernilai tambah, perempuan terlibat dalam setiap tahap secara aktif.</p>



<p><strong>Cerita<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;Perubahan Iklim</a>&nbsp;dari Petani</strong></p>



<p>Perubahan iklim kini dirasakan langsung oleh petani<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;di<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>. Mereka melihat sendiri bagaimana suhu air naik, musim hujan datang tidak menentu, dan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;mudah terserang penyakit. Tanaman jadi tumbuh lambat dan hasil panen menurun.</p>



<p>Muh. Nakir, salah satu petani, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, hasil panennya terus turun. &#8220;Rumput laut mudah sakit, pertumbuhannya lambat, daunnya layu dan gampang lepas dari tali, apalagi kalau cuaca sedang buruk,&#8221; katanya.</p>



<p>Saat banjir, tanaman banyak yang rusak atau terserang penyakit putih-putih (ice-ice). Saat kemarau, pertumbuhannya kerdil. Laut yang terlalu tenang juga membuat tanaman mudah tertempel kotoran.</p>



<p>Cuaca ekstrem terjadi sepanjang tahun. Angin kencang datang pada Januari–Februari. Banjir sering terjadi pada Mei–Juni. Ombak besar mengguncang laut pada September–November, bersamaan dengan musim kemarau. Kondisi ini juga menyulitkan nelayan dan petani lainnya.</p>



<p>&#8220;Sekarang melaut pun susah. Cuaca tidak bisa ditebak,&#8221; ujar Kasman, seorang nelayan dari Desa Garanta.</p>



<p>Selain cuaca, petani juga menghadapi harga<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;yang naik-turun. Mereka hanya bisa menjual ke tengkulak, yang membuat harga di tingkat petani tetap rendah. Sejak 2004, harga pernah berada di Rp2.500 per kilogram, lalu naik jadi Rp17.000, dan sempat melonjak ke Rp45.000 saat pandemi Covid-19. Namun, harga ini selalu berubah dan tidak stabil.</p>



<p><strong>Peran Saukang dan Inisiatif Komunitas</strong></p>



<p>Saukang, komunitas lokal yang fokus mendampingi masyarakat pesisir, berupaya memperkuat inisiatif warga melalui kegiatan partisipatif. Dalam berbagai pertemuan, warga diajak berbagi pengalaman dan mencatat siklus budidaya mereka. Dari sini lahirlah kalender aktivitas dan kalender musim yang berguna untuk beradaptasi dengan cuaca yang makin sulit diprediksi.</p>



<p>Saukang juga mendorong pelatihan untuk diversifikasi produk<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;di tingkat rumah tangga. Perempuan menjadi ujung tombak proses ini. Di Desa Manjalling, mereka membuat brownies<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>. Di Garanta, dodol<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;dengan gula pasir. Di Dannuang, dodol<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;dengan gula aren.</p>



<p>Saukang juga menjembatani warga dengan pihak luar, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi. Kolaborasi ini membuka peluang untuk mendapatkan dukungan, pengetahuan, dan kebijakan yang lebih berpihak.</p>



<p><strong>Kunjungan dan Dukungan</strong></p>



<p>Pada Juni 2025, inisiatif warga pesisir mendapat dukungan dari<a href="https://jejakfakta.com/tag/gef-sgp">&nbsp;GEF SGP</a>&nbsp;Indonesia. Dr. Sidi Rana Manggala, Koordinator Nasional<a href="https://jejakfakta.com/tag/gef-sgp">&nbsp;GEF SGP</a>, datang langsung ke Bulukumba dan mengajak berbagai pihak untuk melihat kondisi lapangan. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kelurahan Dannuang.</p>



<p>Kunjungan ini melibatkan berbagai pihak, seperti Prof. Eduardo de La Peña dari Ghent University Belgia, Syahidah, Ph.D. dari Universitas Hasanuddin, Dr. Rina Rachmawati dan Dr. Lenny Sri Nopriani dari Universitas Brawijaya, Viringga Kusuma dari AMATI Indonesia, dan Kris Supa dari PT Supa Surya Niaga. Mereka datang untuk memahami kerentanan iklim dan mencari solusi adaptasi serta peluang pasar.</p>



<p>Pada 11 Juni 2025, kunjungan dilanjutkan dengan menghadirkan tokoh nasional: Ir. Laksmi Dhewanthi, M.A. (mantan Dirjen<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;Perubahan Iklim</a>), Dr. Bambang Supriyanto (mantan Dirjen Perhutanan Sosial), dan Radityo Putro Hardito, Ph.D. dari Universitas Brawijaya.</p>



<p>Kehadiran mereka membuka ruang dialog antara warga, pemerintah, dan akademisi untuk mencari solusi terhadap krisis iklim yang dialami masyarakat pesisir.</p>



<p>Warga pesisir hilir<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;terus menunjukkan ketangguhan di tengah tantangan<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;perubahan iklim</a>, harga yang tidak menentu, dan rantai pasok yang tidak adil. Mereka bukan hanya membudidayakan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>, tetapi juga menjaga lingkungan hidup, menciptakan pengetahuan lokal, dan mengembangkan produk olahan.</p>



<p>Dengan peran aktif perempuan dan dukungan komunitas seperti Saukang, budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;menjadi jalan hidup yang terhubung erat dengan laut dan cuaca. Keterlibatan akademisi dan pembuat kebijakan membuka harapan baru agar perubahan bisa terjadi.</p>



<p>Namun, agar semua upaya ini berkelanjutan, perlu ada kebijakan yang adil, harga yang menguntungkan petani, dan rantai pasok yang lebih pendek. Pesisir bukan hanya batas daratan, tapi garis depan menghadapi krisis iklim dan<a href="https://jejakfakta.com/tag/ketahanan-pangan">&nbsp;ketahanan pangan</a>. Di garis pantai itulah para petani<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a><a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;bertahan dan terus mencari cara hidup yang lebih adil.(*)</p>



<p>Sumber: https://jejakfakta.com/read/10122/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/">Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>