<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Universitas Hasanuddin Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/id/tag/universitas-hasanuddin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/universitas-hasanuddin/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 03 Nov 2025 07:19:58 +0000</lastbuilddate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Universitas Hasanuddin Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/id/tag/universitas-hasanuddin/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Implementasi Kerjasama Dampak Climate Change terhadap HHBK</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/implementasi-kerjasama-dampak-climate-change-terhadap-hhbk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 16 Jul 2025 07:14:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Hasanuddin]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17072</guid>

					<description><![CDATA[<p>(16/7/2025) Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Global Environmental Facility-Small Grants Programme Indonesia (GEF-SGP) Indonesia diskusi bersama membahas implementasi kerja sama dampak climate change terhadap sustainability produk kehutanan (HHBK). Kegiatan berlangsung mulai pukul 14.30 Wita di Aula Eboni KHDTK Hutan Pendidikan Unhas, Kabupaten Maros, Senin (9/6/2025). Hadir dalam kegiatan ini, Prof. Dr. Ir. A. Mujetahid M., S.Hut., M.P., IPU. (Dekan Fakultas Kehutanan Unhas), Andang Suryana Soma, S.Hut., M.P., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Sumber Daya Fakultas Kehutanan Unhas), Syahidah, S.Hut., M.Si., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni Fakultas Kehutanan Unhas), Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc. (Perhutanan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/implementasi-kerjasama-dampak-climate-change-terhadap-hhbk/">Implementasi Kerjasama Dampak Climate Change terhadap HHBK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-17073" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-819x1024.jpg 819w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-240x300.jpg 240w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-768x960.jpg 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-10x12.jpg 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-600x750.jpg 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-1x1.jpg 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants-8x10.jpg 8w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/Fakultas-Kehutanan-Universitas-Hasanuddin-Unhas-dan-Global-Environmental-Facility-Small-Grants.jpg 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>(16/7/2025) Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Global Environmental Facility-Small Grants Programme Indonesia (GEF-SGP) Indonesia diskusi bersama membahas implementasi kerja sama dampak climate change terhadap sustainability produk kehutanan (HHBK). Kegiatan berlangsung mulai pukul 14.30 Wita di Aula Eboni KHDTK Hutan Pendidikan Unhas, Kabupaten Maros, Senin (9/6/2025).</p>



<p>Hadir dalam kegiatan ini, Prof. Dr. Ir. A. Mujetahid M., S.Hut., M.P., IPU. (Dekan Fakultas Kehutanan Unhas), Andang Suryana Soma, S.Hut., M.P., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Sumber Daya Fakultas Kehutanan Unhas), Syahidah, S.Hut., M.Si., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni Fakultas Kehutanan Unhas), Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc. (Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Sidi Rana Menggala, Ph.D. (National Coordinator GEF-GSP), Viringga Kusuma (Founder PT. Amati Indonesia) dan Tim GEF-GSP.</p>



<p>Sumber: https://www.instagram.com/p/DMJip7JTOs-/?img_index=2</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/implementasi-kerjasama-dampak-climate-change-terhadap-hhbk/">Implementasi Kerjasama Dampak Climate Change terhadap HHBK</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diskusi Multipihak di Unhas Merajut Solusi untuk Hutan, Petani, dan Perubahan Iklim</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/diskusi-multipihak-di-unhas-merajut-solusi-untuk-hutan-petani-dan-perubahan-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 10 Jun 2025 22:15:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Hasanuddin]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17016</guid>

					<description><![CDATA[<p>Adalah sebuah impian ketika masyarakat bisa hidup berdampingan dengan alam. Betapa tidak, mereka bisa memelihara hutan dan menjaga lingkungan agar senantiasa lestari. Sementara di sisi lain, masyarakat pun memanfaatkan hasil yang didapat dari alam untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kondisi ini menjadi pertanyaan besar: apakah mungkin terjadi? Tanda tanya ini menjadi pembahasan dalam diskusi kolaboratif yang digelar Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di Gedung Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (9/6/2025). Ya, Forum Diskusi Multipihak dan Seminar Perubahan Iklim tersebut melibatkan banyak pihak dari pegiat lingkungan, akademisi, pemerintah hingga masyarakat. Tujuannya mencari solusi atas...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/diskusi-multipihak-di-unhas-merajut-solusi-untuk-hutan-petani-dan-perubahan-iklim/">Diskusi Multipihak di Unhas Merajut Solusi untuk Hutan, Petani, dan Perubahan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan.webp" alt="" class="wp-image-17017" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/26210-fakultas-kehutanan-10x6.webp 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">(10/6) Forum Diskusi Multipihak dan Seminar Perubahan Iklim yang digelar GEF SGP Indonesia bersama Fakultas Kehutanan Unhas, Senin (9/6/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Adalah sebuah impian ketika masyarakat bisa hidup berdampingan dengan alam. Betapa tidak, mereka bisa memelihara hutan dan menjaga lingkungan agar senantiasa lestari. Sementara di sisi lain, masyarakat pun memanfaatkan hasil yang didapat dari alam untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.</p>



<p>Kondisi ini menjadi pertanyaan besar: apakah mungkin terjadi? Tanda tanya ini menjadi pembahasan dalam diskusi kolaboratif yang digelar Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di Gedung Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (9/6/2025).</p>



<p>Ya, Forum Diskusi Multipihak dan Seminar Perubahan Iklim tersebut melibatkan banyak pihak dari pegiat lingkungan, akademisi, pemerintah hingga masyarakat. Tujuannya mencari solusi atas keresahan tersebut.</p>



<p>Dekan Fakultas Kehutanan Unhas Prof. A. Mujetahid M. membuka diskusi dengan studi kasus. Dia menyoroti keberhasilan pengelolaan Hutan Pendidikan seluas 1.300 hektare sebagai model kolaborasi. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat bisa meningkatkan kesejahtera tanpa merusakan alam.</p>



<p>Mujetahid mengatakan sebanyak 109 warga kini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan produktif seperti berkebun, beternak, hingga memanfaatkan hasil hutan non-kayu seperti penyadapan getah pinus dan aren, serta pengembangan wisata edukasi berbasis ekosistem.</p>



<p><em>“Kami membuktikan bahwa masyarakat bisa menjadi pelindung hutan, bukan perusaknya,”</em> kata Mujetahid.</p>



<p>Bambang Supriyanto dari Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan bahwa perhutanan sosial lebih dari sekadar kebijakan teknis; ini adalah strategi pemberdayaan desa yang hidup berdampingan dengan hutan.</p>



<p>Bambang menyoroti sepertiga dari lebih dari 25.000 desa di kawasan hutan termasuk kategori miskin, sehingga akses kelola legal, pendampingan usaha, dan penguatan kelembagaan mutlak diperlukan.</p>



<p><em>“Dari 25 ribu lebih desa di kawasan hutan, sepertiganya miskin. Maka akses kelola legal, pendampingan usaha, dan penguatan kelembagaan adalah keharusan,”</em> ujar Bambang.</p>



<p>Program ini telah memberikan hasil konkret. Lebih dari 8,3 juta hektare hutan (termasuk 358.000 hektare di Sulawesi Selatan) kini dikelola oleh masyarakat. Dampaknya, desa mandiri melonjak tajam, aktivitas ilegal menurun, dan kualitas ekologis meningkat hingga 12 persen.</p>



<p>Bahkan, secara ekonomi, komoditas seperti aren disebut lebih unggul dari sawit. Menurut Bambang, kunci keberhasilan program ini adalah melibatkan masyarakat sejak awal sehingga mereka merasa memiliki.</p>



<p><em>“Kuncinya adalah masyarakat merasa memiliki dan dilibatkan sejak awal,”</em> tambahnya.</p>



<p>Sementara itu, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Manggala, memaparkan riset yang cukup bikin degdegan dari wilayah Sulawesi, termasuk Bulukumba. Data menunjukkan dampak nyata krisis iklim yang menjadi momok para petani di sana.</p>



<p>Sidi menjelaskan, gangguan siklus berbunga tanaman kopi dan cengkeh, serta penurunan hasil rumput laut akibat pemutihan karang (<em>sea bleaching</em>), telah menyebabkan ketidakpastian iklim yang ekstrem.</p>



<p><em>&#8220;Mereka tak tahu kapan harus tanam atau panen. Bahkan air nira pun berkurang drastis,&#8221;</em> ujarnya, menggambarkan betapa sulitnya kondisi yang dihadapi para petani.</p>



<p><em>Thus</em>, Sidi menyerukan pentingnya sinergi antarpihak, mulai dari akademisi, organisasi masyarakat sipil (CSO), organisasi non-pemerintah (NGO), hingga pemerintah. Tujuannya menjamin pendapatan petani, meningkatkan daya saing produk lokal, dan memperkuat ketahanan agroekosistem.</p>



<p>Petani kakao di Gorontalo, misalnya. Sidi memberikan contoh bahwa mereka telah berinovasi dengan mengembangkan pestisida campuran sendiri. Tapi, Sidi menekankan bahwa tanpa pendampingan yang memadai, inovasi semacam itu berisiko.</p>



<p><em>&#8220;Kami butuh jembatan antara praktik lapangan dan keilmuan,&#8221;</em> tegasnya, menyoroti pentingnya dukungan berbasis keilmuan untuk praktik-praktik pertanian lokal.</p>



<p>Nah, menurut Samuel, seorang profesor dari <a href="https://www.suara.com/tag/unhas">Unhas</a>, sistem agroforestri sebagai jawaban masa depan. Namun, ia menekankan pentingnya adaptasi budaya dan lokalitas.</p>



<p><em>“Tak semua tanaman cocok di semua tempat. Ada yang rakus air, ada yang menghambat tanaman lain. Harus ada riset,”</em> jelasnya.</p>



<p>Lain halnya dengan Abdul Haris dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tumarila. Dia mengangkat isu energi dalam produksi gula aren. <em>“Potensial, tapi boros kayu,”</em> katanya, sambil mendorong solusi seperti tungku hemat energi.</p>



<p>Sementara dari Balang Institute, Hasri menambahkan koperasi kini mulai mengembangkan energi alternatif yang lebih efisien.</p>



<p>Bambang pun menegaskan pentingnya inovasi berbasis kebutuhan lokal. <em>“Kalau tungku efektif, dorong jadi program. Kalau ada tanaman produktif dan irit air, kembangkan. Kolaborasi adalah kuncinya,”</em> ujarnya.</p>



<p>Sebagai penutup diskusi, Andang Suryana Soma dari Fakultas <a href="https://www.suara.com/tag/kehutanan">Kehutanan</a> Unhas angkat bicara. Dia memaparkan proyeksi perubahan iklim di DAS Balantieng. Dengan suhu diperkirakan naik hingga 27 derajat Celsius dan curah hujan bergeser, vegetasi dan produktivitas lahan ikut terdampak.</p>



<p>Di hulu, berkurangnya tutupan lahan mengurangi daya serap air; di hilir, abrasi meningkat akibat rusaknya mangrove.</p>



<p><em>“Tanaman seperti kakao dan kopi bisa menjaga iklim mikro. Tapi keberhasilannya butuh intervensi tepat dan berkelanjutan,</em>” jelas dia.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/06/10/184710/diskusi-multipihak-di-unhas-merajut-solusi-untuk-hutan-petani-dan-perubahan-iklim?page=2</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/diskusi-multipihak-di-unhas-merajut-solusi-untuk-hutan-petani-dan-perubahan-iklim/">Diskusi Multipihak di Unhas Merajut Solusi untuk Hutan, Petani, dan Perubahan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GEF SGP Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Iklim Lewat Diskusi Multipihak di Hutan Pendidikan Unhas</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/id/gef-sgp-dorong-kolaborasi-atasi-krisis-iklim-lewat-diskusi-multipihak-di-hutan-pendidikan-unhas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 10 Jun 2025 12:30:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Hasanuddin]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/gef-sgp-dorong-kolaborasi-atasi-krisis-iklim-lewat-diskusi-multipihak-di-hutan-pendidikan-unhas/">GEF SGP Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Iklim Lewat Diskusi Multipihak di Hutan Pendidikan Unhas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="720" height="379" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927.webp" alt="" class="wp-image-17012" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927.webp 720w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927-300x158.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927-18x9.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927-600x316.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/76865927-10x5.webp 10w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption">Warga dan akademisi di Hutan Pendidikan Unhas terlibat aktif dalam diskusi multipihak di Makassar, membahas perhutanan sosial sebagai strategi adaptasi iklim pada Senin, 9 Juni 2025. /Dok. GEF SGP Indonesia/<br><br>(10/6) Sisa hujan semalam menggantung di ujung daun pinus, seolah menyimak bisikan keresahan dari kamp tenda yang berjejer di antara tegakan pohon. Di jantung Hutan Pendidikan Unhas, suara-suara dari desa, kampus, dan pemerintah bertemu dalam satu simpul: menyelamatkan hutan, menyelamatkan hidup. <br><br>Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin di Makassar menjadi lebih dari sekadar ruang riset. Pada Senin, 9 Juni 2025, kawasan seluas 1.300 hektare ini menjelma jadi panggung utama bagi diskusi multipihak tentang perubahan iklim, keberlanjutan hutan, dan strategi perhutanan sosial berbasis komunitas. <br><br>Forum ini menyatukan masyarakat adat, akademisi, hingga birokrat dalam ekosistem kolaboratif yang menjawab tantangan agroforestri dan krisis iklim—tema yang kian genting di Sulawesi dan seluruh Indonesia.<br><br>Dekan Fakultas Kehutanan Unhas membuka sesi dengan refleksi optimistik. <br><br>“Masyarakat kini tak lagi hanya diajari, tapi justru jadi pelaku utama.”<br><br> Sebanyak 109 warga kini aktif dalam pengelolaan hutan: berkebun, beternak, menyadap pinus dan aren, hingga mengembangkan ekowisata edukatif. <br><br>Fasilitas seperti dapur umum, arboretum, dan stasiun riset memperkuat fungsi kawasan ini sebagai laboratorium hidup—bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga bagi petani dan pelaku desa.<br><br><strong>Rakyat sebagai subjek, bukan objek </strong><br><br>Dr. Bambang Supriyanto, mantan Dirjen PSKL KLHK, menegaskan bahwa perhutanan sosial adalah strategi nasional yang menempatkan rakyat sebagai subjek, bukan objek. <br><br>Dari total 25.863 desa di sekitar hutan, 36,7% tergolong miskin. Dengan skema seperti hutan desa, HKm, kemitraan, hutan adat, dan hutan tanaman rakyat, masyarakat diberikan akses legal untuk mengelola hutan secara berkelanjutan. <br><br>“Dampaknya sangat terasa. Desa yang dulunya tergantung bantuan, kini jadi desa mandiri,” ujarnya. Komoditas seperti aren bahkan disebut lebih menjanjikan secara ekonomi dibanding sawit atau karet.<br><br><strong>Suara dari Bulukumba </strong><br><br>Sementara Abdul Haris dari BUMDes Tumarila mengangkat tantangan di daerah terpencil seperti Bulukumba. Menurutnya, aren memang potensial, tapi juga menyedot banyak kayu untuk bahan bakar. “Solusinya, tungku hemat energi,” tegasnya.<br><br>Senada, Hasri dari Balang Institute menyebut bahwa koperasi seperti Dana Mitra Tani di Bulukumba sudah mulai mengembangkan solusi energi terjangkau untuk produksi gula aren. <br><br>Diskusi ini juga menyorot realitas iklim yang kian ekstrem. Dr. Sidi Rana Manggala dari GEF SGP Indonesia menunjukkan data bahwa penurunan produksi kopi, gula aren, dan rumput laut akibat krisis iklim kini menjadi ancaman nyata.<br><br>Petani di Bulukumba kehilangan kejelasan musim tanam, menghadapi hama ganas seperti kutu buah kopi, dan kehilangan hingga 50% produksi rumput laut akibat pemutihan laut. <br><br>“Kami ingin bangun sistem agroforestri yang tahan krisis, berbasis pengetahuan lokal,” tegas Sidi. <br><br>Prof. Samuel dari Unhas dan Abdul Haris dari Bumdes Tumarila memperkuat narasi bahwa solusi teknologi hemat energi, riset berbasis lokalitas, dan adaptasi budaya sangat penting. <br><br>“Satu jenis pohon bisa gagal berkembang hanya karena sifat alelopati. Itu butuh riset yang serius,” kata Samuel.<br><br>Hasri dari Balang Institute juga menambahkan pentingnya koperasi dan akademisi bersinergi. “Kami butuh teknologi murah yang bisa dimiliki petani, bukan proyek mahal yang ditinggal,” ujarnya lugas. <br><br>Diskusi ditutup dengan pemaparan proyeksi iklim oleh Prof. Andang Soma. Ia mengingatkan bahwa wilayah DAS Balantieng di Bulukumba mengalami penurunan curah hujan yang mengancam pertanian dan pemukiman. <br><br>“Solusinya adalah menanam kakao dan kopi untuk menjaga iklim mikro,” ujarnya. Hilangnya tutupan mangrove di hilir juga meningkatkan abrasi pantai. Perubahan iklim bukan sekadar narasi akademik, tapi realitas harian masyarakat.***<br><br>Sumber: <a href="https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/sulsel/pr-879405643/gef-sgp-dorong-kolaborasi-atasi-krisis-iklim-lewat-diskusi-multipihak-di-hutan-pendidikan-unhas?page=all">https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/sulsel/pr-879405643/gef-sgp-dorong-kolaborasi-atasi-krisis-iklim-lewat-diskusi-multipihak-di-hutan-pendidikan-unhas?page=all</a><br><br><br><br><br><br><br><br></figcaption></figure>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/id/gef-sgp-dorong-kolaborasi-atasi-krisis-iklim-lewat-diskusi-multipihak-di-hutan-pendidikan-unhas/">GEF SGP Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Iklim Lewat Diskusi Multipihak di Hutan Pendidikan Unhas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/id">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>