{
    "id": 2255,
    "date": "2020-09-29T09:01:08",
    "date_gmt": "2020-09-29T09:01:08",
    "guid": {
        "rendered": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/?p=2255"
    },
    "modified": "2024-03-27T00:11:46",
    "modified_gmt": "2024-03-27T00:11:46",
    "slug": "jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2",
    "status": "publish",
    "type": "post",
    "link": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/",
    "title": {
        "rendered": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2)"
    },
    "content": {
        "rendered": "<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2255\" class=\"elementor elementor-2255\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-7d2b666a elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"7d2b666a\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-496a51f0\" data-id=\"496a51f0\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-21fec711 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"21fec711\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-no-translation=\"\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div id=\"headline\"><div class=\"single-article-meta\"><p>oleh\u00a0<a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/byline\/luh-de-suriyani-klungkung\/\" rel=\"tag\">Luh De suriyani [Klungkung]<\/a>\u00a0di 29 September 2020<\/p><\/div><\/div><div class=\"row\"><div id=\"main\" class=\"col-lg-8 single\"><article id=\"post-82212\" class=\"post-82212 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-sosial tag-bali tag-covid-19 tag-ekologi-pesisir tag-ekowisata tag-featured tag-kesejahteraan-nelayan tag-klungkung tag-perikanan-budidaya tag-perikanan-kelautan tag-pertanian-2 tag-rumput-laut byline-luh-de-suriyani-klungkung\"><ul><li><em>Ketika usaha pariwisata di Nusa Penida, Bali, redup saat pandemi ini, pertanian jadi tumpuan hidup<\/em><\/li><li><em>Apakah pertanian bakal mati lagi jika pariwisata hidup kembali?<\/em><\/li><li><em>Sejumlah warga berkomitmen akan berkelanjutan namun perlu dukungan<\/em><\/li><li><em>Lahan kering dan ketergantungan pada air hujan jadi tantangan sekaligus adaptasi perubahan iklim di pulau-pulau kecil ini.<\/em><\/li><li><em>Artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan tentang dampak pandemi Covid-19 pada warga pulau-pulau di Nusa Penida yang tergantung pada pariwisata. Tulisan pertama bisa dibaca di tautan ini<\/em><\/li><\/ul><p>Janji dan harapan untuk terus bertani rumput laut telah disampaikan sejumlah warga, karena rumput laut lah yang disebut sebagai penyelamat di tengah matinya usaha pariwisata saat pandemi ini.<\/p><p>Namun, keberlanjutan budidaya pertanian mensyaratkan adanya pengolahan, sayangnya unit ini belum digarap serius. Bahkan, sejumlah petani yang ditemui tidak tahu rantai pasok komoditas rumput laut ini. Jawabannya, hasil panen diambil pengepul yang akan membawa ke luar pulau Bali.<\/p><p>Diolah jadi apa apa, dengan harga berapa, atau bagaimana diolah, masih jadi tanda tanya. \u201cKatanya jadi kosmetik,\u201d sebut Wayan Sugarma, petani rumput laut di Desa Suana, Nusa Penida yang baru empat bulan bertani setelah dirumahkan dari sebuah kawasan villa mewah. Demikian juga Made Jaya, petani di Lembongan. Pasca panen rumput laut masih abu-abu karena sentra pengolahan tidak dikembangkan.<\/p><p>Wayan Suwarbawa, salah satu tokoh rumput laut di Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali ini mengatakan setidaknya ada empat nama pengepul di Lembongan yang sebagian membawa ke pulau Nusa Penida, sebelum dikirim lagi ke luar pulau. Sebagian lagi ada yang mendistribusikan ke Klungkung daratan, dan langsung ke Surabaya.<\/p><p>Ia sendiri mencoba memanfaatkan rumput laut menjadi pangan di rumah. Misalnya mengolah jadi lawar, jus, dan campuran nasi. Sejumlah pelatihan atau kelompok pengolah rumput laut jadi camilan pernah ada, namun tak berlanjut. Hanya muncul saat pameran pembangunan.<\/p><p>Pengolahan atau kegiatan pasca panen diyakini memberi nilai tambah bagi petani. Juga menambah lapangan kerja untuk yang tidak mau berendam di laut memasang patok, tali, dan merawat rumput laut setiap hari.<\/p><p><strong>baca :\u00a0<em><a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2020\/09\/28\/pariwisata-mati-rumput-laut-hidup-lagi-bagian-1\/\">Pariwisata Mati, Rumput Laut Hidup Lagi (bagian 1)<\/a><\/em><\/strong><\/p><figure id=\"attachment_82196\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-82196\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan1-lembongan2.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan1-lembongan2.jpg 1280w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan1-lembongan2-768x576.jpg 768w\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Sebagian besar warga Lembongan, Nusa Penida, Bali, kembali bertani rumput laut ketika sektor pariwisata ambruk selama pandemi ini. Foto: Luh De Suriyani\/Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure><p>Salah satu pengepul atau pembeli rumput laut dari petani Mokoh Wijaya mengatakan ia memerlukan dukungan untuk mendampingi petani agar kualitas rumput laut lebih baik sehingga meningkatkan nilainya. \u201cStandar kualitasnya belum bagus. Berusaha mengedukasi petani biar bisa menyediakan standar pabrik. Belum bisa memenuhi standar. Perlu biaya lagi untuk penjemuran dan pembersihan,\u201d ujarnya. Pabrik minta kadar airnya 36-37% sementara petani masih 39-40%.<\/p><p>Setelah beli dari petani, ia langsung membawa ke pabrik pengolahan di Surabaya. Diolah jadi tepung karagenan rumput laut. Jumlah yang dikirim sekitar 10-12 ton rata-rata per 3 bulan karena banyak pengepul atau pembeli lainnya. Selain itu, hasil panen belum banyak karena rumput laut baru dibudidayakan lagi di Lembongan. Sebagian digunakan untuk bibit.<\/p><p>Ia fokus jadi pengumpul karena setelah Covid-19 sudah tak bisa aktif bekerja sebagai tim pemasaran online hotel dan villa di Nusa Penida. Wijaya juga menjual sarana budidaya rumput laut seperti tali tampar, rafia, plastik es, terpal untuk penjemuran, jaring, dan lainnya. \u201cBantu petani biar bisa mendapat harga kompetitif, ambil barang di Surabaya,\u201d imbuhnya. Harganya disebut lebih murah sekitar Rp10 ribu per item\/roll dibanding beli di Nusa Penida.<\/p><p>Wijaya menyebut warga Lembongan dan Nusa Penida beruntung karena ada alternatif untuk survive saat pariwisata mati dampak corona. Rumput laut termasuk komoditas ekspor, harganya fluktuatif. Saat ini, per Agustus-September, harga turun, dari Rp15.500 jadi Rp13.000 per kg.<\/p><p>Menurutnya sektor pengolahan perlu dikembangkan. Agar yang dijual dari Nusa Penida bukan rumput laut raw, tapi sudah diproses seperti dicacah dan diputihkan.<\/p><p>Namun untuk mengolah siap ekspor seperti pabrik di Surabaya, menurutnya belum siap karena panen belum memenuhi kapasitas pabrik. Sementara di Surabaya beli dari pulau-pulau lain seperti Indonesia Timur.<\/p><p>Siasat lain adalah home industry seperti mengolah jadi salad, dodol, jus, kue, dan lainnya. \u201cIstri saya coba buat kue rumput laut, sempat jual di pasar dan keperluan upacara. Masyarakat kita belum banyak tahu manfaatnya, bagus sekali untuk kesehatan. Belum jadi budaya untuk konsumsi,\u201d sebut Wijaya.<\/p><p>I Gede Sedana, Rektor Universitas Dwijendra di Denpasar yang juga peneliti pertanian mengatakan salah satu unsur keberlanjutan pertanian adalah pengembangan hulu dan hilir. Di hulu misalnya penyediaan bibit dan sarana pertanian, di hilir adalah pra dan pasca panen. \u201cJangan sampai produksi saja, tapi pengolahan [tertinggal],\u201d ujarnya.<\/p><p><strong>baca juga :\u00a0<em><a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2015\/06\/06\/nasib-petani-rumput-laut-di-kawasan-konservasi-perairan-nusa-penida\/\">Nasib Petani Rumput Laut di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida<\/a><\/em><\/strong><\/p><figure id=\"attachment_82215\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-82215\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-terasering-batu.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-terasering-batu.jpg 1280w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-terasering-batu-768x576.jpg 768w\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Terasering di lahan berbatu dan berkarang ini dibuat di masa lalu sebagai petanda kerja keras petani Nusa Penida mengolah lahannya. Foto: Luh De Suriyani\/Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure><p><strong>Budidaya porang<\/strong><\/p><p>Komitmen untuk bertani walau pariwisata hidup lagi, juga dilontarkan Wayan Sukadana, seorang pengusaha akomodasi di Desa Suana, Nusa Penida, yang kini merintis sejumlah komoditas pertanian. Termasuk porang, sejenis umbi yang belum familiar di pulau ini.<\/p><p>Wayan Sukadana terlihat bersemangat membahas masa depan porang. Ia mengajak ke kebun pembibitan di desa tetangganya, Pejukutan. Ia memanfaatkan lahan di bawah pohon-pohon jati untuk menanam ribuan bibit porang dalam kantung\u00a0<em>polybag<\/em>.<\/p><p>Untuk mengantisipasi panas dan air hujan, ia memasang paranet yang menaungi keseluruhan bibit. Kebun jati yang gersang ini terlihat lebih rimbun dan teduh. Sukadana mengajukan tiga alasan kenapa ia bernyali memulai budidaya porang yang tak banyak diketahui orang. \u201cMasalah pertanian di Nusa Penida adalah kera, air, dan alih fungsi lahan jati. Porang bisa jawab masalah itu,\u201d sebutnya antusias.<\/p><p>Porang menurutnya bisa juga jadi pangan alternatif selain ketela pohon, pisang, jagung, dan lainnya yang sudah tumbuh di pulau berkapur dan berkarang ini. Ia sudah membaca dan menonton banyak video soal budidaya porang dan hasil olahannya.<\/p><p>Dikutip dari laman Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian, Umbi Porang (<em>Amorphophallus mueleri blume<\/em>) disebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan merupakan komoditas utama tanaman pangan yang berorientasi ekspor. Saat ini, Indonesia mengekspor porang dalam bentuk chips (irisan tipis), kemudian di negara tujuan diolah kembali sebagai bahan pangan dan kosmetik. Permintaan porang banyak berasal dari Jepang, Cina, Vietnam dan Australia dengan total ekspor porang sekitar 11.170 ton.<\/p><p>Setelah dipanen, umbi porang dibersihkan dari kotoran berupa tanah dan akar yang menempel. Setelah itu, dilakukan pengolahan dengan menjadikan umbi porang sebagai chip porang ataupun dapat dijadikan tepung porang. Tepung glukomonan disebut bahan baku mie jepang (shirataki), konyaku, lem, dan lainnya.<\/p><p><strong>perlu dibaca :\u00a0<em><a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2020\/08\/28\/melirik-talas-sebagai-potensi-pangan-masyarakat-indonesia\/\" data-wplink-edit=\"true\">Melirik Talas Sebagai Potensi Pangan Masyarakat Indonesia<\/a><\/em><\/strong><\/p><figure id=\"attachment_82213\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-82213\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang.jpg 1280w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang-768x576.jpg 768w\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Dua warga Nusa Penida yang kini budidaya porang, komoditas yang belum familiar dan dinilai potensial. Foto: Luh De Suriyani\/Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure><p>Bahkan, Sukadana sudah membuat website khusus, tanamanporang.com yang berisi rangkuman informasi cara budidaya, perhitungan modal, bibit, dan lainnya. Saking intensnya pada komoditas baru ini, ia berhasil meyakinkan beberapa warga lain untuk ikut membudidayakan.<\/p><p>Salah satunya Wayan Pedoman, seorang guru. Ia juga menunjukkan lahan dan hamparan 14 ribu bibit yang sudah dibelinya. Saking semangatnya, ia membuka jalan menuju kebun dengan ekskavator, menjual sebagian pohon jati yang ditanam, dan beli sebuah pick-up untuk mengangkut sarana. Kini kebun setengah hektar itu ditata dengan sebuah pondokan tempat rehat dan\u00a0<em>ngobrol<\/em>.<\/p><p>Sukadana menyebut, pertanian adalah masa depannya. Padahal ia baru tiga tahun ini merintis dan mengelola dua jenis akomodasi ketika pariwisata Nusa Penida berkembang pesat. Jika pariwisata bangkit lagi, ia berjanji akan terus fokus di usaha ini walau memiliki dua unit akomodasi. Menurutnya pariwisata tak bisa ajeg, terlebih dalam kondisi pandemi yang tak jelas.<\/p><p>Setelah mendengar penjelasan dan informasi budidaya porang ini, pilihan komoditas ini bukan hal mudah. Perlu modal besar untuk memperoleh bibit dan ketekunan karena jangka waktu panen bervariasi tergantung jenis bibit, dari 1-4 tahun.<\/p><p>Sukadana menjelaskan, bibit bisa dibeli dari petani yang telah membudidayakan atau hutan asal porang, Jawa atau Flores. Jenis bibitnya ada 3, biji spora (3-4 tahun), katak atau bubil porang (2 tahun), benih dari umbi porang (1 tahun).<\/p><p>Panen berupa umbi dengan ukuran minimal 500 gram. Harga penjualan basah bervariasi tergantung musim, antara Rp5000-14.000 per kg. Jika jual kering setelah diiris harganya berlipat 5-7 kali lebih mahal dibanding harga basah.<\/p><p><strong>baca juga :\u00a0<em><a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2020\/09\/12\/warga-sikka-mengkonsumsi-ubi-beracun-apa-penyebabnya\/\" data-wplink-edit=\"true\">Warga\u00a0Sikka Mengkonsumsi Ubi Beracun. Apa Penyebabnya?<\/a><\/em><\/strong><\/p><figure id=\"attachment_82214\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-82214\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang2.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang2.jpg 960w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/tulisan2-porang2-768x1024.jpg 768w\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"1280\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Dua jenis bibit porang yang ditanam dan memerlukan waktu panen 1-3 tahun. Foto: Luh De Suriyani\/Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure><p>Sukadana menyebut panen akan dibeli pengepul, lalu dikirim pabrik ke Jawa atau Bali untuk diiris dan dikeringkan, kemudian diekspor oleh pabrik ke Cina, Jepang, Amerika, dan Eropa. \u201cDi Jawa ada 14 pabrik porang,\u201d urainya.<\/p><p>Produk olahannya seperti tepung, beras, obat, lem, dan lainnya. Salah satu tokoh patronnya di budidaya porang adalah Paidi yang melakukan budidaya, pelatihan, penjualan benih, pembelian porang basah, dan wisata porang di Madiun, Jawa Timur.<\/p><p>Ia sendiri berencana memodali dengan 40-100 ribu bibit yang akan ditanam di lahan sekitar satu hektar. \u201cPenipuan dan pencurian bisa jadi tantangannya,\u201d sebut Sukadana karena nilai ekonomis bibit porang.<\/p><p>Tekadnya untuk terjun ke bisnis pertanian juga dibuktikan dengan membuat Nusa Dua Farm, kebun sekaligus tempat diskusi pertanian. Ia menunjukkan struktur rumah kayu sederhana yang sedang dibangun di kebun.<\/p><p>Ia mengakui tak mudah memulai bisnis pertanian di Nusa Penida. Selain tiga faktor tadi, kera, sulit air, dan lahan, petani juga menggunakan modal sendiri yang besarannya terbatas. Ia menyontohkan warga yang kembali bertani rumput laut kebanyakan memodali sendiri. \u201cBapak saya beli bibit, patok, jaring, modal sendiri Rp10 juta. Pasar gotong royong pertanian perlu dievaluasi karena pasar lain jadi sepi, yang beli PNS. Harus fokus ke padat karya dan pertanian,\u201d ia mengusulkan strategi pemulihan ekonomi.<\/p><p>Tak sedikit program pemerintah yang gagal atau tak berkelanjutan di pertanian, misalnya ia mengingat Nusa Penida pernah gagal tanam jarak, ginseng, lidah buaya, dan lainya. \u201cSaya belajar dari itu, pertanian tidak bisa instan, pembelajaran penting,\u201d ingatnya.<\/p><div class=\"fb-comments fb_iframe_widget fb_iframe_widget_fluid_desktop\" data-href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2020\/09\/29\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/\" data-numposts=\"10\" data-width=\"575\" data-colorscheme=\"light\">\u00a0<\/div><\/article><\/div><\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-84d7409 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"84d7409\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-no-translation=\"\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t<style>.elementor-element-84d7409{display:none !important}<\/style>\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>",
        "protected": false
    },
    "excerpt": {
        "rendered": "<p>oleh\u00a0Luh De suriyani [Klungkung]\u00a0di 29 September 2020 Ketika usaha pariwisata di Nusa Penida, Bali, redup saat pandemi ini, pertanian jadi tumpuan hidup Apakah pertanian bakal mati lagi jika pariwisata hidup kembali? Sejumlah warga berkomitmen akan berkelanjutan namun perlu dukungan Lahan kering dan ketergantungan pada air hujan jadi tantangan sekaligus adaptasi perubahan iklim di pulau-pulau kecil ini. Artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan tentang dampak pandemi Covid-19 pada warga pulau-pulau di Nusa Penida yang tergantung pada pariwisata. Tulisan pertama bisa dibaca di tautan ini Janji dan harapan untuk terus bertani rumput laut telah disampaikan sejumlah warga, karena rumput laut&#8230;<\/p>",
        "protected": false
    },
    "author": 2,
    "featured_media": 10935,
    "comment_status": "closed",
    "ping_status": "open",
    "sticky": false,
    "template": "",
    "format": "standard",
    "meta": {
        "footnotes": ""
    },
    "categories": [
        160,
        196
    ],
    "tags": [],
    "class_list": [
        "post-2255",
        "post",
        "type-post",
        "status-publish",
        "format-standard",
        "has-post-thumbnail",
        "hentry",
        "category-artikel-id",
        "category-newsletter-id"
    ],
    "yoast_head": "<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"oleh\u00a0Luh De suriyani [Klungkung]\u00a0di 29 September 2020 Ketika usaha pariwisata di Nusa Penida, Bali, redup saat pandemi ini, pertanian jadi tumpuan hidup Apakah pertanian bakal mati lagi jika pariwisata hidup kembali? Sejumlah warga berkomitmen akan berkelanjutan namun perlu dukungan Lahan kering dan ketergantungan pada air hujan jadi tantangan sekaligus adaptasi perubahan iklim di pulau-pulau kecil ini. Artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan tentang dampak pandemi Covid-19 pada warga pulau-pulau di Nusa Penida yang tergantung pada pariwisata. Tulisan pertama bisa dibaca di tautan ini Janji dan harapan untuk terus bertani rumput laut telah disampaikan sejumlah warga, karena rumput laut...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"SGP Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-09-29T09:01:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-03-27T00:11:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1211\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"454\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin sgp\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin sgp\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"21 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin sgp\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2\"},\"headline\":\"Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2)\",\"datePublished\":\"2020-09-29T09:01:08+00:00\",\"dateModified\":\"2024-03-27T00:11:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/\"},\"wordCount\":3443,\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/09\\\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png\",\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Newsletter\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/\",\"name\":\"Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/09\\\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png\",\"datePublished\":\"2020-09-29T09:01:08+00:00\",\"dateModified\":\"2024-03-27T00:11:46+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/09\\\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/09\\\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png\",\"width\":1211,\"height\":454},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#website\",\"url\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\",\"name\":\"SGP Indonesia\",\"description\":\"The GEF Small Grants Programme\",\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\",\"name\":\"SGP Indonesia\",\"url\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/logo-sgp-png.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/logo-sgp-png.webp\",\"width\":624,\"height\":240,\"caption\":\"SGP Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2\",\"name\":\"admin sgp\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin sgp\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->",
    "yoast_head_json": {
        "title": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia",
        "robots": {
            "index": "index",
            "follow": "follow",
            "max-snippet": "max-snippet:-1",
            "max-image-preview": "max-image-preview:large",
            "max-video-preview": "max-video-preview:-1"
        },
        "canonical": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/",
        "og_locale": "id_ID",
        "og_type": "article",
        "og_title": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia",
        "og_description": "oleh\u00a0Luh De suriyani [Klungkung]\u00a0di 29 September 2020 Ketika usaha pariwisata di Nusa Penida, Bali, redup saat pandemi ini, pertanian jadi tumpuan hidup Apakah pertanian bakal mati lagi jika pariwisata hidup kembali? Sejumlah warga berkomitmen akan berkelanjutan namun perlu dukungan Lahan kering dan ketergantungan pada air hujan jadi tantangan sekaligus adaptasi perubahan iklim di pulau-pulau kecil ini. Artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan tentang dampak pandemi Covid-19 pada warga pulau-pulau di Nusa Penida yang tergantung pada pariwisata. Tulisan pertama bisa dibaca di tautan ini Janji dan harapan untuk terus bertani rumput laut telah disampaikan sejumlah warga, karena rumput laut...",
        "og_url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/",
        "og_site_name": "SGP Indonesia",
        "article_published_time": "2020-09-29T09:01:08+00:00",
        "article_modified_time": "2024-03-27T00:11:46+00:00",
        "og_image": [
            {
                "width": 1211,
                "height": 454,
                "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png",
                "type": "image\/png"
            }
        ],
        "author": "admin sgp",
        "twitter_card": "summary_large_image",
        "twitter_misc": {
            "Ditulis oleh": "admin sgp",
            "Estimasi waktu membaca": "21 menit"
        },
        "schema": {
            "@context": "https:\/\/schema.org",
            "@graph": [
                {
                    "@type": "Article",
                    "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#article",
                    "isPartOf": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/"
                    },
                    "author": {
                        "name": "admin sgp",
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/person\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2"
                    },
                    "headline": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2)",
                    "datePublished": "2020-09-29T09:01:08+00:00",
                    "dateModified": "2024-03-27T00:11:46+00:00",
                    "mainEntityOfPage": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/"
                    },
                    "wordCount": 3443,
                    "publisher": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization"
                    },
                    "image": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#primaryimage"
                    },
                    "thumbnailUrl": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png",
                    "articleSection": [
                        "Artikel",
                        "Newsletter"
                    ],
                    "inLanguage": "id"
                },
                {
                    "@type": "WebPage",
                    "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/",
                    "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/",
                    "name": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2) - SGP Indonesia",
                    "isPartOf": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#website"
                    },
                    "primaryImageOfPage": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#primaryimage"
                    },
                    "image": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#primaryimage"
                    },
                    "thumbnailUrl": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png",
                    "datePublished": "2020-09-29T09:01:08+00:00",
                    "dateModified": "2024-03-27T00:11:46+00:00",
                    "breadcrumb": {
                        "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#breadcrumb"
                    },
                    "inLanguage": "id",
                    "potentialAction": [
                        {
                            "@type": "ReadAction",
                            "target": [
                                "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/"
                            ]
                        }
                    ]
                },
                {
                    "@type": "ImageObject",
                    "inLanguage": "id",
                    "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#primaryimage",
                    "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png",
                    "contentUrl": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Screen-Shot-2020-10-02-at-16.01.40.png",
                    "width": 1211,
                    "height": 454
                },
                {
                    "@type": "BreadcrumbList",
                    "@id": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/jika-pariwisata-hidup-lagi-apakah-pertanian-kembali-mati-bagian-2\/#breadcrumb",
                    "itemListElement": [
                        {
                            "@type": "ListItem",
                            "position": 1,
                            "name": "Beranda",
                            "item": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/"
                        },
                        {
                            "@type": "ListItem",
                            "position": 2,
                            "name": "Jika Pariwisata Hidup Lagi, Apakah Pertanian Kembali Mati? (bagian 2)"
                        }
                    ]
                },
                {
                    "@type": "WebSite",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#website",
                    "url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/",
                    "name": "SGP Indonesia",
                    "description": "The GEF Small Grants Programme",
                    "publisher": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization"
                    },
                    "potentialAction": [
                        {
                            "@type": "SearchAction",
                            "target": {
                                "@type": "EntryPoint",
                                "urlTemplate": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/?s={search_term_string}"
                            },
                            "query-input": {
                                "@type": "PropertyValueSpecification",
                                "valueRequired": true,
                                "valueName": "search_term_string"
                            }
                        }
                    ],
                    "inLanguage": "id"
                },
                {
                    "@type": "Organization",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization",
                    "name": "SGP Indonesia",
                    "url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/",
                    "logo": {
                        "@type": "ImageObject",
                        "inLanguage": "id",
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/logo\/image\/",
                        "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo-sgp-png.webp",
                        "contentUrl": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo-sgp-png.webp",
                        "width": 624,
                        "height": 240,
                        "caption": "SGP Indonesia"
                    },
                    "image": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"
                    }
                },
                {
                    "@type": "Person",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/person\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2",
                    "name": "admin sgp",
                    "image": {
                        "@type": "ImageObject",
                        "inLanguage": "id",
                        "@id": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "url": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "contentUrl": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "caption": "admin sgp"
                    },
                    "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/author\/admin\/"
                }
            ]
        }
    },
    "_links": {
        "self": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2255",
                "targetHints": {
                    "allow": [
                        "GET"
                    ]
                }
            }
        ],
        "collection": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"
            }
        ],
        "about": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"
            }
        ],
        "author": [
            {
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"
            }
        ],
        "replies": [
            {
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2255"
            }
        ],
        "version-history": [
            {
                "count": 13,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2255\/revisions"
            }
        ],
        "predecessor-version": [
            {
                "id": 12791,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2255\/revisions\/12791"
            }
        ],
        "wp:featuredmedia": [
            {
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10935"
            }
        ],
        "wp:attachment": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2255"
            }
        ],
        "wp:term": [
            {
                "taxonomy": "category",
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2255"
            },
            {
                "taxonomy": "post_tag",
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2255"
            }
        ],
        "curies": [
            {
                "name": "wp",
                "href": "https:\/\/api.w.org\/{rel}",
                "templated": true
            }
        ]
    }
}