{
    "id": 918,
    "date": "2020-04-08T11:03:24",
    "date_gmt": "2020-04-08T11:03:24",
    "guid": {
        "rendered": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/?p=918"
    },
    "modified": "2020-04-08T11:03:24",
    "modified_gmt": "2020-04-08T11:03:24",
    "slug": "lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida",
    "status": "publish",
    "type": "post",
    "link": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/",
    "title": {
        "rendered": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida"
    },
    "content": {
        "rendered": "<p>Perjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa.<br \/>\nTerutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat.<br \/>\nPembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat berat seperti ekskavator. Mereka berusaha menggali batu kapur atau meratakannya. Membuat petak-petak lokasi bungalow atau kubu-kubu beraneka bentuk dan model arsitektur.<br \/>\nDari hasil observasi dengan mengelilingi pulau selama 3 hari, akomodasi terbanyak berbentuk lumbung, tempat penyimpanan hasil panen atau benih. Terbuat dari kayu, bambu, beratap jerami dan genteng, atau kombinasi baja ringan.<\/p>\n<p>Tak hanya di tengah kebun yang sudah tak digarap, lumbung-lumbung ini terlihat di bebukitan. Terutama jika hendak memanfaatkan pemandangan laut dari kejauhan. Lumbung padi dan jagung kini jadi tempat tidur turis.<br \/>\nKomang Kamartina, warga Nusa Penida yang memiliki keahlian membuat website kini jadi operator sejumlah akun pemasaran akomodasi di bawah 5 kamar. Saat ini, setidaknya ia mengelola promosi dan booking-an 20 merk akomodasi. Pria yang mukim di Nyuh Kukuh, Ped ini melihat peluang kerja lebih luas ketika pariwisata booming lalu balik ke Nusa Penida setelah merantau di Denpasar bekerja sebagai web developer.<br \/>\nSelain itu, Kamartina juga memanfaatkan peluang distribusi sarana perlengkapan hotel, juga kadang jadi pemandu wisata. \u201cKalau sedang ramai dalam satu hari bisa dapat Rp 400 ribu,\u201d ujarnya soal jadi guide dan menjual tiket speedboat ke turis asing saja. Jika sepi, seperti saat ini ketika sejumlah negara siaga karena penyebaran virus Corona Baru, penghasilannya sudah turun 50%.<br \/>\nSebagai operator beberapa akomodasi ia harus kreatif mengelola akun penjualan misalnya dengan membuat promo dan mengubah deskripsi. Misalnya menambah paket perjalanan ke sejumlah objek wisata dan diskon spesial di event-event khusus seperti Nusa Penida Festival.<\/p>\n<p>Semua akun usaha akomodasi yang dikelolanya dimiliki warga lokal Nusa Penida, mulai daerah barat Banjar Nyuh, Sebunibus, dan Sakti. Menurutnya jasa operator ini bisa dipelajari otodidak, namun harus terus mempelajari strategi pihak lain apalagi manajemen besar mulai masuk dan mengambil alih operator kecil.<br \/>\n\u201cAda kemungkinan pekerjaan saya hilang karena merk manajemen besar masuk,\u201d ujarnya. Karena itu ia juga mengusahakan pekerjaan lain, distribusi sarana hotel seperti tisu, sampo, sabun, dan lainnya. Namun ini juga sangat tergantung situasi turisme di Nusa Penida.<br \/>\nKamartina nampak siaga dengan ponselnya. Seseorang menelpon utuk konsultasi mengenai pengembalian (refund) biaya sewa. \u201cHotel makin banyak, jumlah kamar jauh lebih banyak. Dulu harga kamar tidak isi kolam renang Rp 400 ribu, sekarang jadi Rp 200 ribu,\u201d ia prihatin dampak virus COVID-19 ini.<br \/>\n\u201cPariwisata pasti bisa turun, apalagi Lombok sudah dipersiapkan pemerintah,\u201d lanjut Kamartina. Ia menyadari Nusa Penida sangat tergantung pada pariwisata karena warga sudah berinvestasi dengan mengorbankan sejumlah hal. Misalnya tanah dan lahan pertanian dijual untuk beli mobil dan disewakan sebagai kendaraan tur.<br \/>\nMasalahnya, lanjut Kamartina, bidang pendidikan tinggi juga terabaikan. \u201cDulu zaman saya banyak yang kuliah S1, sekarang turun jadi D1 atau tamat SMK pariwisata, tak mau sekolah lagi,\u201d keluhnya. Ia sendiri bersyukur punya keterampilan lain yakni teknologi informasi jika industri pariwisata tak bisa diandalkan.<br \/>\nLalu apa yang perlu dipersiapkan warga Nusa dalam kondisi saat ini? Jika industri pariwisata terlalu rapuh, ia sendiri bisa jadi akan merantau lagi atau warga lain yang pernah jadi petani kembali menekuni rumput laut. \u201cSekarang belum banyak yang percaya pariwisata itu rapuh,\u201d yakinnya.<\/p>\n<p>Hotel dan ladang<br \/>\nTak hanya pantai dan tebing, Nusa Penida juga menarik dijelajahi jika masuk ke desa-desa. Terutama perbukitan yang hijau saat musim hujan, dan para petani mulai bertanam jagung, ketela, dan lainnya di ladang-ladangnya yang berundag-undag.<br \/>\nSalah satu hotel dengan 3 kamar, Echo Alam Nusa di Desa Sakti dibangun di tengah ladang. Sebuah papan kecil bertajuk Vegan Soul Kitchen, nama restorannya, dipsang di pertigaan jalan raya utama desa. Sebagai penunjuk bagi pengunjung yang akan mencari lokasi ini. Jalan beton terlihat baru dibangun, pengendara motor melalui ladang-ladang jagung sampai menemukan pura dan rumah penduduk. Sekitar 5 menit berkendara, tibalah di pertigaan dengan papan penunjuk tambahan, namun tertutup pepohonan.<br \/>\nPenginapan ini tertutup ladang, yang nampak paling depan adalah kubu sederhana dari kayu dan bambu. Inilah restorannya sekaligus resepsionis. Sejumlah pelanggan restoran duduk menunggu pesanan, atau bermain dengan anak-anak anjing lucu yang berkeliaran di seluruh areal resto.<br \/>\nDi sekitarnya terlihat tanaman yang umum di kebun-kebun Nusa. Pisang, pepaya, gamal, ketela, dan jagung. Di kejauhan, terlihat sedikit lekuk pulau dan lautnya. Kamar-kamarnya juga dibuat dari dominan bambu. Materia lainnya adalah kayu jati, albesia, seseh atau kayu pohon kelapa, dan kayu pohon Kembang Kuning. \u201cSaya pakai bambu dan kayu sekitar sini, masih ada sedikit rumpun bambu, \u201c Ketut Merta, salah satu yang ikut membangun dan mengonsep Echo Alam Nusa pada 2016. Ia adik dari Nyoman Suweta, pemiliknya yang mukim di Ubud.<br \/>\nDari sejumlah aplikasi pengulas akomodasi, restorannya nampak yang lebih mendapat apresiasi. Fokus di menu-menu vegan. Misalnya BBQ Tempe Sandwich seharga Rp 45 ribu. Isinya setumpuk roti berisi tempe goreng dan aneka sayuran tomat, timun, dan kentang goreng homemade. Belasan ragam menu dominan sayur, biji-bijian, dan buah tanpa telur dan susu hewani.<\/p>\n<p>Namun, sebagian besar bahan menu belum bisa dipasok dari pulau sendiri terutama sayuran. Hanya labu dan ketela yang menjadi bagian dari menu. Melihat ketertarikan pelanggan pada konsep vegan hingga mau menemukan resto di pelosok ini, pertanian Nusa Penida sangat potensial dikembangkan dan diramu sebagai menu vegan dengan bahan baku lokal.<br \/>\nDua perempuan beda usia, Putu Purwa dan Luh Sri adalah warga setempat, tukang masak resto yang sudah familiar menyiapkan aneka menu vegan. Keduanya bisa bekerja di dekat rumah karena pelanggannya yang mendatangi. \u201cBelum tahu bagaimana menanam sayuran, mau belajar, lebih bagus dari kebun sendiri,\u201d ujar Sri, lulusan SMK perhotelan ini terkait kebutuhan sayuran seperti kol, selada, kentang, dan lainnya yang masih perlu dipasok.<br \/>\nHotel lain di Desa Ped, Arsa Santhi sudah beberapa bulan ini berhasil memanen aneka sayuran untuk dan restonya dari atap hotelnya. Sebuah kebun di atap seluas 200 meter persegi terbangun dengan atap serupa green house. Di dalamnya tumbuh subur sayurna kangkung, terong cabai, selada, dan lainnya. Tiap hari, para staf bisa memanen sesuai kebutuhan, bahkan berlebihan.<br \/>\nAri Setyawati, pemilik hotel mengaku mencoba hidroponik untuk memastikan pasokan sayur sehat dan berkualitas segar. Ia berani investasi untuk sistem hidroponik karena merasa bisa memberikan nilai lebih untuk akomodasinya. \u201cBeberapa warga juga beli sayur di sini,\u201d sebutnya. Hal menarik, ia memanfaatkan air AC untuk bahan baku utama pertanian tanpa tanah ini. Air AC dari 25 kamar ditampung di bak yang ditaruh di atas atap, dekat kebun hodroponik untuk dialirkan ke pipa-pipa media hidroponik.<\/p>\n<p>Ari yang juga pegiat PHRI Klungkung ini menyebut pembangunan akomodasi di Nusa Penida terus melejit, sementara turis tiap hari tak sebanyak jumlah kamar. \u201cHarus proteksi investasi lokal, meningkatkan kapasitas pekerja,\u201d usulnya. Terlebih saat ini, banyak turis yang hanya oneday trip, tidak menginap.<br \/>\nKepala Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung I Nengah Sukasta yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya belum memiliki data analisis daya tampung karena melihat potensial masih bisa dikembangkan. \u2018Secara umum, kalau normal ketersediaan huniannya 60-70% kalau tak ada isu seperti Corona. Nusa Penida tak kekurangan kamar,\u201d lanjutnya.<br \/>\nSejak Corona merebak, jumlah kunjungan menurun, antara Januari-Februari, retribusi yang diterima hampir berkurang 60%. Padahal biasanya kunjungan 2000-2500 per hari. Target pasti belum dipasang, termasuk target kunjungan wisatawan.<br \/>\nIa mengatakan sudah ada program pengembangan 2020, misalnya akan melakukan pembenahan 9 destinasi. Pada Oktober akan dihelat Festival Nusa Penida, juga ada festival surfing, layang-layang, dan lainnya. \u201cOrientasinya Nusa Penida karena 80% retribusi wisata dari Nusa,\u201d katanya. Namun di Klungkung daratan juga dilakukan promosi untuk mengajak turis berkeliling Semarapura dan desa sekitarnya.<br \/>\nMasalah-masalah saat ini dan di masa datang menurutnya persoalan sampah. Nengah Sukasta menyebut sejumlah rencana pengembangan wisata misalnya agrowisata, peningkatan jaringan jalan, dan akses air. Pemerintah pusat sudah membantu bPerjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa.<br \/>\nTerutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat.<br \/>\nPembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat berat seperti ekskavator. Mereka berusaha menggali batu kapur atau meratakannya. Membuat petak-petak lokasi bungalow atau kubu-kubu beraneka bentuk dan model arsitektur.<br \/>\nDari hasil observasi dengan mengelilingi pulau selama 3 hari, akomodasi terbanyak berbentuk lumbung, tempat penyimpanan hasil panen atau benih. Terbuat dari kayu, bambu, beratap jerami dan genteng, atau kombinasi baja ringan.<\/p>\n<p>Tak hanya di tengah kebun yang sudah tak digarap, lumbung-lumbung ini terlihat di bebukitan. Terutama jika hendak memanfaatkan pemandangan laut dari kejauhan. Lumbung padi dan jagung kini jadi tempat tidur turis.<br \/>\nKomang Kamartina, warga Nusa Penida yang memiliki keahlian membuat website kini jadi operator sejumlah akun pemasaran akomodasi di bawah 5 kamar. Saat ini, setidaknya ia mengelola promosi dan booking-an 20 merk akomodasi. Pria yang mukim di Nyuh Kukuh, Ped ini melihat peluang kerja lebih luas ketika pariwisata booming lalu balik ke Nusa Penida setelah merantau di Denpasar bekerja sebagai web developer.<br \/>\nSelain itu, Kamartina juga memanfaatkan peluang distribusi sarana perlengkapan hotel, juga kadang jadi pemandu wisata. \u201cKalau sedang ramai dalam satu hari bisa dapat Rp 400 ribu,\u201d ujarnya soal jadi guide dan menjual tiket speedboat ke turis asing saja. Jika sepi, seperti saat ini ketika sejumlah negara siaga karena penyebaran virus Corona Baru, penghasilannya sudah turun 50%.<br \/>\nSebagai operator beberapa akomodasi ia harus kreatif mengelola akun penjualan misalnya dengan membuat promo dan mengubah deskripsi. Misalnya menambah paket perjalanan ke sejumlah objek wisata dan diskon spesial di event-event khusus seperti Nusa Penida Festival.<\/p>\n<p>Semua akun usaha akomodasi yang dikelolanya dimiliki warga lokal Nusa Penida, mulai daerah barat Banjar Nyuh, Sebunibus, dan Sakti. Menurutnya jasa operator ini bisa dipelajari otodidak, namun harus terus mempelajari strategi pihak lain apalagi manajemen besar mulai masuk dan mengambil alih operator kecil.<br \/>\n\u201cAda kemungkinan pekerjaan saya hilang karena merk manajemen besar masuk,\u201d ujarnya. Karena itu ia juga mengusahakan pekerjaan lain, distribusi sarana hotel seperti tisu, sampo, sabun, dan lainnya. Namun ini juga sangat tergantung situasi turisme di Nusa Penida.<br \/>\nKamartina nampak siaga dengan ponselnya. Seseorang menelpon utuk konsultasi mengenai pengembalian (refund) biaya sewa. \u201cHotel makin banyak, jumlah kamar jauh lebih banyak. Dulu harga kamar tidak isi kolam renang Rp 400 ribu, sekarang jadi Rp 200 ribu,\u201d ia prihatin dampak virus COVID-19 ini.<br \/>\n\u201cPariwisata pasti bisa turun, apalagi Lombok sudah dipersiapkan pemerintah,\u201d lanjut Kamartina. Ia menyadari Nusa Penida sangat tergantung pada pariwisata karena warga sudah berinvestasi dengan mengorbankan sejumlah hal. Misalnya tanah dan lahan pertanian dijual untuk beli mobil dan disewakan sebagai kendaraan tur.<br \/>\nMasalahnya, lanjut Kamartina, bidang pendidikan tinggi juga terabaikan. \u201cDulu zaman saya banyak yang kuliah S1, sekarang turun jadi D1 atau tamat SMK pariwisata, tak mau sekolah lagi,\u201d keluhnya. Ia sendiri bersyukur punya keterampilan lain yakni teknologi informasi jika industri pariwisata tak bisa diandalkan.<br \/>\nLalu apa yang perlu dipersiapkan warga Nusa dalam kondisi saat ini? Jika industri pariwisata terlalu rapuh, ia sendiri bisa jadi akan merantau lagi atau warga lain yang pernah jadi petani kembali menekuni rumput laut. \u201cSekarang belum banyak yang percaya pariwisata itu rapuh,\u201d yakinnya.<\/p>\n<p>Hotel dan ladang<br \/>\nTak hanya pantai dan tebing, Nusa Penida juga menarik dijelajahi jika masuk ke desa-desa. Terutama perbukitan yang hijau saat musim hujan, dan para petani mulai bertanam jagung, ketela, dan lainnya di ladang-ladangnya yang berundag-undag.<br \/>\nSalah satu hotel dengan 3 kamar, Echo Alam Nusa di Desa Sakti dibangun di tengah ladang. Sebuah papan kecil bertajuk Vegan Soul Kitchen, nama restorannya, dipsang di pertigaan jalan raya utama desa. Sebagai penunjuk bagi pengunjung yang akan mencari lokasi ini. Jalan beton terlihat baru dibangun, pengendara motor melalui ladang-ladang jagung sampai menemukan pura dan rumah penduduk. Sekitar 5 menit berkendara, tibalah di pertigaan dengan papan penunjuk tambahan, namun tertutup pepohonan.<br \/>\nPenginapan ini tertutup ladang, yang nampak paling depan adalah kubu sederhana dari kayu dan bambu. Inilah restorannya sekaligus resepsionis. Sejumlah pelanggan restoran duduk menunggu pesanan, atau bermain dengan anak-anak anjing lucu yang berkeliaran di seluruh areal resto.<br \/>\nDi sekitarnya terlihat tanaman yang umum di kebun-kebun Nusa. Pisang, pepaya, gamal, ketela, dan jagung. Di kejauhan, terlihat sedikit lekuk pulau dan lautnya. Kamar-kamarnya juga dibuat dari dominan bambu. Materia lainnya adalah kayu jati, albesia, seseh atau kayu pohon kelapa, dan kayu pohon Kembang Kuning. \u201cSaya pakai bambu dan kayu sekitar sini, masih ada sedikit rumpun bambu, \u201c Ketut Merta, salah satu yang ikut membangun dan mengonsep Echo Alam Nusa pada 2016. Ia adik dari Nyoman Suweta, pemiliknya yang mukim di Ubud.<br \/>\nDari sejumlah aplikasi pengulas akomodasi, restorannya nampak yang lebih mendapat apresiasi. Fokus di menu-menu vegan. Misalnya BBQ Tempe Sandwich seharga Rp 45 ribu. Isinya setumpuk roti berisi tempe goreng dan aneka sayuran tomat, timun, dan kentang goreng homemade. Belasan ragam menu dominan sayur, biji-bijian, dan buah tanpa telur dan susu hewani.<\/p>\n<p>Namun, sebagian besar bahan menu belum bisa dipasok dari pulau sendiri terutama sayuran. Hanya labu dan ketela yang menjadi bagian dari menu. Melihat ketertarikan pelanggan pada konsep vegan hingga mau menemukan resto di pelosok ini, pertanian Nusa Penida sangat potensial dikembangkan dan diramu sebagai menu vegan dengan bahan baku lokal.<br \/>\nDua perempuan beda usia, Putu Purwa dan Luh Sri adalah warga setempat, tukang masak resto yang sudah familiar menyiapkan aneka menu vegan. Keduanya bisa bekerja di dekat rumah karena pelanggannya yang mendatangi. \u201cBelum tahu bagaimana menanam sayuran, mau belajar, lebih bagus dari kebun sendiri,\u201d ujar Sri, lulusan SMK perhotelan ini terkait kebutuhan sayuran seperti kol, selada, kentang, dan lainnya yang masih perlu dipasok.<br \/>\nHotel lain di Desa Ped, Arsa Santhi sudah beberapa bulan ini berhasil memanen aneka sayuran untuk dan restonya dari atap hotelnya. Sebuah kebun di atap seluas 200 meter persegi terbangun dengan atap serupa green house. Di dalamnya tumbuh subur sayurna kangkung, terong cabai, selada, dan lainnya. Tiap hari, para staf bisa memanen sesuai kebutuhan, bahkan berlebihan.<br \/>\nAri Setyawati, pemilik hotel mengaku mencoba hidroponik untuk memastikan pasokan sayur sehat dan berkualitas segar. Ia berani investasi untuk sistem hidroponik karena merasa bisa memberikan nilai lebih untuk akomodasinya. \u201cBeberapa warga juga beli sayur di sini,\u201d sebutnya. Hal menarik, ia memanfaatkan air AC untuk bahan baku utama pertanian tanpa tanah ini. Air AC dari 25 kamar ditampung di bak yang ditaruh di atas atap, dekat kebun hodroponik untuk dialirkan ke pipa-pipa media hidroponik.<\/p>\n<p>Ari yang juga pegiat PHRI Klungkung ini menyebut pembangunan akomodasi di Nusa Penida terus melejit, sementara turis tiap hari tak sebanyak jumlah kamar. \u201cHarus proteksi investasi lokal, meningkatkan kapasitas pekerja,\u201d usulnya. Terlebih saat ini, banyak turis yang hanya oneday trip, tidak menginap.<br \/>\nKepala Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung I Nengah Sukasta yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya belum memiliki data analisis daya tampung karena melihat potensial masih bisa dikembangkan. \u2018Secara umum, kalau normal ketersediaan huniannya 60-70% kalau tak ada isu seperti Corona. Nusa Penida tak kekurangan kamar,\u201d lanjutnya.<br \/>\nSejak Corona merebak, jumlah kunjungan menurun, antara Januari-Februari, retribusi yang diterima hampir berkurang 60%. Padahal biasanya kunjungan 2000-2500 per hari. Target pasti belum dipasang, termasuk target kunjungan wisatawan.<br \/>\nIa mengatakan sudah ada program pengembangan 2020, misalnya akan melakukan pembenahan 9 destinasi. Pada Oktober akan dihelat Festival Nusa Penida, juga ada festival surfing, layang-layang, dan lainnya. \u201cOrientasinya Nusa Penida karena 80% retribusi wisata dari Nusa,\u201d katanya. Namun di Klungkung daratan juga dilakukan promosi untuk mengajak turis berkeliling Semarapura dan desa sekitarnya.<br \/>\nMasalah-masalah saat ini dan di masa datang menurutnya persoalan sampah. Nengah Sukasta menyebut sejumlah rencana pengembangan wisata misalnya agrowisata, peningkatan jaringan jalan, dan akses air. Pemerintah pusat sudah membantu biaya pembangunan pelabuhan segitiga emas untuk memperlancar transportasi laut.<br \/>\nWisata alternatif<br \/>\nJaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Di antaranya Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).<br \/>\nSaat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.<br \/>\nKonsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran),<br \/>\nPaket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.<\/p>\n<p>https:\/\/balebengong.id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/iaya pembangunan pelabuhan segitiga emas untuk memperlancar transportasi laut.<br \/>\nWisata alternatif<br \/>\nJaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Di antaranya Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).<br \/>\nSaat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.<br \/>\nKonsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran),<br \/>\nPaket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.<\/p>",
        "protected": false
    },
    "excerpt": {
        "rendered": "<p>Perjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa. Terutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat. Pembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat&#8230;<\/p>",
        "protected": false
    },
    "author": 2,
    "featured_media": 0,
    "comment_status": "closed",
    "ping_status": "open",
    "sticky": false,
    "template": "",
    "format": "standard",
    "meta": {
        "footnotes": ""
    },
    "categories": [
        160,
        196
    ],
    "tags": [],
    "class_list": [
        "post-918",
        "post",
        "type-post",
        "status-publish",
        "format-standard",
        "hentry",
        "category-artikel-id",
        "category-newsletter-id"
    ],
    "yoast_head": "<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Perjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa. Terutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat. Pembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"SGP Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-04-08T11:03:24+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin sgp\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin sgp\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"15 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin sgp\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2\"},\"headline\":\"Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida\",\"datePublished\":\"2020-04-08T11:03:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/\"},\"wordCount\":2915,\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Newsletter\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/\",\"url\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/\",\"name\":\"Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-04-08T11:03:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#website\",\"url\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\",\"name\":\"SGP Indonesia\",\"description\":\"The GEF Small Grants Programme\",\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#organization\",\"name\":\"SGP Indonesia\",\"url\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/logo-sgp-png.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/11\\\/logo-sgp-png.webp\",\"width\":624,\"height\":240,\"caption\":\"SGP Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/en\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2\",\"name\":\"admin sgp\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin sgp\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/sgp-indonesia.org\\\/id\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->",
    "yoast_head_json": {
        "title": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia",
        "robots": {
            "index": "index",
            "follow": "follow",
            "max-snippet": "max-snippet:-1",
            "max-image-preview": "max-image-preview:large",
            "max-video-preview": "max-video-preview:-1"
        },
        "canonical": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/",
        "og_locale": "id_ID",
        "og_type": "article",
        "og_title": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia",
        "og_description": "Perjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa. Terutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat. Pembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat...",
        "og_url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/",
        "og_site_name": "SGP Indonesia",
        "article_published_time": "2020-04-08T11:03:24+00:00",
        "author": "admin sgp",
        "twitter_card": "summary_large_image",
        "twitter_misc": {
            "Ditulis oleh": "admin sgp",
            "Estimasi waktu membaca": "15 menit"
        },
        "schema": {
            "@context": "https:\/\/schema.org",
            "@graph": [
                {
                    "@type": "Article",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/#article",
                    "isPartOf": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/"
                    },
                    "author": {
                        "name": "admin sgp",
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/person\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2"
                    },
                    "headline": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida",
                    "datePublished": "2020-04-08T11:03:24+00:00",
                    "mainEntityOfPage": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/"
                    },
                    "wordCount": 2915,
                    "publisher": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization"
                    },
                    "articleSection": [
                        "Artikel",
                        "Newsletter"
                    ],
                    "inLanguage": "id"
                },
                {
                    "@type": "WebPage",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/",
                    "url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/",
                    "name": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida - SGP Indonesia",
                    "isPartOf": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#website"
                    },
                    "datePublished": "2020-04-08T11:03:24+00:00",
                    "breadcrumb": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/#breadcrumb"
                    },
                    "inLanguage": "id",
                    "potentialAction": [
                        {
                            "@type": "ReadAction",
                            "target": [
                                "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/"
                            ]
                        }
                    ]
                },
                {
                    "@type": "BreadcrumbList",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/lebih-mudah-menemukan-hotel-dibanding-ladang-di-nusa-penida\/#breadcrumb",
                    "itemListElement": [
                        {
                            "@type": "ListItem",
                            "position": 1,
                            "name": "Beranda",
                            "item": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/"
                        },
                        {
                            "@type": "ListItem",
                            "position": 2,
                            "name": "Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida"
                        }
                    ]
                },
                {
                    "@type": "WebSite",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#website",
                    "url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/",
                    "name": "SGP Indonesia",
                    "description": "The GEF Small Grants Programme",
                    "publisher": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization"
                    },
                    "potentialAction": [
                        {
                            "@type": "SearchAction",
                            "target": {
                                "@type": "EntryPoint",
                                "urlTemplate": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/?s={search_term_string}"
                            },
                            "query-input": {
                                "@type": "PropertyValueSpecification",
                                "valueRequired": true,
                                "valueName": "search_term_string"
                            }
                        }
                    ],
                    "inLanguage": "id"
                },
                {
                    "@type": "Organization",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#organization",
                    "name": "SGP Indonesia",
                    "url": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/",
                    "logo": {
                        "@type": "ImageObject",
                        "inLanguage": "id",
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/logo\/image\/",
                        "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo-sgp-png.webp",
                        "contentUrl": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/logo-sgp-png.webp",
                        "width": 624,
                        "height": 240,
                        "caption": "SGP Indonesia"
                    },
                    "image": {
                        "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"
                    }
                },
                {
                    "@type": "Person",
                    "@id": "http:\/\/sgp-indonesia.org\/en\/#\/schema\/person\/d6bf47098fa5f31c31a04fc94f310ae2",
                    "name": "admin sgp",
                    "image": {
                        "@type": "ImageObject",
                        "inLanguage": "id",
                        "@id": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "url": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "contentUrl": "https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d88366d25fd8c2d1677029b3d965c9abb35be9cea6b1aac3dc2fba30a4f22772?s=96&d=mm&r=g",
                        "caption": "admin sgp"
                    },
                    "url": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/author\/admin\/"
                }
            ]
        }
    },
    "_links": {
        "self": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/918",
                "targetHints": {
                    "allow": [
                        "GET"
                    ]
                }
            }
        ],
        "collection": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"
            }
        ],
        "about": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"
            }
        ],
        "author": [
            {
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"
            }
        ],
        "replies": [
            {
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=918"
            }
        ],
        "version-history": [
            {
                "count": 0,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/918\/revisions"
            }
        ],
        "wp:attachment": [
            {
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=918"
            }
        ],
        "wp:term": [
            {
                "taxonomy": "category",
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=918"
            },
            {
                "taxonomy": "post_tag",
                "embeddable": true,
                "href": "https:\/\/sgp-indonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=918"
            }
        ],
        "curies": [
            {
                "name": "wp",
                "href": "https:\/\/api.w.org\/{rel}",
                "templated": true
            }
        ]
    }
}