<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bulukumba Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/bulukumba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/bulukumba/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 11:12:14 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Bulukumba Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/bulukumba/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 15 Oct 2025 10:02:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Mitra]]></category>
		<category><![CDATA[Trade Expo Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17268</guid>

					<description><![CDATA[<p>(15/10/2025) Trade Expo Indonesia&#160;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&#160;event&#160;ini,&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat. Dari&#160;penerima hibah&#160;menjadi&#160;pelaku pasar. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&#160;TEI&#160;2025. Lewat&#160;event&#160;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan. Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png" alt="" class="wp-image-17269" style="width:840px;height:auto" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Booth GEF SGP di Pameran Trade Expo Indonesia 2025.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(15/10/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/trade-expo-indonesia">Trade Expo Indonesia</a>&nbsp;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&nbsp;<em>event</em>&nbsp;ini,&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat.</p>



<p>Dari&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/penerima-hibah">penerima hibah</a>&nbsp;menjadi&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/pelaku-pasar">pelaku pasar</a>. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tei">TEI</a>&nbsp;2025. Lewat&nbsp;<em>event</em>&nbsp;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan.</p>



<p>Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan hasilnya. Tapi ada satu hal yang mengganjal.</p>



<p>“Tak dapat dipungkiri, model ini memang telah mendorong berbagai pekerjaan luar biasa yang dihasilkan dari setiap wilayah mitra. Kendati demikian, sering kali meninggalkan satu pertanyaan penting yang belum terjawab: Apa yang terjadi ketika dana hibah berakhir?” ujar Sidi dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (14/10/2025).</p>



<p>Tentunya, pertanyaan ini cukup menantang. Ada jawaban yang lebih berkelanjutan menanti. Nah, jawaban itulah yang dibawa ke panggung nasional TEI. Ya, pameran bukan sembarang pameran. Melalui&nbsp;<em>event</em>&nbsp;itu, GEF SGP Indonesia mau menggeser peran penyandang dana tradisional menjadi pembuat pasar yang proaktif.</p>



<p>Trade Expo Indonesia (TEI), merupakan ajang perdagangan dan investasi nasional yang menjadi tempat pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli internasional. Sidi mengatakan pihaknya tidak cuma menampilkan laporan dan foto, melainkan produk nyata, layak investasi, dan siap dipasarkan dari komunitas yang mereka dampingi.</p>



<p>“Kita di dunia di mana konsumen dan pembeli B2B kian menuntut transparansi dan tujuan jelas. Nah, cerita di balik produk menjadi nilai terbesarnya. Di TEI, kami tidak hanya menjual madu; kami menampilkan hubungan erat kami dengan petani kopi dan keterkaitan mereka dengan habitat alami,” kata Sidi.</p>



<p>Menurut dia, hubungan antarrelasi manusia menciptakan dampak yang sangat kuat. Salah satunya adalah pemberdayaan komunitas. Pihaknya membawa kisah-kisah komunitas di daerah ke panggung nasional untuk memberikan pengakuan atas kerja kerasnya mereka selama ini.</p>



<p>“Kami ingin menyampaikan pesan kepada para mitra komunitas, bahwa mereka bukan penerima bantuan; mereka adalah inovator, pengusaha, dan penjaga modal alam bangsa kita,” terang Sidi.</p>



<p>Tidak bisa dipungkiri, perjalanan dari proyek berbasis komunitas hingga ke panggung nasional bukanlah jalan sunyi. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dengan mitra berpikiran maju, mulai dari sektor swasta, pemerintah hingga lembaga keuangan.</p>



<p>“Kami mencari mitra yang melihat apa yang kami lihat: bahwa berinvestasi dalam usaha berbasis komunitas bukan sekadar CSR, melainkan investasi strategis dalam rantai pasok yang lebih stabil, berkelanjutan, dan adil bagi Indonesia,” tutup Sidi.</p>



<p>Kementerian Perdagangan menggelar Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 ke-40 pada 15-19 Oktober 2025 dengan mengusung tema &#8220;<em>Discover Indonesia&#8217;s Excellence: Trade Beyond Boundaries</em>&#8220;. Ajang yang digelar di ICE BSD City ini menjadi tempat bertemu para eksportir dan importir untuk dapat bertransaksi hingga menarik investasi.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/15/100254/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 22 Aug 2025 20:34:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[UNDP]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17182</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents. A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17183" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1536x864.png 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents.</p>



<p>A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a university in Makassar, juggling his classes with part-time work as an embroidery operator and designer. Later, he moved to Morowali for another job. Yet, after 12 long years away from his hometown, his biggest decision wasn’t about climbing the corporate ladder, it was about going home to Kahayya village in Bulukumba, to start over as a coffee farmer.</p>



<p>“I wanted to be closer to my family, especially since my parents are getting older. Besides, coffee farming provides enough to meet daily needs,” Hamzah explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Planting Coffee, Preserving Heritage</strong></h3>



<p>Hamzah’s choice was not a nostalgic retreat but a conscious decision to protect his family’s legacy and build a sustainable future. His parents passed down three hectares of farmland, divided among him and his six siblings. Their only wish: that the land should not be left idle, but cultivated. Hamzah has already fulfilled that wish, planting coffee across one hectare of the land.</p>



<p>Coffee farming, in fact, runs deep in his bloodline. For generations, the people of Kahayya—including Hamzah’s ancestors—have lived from coffee. “Almost everyone here is a coffee farmer. Since childhood, even when we went to school in the morning, we’d spend the rest of the day helping in the fields,” Hamzah recalled.</p>



<p>From planting seedlings to harvesting ripe cherries, known as&nbsp;<em>petik merah</em>, the technique of picking only fully ripened beans, Hamzah learned everything from his parents. He didn’t make this journey alone, either. With support from the&nbsp;<a href="https://www.thegef.org/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Global Environment Facility (GEF)&nbsp;</a>Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Hamzah received training in sustainable farming and coffee processing. The results speak for themselves: in just two years, his farm has yielded up to one ton of Arabica coffee.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.undp.org/sites/g/files/zskgke326/files/styles/wysiwyg_full_width/public/2025-08/whatsapp_image_2025-08-01_at_10.45.54.jpeg?itok=wu-KaTBD" alt="A woven basket filled with coffee cherries on the ground among green leaves and dried foliage."/></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>A Simpler, Fuller Life</strong></h3>



<p>The first months back home felt unfamiliar after years in the city. But soon, the tranquility of village life replaced his unease. “It felt strange at first. But now it’s better, life is calmer and more comfortable here,” Hamzah shared.</p>



<p>Coffee farming has given him something city jobs could not: freedom. In Kahayya, he enjoys autonomy over his time and embraces a&nbsp;<em>slow living</em>&nbsp;lifestyle, finding meaning in every step of the farming process. “Farming is liberating. There’s no boss pressuring you every day. You just need discipline. Whether I start in the morning or afternoon, it’s up to me,” he said with a smile.</p>



<p>Now, Hamzah is dreaming bigger. Together with his family, he is transforming their coffee plantation into an eco-tourism destination. Plans are underway to welcome visitors for coffee-picking activities and educational tours. “We want to make it more than just camping, we want people to learn about coffee, too,” he explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Inspiring the Next Generation of Farmers</strong></h3>



<p>Despite the promise of coffee farming, Hamzah notices how few young people in his village are following the same path. Agriculture is often seen as an undesirable career compared to city jobs. Hamzah hopes his story can inspire others to change that mindset.</p>



<p>“Not many young people here want to become coffee farmers. Most still dream of working in the city. My message is: don’t feel ashamed of being a farmer, especially a coffee farmer. Coffee has great potential, and it can really provide for us,” Hamzah emphasized.</p>



<p>With his academic background in forestry, his passion for his homeland, and his determination to nurture both his family’s legacy and the environment, Hamzah shows that farming is not a step backward. It’s a way forward, toward economic resilience, environmental sustainability, and a life rooted in meaning.</p>



<p>Every coffee bean Hamzah plants carries a message: going back to the village is not a retreat, but a leap toward a more grounded and sustainable future.</p>



<p>Sumber: https://www.undp.org/indonesia/stories/brewing-hope-young-farmers-journey-home</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Secangkir Kopi, Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi Petani Lokal Jadi Sorotan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/di-balik-secangkir-kopi-ketahanan-pangan-dan-peningkatan-ekonomi-petani-lokal-jadi-sorotan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 22 Aug 2025 14:30:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Pesona 2025]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17145</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/8/2025) Pernahkah Anda berpikir, secangkir kopi premium yang Anda nikmati pagi ini punya andil dalam menjaga kelestarian hutan dan memberdayakan komunitas di pelosok negeri? Inilah narasi kuat yang mengemuka dalam Festival Perhutanan Sosial Nasional (Pesona) 2025, sebuah perhelatan akbar yang digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (20/8/2025). Bukan sekadar pameran, acara yang dihelat&#160;Kementerian Kehutanan&#160;ini menjadi panggung strategis bagi hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang kini menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung. Festival ini membuktikan secara konkret bahwa konservasi dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan, mengubah area yang rentan konflik menjadi pusat pertumbuhan ekonomi hijau. Jika dulu hutan negara...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/di-balik-secangkir-kopi-ketahanan-pangan-dan-peningkatan-ekonomi-petani-lokal-jadi-sorotan/">Di Balik Secangkir Kopi, Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi Petani Lokal Jadi Sorotan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32.png" alt="" class="wp-image-17147" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-32-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat menjadi narasumber di <a href="https://www.suara.com/tag/festival-pesona-2025">Festival Pesona 2025</a>, Rabu (20/8/2025).(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/8/2025) Pernahkah Anda berpikir, secangkir <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a> premium yang Anda nikmati pagi ini punya andil dalam menjaga kelestarian hutan dan memberdayakan komunitas di pelosok negeri? Inilah narasi kuat yang mengemuka dalam Festival Perhutanan Sosial Nasional (Pesona) 2025, sebuah perhelatan akbar yang digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (20/8/2025).</p>



<p>Bukan sekadar pameran, acara yang dihelat&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kementerian-kehutanan">Kementerian Kehutanan</a>&nbsp;ini menjadi panggung strategis bagi hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang kini menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung. Festival ini membuktikan secara konkret bahwa konservasi dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan, mengubah area yang rentan konflik menjadi pusat pertumbuhan ekonomi hijau.</p>



<p>Jika dulu hutan negara kerap dianggap sebagai &#8216;benteng&#8217; yang terlarang bagi masyarakat sekitar, kini konsepnya berbalik. Perhutanan sosial membuka akses legal bagi masyarakat untuk turut mengelola dan memetik manfaat dari hutan secara lestari. Hasilnya bukan hanya komoditas, tetapi juga lahirnya rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif untuk menjaga aset alam yang tak ternilai.</p>



<p>Acara ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan para petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPS) dengan para calon pembeli (offtaker) potensial. Lebih dari itu, ini adalah ajang untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan, di mana semua pemangku kepentingan dapat bersinergi.</p>



<p>Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Catur Endah Prasetiani Pamungkas, menggarisbawahi peran krusial lembaga nonpemerintah dalam membesarkan para&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/petani-kopi">petani kopi</a>&nbsp;skala UMKM. Salah satu yang ia sebut adalah Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang terbukti menjadi mitra andal di lapangan.</p>



<p>Menurut Catur Endah, model pendampingan ideal membutuhkan kolaborasi solid.&nbsp;<em>“Dalam mendampingi kelompok perhutanan sosial perlu sinergi kolaborasi, tidak hanya antar kementerian, namun juga dengan lembaga dan pemerintah daerah,”</em>&nbsp;ujarnya.</p>



<p><strong>Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Kopi</strong></p>



<p>Lalu, bagaimana cara menjaga semangat petani agar tak hanya menanam, tapi juga merawat ekosistem? Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, membeberkan formulanya saat menjadi narasumber temu usaha.</p>



<p>GEF SGP Indonesia merupakan salah satu lembaga yang dinilai turut membesarkan petani kopi tingkat lokal. Sidi Rana Menggala mengakui lembaganya memang tidak sebesar lembaga dunia lainnya. Tapi, Sidi mengatakan hingga kini hanya GEF SGP Indonesia yang bertahan.</p>



<p><em>“Lembaga lain yang memberi donor itu udah pada stop, cuma kami dari tahun 1993 sampai sekarang bertahan,”</em>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p>Sidi juga mengungkap cara mempertahankan minat petani binaan merawat pohon kopi dengan mendapatkan kontrak bertani dari pembeli.Dengan terserapnya, hasil panen petani di harga stabil, pembeli bisa memberikan kepastian finansial menjadi pelanggan setia dan memberikan insentif bagi petani agar menjaga kesehatan pohon demi mendapatkan hasil panen baik.</p>



<p>Ilmuwan bioteknologi tersebut mengatakan berbagai proyek yang tersebar seantero Indonesia serta didukung oleh GEF SGP Indonesia menggambarkan bagaimana perhutanan sosial bisa memberdayakan masyarakat sekitar.</p>



<p><em>“Sebagai contoh, di Jawa dan Sulawesi, kelompok-kelompok lokal telah merevitalisasi lahan hutan yang terdegradasi sambil mengembangkan mata pencaharian ramah lingkungan yang mengurangi ketergantungan pada praktik penebangan yang merusak,”</em>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p>Dalam pemaparannya, Sidi juga menceritakan tentang program GEF SGP Indonesia yang fokus terhadap pemeliharaan ekosistem di daerah aliran sungai, terutama terkait peningkatan ekonomi melalui kopi lestari, kesejahteraan warga serta pemberdayaan perempuan di wilayah tersebut. Dua wilayah tersebut yakni Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri dan DAS Balantieng.</p>



<p>Di DAS Bodri, misalnya, fokus ke wilayah Temanggung, Kendal dan Wonosobo, Jawa Tengah. Ada sekitar 481 hektare lahan pertanian kopi Robusta, Arabika hingga Liberica yang diampu 8 kelompok tani bagian dari program GEF SGP Indonesia Tak hanya itu, program itu juga berhasil meningkatkan partisipasi 608 perempuan di wilayah tersebut.</p>



<p>Sementara di DAS Balantieng, fokus area program berada di wilayah Bulukumba dan Sinjai, Sulawesi Selatan. Ada dua jenis kopi, yakni Arabica dan Robusta, yang ditanam 283 hektare lahan dengan melibatkan 2 kelompok tani. Program tersebut berhasil meningkatkan partisipasi 176 perempuan di wilayah tersebut.</p>



<p><em>&#8220;Ini juga yang menjadi esensial bagi kami. Kami menyadari bahwa kami sebagai GEF SGP tidak bisa bekerja sendiri. Dalam program, kami bekerja dengan mitra-mitra di tingkat lapak. Saat ini kami bekerja dengan lebih dari 70 mitra, di mana tiap mitra kami memberikan terbesar sampai 60 ribu dolar,&#8221;</em>&nbsp;tutur Sidi.</p>



<p><strong>Bukan Cuma Sertifikasi, Cerita Itu Mahal</strong></p>



<p>Di tengah geliat ini, Sekretaris Jenderal Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Gusti Laksamana, memberikan perspektif menarik. Menurutnya, untuk memikat pembeli kelas atas, sertifikasi saja tidak cukup. Ada elemen magis lain yang sangat menentukan: narasi.</p>



<p>Pesan Gusti ini sangat relevan di era konsumen cerdas saat ini. Pembeli kopi spesialti, baik di dalam maupun luar negeri, tidak lagi hanya membeli produk; mereka membeli cerita, etika, dan dampak. Kemampuan petani untuk menarasikan keunikan lahan (terroir), proses pascapanen yang cermat, dan dampak sosial dari usaha mereka menjadi pembeda utama di pasar yang kompetitif.</p>



<p><em>“Untuk itu, saya mengingatkan petani untuk jujur dalam mengemas kualitas kopi yang dikirim, baik ke kompetisi maupun ke pembeli,”</em>&nbsp;ujar Gusti Laksmana.</p>



<p>Nasihat praktis juga datang dari eksportir, Yan Razif, yang menyoroti pentingnya proses pascapanen. Ia mengimbau agar petani menjaga profesionalisme hingga ke detail terkecil, seperti menempatkan mesin pengolahan di ruangan yang bersih dan tertutup layaknya fasilitas manufaktur modern. Tujuannya sederhana: menjaga kualitas mesin dan, tentu saja, kualitas akhir biji kopi.</p>



<p>Festival Pesona 2025 sendiri, yang mengusung tema&nbsp;<em>“Merawat Hutan, Mewariskan Harapan,”</em>&nbsp;berlangsung pada 20–22 Agustus 2025. Selain seminar dan temu bisnis, acara ini juga menghadirkan sesi cupping kopi. Ini adalah momen krusial di mana seluruh narasi—mulai dari lereng gunung, kerja keras petani, hingga proses pengolahan yang teliti—bermuara pada satu titik: cita rasa di ujung lidah.</p>



<p>Pada akhirnya, festival ini mengingatkan kita bahwa setiap seruputan kopi berkualitas adalah bentuk dukungan nyata. Sebuah pilihan konsumen yang tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga merawat hutan dan mewariskan harapan untuk masa depan.</p>



<p>Tidak tanggung-tanggung, acara tersebut juga dihadiri sebanyak 20 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari seluruh Indonesia yang berfokus pada agroforestri kopi, para pembuat keputusan jaringan gerai kopi nasional, pegiat perhutanan sosial, perwakilan masyarakat adat, hingga perwakilan dari Kementerian Koperasi dan Kementerian Perdagangan.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/08/22/132037/di-balik-secangkir-kopi-ketahanan-pangan-dan-peningkatan-ekonomi-petani-lokal-jadi-sorotan</p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/di-balik-secangkir-kopi-ketahanan-pangan-dan-peningkatan-ekonomi-petani-lokal-jadi-sorotan/">Di Balik Secangkir Kopi, Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi Petani Lokal Jadi Sorotan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Akar, Cerita Hamzah Sarjana Kehutanan yang Memilih Bertani Kopi di Desa Kahayya</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 07 Jul 2025 06:23:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Kahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17056</guid>

					<description><![CDATA[<p>(7/7/2025) Kota memang menjanjikan beragam kemudahan dan kesempatan. Status sosial hingga ekonomi pun bisa meningkat. Tapi, hiruk-pikuk kota tidak membuat Hamzah, 29 tahun, bergeming. Di saat anak-anak muda berlomba untuk ‘menantang’ kehidupan kota, Hamzah malah kembali ke desa: Tujuannya ada dua: bertani kopi dan lebih dekat dengan keluarga. Lulusan S1 fakultas kehutanan ini emoh menetap setelah bertahun-tahun mencicipi hiruk pikuk Kota Makassar dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Selatan. Dia memilih kembali ke kampung di Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, untuk menghidupkan kembali ladang kopi peninggalan orang tuanya. Di Kota Makassar, Hamzah menimba ilmu di salah satu universitas. Sambil mencicipi bangku kuliah, dia pun bekerja sebagai...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya/">Kembali ke Akar, Cerita Hamzah Sarjana Kehutanan yang Memilih Bertani Kopi di Desa Kahayya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7.png" alt="" class="wp-image-17057" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-7-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Hamzah, sarjana fakultas kehutanan, kembali ke Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sulawesi Selatan, untuk membersamai orangtua dan bertani <a href="https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/07/163430/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya#"><br> kopi</a>.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(7/7/2025) <em>Kota memang menjanjikan beragam kemudahan dan kesempatan. Status sosial hingga ekonomi pun bisa meningkat. Tapi, hiruk-pikuk kota tidak membuat Hamzah, 29 tahun, bergeming. Di saat anak-anak muda berlomba untuk ‘menantang’ kehidupan kota, Hamzah malah kembali ke desa: Tujuannya ada dua: bertani <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a> dan lebih dekat dengan keluarga.</em></p>



<p>Lulusan S1 fakultas kehutanan ini emoh menetap setelah bertahun-tahun mencicipi hiruk pikuk Kota Makassar dan Kabupaten Morowali, <a href="https://www.suara.com/tag/sulawesi-selatan">Sulawesi Selatan</a>. Dia memilih kembali ke kampung di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-kahayya">Desa Kahayya</a>, Kecamatan Kindang, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/bulukumba">Bulukumba</a>, untuk menghidupkan kembali ladang kopi peninggalan orang tuanya.</p>



<p>Di Kota Makassar, Hamzah menimba ilmu di salah satu universitas. Sambil mencicipi bangku kuliah, dia pun bekerja sebagai operator dan desain bordir. Bertahun-tahun di Kota Makassar, Hamzah pun memutuskan untuk pindah kerja di Kabupaten Morowali. Namun, putusan terbesarnya adalah ketika kembali ke desa untuk bertani kopi. </p>



<p>Ya, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Dia menyudahi 12 tahun masa perantauan di luar Desa Kahayya hanya demi keinginan lebih dekat dengan keluarga. Apalagi, orangtua Hamzah di desa sudah beranjak tua. Tentunya, butuh perhatian Hamzah. Kekinian, sudah hampir 3 tahun dirinya menetap di desa untuk bertani kopi.</p>



<p>“Saya sempat kerja di Makassar, lalu ke Morowali. Sekitar 2-3 tahun terakhir, saya kembali ke Kahaya untuk bertani kopi. Saya meninggalkan kota dan kembali ke desa karena ingin lebih dekat kepada keluarga. Selain orangtua yang lumayan tua, saya menyadari hasil kopi lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hamzah saat ditemui, beberapa waktu lalu.</p>



<p>Menurut Hamzah, penghasilan yang didapat baik dari kota maupun di desa sejatinya tidak berbeda jauh. Bahkan, kata dia, jumlah penghasilannya relatif sama. Tapi yang membedakan, tentunya intensitas pendapatannya. Di kota, dia mendapatkan pendapatan bulanan. Di desa, berbeda. Dia memantik penghasilan per musim dari kopi.</p>



<p>“Pendapatan dari kopi dengan dari pekerjaan di kota, nominalnya hampir sebanding. Cuma kan kalau kerja di kota itu pendapatannya per bulan. Sementara, kopi itu (pendapatannya) per musim. Tapi kalau untuk angkanya, ya sebandung. Di sisi lain, kalau di sini (Desa Kahayya) kan sudah dekat sama keluarga,” terang Hamzah.</p>



<p><strong>Menanam Kopi, Merawat Warisan Keluarga</strong></p>



<p>Langkah Hamzah kembali ke desa memang bukan sekadar romantisme masa lalu. Tapi, langkah tersebut merupakan keputusan sadar untuk menjaga warisan keluarga–berupa tanah ladang–sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.</p>



<p>Orangtua Hamzah mewarisi sekitar 3 hektare ladang. Tanah tersebut dibagikan ke Hamzah dan 6 saudaranya. Wasiatnya hanya ingin agar tanah yang kosong tersebut, ditanami kembali. Kekinian, Hamzah sudah memenuhi wasian orangtua tersebut. Kurang lebih 1 hektare tanah ladang sudah ditanami kopi oleh Hamzah.</p>



<p>“Saya ada tujuh bersaudara, jadi tanah itu dibagi. Ada wasiat dari orangtua agar lahan yang kosong ditanam kembali. Sekarang, saya sudah menanam kurang dari 1 hektare. Memang belum sepenuhnya karena saya baru tinggal di desa,” terang Hamzah.</p>



<p>Kopi memang bukan benda yang asing bagi keluarga Hamzah. Selama beberapa generasi, kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Hamzah. Ia mengenang bagaimana kehidupan di Desa Kahayya sejak dulu selalu berkaitan erat dengan tanaman kopi. Dari nenek moyang hingga orangtua Hamzah, semuanya mayoritas petani kopi.</p>



<p>“Kalau di kopi, sebenarnya orangtua dan nenek moyang itu mayoritas petani kopi. Sudah lama terjun ke pertanian kopi. Jadi, meski merantau atau keluar sekolah saat pagi, tetap kita terjunnya ke kebun kopi. Namun, saat ini orangtua lebih banyak di rumah. Saya yang turun ke ladang,” ujar Hamzah.</p>



<p>Nggak cuma itu, Hamzah pun mengaku mendapatkan ilmu tentang kopi dari keluarganya. Saban hari. Hamzah bersama orangtua dan keluarga lainnya dibiasakan untuk turun ke kebun. Selama itu, dia kerap melihat aktivitas keluarganya di ladang, dari mulai menanam, memetik merah hingga proses lain terkait kopi.</p>



<p>Mengutip laman Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, petik merah yakni memanen buat kopi yang sudah memerah. Keuntungannya yakni mutu buahnya bagus sehingga biji kering bermutu baik. Petik merah memiliki tantangan yakni harus mengejar kematangan yang tepat. Buah kopi tidak akan dibiarkan terlewat masak dan yang belum masak tidak akan dipetik.</p>



<p>Nah, dalam proses bertani, Hamzah tak sendiri. Ia mendapatkan dukungan dari program <em>Global Environment Facility (GEF) Small Grants Programme (SGP) Indonesia</em> yang memberikan pelatihan dan pendampingan. Program ini memperkenalkannya pada praktik pertanian berkelanjutan dan pengolahan kopi berkualitas.</p>



<p>Jumlah panennya pun terbilang cukup menggiurkan selama dua tahun Hamzah bertani <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a>. Dari panen terakhir bersama orangtua, misalnya, Hamzah berhasil menghasilkan sekitar satu ton kopi. Adapun jenis yang paling awam ditanam di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-kahayya">Desa Kahayya</a> yakni kopi jenis Arabika.</p>



<p>“Kurang lebih (panen) satu ton. Saya kan tujuh bersaudara. Setiap orang panennya berbeda. Yang satu ton itu saya dan orangtua. <a href="https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/07/163430/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya?page=2#">Kopi</a> yang ditanam di sini jenis Arabica. Di sini fokusnya ke Arabica. Untuk varietasnya, para petani tidak tahu menahu. Mereka tahunya Arabica,” tutur Hamzah.</p>



<p><strong>Hidup Tenang, Mandiri, dan Lebih Bermakna</strong></p>



<p>Setelah lebih dari satu dekade merantau, Hamzah mengaku sempat merasa asing saat pertama kali kembali. Namun, perasaan itu perlahan sirna tergantikan oleh kenyamanan hidup di kampung halaman yang damai dan tenang. Hamzah mengaku, “rasanya masih agak asing. Tapi hidup di sini lebih enak, lebih nyaman dan tenang di kampung.”</p>



<p>Bertani kopi memang memberikan Hamzah kebebasan. Nggak cuma itu, dia juga mendapatkan otonomi yang tidak dia rasakan saat bekerja di kota besar. Bahkan, selama menetap di Desa Kahayya, Hamzah mengadopsi gaya slow living, yakni konsep hidup yang lebih bermakna dan menikmati segala sesuatunya. Dalam hal ini, Hamzah menikmati ritme hidup sebagai petani.</p>



<p>“Seru. Gak ada tekanan juga. Kan kalau kerja di luar itu, ada atasan. Kemungkinan besar ada tekanan setiap hari. Nah, kalau bertani itu bebas. Yang penting disiplin, mau pagi keluar atau siang. Kita yang mengatur sendiri,” cerita Hamzah mensyukuri hidupnya kini.</p>



<p>Hamzah pun tak puas hanya bertani kopi. Kini, dia dan keluarganya ternyata tengah mengembangkan lahan kebun kopi menjadi destinasi wisata berbasis alam. Bahkan, mereka menyiapkan segala fasilitas umum untuk pengunjung hingga strategi untuk membuka kemungkinan wisata edukatif.</p>



<p>“Kami juga mau mengadakan kegiatan wisata sambil petik kopi. Jadi pengembangannya nggak sekadar camping. Tapi ada edukasi soal kopi,” kata Hamzah.</p>



<p><strong>Anak Muda Jangan Gengsi Jadi Petani</strong></p>



<p>Nah, sebagai anak muda yang memilih kembali bertani di desa, Hamzah menyadari minimnya keterlibatan generasi muda. Apalagi kekinian, pertanian bukanlah salah satu bidang yang paling diminati anak-anak muda. Karena itu, dia berharap kisahnya bisa menginspirasi pemuda lain agar tidak ragu memilih jalur yang serupa.</p>



<p>“Saat ini tidak banyak petani kopi yang muda. Apalagi, sekarang juga orientasi anak muda itu pengen kerja di kota. Ini yang sekarang saya rasakan selama tinggal di desa. Dari saya untuk anak muda, jangan gengsi untuk bertani, terutama bertani kopi. Apalagi kopi seperti yang dikenali di sini, cukup menjanjikan untuk para pemuda,” ungkap Hamzah.</p>



<p>Dengan latar belakang akademis di bidang kehutanan, serta kecintaan terhadap tanah kelahirannya, Hamzah menunjukkan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang menjanjikan—bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup.</p>



<p>“Kalau dari segi perbedaan di kota atau di kampung sendiri, banyak sekali. Mulai dari kedekatan kita sama keluarga, apalagi mayoritas (keluarga) ada di kampung. Nah, kalau dari segi pendapatan, dengan nominal atau jumlah yang sama tentunya lebih senang (tinggal) di kampung,” terang Hamzah.</p>



<p>Apalagi, imbuh dia, melihat perkembangan kopi sekarang dibanderol dengan harga yang cukup menjanjikan ke depannya. Hal itulah salah satunya yang membuat dirinya enggan untuk kembali mencicipi hingar bingar kota.</p>



<p>“Saat ini saya belum kepikiran untuk kembali ke kota, masih kepengen di kampung,” kata Hamzah.</p>



<p>Dengan setiap biji kopi yang disemai, Hamzah menanam harapan: bahwa kembali ke desa bukan kemunduran, melainkan langkah maju untuk hidup. Dia kini lebih dekat dengan alam, keluarga, dan masa depan yang tentunya lestari cum berkelanjutan.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/07/163430/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kembali-ke-akar-cerita-hamzah-sarjana-kehutanan-yang-memilih-bertani-kopi-di-desa-kahayya/">Kembali ke Akar, Cerita Hamzah Sarjana Kehutanan yang Memilih Bertani Kopi di Desa Kahayya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival 3 Sungai di Bulukumba Hadirkan Generasi Berani dan Solusi Nyata: Merdeka dari Sampah Bukan Mimpi</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/festival-3-sungai-di-bulukumba-hadirkan-generasi-berani-dan-solusi-nyata-merdeka-dari-sampah-bukan-mimpi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sat, 28 Jun 2025 07:59:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[Festival 3 Sungai]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Arena Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17050</guid>

					<description><![CDATA[<p>(28/6/2025) Dua hari penuh hujan, 28-29 Juni 2025, Teater Arena Hutan Kota Bulukumba merona segar. Disini banyak aksi dan gagasan saling berpelukan hangat dalam Festival 3 Sungai. Poster-poster bertema green di Festival 3 Sungai berkibar pelan diterpa angin, seolah menatap setiap orang yang datang dengan tatapan menuntut: sudahkah kau peduli? Generasi Alpha yang berani bersuara Di Festival 3 Sungai kita bisa mendengarkan pengalaman Khumairah dari SMPN 10 Ujung Loe.  Ia tak bicara teori. Setiap pekan, dia bersama teman-temannya mengumpulkan plastik yang hanyut di sungai Balangtieng. Tak jarang, bau busuk menempel di tangan, sulit hilang sampai rumah. Kita juga bisa berkenalan dengan Nur Aena...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/festival-3-sungai-di-bulukumba-hadirkan-generasi-berani-dan-solusi-nyata-merdeka-dari-sampah-bukan-mimpi/">Festival 3 Sungai di Bulukumba Hadirkan Generasi Berani dan Solusi Nyata: Merdeka dari Sampah Bukan Mimpi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="480" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5.png" alt="" class="wp-image-17051" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5.png 720w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5-300x200.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5-600x400.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5-10x7.png 10w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, meresmikan Festival 3 Sungai di Teater Arena Hutan Kota pada Sabtu, 28 Juni 2025. /WartaBulukumba.com/</figcaption></figure>



<p>(28/6/2025) Dua hari penuh hujan, 28-29 Juni 2025, Teater Arena Hutan Kota Bulukumba merona segar. Disini banyak aksi dan gagasan saling berpelukan hangat dalam Festival 3 Sungai. </p>



<p>Poster-poster bertema green di Festival 3 Sungai berkibar pelan diterpa angin, seolah menatap setiap orang yang datang dengan tatapan menuntut: sudahkah kau peduli? </p>



<p><strong>Generasi Alpha yang berani bersuara</strong></p>



<p>Di Festival 3 Sungai kita bisa mendengarkan pengalaman Khumairah dari SMPN 10 Ujung Loe.  </p>



<p>Ia tak bicara teori. Setiap pekan, dia bersama teman-temannya mengumpulkan plastik yang hanyut di sungai Balangtieng. Tak jarang, bau busuk menempel di tangan, sulit hilang sampai rumah. </p>



<p>Kita juga bisa berkenalan dengan Nur Aena dari SMPN 40 Bontomanai yang bercerita bagaimana sampah sabun dan plastik sekali pakai bisa menyaru dedaunan kering.</p>



<p><strong>Dari dapur, lahir perubahan </strong></p>



<p>Festival 3 Sungai bukan hanya diskusi. Di sini ada tenda putih berdiri teduh untuk workshop kompos dapur. </p>



<p>Husniati Rauf dari Desa Kambuno menunjukkan cara membuat ecoenzym—larutan fermentasi yang bisa menjadi cairan pembersih serbaguna. </p>



<p>Para pengunjung juga bisa berkenalan dengan Siti Nur Aisyah Basry yang menyiapkan peralatan membuat sabun alami. Di meja kayu, barisan minyak kelapa, soda api, dan bunga kering tersusun rapi.</p>



<p><strong>Ancaman plastik di pesisir Bonto Bahari </strong></p>



<p>Diskusi lain membuka tabir yang lebih getir. Yuly Vernlianity dari Indo Ocean Project duduk bersama Rahmat Zul dari GaiaOne Restoration, Vasco Martins dari University of Portsmouth, dan moderator Indiz Essa Rutepa. </p>



<p>Plastik yang kita buang tak pernah benar-benar lenyap. Ia berpindah ke laut, menjerat penyu, masuk ke perut ikan, lalu menunggu di piring makan kita. </p>



<p>Jika tak ada perubahan drastis, ekosistem Bonto Bahari bisa ambruk dalam waktu lebih singkat dari yang diperkirakan.</p>



<p><strong>Kearifan lokal, jalan pulang yang terlupa</strong> </p>



<p>Diskusi tentang kearifan lokal akan dihelat pada hari kedua. Wahidin, perwakilan Masyarakat Kajang, duduk berdampingan dengan Sri Puswandi, petani gula aren alami. </p>



<p>Mereka akan bicara tentang kebiasaan lama—memilah sampah organik, tak menebang sembarangan, dan menanam pohon di bantaran sungai. </p>



<p>Di tengah krisis iklim, kearifan lokal bukan romantisme. Ia adalah jalan pulang.</p>



<p><strong>Cerita dari tiga sungai yang mengalir sampai hati </strong></p>



<p>Di panggung diskusi lainnya, ada Agus Riadi Maula, Anis Kurniawan, Andi M Ichdar YM, dan Sunarti Sain dalam diskusi “Cerita dari Tiga Sungai.” </p>



<p>Mereka berbicara bukan hanya dengan data, tapi dengan pengalaman. Bagaimana sungai menjadi halaman belakang masa kecil, sumber rezeki, dan saksi diam kebiasaan buruk yang lama dibiarkan. </p>



<p>Festival 3 Sungai Bulukumba bukan sekadar acara. Ia adalah ajakan pulang: menata ulang cara kita memandang limbah, sungai, dan tanggung jawab. Karena yang rusak bukan cuma air, tapi masa depan kita sendiri.</p>



<p><strong>Kolaborator Festival 3 Sungai </strong></p>



<p>Festival 3 Sungai Bulukumba bukan sekadar panggung diskusi. Ia berdiri berkat jejaring kolaborasi yang luas—mulai dari lembaga konservasi, komunitas seni, media lokal, hingga gerakan akar rumput. </p>



<p>Nama-nama seperti Kebun Bersama, ECOTON, Balang Institute, Teater Kampong, dan Kolaborasi Biru menjadi garda depan yang merancang acara ini sejak awal. Bersama Teras Production, Siring Bambu, KMPS, Inisiatif Balantieng, Lopi, dan Relawan Gesit Chapter Bulukumba, mereka merangkai program yang tak hanya menghibur, tapi juga membangkitkan kesadaran. </p>



<p>Dukungan juga datang dari University of Portsmouth yang berbagi perspektif riset, Pelangi Music School yang mengisi ruang seni, hingga Klik Hijau, KliSulsel.id, dan Bicara Baik.id yang menyebarkan kabar baik ke lebih banyak orang. </p>



<p>Tak ketinggalan Macaca Maura Project, Solam, Radar Selatan, Info Bulukumba, Refilltor, Kerja Jelas Production, Sulsel Network, A20 Project, dan para pemusik Bulukumba yang membuat festival ini terasa hidup. </p>



<p>Semua bersisian bersama sanggar seni, rumah baca, hingga komunitas pemuda—Sanggar Seni Turiolo Kajang, Rumah Buku, SSB Batugarumbing, dan Anu Bersama—menunjukkan bahwa menjaga sungai bukan kerja satu pihak, melainkan kerja bersama.***</p>



<p>Sumber:  <a href="https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/bulukumbanesia/pr-879453392/festival-3-sungai-di-bulukumba-hadirkan-generasi-berani-dan-solusi-nyata-merdeka-dari-sampah-bukan-mimpi?page=all">https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/bulukumbanesia/pr-879453392/festival-3-sungai-di-bulukumba-hadirkan-generasi-berani-dan-solusi-nyata-merdeka-dari-sampah-bukan-mimpi?page=all</a></p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/festival-3-sungai-di-bulukumba-hadirkan-generasi-berani-dan-solusi-nyata-merdeka-dari-sampah-bukan-mimpi/">Festival 3 Sungai di Bulukumba Hadirkan Generasi Berani dan Solusi Nyata: Merdeka dari Sampah Bukan Mimpi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sat, 14 Jun 2025 02:01:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17032</guid>

					<description><![CDATA[<p>(14/6/2025) Tiga wilayah di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, yakni Desa Manjalling, Desa Garanta, dan Kelurahan Dannuang, memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2002, budidaya ini terus tumbuh. Pada awal 2025, pemetaan partisipatif oleh komunitas Saukang mencatat bahwa luas lahan budidaya di tiga wilayah tersebut mencapai 710 hektare. Data ini juga digunakan untuk menyusun profil kampung budidaya. Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum, dua spesies dengan kandungan karagenan tinggi yang banyak dibutuhkan dalam industri makanan dan kosmetik. Permintaan terhadap karagenan cukup stabil, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor. Para petani menggunakan metode tali...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/">Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="800" height="600" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png" alt="" class="wp-image-17033" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png 800w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-300x225.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-768x576.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-16x12.png 16w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-600x450.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-10x8.png 10w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption">Andi Fatahuddin, Ketua Saukang saat meninjau lokasi rumput laut di Kelurahan Dannuang. @Jejakfakta/dok. Balang Institute</figcaption></figure>



<p>(14/6/2025) Tiga wilayah di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS)<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng"> Balantieng</a>, yakni Desa Manjalling, Desa Garanta, dan Kelurahan Dannuang, memiliki potensi besar dalam budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut"> rumput laut</a>. Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2002, budidaya ini terus tumbuh. Pada awal 2025, pemetaan partisipatif oleh<a href="https://jejakfakta.com/tag/komunitas-saukang"> komunitas Saukang</a> mencatat bahwa luas lahan budidaya di tiga wilayah tersebut mencapai 710 hektare. Data ini juga digunakan untuk menyusun profil kampung budidaya.</p>



<p>Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis<em><a href="https://jejakfakta.com/tag/eucheuma-cottonii"> Eucheuma cottonii</a> </em>and <em>Eucheuma spinosum</em>, dua spesies dengan kandungan karagenan tinggi yang banyak dibutuhkan dalam industri makanan dan kosmetik. Permintaan terhadap karagenan cukup stabil, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor.</p>



<p>Para petani menggunakan metode tali bentang; rata-rata satu bentangan memiliki panjang 16,5 meter. Hingga awal 2025, tercatat 202.099 tali bentangan dikelola oleh 318 kepala keluarga. Setiap keluarga rata-rata menghasilkan 1.206 kilogram<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;kering setiap musim panen (data Profil Kampung Budidaya Saukang 2025).</p>



<p>Kondisi geografis pesisir ini mendukung budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>. Wilayahnya berada di antara Laut Flores dan Selat Makassar, dengan arus laut yang cukup kuat dan kedalaman yang bervariasi. Selain itu, ada aliran air tawar dari Sungai<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;yang membantu menjaga kualitas lingkungan laut.</p>



<p>Di balik bentangan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>, perempuan memainkan peran penting. Mereka terlibat aktif dan menjadi tulang punggung dalam rantai produksi serta keberlanjutan ekonomi rumah tangga. Mulai dari menyiapkan bibit, mengikat tali, menjemur, menyortir, hingga mengolah<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;menjadi produk bernilai tambah, perempuan terlibat dalam setiap tahap secara aktif.</p>



<p><strong>Cerita<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;Climate Change</a>&nbsp;dari Petani</strong></p>



<p>Perubahan iklim kini dirasakan langsung oleh petani<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;di<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>. Mereka melihat sendiri bagaimana suhu air naik, musim hujan datang tidak menentu, dan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;mudah terserang penyakit. Tanaman jadi tumbuh lambat dan hasil panen menurun.</p>



<p>Muh. Nakir, salah satu petani, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, hasil panennya terus turun. &#8220;Rumput laut mudah sakit, pertumbuhannya lambat, daunnya layu dan gampang lepas dari tali, apalagi kalau cuaca sedang buruk,&#8221; katanya.</p>



<p>Saat banjir, tanaman banyak yang rusak atau terserang penyakit putih-putih (ice-ice). Saat kemarau, pertumbuhannya kerdil. Laut yang terlalu tenang juga membuat tanaman mudah tertempel kotoran.</p>



<p>Cuaca ekstrem terjadi sepanjang tahun. Angin kencang datang pada Januari–Februari. Banjir sering terjadi pada Mei–Juni. Ombak besar mengguncang laut pada September–November, bersamaan dengan musim kemarau. Kondisi ini juga menyulitkan nelayan dan petani lainnya.</p>



<p>&#8220;Sekarang melaut pun susah. Cuaca tidak bisa ditebak,&#8221; ujar Kasman, seorang nelayan dari Desa Garanta.</p>



<p>Selain cuaca, petani juga menghadapi harga<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;yang naik-turun. Mereka hanya bisa menjual ke tengkulak, yang membuat harga di tingkat petani tetap rendah. Sejak 2004, harga pernah berada di Rp2.500 per kilogram, lalu naik jadi Rp17.000, dan sempat melonjak ke Rp45.000 saat pandemi Covid-19. Namun, harga ini selalu berubah dan tidak stabil.</p>



<p><strong>Peran Saukang dan Inisiatif Komunitas</strong></p>



<p>Saukang, komunitas lokal yang fokus mendampingi masyarakat pesisir, berupaya memperkuat inisiatif warga melalui kegiatan partisipatif. Dalam berbagai pertemuan, warga diajak berbagi pengalaman dan mencatat siklus budidaya mereka. Dari sini lahirlah kalender aktivitas dan kalender musim yang berguna untuk beradaptasi dengan cuaca yang makin sulit diprediksi.</p>



<p>Saukang juga mendorong pelatihan untuk diversifikasi produk<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;di tingkat rumah tangga. Perempuan menjadi ujung tombak proses ini. Di Desa Manjalling, mereka membuat brownies<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>. Di Garanta, dodol<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;dengan gula pasir. Di Dannuang, dodol<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;dengan gula aren.</p>



<p>Saukang juga menjembatani warga dengan pihak luar, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi. Kolaborasi ini membuka peluang untuk mendapatkan dukungan, pengetahuan, dan kebijakan yang lebih berpihak.</p>



<p><strong>Kunjungan dan Dukungan</strong></p>



<p>Pada Juni 2025, inisiatif warga pesisir mendapat dukungan dari<a href="https://jejakfakta.com/tag/gef-sgp">&nbsp;GEF SGP</a>&nbsp;Indonesia. Dr. Sidi Rana Manggala, Koordinator Nasional<a href="https://jejakfakta.com/tag/gef-sgp">&nbsp;GEF SGP</a>, datang langsung ke Bulukumba dan mengajak berbagai pihak untuk melihat kondisi lapangan. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kelurahan Dannuang.</p>



<p>Kunjungan ini melibatkan berbagai pihak, seperti Prof. Eduardo de La Peña dari Ghent University Belgia, Syahidah, Ph.D. dari Universitas Hasanuddin, Dr. Rina Rachmawati dan Dr. Lenny Sri Nopriani dari Universitas Brawijaya, Viringga Kusuma dari AMATI Indonesia, dan Kris Supa dari PT Supa Surya Niaga. Mereka datang untuk memahami kerentanan iklim dan mencari solusi adaptasi serta peluang pasar.</p>



<p>Pada 11 Juni 2025, kunjungan dilanjutkan dengan menghadirkan tokoh nasional: Ir. Laksmi Dhewanthi, M.A. (mantan Dirjen<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;Climate Change</a>), Dr. Bambang Supriyanto (mantan Dirjen Perhutanan Sosial), dan Radityo Putro Hardito, Ph.D. dari Universitas Brawijaya.</p>



<p>Kehadiran mereka membuka ruang dialog antara warga, pemerintah, dan akademisi untuk mencari solusi terhadap krisis iklim yang dialami masyarakat pesisir.</p>



<p>Warga pesisir hilir<a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;terus menunjukkan ketangguhan di tengah tantangan<a href="https://jejakfakta.com/tag/perubahan-iklim">&nbsp;perubahan iklim</a>, harga yang tidak menentu, dan rantai pasok yang tidak adil. Mereka bukan hanya membudidayakan<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>, tetapi juga menjaga lingkungan hidup, menciptakan pengetahuan lokal, dan mengembangkan produk olahan.</p>



<p>Dengan peran aktif perempuan dan dukungan komunitas seperti Saukang, budidaya<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a>&nbsp;menjadi jalan hidup yang terhubung erat dengan laut dan cuaca. Keterlibatan akademisi dan pembuat kebijakan membuka harapan baru agar perubahan bisa terjadi.</p>



<p>Namun, agar semua upaya ini berkelanjutan, perlu ada kebijakan yang adil, harga yang menguntungkan petani, dan rantai pasok yang lebih pendek. Pesisir bukan hanya batas daratan, tapi garis depan menghadapi krisis iklim dan<a href="https://jejakfakta.com/tag/ketahanan-pangan">&nbsp;ketahanan pangan</a>. Di garis pantai itulah para petani<a href="https://jejakfakta.com/tag/rumput-laut">&nbsp;rumput laut</a><a href="https://jejakfakta.com/tag/balantieng">&nbsp;Balantieng</a>&nbsp;bertahan dan terus mencari cara hidup yang lebih adil.(*)</p>



<p>Sumber: https://jejakfakta.com/read/10122/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/rumput-laut-dan-perempuan-di-tengah-cuaca-tak-menentu/">Rumput Laut dan Perempuan di Tengah Cuaca Tak Menentu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GEF SGP Indonesia dan Konsorsium Lintas Sektor Perkuat Petani Hadapi Perubahan Iklim</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-konsorsium-lintas-sektor-perkuat-petani-hadapi-perubahan-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 10 Jun 2025 23:01:58 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Ghent]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=14255</guid>

					<description><![CDATA[<p>GEF SGP Indonesia – Sebuah konsorsium kolaboratif resmi diperkenalkan untuk memperkuat daya tahan petani kecil Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Inisiatif ini melibatkan lima institusi utama. Mereka adalah Global Environment Facility Small Grants Programme atau GEF SGP Indonesia, Universitas Ghent dari Belgia, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan PT Supa Surya Niaga. Kolaborasi apik ini mendapatkan dukungan dari Amati Indonesia. Kolaborasi lintas sektor tersebut hadir sebagai respons konkret terhadap kondisi lapangan yang semakin menantang. Betapa tidak, petani kecil di berbagai wilayah Indonesia, khususnya mereka yang bergantung pada komoditas ekspor seperti kakao, kopi, dan cengkeh, kini tengah menghadapi tekanan yang semakin...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-konsorsium-lintas-sektor-perkuat-petani-hadapi-perubahan-iklim/">GEF SGP Indonesia dan Konsorsium Lintas Sektor Perkuat Petani Hadapi Perubahan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-1024x768.jpeg" alt="Konsorsium GEF SGP Indonesia" class="wp-image-14252" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-1024x768.jpeg 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-300x225.jpeg 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-768x576.jpeg 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-1536x1152.jpeg 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-16x12.jpeg 16w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-1x1.jpeg 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44-10x8.jpeg 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/06/WhatsApp-Image-2025-06-02-at-08.26.44.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Konsorsium untuk masa depan petani Indonesia yang terdiri dari GEF SGP Indonesia, Universitas Ghent dari Belgia, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan PT Supa Surya Niaga dengan dukungan dari Amati Indonesia.</em></figcaption></figure>



<p><strong>GEF SGP Indonesia – </strong>Sebuah konsorsium kolaboratif resmi diperkenalkan untuk memperkuat daya tahan petani kecil Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Inisiatif ini melibatkan lima institusi utama. Mereka adalah Global Environment Facility Small Grants Programme atau GEF SGP Indonesia, Universitas Ghent dari Belgia, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan PT Supa Surya Niaga. Kolaborasi apik ini mendapatkan dukungan dari Amati Indonesia.</p>



<p>Kolaborasi lintas sektor tersebut hadir sebagai respons konkret terhadap kondisi lapangan yang semakin menantang. Betapa tidak, petani kecil di berbagai wilayah Indonesia, khususnya mereka yang bergantung pada komoditas ekspor seperti kakao, kopi, dan cengkeh, kini tengah menghadapi tekanan yang semakin dahsyat. Cuaca tak menentu, serangan hama semakin membabi buta, dan kualitas tanah yang memburuk tak pelak menurunkan hasil panen. Tidak cuma itu, kondisi ini juga semakin mempersulit penghidupan jutaan keluarga petani.</p>



<p>Konsorsium ini menyatukan kekuatan ilmu pengetahuan, bisnis, dan aksi komunitas dalam satu gerakan kolektif untuk membangun ketangguhan petani. Dengan pendekatan inklusif dan berbasis bukti, seluruh mitra akan saling bergandeng tangan untuk mendorong transformasi pertanian Indonesia ke arah yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan adil.</p>



<p>Dalam program ini, para petani akan mendapatkan pelatihan tentang praktik pertanian cerdas iklim, seperti penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, penerapan sistem agroforestri, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memantau cuaca dan iklim secara real time. Pelatihan dirancang agar sesuai dengan kondisi lokal dan mudah diakses oleh petani di daerah terpencil sekalipun.</p>



<p>Dari sisi akademik, Universitas Ghent menggandeng Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin akan melakukan riset terapan terkait pengembangan varietas tanaman yang tangguh, manajemen tanah berkelanjutan, serta metode budidaya yang efisien. Hasil riset ini tidak hanya akan memperkaya literatur ilmiah, tetapi juga langsung diuji coba di lapangan bersama petani melalui proyek percontohan di berbagai daerah.</p>



<p>Tak hanya dari aspek teknis, PT Supa Surya Niaga turut memberikan kontribusi penting dalam membuka akses pasar yang adil bagi petani. Dengan membangun jalur distribusi ke pembeli-pembeli yang menerapkan prinsip perdagangan berkeadilan (fair-trade), para petani akan memperoleh insentif ekonomi atas praktik bertani yang berkelanjutan. Hal ini menjadi motivasi tambahan bagi petani untuk terus menjaga ekosistem dan kualitas hasil tani mereka.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan contoh nyata kerja sama global yang berbasis kepedulian terhadap komunitas akar rumput. Dia meyakini bahwa perubahan iklim yang notabene merupakan tantangan besar hanya bisa diatasi dengan jalur kolaborasi.</p>



<p><em>“Kami percaya, perubahan iklim adalah tantangan besar yang hanya bisa diatasi bersama. Konsorsium ini menunjukkan bagaimana akademisi, sektor swasta, dan komunitas dapat bersatu, saling belajar, dan saling menguatkan,”</em> ujar Sidi dalam pernyataannya, Jumat (30/5/2025).</p>



<p>Lebih lanjut, Sidi menekankan pentingnya menempatkan petani sebagai aktor utama, bukan objek pembangunan. Menurut Sidi, inisiatif justru datang dari komunitas lokal, bukan dari para begawan yang berada di menara gading.</p>



<p><em>“Inisiatif ini tidak datang dari atas, tetapi berangkat dari suara, kebutuhan, dan kekuatan komunitas lokal. Mereka bukan hanya sekadar menerima manfaat, tapi mereka juga yang akan memimpin kita ke arah perubahan,”</em> tutur Sidi.</p>



<p>Peluncuran konsorsium ini menunjukkan bahwa Indonesia mengambil langkah penting dalam membangun masa depan pertanian yang lebih tangguh terhadap krisis iklim. Masa depan tersebut tidak lagi menjadi harapan jauh, tetapi sedang dirintis hari ini—dengan ilmu, solidaritas, dan keberpihakan pada rakyat kecil.(*)</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-konsorsium-lintas-sektor-perkuat-petani-hadapi-perubahan-iklim/">GEF SGP Indonesia dan Konsorsium Lintas Sektor Perkuat Petani Hadapi Perubahan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Universitas dari Belgia dan NGO Indonesia Berkolaborasi Perkuat Ketahanan Iklim</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/universitas-dari-belgia-dan-ngo-indonesia-berkolaborasi-perkuat-ketahanan-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 02 Jun 2025 12:47:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ghent University]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17004</guid>

					<description><![CDATA[<p>BULUKUMBA (2/6) — Sebuah kemitraan strategis diluncurkan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Universitas Ghent dari Belgia. Kerja sama ini dinilai menjadi komitmen kedua pihak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Diluncurkan untuk periode 2025 hingga 2030, kemitraan&#160;GEF SGP Indonesia&#160;dan Universitas Ghent memiliki tujuan utama memperkuat ketahanan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, serta mendukung berbagai inisiatif lingkungan berbasis komunitas. Kolaborasi tersebut juga merupakan sinergi unik antara pendekatan akar rumput GEF SGP Indonesia dan keunggulan akademis Universitas Ghent dalam bidang sains lingkungan, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti. “Kami ingin menunjukkan bahwa&#160;kolaborasi internasional&#160;bisa berdampak langsung...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/universitas-dari-belgia-dan-ngo-indonesia-berkolaborasi-perkuat-ketahanan-iklim/">Universitas dari Belgia dan NGO Indonesia Berkolaborasi Perkuat Ketahanan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="830" height="556" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556.jpg" alt="" class="wp-image-17005" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556.jpg 830w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-300x201.jpg 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-768x514.jpg 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-18x12.jpg 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-600x402.jpg 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-1x1.jpg 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/077418100-1726848701-830-556-10x7.jpg 10w" sizes="auto, (max-width: 830px) 100vw, 830px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Warga mengendarai sepeda motor saat melintasi areal Waduk Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (20/9/2024). Sejak sebulan terakhir, waduk yang memiliki kapasitas volume sekitar 43 juta meter kubik air itu mengering akibat musim kemarau.</em></figcaption></figure>



<p>BULUKUMBA (2/6) — Sebuah kemitraan strategis diluncurkan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Universitas Ghent dari Belgia. Kerja sama ini dinilai menjadi komitmen kedua pihak dalam menghadapi tantangan<a href="https://republika.co.id/tag/perubahan-iklim"> perubahan iklim </a>serta mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia.</p>



<p>Diluncurkan untuk periode 2025 hingga 2030, kemitraan<a href="https://republika.co.id/tag/gef-sgp-indonesia">&nbsp;GEF SGP Indonesia&nbsp;</a>dan Universitas Ghent memiliki tujuan utama memperkuat ketahanan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, serta mendukung berbagai inisiatif lingkungan berbasis komunitas.</p>



<p>Kolaborasi tersebut juga merupakan sinergi unik antara pendekatan akar rumput GEF SGP Indonesia dan keunggulan akademis Universitas Ghent dalam bidang sains lingkungan, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti.</p>



<p>“Kami ingin menunjukkan bahwa<a href="https://republika.co.id/tag/kolaborasi-internasional">&nbsp;kolaborasi internasional&nbsp;</a>bisa berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan. Inilah wujud nyata dari ilmu pengetahuan yang membumi,” ujar Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala dalam pernyataannya di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (30/5/2025).</p>



<p>Adapun fokus utama dari kerja sama ini dituangkan dalam empat pilar strategis. Pilar pertama adalah riset dan inovasi. Dalam pilar tersebut, kedua institusi sepakat menggelar penelitian bersama. Penelitiannya bertujuan menemukan solusi konkret di bidang pertanian cerdas iklim, energi terbarukan, dan konservasi keanekaragaman hayati. Temuan dari riset ini diharapkan bisa melahirkan inovasi lokal yang relevan dan aplikatif di lapangan.</p>



<p>Dalam hal ini, Universitas Ghent akan menyediakan akses terhadap laboratorium canggih dan basis data ilmiah global untuk mendukung kualitas penelitian. Selain itu, tim peneliti dari Indonesia juga akan difasilitasi untuk melakukan publikasi ilmiah dan presentasi hasil riset di forum internasional.</p>



<p>Pilar kedua mencakup peningkatan kapasitas. Eksekusi pilar ini melalui serangkaian pelatihan, lokakarya, dan pertukaran pengetahuan. Sasaran dari kegiatan ini adalah komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, dan mahasiswa, dengan tujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan dan mandiri.</p>



<p>Sebagai bagian dari pilar tersebut, Universitas Ghent diharapkan juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam proyek-proyek GEF SGP untuk belajar langsung di Belgia. Hal ini diharapkan akan menumbuhkan generasi muda yang tangguh dan berwawasan global namun tetap berpijak pada konteks lokal.</p>



<p>Selanjutnya, pilar ketiga diwujudkan dalam bentuk proyek percontohan. Proyek-proyek komunitas yang mendapat pendanaan dari GEF SGP Indonesia akan memperoleh dukungan teknis dari Universitas Ghent–yang merupakan salah satu universitas terkemuka di Belgia. Proyek ini dirancang sebagai bukti nyata bahwa integrasi antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal mampu menghasilkan perubahan yang bermakna.</p>



<p>Beberapa proyek awal akan difokuskan di wilayah pesisir dan kawasan hutan adat yang mengalami tekanan ekologis tinggi, dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan para tokoh adat, pemuda lokal, dan perempuan sebagai motor penggerak.</p>



<p>Sementara itu, pilar keempat menyasar advokasi kebijakan. Kedua pihak akan bekerja sama dalam merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data dan sains. Tujuannya tak lain untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam membentuk kebijakan pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.</p>



<p>Mereka juga akan menyelenggarakan forum tahunan kebijakan lingkungan yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, dan aktivis lingkungan dari dalam dan luar negeri untuk berbagi praktik baik dan solusi inovatif.</p>



<p>Kolaborasi ini lebih dari sekadar kerja sama teknis. Kedua belah pihak, dalam kolaborasi ini, juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam instrumen inti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).</p>



<p>Alhasil, pembangunan tidak hanya difokuskan pada aspek ekonomi, melainkan juga martabat dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan. Penekanan pada kesetaraan gender, inklusi sosial, dan perlindungan terhadap komunitas adat menjadi dasar penting dalam setiap tahapan kegiatan.</p>



<p>Sidi menambahkan, kerja sama ini diharapkan menjadi model bagi kemitraan global yang tidak bersifat&nbsp;<em>top-down</em>. Sebaliknya, dia menekankan pentingnya mendengar suara komunitas lokal dan menjadikan mereka sebagai pelaku utama dalam transformasi lingkungan.</p>



<p>“Masa depan Indonesia yang hijau, adil, dan berkelanjutan kini bukan lagi sekadar wacana—melainkan sedang dibangun bersama, mulai hari ini,”&nbsp;ujar dia.</p>



<p>Sumber: https://esgnow.republika.co.id/berita/sx6yqs483/universitas-dari-belgia-dan-ngo-indonesia-berkolaborasi-perkuat-ketahanan-iklim-part2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/universitas-dari-belgia-dan-ngo-indonesia-berkolaborasi-perkuat-ketahanan-iklim/">Universitas dari Belgia dan NGO Indonesia Berkolaborasi Perkuat Ketahanan Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GEF SGP Gandeng Universitas Ghent untuk Bangun Indonesia Berkelanjutan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-gandeng-universitas-ghent-untuk-bangun-indonesia-berkelanjutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sun, 01 Jun 2025 11:44:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ghent University]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=16988</guid>

					<description><![CDATA[<p>BULUKUMBA, 30 MEI 2025 – Sebuah kemitraan strategis diluncurkan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan&#160;Universitas Ghent&#160;dari Belgia. Kerja sama ini menjadi bentuk nyata dari komitmen kedua pihak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Diluncurkan untuk periode 2025 hingga 2030, kemitraan GEF SGP Indonesia dan Universitas Ghent memiliki tujuan utama memperkuat ketahanan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, serta mendukung berbagai inisiatif&#160;lingkungan&#160;berbasis komunitas. Kolaborasi tersebut juga merupakan sinergi unik antara pendekatan akar rumput GEF SGP Indonesia dan keunggulan akademis Universitas Ghent dalam bidang sains lingkungan, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti. “Kami ingin menunjukkan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-gandeng-universitas-ghent-untuk-bangun-indonesia-berkelanjutan/">GEF SGP Gandeng Universitas Ghent untuk Bangun Indonesia Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="970" height="646" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena.jpg" alt="" class="wp-image-16989" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena.jpg 970w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-300x200.jpg 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-768x511.jpg 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-18x12.jpg 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-600x400.jpg 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-1x1.jpg 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/18834-eduardo-de-la-pena-10x7.jpg 10w" sizes="auto, (max-width: 970px) 100vw, 970px" /><figcaption class="wp-element-caption">Eduardo de la Pena, Head of laboratorium Tropical Crops Ghent University (kiri) dan Koordinator GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala (kanan)</figcaption></figure>



<p>BULUKUMBA, 30 MEI 2025 – Sebuah kemitraan strategis diluncurkan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (<a href="https://www.suara.com/tag/gef-sgp">GEF SGP</a>) Indonesia dan&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/universitas-ghent">Universitas Ghent</a>&nbsp;dari Belgia. Kerja sama ini menjadi bentuk nyata dari komitmen kedua pihak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia.</p>



<p>Diluncurkan untuk periode 2025 hingga 2030, kemitraan GEF SGP Indonesia dan Universitas Ghent memiliki tujuan utama memperkuat ketahanan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, serta mendukung berbagai inisiatif&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/lingkungan">lingkungan</a>&nbsp;berbasis komunitas.</p>



<p>Kolaborasi tersebut juga merupakan sinergi unik antara pendekatan akar rumput GEF SGP Indonesia dan keunggulan akademis Universitas Ghent dalam bidang sains lingkungan, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti.</p>



<p>“Kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi internasional bisa berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan. Inilah wujud nyata dari ilmu pengetahuan yang membumi,” ujar Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala dalam pernyataannya di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (30/5/2025).</p>



<p>Adapun fokus utama dari kerja sama ini dituangkan dalam empat pilar strategis. Pilar pertama adalah riset dan inovasi. Dalam pilar tersebut, kedua institusi sepakat menggelar penelitian bersama.</p>



<p>Penelitiannya bertujuan menemukan solusi konkret di bidang pertanian cerdas iklim, energi terbarukan, dan konservasi keanekaragaman hayati. Temuan dari riset ini diharapkan bisa melahirkan inovasi lokal yang relevan dan aplikatif di lapangan.</p>



<p>Dalam hal ini, Universitas Ghent akan menyediakan akses terhadap laboratorium canggih dan basis data ilmiah global untuk mendukung kualitas penelitian. Selain itu, tim peneliti dari Indonesia juga akan difasilitasi untuk melakukan publikasi ilmiah dan presentasi hasil riset di forum internasional.</p>



<p>Pilar kedua mencakup peningkatan kapasitas. Eksekusi pilar ini melalui serangkaian pelatihan, lokakarya, dan pertukaran pengetahuan. Sasaran dari kegiatan ini adalah komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, dan mahasiswa, dengan tujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan dan mandiri.</p>



<p>Sebagai bagian dari pilar tersebut, Universitas Ghent diharapkan juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam proyek-proyek GEF SGP untuk belajar langsung di Belgia. Hal ini diharapkan akan menumbuhkan generasi muda yang tangguh dan berwawasan global namun tetap berpijak pada konteks lokal.</p>



<p>Selanjutnya, pilar ketiga diwujudkan dalam bentuk proyek percontohan. Proyek-proyek komunitas yang mendapat pendanaan dari GEF SGP Indonesia akan memperoleh dukungan teknis dari Universitas Ghent–yang merupakan salah satu universitas terkemuka di Belgia. Proyek ini dirancang sebagai bukti nyata bahwa integrasi antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal mampu menghasilkan perubahan yang bermakna.</p>



<p>Beberapa proyek awal akan difokuskan di wilayah pesisir dan kawasan hutan adat yang mengalami tekanan ekologis tinggi, dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan para tokoh adat, pemuda lokal, dan perempuan sebagai motor penggerak.</p>



<p>Sementara itu, pilar keempat menyasar advokasi kebijakan. Kedua pihak akan bekerja sama dalam merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data dan sains. Tujuannya tak lain untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam membentuk kebijakan pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.</p>



<p>Mereka juga akan menyelenggarakan forum tahunan kebijakan lingkungan yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, dan aktivis lingkungan dari dalam dan luar negeri untuk berbagi praktik baik dan solusi inovatif.</p>



<p>Kolaborasi ini lebih dari sekadar kerja sama teknis. Kedua belah pihak, dalam kolaborasi ini, juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam instrumen inti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).</p>



<p>Alhasil, pembangunan tidak hanya difokuskan pada aspek ekonomi, melainkan juga martabat dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan. Penekanan pada kesetaraan gender, inklusi sosial, dan perlindungan terhadap komunitas adat menjadi dasar penting dalam setiap tahapan kegiatan.</p>



<p>Sidi menambahkan, kerja sama ini diharapkan menjadi model bagi kemitraan global yang tidak bersifat top-down. Sebaliknya, dia menekankan pentingnya mendengar suara komunitas lokal dan menjadikan mereka sebagai pelaku utama dalam transformasi lingkungan.</p>



<p>“Masa depan Indonesia yang hijau, adil, dan berkelanjutan kini bukan lagi sekadar wacana—melainkan sedang dibangun bersama, mulai hari ini,” tutup Sidi.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/06/01/182556/gef-sgp-gandeng-universitas-ghent-untuk-bangun-indonesia-berkelanjutan</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-gandeng-universitas-ghent-untuk-bangun-indonesia-berkelanjutan/">GEF SGP Gandeng Universitas Ghent untuk Bangun Indonesia Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GEF SGP Indonesia dan Peneliti Global Tinjau Masa Depan Aren di DAS Balangtieng Bulukumba</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-peneliti-global-tinjau-masa-depan-aren-di-das-balangtieng-bulukumba/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 30 May 2025 07:29:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=16985</guid>

					<description><![CDATA[<p>(30/5) Sisa hujan masih menggantung di ujung pelepah aren saat Sri Puswandi mengangkat pandangannya ke lereng. Di kejauhan, rombongan tamu menyusuri jalan setapak, langkah mereka terhenti sejenak tiap kali melihat batang aren menjulang. Bunyi klewang petani memecah sunyi pagi di Desa Bajiminasa—sebuah desa di pelipir hutan yang jadi jantung denyut petani gula aren Balangtieng. Di sanalah isu iklim global dan kisah lokal bertemu dalam sebuah kebun, segenggam nira, dan nasib yang bergantung pada cuaca. Dana Mitra Tani (DMT) Bulukumba menerima kunjungan GEF SGP Indonesia bersama tim peneliti nasional dan internasional pada Jumat, 30 Mei 2025. DMT Bulukumba, lembaga yang selama...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-peneliti-global-tinjau-masa-depan-aren-di-das-balangtieng-bulukumba/">GEF SGP Indonesia dan Peneliti Global Tinjau Masa Depan Aren di DAS Balangtieng Bulukumba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="457" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275.webp" alt="" class="wp-image-16986" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275.webp 720w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275-300x190.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275-18x12.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275-600x381.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3337676275-10x6.webp 10w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tim peneliti nasional dan internasional dari GEF SGP Indonesia meninjau langsung kebun aren di DAS Balangtieng, Bulukumba—mendengar cerita petani, menyusuri jalur nira, dan menyerap lanskap perubahan iklim dari akar rumput pada Jumat, 30 Mei 2025. /WartaBulukumba.com/</figcaption></figure>



<p>(30/5) Sisa hujan masih menggantung di ujung pelepah aren saat Sri Puswandi mengangkat pandangannya ke lereng. Di kejauhan, rombongan tamu menyusuri jalan setapak, langkah mereka terhenti sejenak tiap kali melihat batang aren menjulang. </p>



<p>Bunyi klewang petani memecah sunyi pagi di Desa Bajiminasa—sebuah desa di pelipir hutan yang jadi jantung denyut petani gula aren Balangtieng. Di sanalah isu iklim global dan kisah lokal bertemu dalam sebuah kebun, segenggam nira, dan nasib yang bergantung pada cuaca. </p>



<p>Dana Mitra Tani (DMT) Bulukumba menerima kunjungan GEF SGP Indonesia bersama tim peneliti nasional dan internasional pada Jumat, 30 Mei 2025. </p>



<p>DMT Bulukumba, lembaga yang selama ini aktif mendampingi petani aren di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Balangtieng, Sulawesi Selatan.</p>



<p><strong>Dampak perubahan iklim </strong></p>



<p>Fokus utama mereka adalah riset mendalam mengenai dampak perubahan iklim terhadap petani aren, sebuah komoditas penting dari hutan rakyat Sulawesi Selatan yang selama ini menjadi penopang ekonomi desa. </p>



<p>Selain aren, riset ini juga mencakup komoditas kehutanan lainnya seperti kakao, kopi, dan cengkeh. </p>



<p>&#8220;Kami ingin mendengar langsung dari para petani, melihat prosesnya, memahami tantangan mereka sehari-hari,&#8221; ujar Prof. Eduardo De La Peña dari Ghent University, pakar pertanian tropis yang turut dalam kunjungan. </p>



<p>Bersama Koordinator GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Manggala, akademisi dari Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin, serta pendiri AMATI Indonesia, kunjungan ini menguatkan pesan bahwa isu perubahan iklim bukan hanya narasi global — tapi nyata dirasakan hingga ke ladang-ladang gula aren.</p>



<p><strong>Membangun sinergi </strong></p>



<p>Menurut Sri Puswandi, sapaan akrab Ketua DMT, kehadiran tim riset adalah langkah strategis untuk membangun sinergi antara petani, peneliti, lembaga pendamping, dan pemerintah. Lokasi diskusi berlangsung di Desa Bajiminasa, Kecamatan Rilau Ale, sebuah titik penting dalam bentang alam DAS Balangtieng. </p>



<p>“Kami bukan hanya mendampingi, tapi ikut memastikan bahwa pengetahuan lokal bisa menjadi dasar kebijakan adaptasi iklim yang berkelanjutan,” ujar Bung Wandi, sapaan akrabnya. </p>



<p>Diskusi berlangsung hangat, melibatkan petani dari berbagai desa, memperlihatkan bagaimana adaptasi mereka terhadap anomali cuaca, penurunan produksi nira, dan pergeseran musim panen.</p>



<p> Para ilmuwan itu mencatat, memotret, dan merekam—bukan sekadar data, tapi suara kehidupan dari DAS Balangtieng.</p>



<p>Salah satu tantangan utama yang terungkap adalah ketergantungan pada alam tanpa jaminan perlindungan iklim. </p>



<p>Kebutuhan akan inovasi agroforestri berbasis iklim, dukungan pasar adil untuk produk gula aren, dan akses teknologi sederhana menjadi sorotan utama. </p>



<p>Kegiatan ini membuka ruang baru bagi kolaborasi internasional untuk penguatan petani aren di kawasan rentan iklim, seperti yang digaungkan oleh GEF SGP Indonesia sebagai bagian dari Program Lingkungan PBB (UNEP).***</p>



<p>Sumber: <a href="https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/bulukumbanesia/pr-879376146/gef-sgp-indonesia-dan-peneliti-global-tinjau-masa-depan-aren-di-das-balangtieng-bulukumba?page=all">https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/bulukumbanesia/pr-879376146/gef-sgp-indonesia-dan-peneliti-global-tinjau-masa-depan-aren-di-das-balangtieng-bulukumba?page=all</a></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-dan-peneliti-global-tinjau-masa-depan-aren-di-das-balangtieng-bulukumba/">GEF SGP Indonesia dan Peneliti Global Tinjau Masa Depan Aren di DAS Balangtieng Bulukumba</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>