<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAS Balangtieng Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/das-balangtieng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/das-balangtieng/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 03 Nov 2025 03:36:49 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>DAS Balangtieng Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/das-balangtieng/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/cerita-serikat-perempuan-di-bajiminasa-menanam-asa-untuk-sungai-balantieng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 25 Jun 2025 08:29:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Balangtieng]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Serikat Perempuan Bajiminasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17047</guid>

					<description><![CDATA[<p>(25/6/2025) Di sudut selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa Bajiminasa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, sebuah inisiasi berdampak sedang tumbuh. Bukan di ruang rapat atau kantor pemerintah, tapi dari pekarangan rumah dan tangan-tangan perempuan desa yang mulai menggenggam kendali atas lingkungan dan kehidupannya. Namanya Serikat Perempuan Bajiminasa (SPB). Komunitas ini lahir dari inisiatif para perempuan di Bajiminasa untuk belajar, melakukan kegiatan pertanian berkelanjutan dengan metode alami atau organik. Tak hanya pemberdayaan perempuan, komunitas ini juga memiliki misi besar untuk melindungi serta memelihara ekosistem di Daerah Aliran Sungai Balantieng. Nurul Daqmar, 32 tahun, mengatakan komunitas SPB lahir tidak sengaja. Lahir pada 7 Mei 2024, embrio SPB...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-serikat-perempuan-di-bajiminasa-menanam-asa-untuk-sungai-balantieng/">Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4.png" alt="" class="wp-image-17048" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aktivitas dari Serikat Perempuan Bajiminasa di Desa Bajiminasa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(25/6/2025) <em>Di sudut selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa <a href="https://www.suara.com/tag/bajiminasa">Bajiminasa</a>, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/bulukumba">Bulukumba</a>, sebuah inisiasi berdampak sedang tumbuh. Bukan di ruang rapat atau kantor pemerintah, tapi dari pekarangan rumah dan tangan-tangan perempuan desa yang mulai menggenggam kendali atas lingkungan dan kehidupannya.</em></p>



<p>Namanya <a href="https://www.suara.com/tag/serikat-perempuan-bajiminasa">Serikat Perempuan Bajiminasa</a> (SPB). Komunitas ini lahir dari inisiatif para perempuan di Bajiminasa untuk belajar, melakukan kegiatan pertanian berkelanjutan dengan metode alami atau organik. Tak hanya pemberdayaan perempuan, komunitas ini juga memiliki misi besar untuk melindungi serta memelihara ekosistem di Daerah Aliran Sungai <a href="https://www.suara.com/tag/balantieng">Balantieng</a>.</p>



<p>Nurul Daqmar, 32 tahun, mengatakan komunitas SPB lahir tidak sengaja. Lahir pada 7 Mei 2024, embrio SPB muncul berawal dari proses pelatihan sederhana tentang pemanfaatan pekarangan rumah yang digagas oleh Gerakan Tani (Gertani) Bajimanasa. Jadi, SPB bukan dari rahim pemerintah maupun organisasi luar.</p>



<p>“Awalnya ada yang namanya Gertani. Di situ kami dipanggil untuk membuat pelatihan pemanfaatan pekarangan. Hingga akhirnya Gertani melontarkan ide untuk membuat perkumpulan perempuan yang namanya Serikat Perempuan Bajiminasa. Di situ awal mulanya,” ujar Daqmar yang merupakan Ketua SPB, beberapa waktu silam.</p>



<p>Komunitas tersebut tak pelak memantik minat para perempuan dari berbagai dusun. Menurut Daqmar, ada 5 dusun di Desa Bajiminasa. Kelima dusun tersebut mengirimkan perwakilan dari perempuan untuk bergabung dalam inisiasi SPB. Hingga kiwari, SPB memiliki lebih dari 100 anggota yang tersebar di lima dusun tersebut.</p>



<p>“Ada beragam lapis usia yang tergabung di SPB. Mulai dari anak-anak muda di Bajiminasa, ada juga orang tua yang berusia di atas 50 tahun. Di awal terbentuk, kami memiliki 25 anggota, sekarang ada 100 anggotanya. Ada 5 dusun di Bajiminasa. Masing-masing dusun mengirimkan perwakilan untuk bergabung di SPB,” kata dia.</p>



<p>Junaedi Hambali, Direktur Balang Institute, mengatakan SPB dibentuk sebagai bagian dari program kemitraan bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dalam menjaga serta memelihara kelestarian ekosistem DAS Balantieng yang berada di wilayah Desa Bajiminasa.</p>



<p>“Serikat Perempuan Bajiminasa (SPB) berada di wilayah tengah Daerah Aliran Sungai Balantieng. SPB dibentuk melalui fasilitasi program kemitraan dengan GEF SGP Indonesia. SPB dibentuk sebagai wadah dan tempat belajar perempuan di Desa Bajiminasa,” ujar Junaedi.</p>



<p>Inisiasi komunitas ini berawal dari kegiatan bernama Festival Harmoni Balantieng. Acara itu digelar pada Oktober 2024 silam. Tema acara tersebut sejalan dengan misi pemberdayaan perempuan untuk menjaga ketahanan pangan, yakni “Perempuan Berdaya, Pangan Terjaga”. Para perempuan di Bajiminasa dikumpulkan untuk merawat ekosistem di DAS Balantieng.</p>



<p>“Tujuan utamanya itu yakni melibatkan perempuan untuk turut melindungi ekosistem di DAS Balantieng. Narasumber yang didorong adalah perempuan di sana yaitu perempuan lokal untuk bercerita gimana pengalamannya kemudian gimana melihat situasi desanya,” ujar Junaedi.</p>



<p><strong>Aktivitas Serikat Perempuan Bajiminasa</strong></p>



<p>Kegiatan utama SPB tidak hanya kumpul-kumpul belaka. Mereka belajar memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur-sayuran. Meski belum memiliki program mandiri, mereka berkolaborasi dengan Gertani Bajimanasa. Kegiatan mereka tidak menentu, terkadang sebulan sekali, terkadang sepekan. Yang jelas, kegiatan itu berdampak kepada mereka.</p>



<p>“Kalau dengan Gertani, kami memang melakukan pelatihan pemanfaatan pekarangan untuk bertanam sayuran. Kegiatan itu paling menonjol dan bermanfaat untuk kami. Terkait rutinitas, bisa sebulan sekali atau seminggu sekali. Tapi terkadang, mereka sibuk bekerja di sawah,” terang Daqmar.</p>



<p>Nah, imbuh Daqmar, kegiatan pertanian SPB pun bukan sekadar soal produksi pangan dan penanaman sayuran di pekarangan. Fokus mereka pun terkait keberlanjutan. Mereka mulai diajarkan cara membuat pupuk alami. Bahan-bahannya dari limbah rumah tangga, yang keseharian mereka temui di dapur dan rumah.</p>



<p>“Kemarin kami juga sempat diajarin menggunakan pupuk alami, diajarin bikinnya mulai dari bahan, cara bikin, sampai dari pemakaian. Itu ada yang (terbuat) dari ikan, gula merah, batang pisang, hingga sampah dapur,” kata Daqmar.</p>



<p>Ya, pupuk alami ini memang tidak hanya menyehatkan tanah dan membantu tanaman agar tumbuh subur. Pupuk alami atau organik juga menjadi solusi pengelolaan limbah rumah tangga. Memang, pembentukan bank sampah pun mulai digaungkan pemerintah setempat. Tapi, itu masih sekadar wacana.</p>



<p>“Memang, saat ini belum ada (andil pemerintah), tapi kemarin itu sempat ada rencana mau dibuat bank sampah. Nanti ada tugas baru ketika dibuat bank sampah, ibu-ibu harus memilah sampah dapur antara organik dan anorganik. Jadi nanti itu bisa dibawa ke bank sampah,” ujar Daqmar.</p>



<p>Bahkan, ada pula anjuran dari Dinas Lingkungan Hidup setempat terkait pembuatan bank sampah di Bajiminasa. Tapi ya itu masih sekadar imbauan, masih wacana. “kalau memang sudah siap, nanti dibantu juga,” terang Daqmar.</p>



<p>Junaedi mengamini, kegiatan SPB memang mengajak warga, khususnya ibu-ibu, belajar memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan, seperti cabe, kangkung, dan lainnya. Namun, itu hanya salah satu kegiatan. Mereka juga memiliki kegiatan rutin yang terkait dengan pemeliharaan ekologi.</p>



<p>“Selain itu juga melakukan kegiatan rutin seperti membersihkan lingkungan atau sepanjang jalan desa. Kegiatan itu melibatkan ibu-ibu di desa tersebut. Itu menjadi strategi SPB untuk melibatkan kelompok perempuan di Desa Bajiminasa,” terang Junaedi.</p>



<p><strong>Dampak Ekonomi dan Sosial</strong></p>



<p>Nah, dari kegiatan tersebut, para perempuan anggota SPB mulai memetik manfaat. Salah satunya dari peningkatan ekonomi. Jika selama ini berbelanja sayur, sekarang mereka bisa menekan pengeluaran menggunakan sayuran yang ditanam di pekarangan rumah. Tidak hanya itu, ada pula yang meraup cuan dengan menjual sayuran ke tetangga. </p>



<p>“Dari pemanfaatan pekarangan itu, kami bisa mengurangi pengeluaran. Dengan menanam sayuran di pekarangan kayak terong, kangkung, bisa mengurangi uang belanja. Sebab, apa yang dikonsumsi sendiri bisa diambil di pekarangan rumah. Beberapa dari sayuran ini ada yang dijual ke tetangga, ada pula yang dikonsumsi sendiri,” kata dia.</p>



<p>Selain itu, aktivitas di Serikat Perempuan Bajiminasa juga membawa dampak sosial terhadap para anggotanya, khususnya Daqmar. Sejak beraktivitas bersama SPB, salah satu perubahan terbesar Daqmar yakni mulai keluar dari rutinitas rumah tangga. Dia pun membuka ruang interaksi baru serta berjejaring dengan orang-orang lain.</p>



<p>“Banyak perubahan sejak aktif di SPB. Saya kini lebih banyak mengenal orang. Maklum, dulu saya jarang keluar, jarang kenal dengan orang. Tapi selama bergabung di SPB, saya lebih sering keluar, lebih memiliki aktivitas selain ibu rumah tangga. Banyak pelajaran dan ilmu yang didapatkan. Teman-teman menjadi lebih banyak,” tutur Daqmar.</p>



<p>Nah, jika dulu para ibu di Bajiminasa bekerja jauh dari rumah, tepatnya di kebun cokelat maupun cengkeh, kekinian perilaku mereka berubah. Kini, mereka bisa menemukan peluang baru dari tanaman sayur yang dibudidayakan di pekarangan rumah.</p>



<p>“Ibu-ibu ini sebagian besar bekerja sebagai petani, tapi di kebun. Itu tanamannya banyak kayak coklat maupun cengkeh. Tapi semenjak ada pemanfaatan pekarangan, menjadi lebih dekat dan lebih gampang dijangkau,” terang Daqmar.</p>



<p>Serikat Perempuan Bajiminasa mungkin masih muda. Tapi benih yang mereka tanam sudah mulai tumbuh: dalam bentuk sayuran di pekarangan, kesadaran ekologis di dapur, dan semangat kolektif yang terus mengakar.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/06/25/154051/cerita-serikat-perempuan-di-bajiminasa-menanam-asa-untuk-sungai-balantieng?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-serikat-perempuan-di-bajiminasa-menanam-asa-untuk-sungai-balantieng/">Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Elegi Kopi Organik di Hulu DAS Balantieng, Harmoni Lingkungan dan Ekonomi</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/elegi-kopi-organik-di-hulu-das-balantieng-harmoni-lingkungan-dan-ekonomi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 19 Jun 2025 07:01:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Balangtieng]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17041</guid>

					<description><![CDATA[<p>(19/6/2025) Kopi bukan hanya sekadar minuman. Ya, bagi warga yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kopi organik menjadi sebuah simbol harapan baru. Bukan hanya sebagai komoditas unggulan setempat, kopi organik juga menjadi penjaga kelestarian lingkungan dari bahaya ekosistem. Sebuah inisiatif penting dibumikan masyarakat di hulu DAS Balantieng. Mereka melakoni inovasi dengan menanam kopi yang dibudidayakan menggunakan pupuk organik. Tentunya, konservasi ini tanpa melibatkan pestisida maupun cairan kimia. Melalui budidaya ini, mereka mempersamuhkan konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi setempat. Didampingi oleh Balang Institute, program konservasi kopi tersebut berangkat dari potensi lokal dan kebutuhan ekologis masyarakat setempat. Direktur Balang Institute Junaedi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/elegi-kopi-organik-di-hulu-das-balantieng-harmoni-lingkungan-dan-ekonomi/">Elegi Kopi Organik di Hulu DAS Balantieng, Harmoni Lingkungan dan Ekonomi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2.png" alt="" class="wp-image-17042" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tanaman kopi organik di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Balantieng, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(19/6/2025) <em><a href="https://www.suara.com/tag/kopi">Kopi</a> bukan hanya sekadar minuman. Ya, bagi warga yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) <a href="https://www.suara.com/tag/balantieng">Balantieng</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/kabupaten-bulukumba">Kabupaten Bulukumba</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/sulawesi-selatan">Sulawesi Selatan</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/kopi-organik">kopi organik</a> menjadi sebuah simbol harapan baru. Bukan hanya sebagai komoditas unggulan setempat, kopi organik juga menjadi penjaga kelestarian lingkungan dari bahaya ekosistem.</em></p>



<p>Sebuah inisiatif penting dibumikan masyarakat di hulu DAS Balantieng. Mereka melakoni inovasi dengan menanam kopi yang dibudidayakan menggunakan pupuk organik. Tentunya, konservasi ini tanpa melibatkan pestisida maupun cairan kimia. Melalui budidaya ini, mereka mempersamuhkan konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi setempat.</p>



<p>Didampingi oleh Balang Institute, program konservasi kopi tersebut berangkat dari potensi lokal dan kebutuhan ekologis masyarakat setempat. Direktur Balang Institute Junaedi Hambali, mengatakan pemilihan kopi pun bukan tanpa alasan. Ya, ternyata kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di wilayah hulu DAS Balantieng. </p>



<p>&#8220;Ya. Satu, kopi adalah komoditas unggulan di wilayah hulu Balantieng. Yang kedua, kopi ini dianggap sebagai tanaman konservasi. Pengetahuan tersebut kemudian yang didorong dalam program ini selain basis ekonomi,” ujar Junaedi saat dihubungi.</p>



<p>Selain menopang ekonomi, kopi ternyata baik untuk konservasi dan pemulihan ekosistem di hulu DAS Balantieng yang termasuk wilayah tangkapan air. Sebagaimana dipaparkan Junaedi, kopi dianggap sebagai tanaman konservasi karena hanya  memerlukan intensitas cahaya matahari yang rendah, sekitar 35 hingga 40 persen.</p>



<p>Junaedi mengatakan, “Hal ini berarti jika masyarakat setempat menanam kopi, praktis mereka juga akan menanam pohon sebagai naungan tanaman kopi. Pohon ini tentunya berfungsi melindungi tanaman kopi dari paparan langsung dari sinar matahari.”</p>



<p>Nah, dengan sendirinya, imbuh Junaedi Hambali, penanaman kopi tersebut praktis juga mendorong upaya reboisasi, memperkuat fungsi hutan dan menjaga ketersediaan air bagi ekosistem di hulu DAS Balantieng.</p>



<p><strong>Pendampingan petani kopi</strong></p>



<p>Pendampingan terhadap petani kopi bukan dimulai dari nol. Sejak 2016, mitra pendamping dari Koperasi Mitra Cahaya Mandiri sudah membersamai petani kopi. Program pendampingan tersebut menyasar tiga desa. Dua desa berada di Kabupaten Bulukumba, sementara desa lainnya berada di Kabupaten Sinjai.</p>



<p>Sekadar informasi, ketiga desa yang mengikuti program pendampingan kopi organik tersebut yakni Desa Kahayya yang terletak di Kecamatan Kindang, Kabupetan Bulukumba; Desa Kindang yang terletak di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, serta Desa Bonto Tengnga yang terletak di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai.</p>



<p>Nah, pendampingan tersebut semakin ditingkatkan serta dimaksimalkan sejak menjalin program kemitraan dengan Global Enviroment Facility Small Grants Programe (GEF SGP) Indonesia pada 2024. Melalui program tersebut, para petani diganjar fasilitas berupa rumah kaca atau green house yang digunakan untuk pengeringan kopi.</p>



<p>Junaedi mengakui keberadaan green house sangat membantu. Saat curah hujan tinggi, petani bisa menggunakan fasilitas untuk mengeringkan kopi yang sudah dipanen, kendati kapasitas green house memang masih sangat terbatas dari sisi kapasitas penampungan. </p>



<p>“Di lokasi seperti ini, harus ada fasilitas yang bisa membantu petani mengeringkan kopi meski curah hujan sangat tinggi di wilayah DAS Balantieng. Ya, meski kapasitas (green house–RED) terbatas, minimal itu bisa menjadi contoh dan membangun inisiatif petani, bahwa pengeringan bisa dibantu teknologi green house,” kata Junaedi. </p>



<p>Selain itu, dalam program pendampingan, para petani juga diberikan pembekalan terkait teori pengolahan tanaman kopi pascapanen. Menurut Junedi, salah satu langkah awal yakni memastikan kualitas hasil panen tanaman kopi sesuai dengan standar atau permintaan pasar, dimulai dari praktik pemetikan yang tepat.</p>



<p>“Petani diedukasi didampingi untuk mengolah kopi mulai dari pemetikan, misalnya kopi itu harus dipetik yang merah atau petik merah, tidak melakukan petik rampasan karena itu akan berpengaruh terhadap kualitas kopi dan harga kopi itu sendiri,” jelas Junaedi.</p>



<p>Nah kalau dari sisi ekonomi, menurut Junaedi, so pasti dampak konservasi <a href="https://www.suara.com/tag/kopi-organik">kopi organik</a> ini cukup signifikan. Harga <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a> yang dibudidaya warga dampingan meningkat karena kualitasnya terjaga. Terlebih, kata Junaedi, kopi organik diketahui memiliki harga yang cukup bersaing ketimbang kopi yang diperoleh dengan petik rampasan. Maklum, kualitasnya berbeda: lebih ciamik.</p>



<p><strong>Dilirik anak muda</strong></p>



<p>Konservasi kopi organik ini pun membawa dampak sosial. Pengetahuan dari pendampingan diharapkan bisa ditularkan baik oleh petani yang terlibat dalam kegiatan maupun yang tidak terlibat langsung. Uniknya, gara-gara kegiatan ini, anak muda pun mulai melirik bidang pertanian kopi, terutama budidaya organik.</p>



<p>Sejatinya, Junaedi berharap budidaya kopi ini bisa diwariskan kepada anak-anak muda, agar mereka terlibat langsung. Terlebih, kebanyakan warga di wilayah tersebut, terutama Desa Kahayya, Desa Kindang, dan Desa  Bonto Tengnga, memiliki kegiatan utama bertani dan menanam kopi.</p>



<p>“Jadi, (saya berharap–RED) anak-anak muda tidak lagi, misalnya, setelah menyelesaikan pendidikan harus ke kota, tapi mulai melihat potensi yang ada di desanya dan bisa mengembangkannya dengan pengetahuan yang mereka miliki sejauh ini,” tutur Junaedi.</p>



<p>Gayung pun bersambut. Pada 2016, memang hanya segelintir anak muda yang kepincut terjun ke budidaya kopi. Kini, situasinya berubah. Banyak anak muda mulai terlibat dalam budidaya kopi, meningkatkan kualitas kopi, mengolah pascapanen hingga membangun merek kopi sendiri. Hebatnya, mereka juga mulai membuka akses ke pasar yang lebih luas.</p>



<p>“Selain budidaya kopi, teman-teman muda di wilayah hulu DAS <a href="https://www.suara.com/tag/balantieng">Balantieng</a> ini juga mengembangkan potensi wisata yang ada di sana. Dan yang mendorong itu semua adalah anak-anak muda yang ada di sana,&#8221; kata dia.</p>



<p>Potensi wisata seperti apa? Salah satunya melalui Desa Wisata Kahayya. Dengan inisiasi dari anak-anak muda setempat, desa tersebut setiap tahun menjadi tuan rumah Festival Senandung Kopi Kahayya. Festival ini telah berjalan selama sembilan tahun dan menyedot antusiasme dari ribuan pengunjung yang umumnya para penikmat kopi.</p>



<p>“Yang datang ke sana tidak hanya warga lokal, tapi juga dari Makassar, dari ibu kota provinsi. Setiap pelaksanaan Senandung Kopi Kahayya, mereka datang ke sana. Nah, di pelaksanaan tahun 2023, menurut teman-teman di sana, ada kurang lebih 3.000 orang yang datang, kalau tidak salah,&#8221; ujar Junaedi.</p>



<p>Para petani kopi organik di hulu DAS Balantieng memadukan konservasi, pemberdayaan ekonomi, dan inovasi sosial. Terbukti, upaya pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan harapan yang diseduh dari akar bumi dan tumbuh dalam semangat kolektif.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/06/19/093901/elegi-kopi-organik-di-hulu-das-balantieng-harmoni-lingkungan-dan-ekonomi?page=2</p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/elegi-kopi-organik-di-hulu-das-balantieng-harmoni-lingkungan-dan-ekonomi/">Elegi Kopi Organik di Hulu DAS Balantieng, Harmoni Lingkungan dan Ekonomi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Bulukumba untuk Indonesia: Ekspedisi GEF SGP Indonesia Ungkap Potensi Kopi Kahayya dan Aren Bajiminasa</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-bulukumba-untuk-indonesia-ekspedisi-gef-sgp-indonesia-ungkap-potensi-kopi-kahayya-dan-aren-bajiminasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 11 Jun 2025 11:04:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Balangtieng]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17025</guid>

					<description><![CDATA[<p>(11/6) Menerabas belukar, menyusuri jalan setapak, langkah-langkah para peneliti dan aktivis menapak tanah lembap di pinggiran Sungai Balangtieng. Di sela pohon aren yang menjulang, aroma fermentasi kopi dan asap dapur kayu menyatu dalam udara sejuk. Hutan berbicara — dan hari itu, ia didengarkan. Selasa, 10 Juni 2025, menjadi momentum penting bagi para penggerak perhutanan sosial. Kegiatan lapangan dan Monev GEF SGP Phase 7 bertajuk “Unlocking the Potential of Social Forestry &#38; Non-Timber Forest Products (NTFPs) for Sustainable Livelihoods” digelar di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ekspedisi ini bukan hanya forum diskusi, tapi perjalanan kolaboratif para pelaku perubahan. Dimulai dari Jakarta, rombongan peserta...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-bulukumba-untuk-indonesia-ekspedisi-gef-sgp-indonesia-ungkap-potensi-kopi-kahayya-dan-aren-bajiminasa/">Dari Bulukumba untuk Indonesia: Ekspedisi GEF SGP Indonesia Ungkap Potensi Kopi Kahayya dan Aren Bajiminasa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="720" height="540" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940.webp" alt="" class="wp-image-17026" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940.webp 720w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940-300x225.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940-16x12.webp 16w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940-600x450.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/3171476940-10x8.webp 10w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ekspresi kolaborasi lintas aktor dalam kunjungan lapangan GEF SGP Indonesia di Bulukumba — petani, fasilitator, akademisi, dan pemerintah bersatu menjaga hutan. /WartaBulukumba.com/</figcaption></figure>



<p>(11/6) Menerabas belukar, menyusuri jalan setapak, langkah-langkah para peneliti dan aktivis menapak tanah lembap di pinggiran Sungai Balangtieng. Di sela pohon aren yang menjulang, aroma fermentasi kopi dan asap dapur kayu menyatu dalam udara sejuk. Hutan berbicara — dan hari itu, ia didengarkan. </p>



<p>Selasa, 10 Juni 2025, menjadi momentum penting bagi para penggerak perhutanan sosial. Kegiatan lapangan dan Monev GEF SGP Phase 7 bertajuk “Unlocking the Potential of Social Forestry &amp; Non-Timber Forest Products (NTFPs) for Sustainable Livelihoods” digelar di Bulukumba, Sulawesi Selatan. </p>



<p>Ekspedisi ini bukan hanya forum diskusi, tapi perjalanan kolaboratif para pelaku perubahan.</p>



<p>Dimulai dari Jakarta, rombongan peserta bertolak ke Makassar lalu menuju Hutan Pendidikan Unhas, lokasi diskusi multi-stakeholder yang menyoroti peluang greenpreneurship berbasis HHBK. </p>



<p>Hadir di antaranya: Dr. Bambang Supriyanto, Dirjen PSKL (2019–2024), Ir. Laksmi Dhewanthi, MA, eks Inspektur Jenderal KLHK, Prof. Makkarennu, Fakultas Kehutanan Unhas, dan Viringga Kusuma, pendiri AMATI Indonesia. </p>



<p>Diskusi memetakan potensi HHBK — dari kopi dan aren, hingga cengkeh dan rumput laut — sebagai penopang ekonomi masyarakat sekitar hutan. Sore harinya, tim melanjutkan perjalanan darat panjang ke Bulukumba, pusat kegiatan utama ekspedisi.</p>



<p><strong>Hari kedua: Kopi Kahayya dan aren Bajiminasa </strong></p>



<p>Selasa, 10 Juni 2025, ekspedisi berlanjut ke Desa Kahayya, sentra kopi hutan yang dikelola secara agroforestri oleh petani lokal. Diskusi terbuka dilakukan bersama para petani kopi, membahas tantangan akses pasar, regenerasi petani, dan daya saing produk.</p>



<p>&#8220;Ini bukan sekadar tanam dan panen,&#8221; kata Sri Puswandi, Ketua Dana Mitra Tani Bulukumba. &#8220;Kopi, cengkeh, gula aren, bahkan rumput laut — semuanya adalah cara kami menyambung hidup sekaligus menjaga hutan. Kegiatan ini penting agar suara petani didengar langsung oleh pengambil kebijakan.&#8221; </p>



<p>Setelah makan siang, rombongan bergerak menuju Desa Bajiminasa, tempat berlangsungnya kunjungan Taman Aren. Di lokasi ini, peserta berdialog dengan minimal 10 petani aren tentang teknik penyadapan, proses pengolahan, dan stabilitas harga pasar lokal. </p>



<p>Malam hari, evaluasi tidak hanya terjadi di meja makan, tapi juga dalam percakapan santai antarmitra di warung makan kota. Cerita-cerita kecil dari lapangan dibawa pulang ke penginapan, menunggu untuk dirumuskan.</p>



<p><strong>Hari Ketiga: Kampung adat dan rumput laut pesisir </strong></p>



<p>Rabu, 11 Juni 2025, peserta mengunjungi Kampung Adat Kajang di Desa Tanatoa — kawasan adat yang masih menjaga teguh prinsip hidup berdampingan dengan alam. Kunjungan ini memberi perspektif unik bahwa perhutanan sosial tak hanya soal ekonomi, tetapi juga spiritualitas dan identitas budaya. </p>



<p>Setelah makan siang, ekspedisi berlanjut ke Kelurahan Danuang, lokasi budidaya rumput laut yang sebagian besar dikelola oleh perempuan. Kunjungan disambut antusias, dan diskusi dilakukan bersama setidaknya 10 petani rumput laut mengenai adaptasi iklim dan akses permodalan.</p>



<p>Malam harinya, semua temuan lapangan dikristalisasi dalam sesi evaluasi akhir yang dihadiri oleh seluruh delegasi dan host lokal seperti Balang Institute.</p>



<p><strong>Sinergi sosial dalam ekonomi hutan</strong> </p>



<p>Selama tiga hari, peserta menyaksikan langsung bagaimana HHBK bukan hanya hasil hutan, tapi juga hasil dari jejaring sosial, kerja kolektif, dan kepercayaan antar generasi. Dari petani muda kopi di Kahayya hingga pengrajin gula aren di Bajiminasa, semua bergerak bersama menjaga hutan sambil hidup darinya.</p>



<p> &#8220;Kalau hutan diberi tempat bicara, ia tidak akan meminta dilindungi. Ia akan menunjukkan caranya menjaga kita — lewat kopi, gula, cengkeh, dan laut,&#8221; ujar salah satu peserta dari Universitas Hasanuddin.</p>



<p>Ekspedisi ini bukan penutup, tapi pembuka — ruang baru bagi kolaborasi lintas aktor agar hutan tetap hidup, dan manusia tetap bermartabat bersamanya.</p>



<p><strong>Ekspedisi pengetahuan: Menyusuri hutan dan harapan </strong></p>



<p>Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan lintas aktor: akademisi, praktisi lapangan, tim GEF SGP Indonesia, pejabat pemerintah, hingga mitra pelaksana lokal. Tujuannya menyatu: memahami bagaimana Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dapat memperkuat ekonomi warga, sekaligus menjaga ekosistem. </p>



<p>&#8220;Kegiatan ini penting bukan hanya untuk evaluasi, tapi juga mempertemukan para pelaku dari berbagai latar belakang agar terjadi sinergi lapangan yang nyata,&#8221; ujar Sri Puswandi, Ketua Dana Mitra Tani Bulukumba pada Rabu, 11 Juni 2025. &#8220;</p>



<p>Kopi, cengkeh, gula aren, bahkan rumput laut — semuanya bukan sekadar komoditas, tapi representasi nilai lokal yang selama ini kurang dihargai.&#8221; Kopi, Aren, dan Cengkeh: Potensi yang Tumbuh Bersama Komunitas</p>



<p><strong>Kopi, Aren, dan Cengkeh: Potensi yang Tumbuh Bersama Komunitas</strong></p>



<p>Ekspedisi ini mengangkat empat potensi HHBK utama di kawasan perhutanan sosial Bulukumba: </p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<ul class="wp-block-list">
<li>Kopi hutan yang dibudidayakan secara agroforestri </li>



<li>Gula aren yang diolah menggunakan teknik tradisional </li>



<li>Cengkeh sebagai rempah bernilai ekspor </li>



<li>Rumput laut, hasil laut yang menjadi sumber penghidupan perempuan pesisir.</li>
</ul>
</div></div>



<p>Masing-masing komoditas tak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga simbol keberhasilan pengelolaan hutan berbasis masyarakat. </p>



<p>&#8220;Kuncinya adalah kepercayaan masyarakat terhadap hutan sebagai aset bersama. Dengan pendekatan yang tepat, HHBK bukan cuma jadi tambahan penghasilan, tapi tulang punggung ekonomi desa,&#8221; lanjut Sri Puswandi.</p>



<p><strong>Sinergi lintas aktor di DAS Balantieng </strong></p>



<p>Program GEF SGP (Global Environment Facility &#8211; Small Grants Programme) yang kini memasuki fase ke-7, menjadi jembatan penguatan jejaring antar pemangku kepentingan. Mitra lokal seperti Dana Mitra Tani berperan penting dalam memastikan suara komunitas sampai ke level kebijakan.</p>



<p>Ekspedisi ini membuka ruang dialog terbuka. Diskusi tidak hanya soal capaian teknis, tetapi juga tantangan riil di lapangan, dari regenerasi petani hingga akses pasar. Partisipasi aktif komunitas lokal menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis masyarakat bukan sekadar teori. Ekspedisi Bulukumba ini meninggalkan jejak lebih dari sekadar catatan monev. Ia menyalakan harapan bahwa hutan bisa menjadi pusat inovasi sosial — tempat ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup berdampingan. &#8220;Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di laporan. Harus ada keberlanjutan, dukungan, dan kebijakan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pengelolaan sumber daya,&#8221; tutup Sri Puswandi.***</p>



<p>Sumber: https://wartabulukumba.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-879407347/dari-bulukumba-untuk-indonesia-ekspedisi-gef-sgp-indonesia-ungkap-potensi-kopi-kahayya-dan-aren-bajiminasa?page=4</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-bulukumba-untuk-indonesia-ekspedisi-gef-sgp-indonesia-ungkap-potensi-kopi-kahayya-dan-aren-bajiminasa/">Dari Bulukumba untuk Indonesia: Ekspedisi GEF SGP Indonesia Ungkap Potensi Kopi Kahayya dan Aren Bajiminasa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>