<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hijau Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/hijau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/hijau/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 07:52:31 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>hijau Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/hijau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 01 Oct 2025 09:43:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi hijau]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17234</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/10/2025) Siapa bilang jaga alam itu cuma soal larangan tebang pohon atau stop aktivitas di laut? Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru. Serius, kerjaan-kerjaan ini nggak cuma kasih penghasilan tapi juga bikin lingkungan makin sehat. Kuncinya ada di satu rumus simpel: konservasi + pemberdayaan masyarakat = ekonomi&#160;hijau&#160;yang kuat. Dan ini udah terbukti nyata, karena ratusan kerjaan hijau tercipta di empat wilayah bentang alam Indonesia. Program ini digagas lewat&#160;Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&#160;Fase ke-7, yaitu program pendanaan berbasis komunitas. Nggak cuma fokus jaga ekosistem, tapi juga bikin pintu rezeki baru...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/">Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53.png" alt="" class="wp-image-17235" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-53-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah satu petani rumput laut, pekerjaan yang tercipta dari inisiasi berbasis komunitas.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(1/10/2025) Siapa bilang jaga alam itu cuma soal larangan tebang pohon atau stop aktivitas di laut? Di beberapa desa di Indonesia, justru dari aksi konservasi malah lahir ratusan peluang kerja baru. Serius, kerjaan-kerjaan ini nggak cuma kasih penghasilan tapi juga bikin <a href="https://www.guideku.com/tag/lingkungan">lingkungan</a> makin sehat.</p>



<p>Kuncinya ada di satu rumus simpel: konservasi + pemberdayaan masyarakat = ekonomi&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/hijau">hijau</a>&nbsp;yang kuat. Dan ini udah terbukti nyata, karena ratusan kerjaan hijau tercipta di empat wilayah bentang alam Indonesia.</p>



<p>Program ini digagas lewat&nbsp;<em>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em>&nbsp;Fase ke-7, yaitu program pendanaan berbasis komunitas. Nggak cuma fokus jaga ekosistem, tapi juga bikin pintu rezeki baru buat warga lokal.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, bilang kalau program&nbsp;<em>“Bentang Alam”</em>&nbsp;ini udah nyatat pencapaian keren banget: ada lebih dari 103 jenis pekerjaan hijau dan usaha komunitas yang terbentuk atau makin kuat di empat bentang alam utama Indonesia.</p>



<p><em>“Ini bukan sekadar angka, melainkan kisah nyata tentang orang-orang yang membangun mata pencaharian berkelanjutan yang berakar pada konservasi lingkungan mereka,”</em>&nbsp;ujar Sidi dalam pernyataannya, Selasa (23/9/2025).</p>



<p>Artinya, tiap angka punya cerita warga desa yang berhasil nyambungin antara alam yang lestari dan dapur yang tetap ngebul. Dari sawah, hutan, sampai pesisir, mereka sekarang bukan cuma jadi penjaga alam, tapi juga pelaku ekonomi yang punya daya.</p>



<p><strong>Agroforestri: Dari Sawah ke Produk Bernilai Tinggi</strong></p>



<p>Pertanian berkelanjutan jadi mesin utama lahirnya kerjaan hijau. Kalau dulu petani cuma andalin pola tanam biasa, sekarang mereka pelan-pelan pindah ke sistem agroforestri dan bikin produk bernilai tambah.</p>



<p>Mulai dari gula semut, lada, sampai kopi, semua itu melahirkan kerjaan baru: ada koperasi tani, petani organik, operator persemaian bibit, sampai produsen lokal yang siap masuk pasar. Contohnya bisa dilihat di masyarakat sekitar DAS Balantieng, Sulawesi Selatan.</p>



<p>Di sana, BUMDes Tumarila (Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba) bikin banyak usaha: produksi keripik, gula semut, bubuk lada, sampai pakan ternak. Jadi hasil tani nggak berhenti di panen, tapi lanjut ke pengolahan dan pemasaran. Efeknya? Ekonomi naik, lahan tetap aman.</p>



<p><strong>Kreativitas Lokal: Tradisi Ketemu Pasar</strong></p>



<p>Industri kreatif juga nggak mau ketinggalan. Warga mulai manfaatin hasil hutan nonkayu jadi produk keren bernilai tinggi. Tujuannya? Biar bisa bikin kerajinan dan fesyen yang ramah lingkungan.</p>



<p>Kerjaan baru pun lahir: perajin ecoprint, penenun pandan, perajin lontar, sampai desainer busana berbahan alami. Contoh nyata ada di Sabu Raijua, di mana kelompok kayak Bapalok dan PMPB kembangin usaha tenun pandan dan lontar. Mereka gabungin kearifan lokal dengan inovasi, jadinya tenun bisa bersaing di pasar modern.</p>



<p>Bahkan dari pohon lontar aja bisa keluar banyak produk, kayak sopi (minuman tradisional) dan pemanis alami. Kreativitas ini bikin tradisi tetap hidup sekaligus jadi sumber cuan berkelanjutan.</p>



<p><strong>Ekonomi Biru: Laut Lestari, Dompet Terisi</strong></p>



<p>Di daerah pesisir, warga nemuin cara biar bisa jaga laut sambil tetap hidup sejahtera. Caranya lewat budidaya&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/rumput-laut">rumput laut</a>, persemaian mangrove, dan produk perikanan berkelanjutan. Semua ini bikin kerjaan hijau baru sekaligus menciptakan rantai ekonomi biru yang menguntungkan.</p>



<p><em>“Jenis pekerjaan yang tercipta, yakni petani &amp; pengolah rumput laut, pengelola persemaian mangrove, pengolah produk perikanan berkelanjutan, penjaga laut berbasis komunitas,”</em>&nbsp;kata Sidi.</p>



<p>Contohnya ada Komunitas IMAN dan SEACREST INDONESIA. Mereka libatin banyak perempuan buat ambil peran utama. Bukan cuma nanem dan panen, tapi juga ngolah rumput laut jadi produk bernilai jual.</p>



<p>Lebih kerennya lagi, para perempuan ini juga jadi garda depan penjaga laut. Jadi bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga penjaga ekosistem pesisir.</p>



<p><strong>Rantai Nilai yang Nggak Putus</strong></p>



<p><em>“Keberhasilan GEF SGP Indonesia Fase 7 ini menunjukkan bahwa, selain menciptakan&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/lapangan-kerja">lapangan kerja</a>, kita juga membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari pembibitan dan budidaya, hingga pengolahan, branding, dan pemasaran,”</em>&nbsp;kata Sidi.</p>



<p>Menurut Sidi, model pembangunan berbasis masyarakat ini bisa jadi blueprint kuat buat bangun ekonomi yang bukan cuma sejahtera, tapi juga adil dan nyatu sama alam.</p>



<p>Intinya, keberlanjutan itu bukan jargon kosong. Ini tumbuh dari sistem yang inklusif, di mana petani, perajin, sampai nelayan semua punya peran nyata buat jaga lingkungan sambil ngejaga ekonomi keluarga. Rantai nilai yang terbentuk bikin masyarakat makin berdaya, alam pun tetap terjaga.</p>



<p>Sumber: https://www.guideku.com/news/2025/10/01/094356/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/agroforestri-tenun-sampai-rumput-laut-cara-komunitas-di-desa-bangun-ekonomi-hijau/">Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita 103 Lebih Lapangan Kerja Hijau Tercipta dari Desa hingga Pesisir</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/cerita-103-lebih-lapangan-kerja-hijau-tercipta-dari-desa-hingga-pesisir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sun, 28 Sep 2025 00:14:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17228</guid>

					<description><![CDATA[<p>(28/9/2025) Siapa bilang menjaga alam hanya soal larangan menebang pohon atau membatasi aktivitas laut? Nah, di beberapa desa di Indonesia, justru dari upaya konservasi lahir ratusan peluang kerja baru. Yang pasti, lapangan kerja ini berkontribusi kepada pelestarian dan pemulihan lingkungan. Ya, pembangunan berkelanjutan memang mustahil lepas dari rumus sederhana tapi kuat, yakni konservasi lingkungan ditambah pemberdayaan masyarakat sama dengan ekonomi hijau yang tangguh. Rumus ini berbukti. Ratusan lapangan kerja hijau lahir di empat bentang alam yang berbeda. Inisiatif ini diciptakan melalui program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase ke-7, program pendanaan berbasis komunitas. Tentunya bukan cuma melindungi ekosistem, inisiatif ini juga membuka...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-103-lebih-lapangan-kerja-hijau-tercipta-dari-desa-hingga-pesisir/">Cerita 103 Lebih Lapangan Kerja Hijau Tercipta dari Desa hingga Pesisir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52.png" alt="" class="wp-image-17231" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-52-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Salah satu petani rumput laut, pekerjaan yang tercipta dari inisiasi berbasis komunitas.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(28/9/2025) Siapa bilang menjaga alam hanya soal larangan menebang pohon atau membatasi aktivitas laut? Nah, di beberapa desa di Indonesia, justru dari upaya <a href="https://www.suara.com/tag/konservasi">konservasi</a> lahir ratusan peluang kerja baru. Yang pasti, <a href="https://www.suara.com/tag/lapangan-kerja">lapangan kerja</a> ini berkontribusi kepada pelestarian dan pemulihan lingkungan.</p>



<p>Ya, pembangunan berkelanjutan memang mustahil lepas dari rumus sederhana tapi kuat, yakni konservasi lingkungan ditambah pemberdayaan masyarakat sama dengan ekonomi <a href="https://www.suara.com/tag/hijau">hijau</a> yang tangguh. Rumus ini berbukti. Ratusan lapangan kerja hijau lahir di empat bentang alam yang berbeda.</p>



<p>Inisiatif ini diciptakan melalui program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase ke-7, program pendanaan berbasis komunitas. Tentunya bukan cuma melindungi ekosistem, inisiatif ini juga membuka jalan bagi tumbuhnya peluang ekonomi baru di tingkat lokal.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala memaparkan data dari program “Bentang Alam” ini mencatat pencapaian luar biasa. Data itu mencatat lebih dari 103 jenis pekerjaan hijau dan usaha komunitas berhasil dibentuk atau diperkuat di empat bentang alam utama di Indonesia.</p>



<p>“Ini bukan sekadar angka, melainkan kisah nyata tentang orang-orang yang membangun mata pencaharian berkelanjutan yang berakar pada konservasi lingkungan mereka,” ujar Sidi dalam pernyataannya, Selasa (23/9/2025).</p>



<p>Setiap angka memang menyimpan kisah nyata tentang warga desa yang berhasil menghubungkan kelestarian alam dengan sumber penghidupan mereka. Dari lahan pertanian, hutan, hingga pesisir, masyarakat kini nggak cuma menjadi penjaga lingkungan, tapi juga pelaku ekonomi yang berdaya.</p>



<p><strong>Agroforestri: Dari Lahan ke Nilai Tambah</strong></p>



<p>Pertanian berkelanjutan menjadi mesin utama yang menggerakkan penciptaan lapangan kerja hijau. Biasanya, petani hanya mengandalkan pola tanam yang tradisional. Kekinian, mereka mulai berangsur beralih pada sistem agroforestri dan produksi bernilai tambah.</p>



<p>Dari gula semut, lada, hingga kopi, semua produk tersebut menciptakan jenis pekerjaan baru, yakni koperasi tani, spesialis pertanian organik, operator persemaian bibit, hingga produsen lokal yang berorientasi pasar. Salah satu studi kasus dialami masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, Sulawesi Selatan.</p>



<p>Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tumarila di Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, yang menjadi bagian dari ekosistem DAS Balantieng, melahirkan beragam usaha baru. Mulai dari produksi keripik, pembuatan gula semut, bubuk lada, hingga pakan ternak berbahan pelet.</p>



<p>Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pertanian tidak lagi berhenti pada panen, melainkan bisa berlanjut ke pengolahan dan pemasaran yang menambah nilai ekonomi. Dengan cara ini, kesejahteraan meningkat, namun kelestarian lahan tetap terjaga.</p>



<p><strong>Kreativitas Lokal Menyambung Tradisi dan Pasar</strong></p>



<p>Industri kreatif ternyata enggan ketinggalan untuk melahirkan peluang lapangan kerja hijau. Dalam inisiasi tersebut, warga memanfaatkan hasil hutan nonkayu menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Selain motif ekonomi, tujuannya tak lain untuk menciptakan kerajinan tangan dan produk fesyen yang berkelanjutan.</p>



<p>Jenis pekerjaan baru pun mulai bermunculan dalam inisiasi warga tersebut. Sebut saja, munculnya para perajin ecoprint, penenun pandan, perajin lontar, hingga desainer busana yang tentunya mengutamakan bahan alami dan berpegang teguh pada prinsip berkelanjutan.</p>



<p>Di Sabu Raijua, misalnya, kelompok masyarakat seperti Bapalok dan PMPB mengembangkan usaha tenun pandan dan lontar. Lebih dari sekadar menjaga tradisi, mereka memadukan kearifan lokal dengan inovasi sehingga produk tenun mampu bersaing di pasar modern.</p>



<p>Bahkan, dari pohon lontar lahir beragam produk baru seperti sopi (minuman tradisional) dan pemanis alami. Kreativitas ini menjadi jembatan antara tradisi dan pasar, menjadikan budaya lokal sebagai sumber ekonomi berkelanjutan.</p>



<p><strong>Ekonomi Biru dari Laut yang Terjaga</strong></p>



<p>Di bentang alam pesisir, masyarakat menemukan cara menjaga laut sambil menghidupi keluarga. Prinsip keberlanjutan diterapkan lewat budidaya rumput laut, pengelolaan persemaian mangrove, hingga pengolahan produk perikanan berkelanjutan. Semua ini membuka peluang kerja <a href="https://www.suara.com/tag/hijau">hijau</a> sekaligus menciptakan rantai ekonomi biru yang menguntungkan.</p>



<p>“Jenis pekerjaan yang tercipta, yakni petani &amp; pengolah rumput laut, pengelola persemaian mangrove, pengolah produk perikanan berkelanjutan, penjaga laut berbasis komunitas,” kata Sidi.</p>



<p>Komunitas IMAN dan SEACREST INDONESIA, misalnya. Mereka memberdayakan kelompok perempuan untuk mengambil peran utama. Tidak cuma menanam dan memanen, kelompok perempuan tersebut juga mengolah rumput laut menjadi produk bernilai jual.</p>



<p>Lebih jauh, mereka juga dilibatkan sebagai penjaga sumber daya laut. Dengan cara ini, perempuan bukan hanya menjadi penopang ekonomi rumah tangga, tetapi juga garda depan <a href="https://www.suara.com/tag/konservasi">konservasi</a> pesisir.</p>



<p><strong>Rantai Nilai yang Menguatkan Komunitas</strong></p>



<p>“Keberhasilan GEF SGP Indonesia Fase 7 ini menunjukkan bahwa, selain menciptakan <a href="https://www.suara.com/tag/lapangan-kerja">lapangan kerja</a>, kita juga membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari pembibitan dan budidaya, hingga pengolahan, branding, dan pemasaran,” kata Sidi.</p>



<p>Menurut Sidi, pendekatan yang berpusat pada masyarakat ini menjadi cetak biru yang kuat untuk membangun ekonomi yang tidak hanya sejahtera, tetapi juga inklusif dan selaras dengan alam.</p>



<p>Model ini memperlihatkan, keberlanjutan bukan sekadar jargon belaka. Ia tumbuh dari sistem yang inklusif, di mana setiap individu, mulai dari petani, perajin, hingga nelayan, memiliki peran nyata dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.</p>



<p>Rantai nilai yang terbangun memastikan masyarakat tetap berdaya, sementara alam tetap terjaga.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/09/28/001440/cerita-103-lebih-lapangan-kerja-hijau-tercipta-dari-desa-hingga-pesisir?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-103-lebih-lapangan-kerja-hijau-tercipta-dari-desa-hingga-pesisir/">Cerita 103 Lebih Lapangan Kerja Hijau Tercipta dari Desa hingga Pesisir</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>