<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kolaborasi Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/kolaborasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kolaborasi/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:20 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Kolaborasi Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kolaborasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Dec 2025 07:23:15 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17330</guid>

					<description><![CDATA[<p>(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) BJ Habibie, Provinsi Gorontalo, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan ekonomi alternatif bagi masyarakat. Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025). Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png" alt="" class="wp-image-17331" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-2-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pupuk organik cair sebagai solusi ekonomi alternatif bagi warga di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie, Gorontalo.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(01/12/2025) Upaya pelestarian Suaka Margasatwa (SM) Nantu-Boliohuto dan Taman Hutan Raya (Tahura) <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>, Provinsi <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, tidak melulu bertumpu pada penertiban tambang ilegal atau pemulihan ekosistem. Sejumlah solusi dan inovasi mengacu kepada peningkatan <a href="https://www.suara.com/tag/ekonomi">ekonomi</a> alternatif bagi masyarakat.</p>



<p>Ragam inovasi tersebut dipaparkan dalam momen penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan ini digelar di Aula Unit Penunjang Akademik (UPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Gorontalo, Kamis (27/11/2025).</p>



<p>Dihadiri sejumlah pihak lintas sektor, pertemuan tersebut terbilang langka. Acara itu menjadi ruang strategis untuk menyampaikan capaian program, berbagi praktik baik, dan merumuskan langkah keberlanjutan. Tak hanya itu, forum itu menjadi ajang <em>curhat</em> terkait masalah yang terjadi, terutama di SM Nantu-Boliohuto dan Tahura BJ Habibie.</p>



<p>Nah, salah satu masalah yang diangkat terkait aktivitas tambang emas ilegal di SM Nantu-Boliohuto. Aktivitas ini dinilai meresahkan masyarakat serta mengancam ekosistem di wilayah tersebut. Sejumlah pihak berupaya untuk memberikan solusi terhadap masalah yang ditimbulkan dari eksploitasi sumber daya alam tersebut.</p>



<p>Tidak hanya solusi dari pemerintah untuk melakukan pendampingan warga yang terdampak dan edukasi terkait geologi, sektor ekonomi pun tak pelak menjadi sorotan. Ada beberapa solusi alternatif yang dikemukakan sebagai bentuk nyata transformasi ekonomi lokal ramah lingkungan dan berkelanjutan.</p>



<p>Salah satu alternatif yang diperkuat adalah budidaya lebah madu atau yang dikenal dengan nama latin Apis Cerana di Desa Pangahu, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo. Inovasi ini dinilai memiliki prospek cerah. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan ekonomi warga tanpa mengorbankan hutan.</p>



<p>Turut hadir dalam pertemuan lintas sektor tersebut, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengatakan pihaknya membantu untuk memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan yang mereka hadapi, salah satunya yang terjadi di SM Nantu Boliohuto.</p>



<p>“Dengan mendukung inisiatif lokal, GEF SGP membantu memberdayakan komunitas untuk menangani isu lingkungan mereka sendiri. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam, sehingga mendorong praktek yang lebih berkelanjutan,” ujar Sidi.</p>



<p><strong>Ragam Solusi Tingkat Tapak</strong></p>



<p>Nah, dalam kesempatan tersebut, beragam lembaga mitra GEF SGP Indonesia Fase 7 memaparkan hasil kerja mereka selama program. Pemaparan tersebut menunjukkan berbagai inovasi dan dampak positif di tingkat tapak setelah mendapatkan manfaat dari program GEF SGP Indonesia Fase 7.</p>



<p>Salah satu pemaparan dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Gorontalo dan Institute for Human and Ecological Studies (Inhides) yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan advokasi. Mereka menyoroti kerusakan hutan akibat pertambangan ilegal dan ancaman Hutan Tanaman Energi (HTE). Selain itu, mereka juga memfasilitasi terbentuknya kolektif perempuan tani dan mitigasi konflik satwa liar.</p>



<p>Ada pula Women Institute for Research and Empowerment (WIRE-G) mendampingi perempuan dan orang muda di Desa Bihe dan Pangahu. Fokus mereka adalah penguatan agensi perempuan dan anak muda, serta mendorong perencanaan pembangunan desa yang responsif gender.</p>



<p>Marsudi Lestantun menonjol melalui program agroforestri Silvopastura atau praktik mengintegrasikan pohon, hijauan, dan penggembalaan hewan peliharaan dengan cara yang saling menguntungkan. Lembaga ini menerapkan penanaman penghijauan berbasis peternakan dan mendampingi kelompok tani agar beralih dari pola tanam monokultur jagung ke sistem tanaman tahunan dan multikultur.</p>



<p>Dalam ranah pengembangan komoditas, Agraria Institute bekerja di Desa Bihek dan Bondula guna menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Mereka memfasilitasi penandaan batas partisipatif, mendorong penanaman bibit kakao dan tanaman adat seperti agar, serta berkolaborasi dengan barista untuk mengembangkan kopi lokal.</p>



<p>Kelompok Tani Hutan (KTH) Pobuto Nantu, menggandeng Marsudi Lestantun sejak program GEF SGP Indonesia Fase 6. Mereka mengembangkan komoditas kakao hingga menembus expo di Jakarta. Uniknya, kakao ini bahkan diolah menjadi camilan lokal seperti keripik atau cemilan. Buntutnya, inisiatif ini memberikan nilai tambah bagi petani.</p>



<p>Nah dari sisi akademik, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) UNG terlibat dalam pemetaan partisipatif, rehabilitasi lahan melalui distribusi 5.000 bibit Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman kekayuan multiguna, serta penyusunan Peraturan Desa tentang Penataan Ruang Wilayah dan Batas Desa.</p>



<p>Sementara itu, LP2M UNG melalui Pusat Studi Energi menitikberatkan pada konservasi lahan dengan mendirikan kebun energi. Mereka juga membangun pico-hydro 700 watt, dan membentuk komunitas ekowisata.</p>



<p>Ekonomi kreatif lokal pun enggan ketinggalan. Aspek ini juga memantik perhatian melalui pendampingan Rumah Kebun, yang membantu akses pasar dan branding produk seperti gula aren batu, sambal ayam kampung, dan keripik pepaya. Mereka juga berperan dalam pengembangan infrastruktur ekowisata di Air Terjun Bondula, Gorontalo.</p>



<p><em>“Lewat rangkaian inovasi ini, desa-desa penyangga menunjukkan ekonomi dapat tumbuh tanpa merusak lingkungan. Dukungan multipihak dan pendampingan berkelanjutan membuat masyarakat dapat memperoleh sumber penghidupan baru sembari menjaga kawasan hutan yang menjadi penopang kehidupan mereka,”</em> ujar Sidi.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/12/01/092409/inovasi-desa-perkuat-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem-dari-lebah-kakao-hingga-kopi-lokal?page=1</p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-lebah-hingga-kopi-lokal-inovasi-desa-membantu-ekonomi-tanpa-merusak-ekosistem/">Dari lebah hingga kopi lokal, Inovasi Desa Membantu Ekonomi Tanpa Merusak Ekosistem</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 28 Nov 2025 01:33:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[BJ Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17324</guid>

					<description><![CDATA[<p>(28/11/2025) “Tak ada batasan bagi apa yang bisa kita capai sebagai perempuan.” Kutipan eks ibu negara Amerika Serikat Michelle Obama seolah mempertegas bahwa peran perempuan itu nirbatas. Nah, sepenting ini pula peran perempuan dalam konservasi di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya BJ Habibie. Kesadaran inilah yang mendorong beragam pihak berkumpul di Aula Unit Pelaksana Akademik Perpustakaan Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (27/11/2025), dalam momentum penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Di sana, beberapa pihak lintas sektor bersamuh. Dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pendamping lapangan, kelompok masyarakat, hingga perwakilan dari GEF SGP Indonesia, mereka menandatangani...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image.png" alt="" class="wp-image-17325" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/12/image-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Peran vital perempuan dalam keberlangsungan ekosistem di SM Nantu dan Tahura BJ Habibie memantik sorotan.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(28/11/2025) <em>“Tak ada batasan bagi apa yang bisa kita capai sebagai <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a>.” Kutipan eks ibu negara Amerika Serikat Michelle Obama seolah mempertegas bahwa peran perempuan itu nirbatas. Nah, sepenting ini pula peran perempuan dalam konservasi di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya <a href="https://www.suara.com/tag/bj-habibie">BJ Habibie</a>.</em></p>



<p>Kesadaran inilah yang mendorong beragam pihak berkumpul di Aula Unit Pelaksana Akademik Perpustakaan Universitas Negeri <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, Kamis (27/11/2025), dalam momentum penutupan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7.</p>



<p>Di sana, beberapa pihak lintas sektor bersamuh. Dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pendamping lapangan, kelompok masyarakat, hingga perwakilan dari GEF SGP Indonesia, mereka menandatangani meneken Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender dan Pencegahan Diskriminasi serta Pelecehan Seksual.</p>



<p>Tujuan penandatanganan pakta integritas ini sejatinya simpel namun sangat penting. Ya, pakta integritas ini ingin memastikan perempuan mendapatkan ruang aman, kesempatan yang setara, dan peran nyata dalam menjaga ekosistem di Suaka Margasatwa Nantu Boliohuto dan Taman Hutan Raya BJ Habibie.</p>



<p><strong>Mendorong Kepemimpinan Perempuan, Bukan Sekadar Kehadiran</strong></p>



<p>Masyarakat di wilayah penyangga memahami, perempuan berperan vital. Mereka menjaga pangan keluarga, mempraktikkan pengetahuan lokal soal tanaman, hingga memastikan sumber air terjaga. Banyak pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan. Pengetahuan ini tidak tertulis, tapi sangat berharga.</p>



<p>Sayangnya, ketika tiba pada tahap pengambilan keputusan atau penyusunan kebijakan kelompok, peran perempuan kerap diabaikan. Peran mereka belum sepenuhnya diakomodasi. Nah, lewat pakta integritas ini, semua pihak sepakat mengubah itu. Perempuan harus punya akses sama untuk bicara, memutuskan, dan memimpin.</p>



<p>Salah satu komitmen terbesar dalam pakta ini yakni meningkatkan kepemimpinan perempuan. Artinya, perempuan tidak cuma hadir sebagai peserta. Mereka didorong terlibat dalam bentuk yang lebih strategis. Semisalnya, perempuan didorong memimpin kelompok, merancang kegiatan konservasi, atau terlibat dalam konsultasi kebijakan lokal.</p>



<p>Perempuan dinilai membawa perspektif berbeda, yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contoh: bagaimana tanaman tertentu bisa memberi manfaat ganda, atau bagaimana sebuah area hutan menjadi sumber air penting bagi desa. Perspektif ini tidak melulu muncul dalam diskusi teknis, tapi sangat menentukan efektivitas konservasi.</p>



<p><strong>Ruang Aman untuk Perempuan</strong></p>



<p>Di lapangan, perempuan acapkali menghadapi tantangan tambahan. Sebut saja mulai dari risiko pelecehan, diskriminasi, atau diremehkan. Karena itu, pakta integritas ini memuat komitmen tegas terhadap Zero Tolerance atau toleransi nol pada kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual.</p>



<p>Komitmen ini tidak hanya berbentuk janji, tetapi juga rencana nyata: memastikan adanya mekanisme pelaporan, memberikan perlindungan, dan menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi perempuan dalam semua aktivitas konservasi. Ini penting karena perempuan hanya bisa aktif berkontribusi jika mereka merasa aman.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menegaskan bahwa komitmen ini bukan sekadar formalitas. Menurut Sidi, pakta integritas ini menegaskan tanggung jawab kolektif para pemangku kepentingan dalam memastikan kesetaraan gender dapat diterapkan hingga ke tingkat tapak.</p>



<p>“Hal ini perlu kami dorong sebagai komitmen bersama demi keberlanjutan alam dan kesejahteraan masyarakat di wilayah penyangga SM Nantu dan Tahura B.J. Habibie,” ujar Sidi.</p>



<p>Pernyataan ini mengingatkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya isu manusia, tetapi juga isu lingkungan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berperan penuh, praktik konservasi menjadi lebih kaya dan efektif.</p>



<p><strong>Menuju Masa Depan Konservasi yang Lebih Adil</strong></p>



<p>Penandatanganan pakta ini menandai langkah besar menuju masa depan konservasi yang lebih inklusif. Ya, perempuan bukan sekadar “pelengkap”, tetapi justru sebagai aktor utama yang punya pengetahuan, pengalaman, dan peran penting dalam menjaga kelestarian hutan.</p>



<p><em>“Dengan kolaborasi lintas lembaga dan kemauan bersama untuk menciptakan ruang aman dan setara, kawasan Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie kini bergerak menuju model konservasi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan,”</em> kata Sidi.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/28/132338/seruan-ruang-aman-bagi-peran-perempuan-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie?</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/seruan-untuk-ruang-peran-perempuan-yang-aman-di-sm-nantu-boliohuto-dan-tahura-bj-habibie/">Seruan untuk Ruang Peran Perempuan yang Aman di SM Nantu Boliohuto dan Tahura BJ Habibie</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 18 Nov 2025 00:07:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Beras Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[ISRF]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17306</guid>

					<description><![CDATA[<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia. Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17307" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-63.png 1536w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Seremoni pembukaan acara International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025). Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(18/11/2025) Hi Urbie’s! Panggung International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 kembali menjadi pusat perhatian dunia ketika isu keberlanjutan pangan—khususnya komoditas beras—dibahas secara mendalam dalam sesi pleno kedua. Bertempat di Discovery Ancol, Jakarta Utara, forum ini menegaskan bahwa masa depan pangan global menuntut perubahan besar yang hanya bisa lahir dari kolaborasi, inovasi, dan investasi lintas sektor. Dengan tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras,” sesi ini menghadirkan para pemimpin dan pakar global untuk merumuskan solusi strategis bagi salah satu komoditas terpenting di dunia.</p>



<p>Sesi dimulai dengan paparan tajam dari Alan Johnson, Senior Operations Officer IFC sekaligus Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP). Dalam paparannya, Johnson menyoroti ironi besar sektor perberasan global: teknologi untuk praktik pertanian berkelanjutan seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) dan benih tahan penyakit sebenarnya telah tersedia selama lebih dari dua dekade, tetapi tingkat adopsinya masih sangat rendah. Hanya 5–6 persen dari total produksi beras dunia yang dapat dikategorikan berkelanjutan. Padahal, komoditas ini menyangkut keamanan pangan miliaran orang, kehidupan jutaan petani, hingga kontribusi signifikan terhadap emisi dan penggunaan air.</p>



<p>Setelah sesi pembuka, diskusi panel menghadirkan empat pemikir kunci:<br>Sidi Rana Menggala (Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia), Anoushka Harris (Sustainability Manager Associated British Foods), Senthilkumar Kalimuthu (Program Leader Africa Rice), dan Arjumand Nizami (Pakistan Country Director Helvetas). Masing-masing membawa perspektif berbeda, tetapi satu pesan sama-sama menggema: transformasi sektor beras membutuhkan dukungan menyeluruh dari hulu ke hilir.</p>



<p>Sidi Rana Menggala menguraikan perjalanan panjang GEF SGP Indonesia dalam mendukung aksi lokal sejak 1997. Program mereka telah membantu 86 kelompok masyarakat melalui pendanaan hibah antara USD 10.000 hingga USD 50.000. Tidak hanya soal pendanaan, Sidi juga menekankan bahwa perubahan perilaku petani menjadi tantangan terbesar. Mereka cenderung menghindari risiko, sehingga penting untuk menjembatani komunikasi, terutama terkait inisiatif pasar karbon. Salah satu inisiatif yang menarik adalah program pengembangan padi berkelanjutan di Sulawesi Selatan yang melibatkan lebih dari 200 petani. Inisiatif ini telah membentuk lingkar belajar di 15 desa, meningkatkan penggunaan pupuk organik, serta memperkuat hubungan komunitas.</p>



<p>Dari perspektif perusahaan global, Anoushka Harris menekankan pentingnya standar SRP sebagai alat komunikasi antara industri dan konsumen. Ia menyebut bahwa dalam konteks pasar Inggris, narasi keberlanjutan lebih mudah diterima konsumen apabila dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi ketimbang klaim teknis seperti penghematan air.</p>



<p>Sementara itu, Senthilkumar Kalimuthu menggambarkan kondisi beras di Afrika yang menarik perhatian dunia. Dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi per tahun, sekitar 40 persennya masih diimpor dengan nilai fantastis: USD 8,2 miliar. Hal ini menunjukkan urgensi Afrika untuk langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan tanpa melalui tahapan panjang seperti Asia. Namun, tantangan mereka tidak sederhana: infrastruktur terbatas, rantai nilai terputus, dan minimnya investasi.</p>



<p>Dari Pakistan, Arjumand Nizami menekankan bahwa ketergantungan pada premi harga bisa menimbulkan masalah jangka panjang. Menurutnya, insentif paling efektif justru bersumber dari efisiensi biaya produksi, peningkatan layanan penyuluhan, serta kepastian pasar. Strategi inilah yang akan membangun model bisnis berkelanjutan bagi petani.</p>



<p>Pada akhirnya, sesi pleno ini menegaskan bahwa masa depan beras berkelanjutan tidak hanya membutuhkan inovasi dan teknologi, tetapi juga komitmen lintas pemangku kepentingan. Kolaborasi publik-swasta, sistem standar yang kuat, dan pendekatan holistik diperlukan agar praktik berkelanjutan menjadi “normal baru” dalam produksi beras global.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/11/18/isrf-2025-inovasi-investasi-dan-insentif-demi-masa-depan-beras-berkelanjutan/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/masa-depan-beras-berkelanjutan-dengan-inovasi-investasi-dan-insentif-dari-irf-2025/">Masa Depan Beras Berkelanjutan Dengan Inovasi, Investasi, dan Insentif dari IRF 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:59:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17277</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Tradisi pertanian di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok perempuan petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun kakao dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa. Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia,&#160; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&#160; Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png" alt="" class="wp-image-17278" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-59-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Tradisi pertanian di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>, didominasi laki-laki. Namun, sekelompok <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> petani mengubah stigma tersebut. Mereka mengelola kebun <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> dengan tangan sendiri. Dari upaya tersebut, lahir kesejahteraan baru bagi keluarga sekaligus perubahan budaya pertanian di desa.</em></p>



<p>Program pemberdayaan perempuan di Saritani, yang merupakan bagian dari kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia,&nbsp; membuka ruang bagi para ibu. Mereka menjadi berdaya secara mandiri. Bukan menjadi pendamping belaka, mereka kini menjadi pelaku utama dalam siklus pertanian kakao.&nbsp;</p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani menuturkan gagasan tersebut lahir dari potensi agroforestri di wilayah tersebut. Awalnya, Catur dan rekannya hanya mengenalkan kakao sebagai tanaman alternatif ramah lingkungan, eh ternyata justru perempuan yang cepat beradaptasi. Kaum hawa pun langsung mengambil peran penting.</p>



<p>“<em>Kami melihat kakao bisa menjadi komoditas unggulan sekaligus menjaga hutan tetap lestari. Awalnya kami cuma mau memperkenalkan tanaman alternatif yang lebih ramah lingkungan ketimbang jagung. Tapi ternyata, justru perempuan yang paling cepat beradaptasi dan mengambil peran penting,</em>” kata Catur saat diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Menurut Catur, program tersebut sejak awal memang menekankan keterlibatan perempuan, terutama bagi mereka yang suaminya tidak produktif atau bekerja di luar daerah. Dalam konteks seperti ini, perempuan menjadi tulang punggung keluarga yang menopang ekonomi rumah tangga.</p>



<p>“<em>Sebenarnya, sokoguru ekonomi keluarga itu ya ibu-ibu. Nah, bapak-bapak hanya mencari uang. Tapi kalau urusan manajemen keuangan, pengaturan kebutuhan, sampai keputusan untuk menanam apa, semua dipegang oleh ibu-ibu. Mereka jauh lebih peka pada kebutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak</em>,” terang Catur.</p>



<p>Di banyak desa termasuk Saritani, imbuh Catur, perempuan merupakan pihak pertama yang merasakan dampak perubahan ekonomi. Ketika penghasilan melorot atau hasil panen gagal, mereka yang justru bergerak mencari solusi lebih dulu. Nah, menurut Catur, ketekunan perempuan inilah yang menjadi keunggulan tersendiri dalam budidaya kakao.</p>



<p>“<em>Kami sering menyebut mereka ‘ibu-ibu perkasa’,</em>” kata Catur sambil tertawa kecil. “<em>Mereka lebih telaten dan sabar, dua hal yang penting dalam merawat kakao. Buah kakao harus dibersihkan, dijemur, dan dipisahkan bijinya setiap hari. Laki-laki biasanya tidak sekuat dan setelaten itu.”</em></p>



<p>Selain itu, lokasi kebun kakao yang tidak terlalu jauh dari permukiman membuat perempuan lebih mudah mengelolanya. Mereka nggak perlu masuk jauh ke hutan. Banyak dari mereka yang bekerja bersama suami, anak, atau tetangga. Alhasil, aktivitas bertani kakao kini menjadi bagian dari rutinitas dan kehidupan sosial desa.</p>



<p>Perubahan ekonomi yang muncul pun terasa nyata. Catur mengatakan, pendapatan dari kakao hingga kiwari jauh lebih stabil dibandingkan jagung. Padahal, sebelum beralih ke tanaman kakao, jagung menjadi komoditas utama masyarakat, terutama di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Petani yang dulunya kesulitan kini bisa membeli kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, bahkan menabung untuk masa depan</em>,” tutur dia. “<em>Ketika harga kakao naik di pasar internasional, masyarakat Saritani benar-benar merasakan dampaknya. Mereka mulai menikmati hasil dari kerja keras sendiri.</em>”</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peran penting perempuan</h2>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.arkadia.me/v2/articles/ancillavinta/cVVSqiMbC7LT0jUT7KIXtowfeFvF0kGv.png" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memproses hasil panen Kakao(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Peran perempuan di Desa Saritani kekinian tidak lagi berhenti di ranah domestik. Mereka mengambil keputusan. Mereka juga mengelola hasil, dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi desa. Suratinah, 63 tahun, salah satunya. Dia merupakan petani kakao yang menjadi contoh nyata transformasi perempuan di Desa Saritani.</p>



<p>“<em>Dulu hidup saya susah. (Saya) cuma bisa kerja jadi buruh, nggak punya modal, semua serba kurang. Tapi sejak menanam kakao, saya bisa panen tiap dua minggu. Hasilnya saya pakai buat beli beras, ayam, bahkan kirim uang sekolah anak di Jawa,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2026).</p>



<p>Suratinah menuturkan, keterlibatan perempuan di kebun kakao bukan hanya sebatas membantu. Mereka kini mampu mengelola seluruh proses produksi, mulai dari menanam, merawat, hingga menjual hasil panen.</p>



<p>“<em>Saya suka kerja, (tujuannya) biar bisa nyekolahin anak dan hidup lebih layak</em>,” ujar Suratinah. “<em>Sekarang kami sudah bisa mengatur waktu, kerja di kebun pagi sampai jam sebelas, lanjut lagi sore hari. Dulu, jangankan mikir sekolah, makan aja kadang susah.”</em></p>



<p>Rutinitas baru ini perlahan membentuk budaya baru di Saritani. Budaya kerja ini menempatkan perempuan sebagai pusaran aktivitas ekonomi di Desa Saritani. Dengan hasil panen 10 hingga 15 kilogram setiap dua pekan, mereka kini memiliki penghasilan rutin yang menopang kebutuhan keluarga.</p>



<p>“<em>Sekarang bukan cuma saya, tapi perempuan-perempuan lain juga sudah bisa beli beras dan ayam sendiri</em>,” kata Suratinah dengan bangga. “<em>Dulu kalau mau beli apa-apa harus pinjam uang. Sekarang nggak lagi.</em>”</p>



<p>Lebih jauh, ia berharap perempuan lain di desanya berani mengikuti jejak yang sama. “<em>Ayo bertani, menanam kakao secara berkala. Supaya hidup kita bisa agak enak</em>,” pesannya. “<em>Jangan takut mulai dari kecil, karena kalau telaten, hasilnya akan kelihatan.</em>”</p>



<p>Kisah perempuan Saritani membuktikan kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari tanah desa yang sederhana. Dari biji-biji kakao, kekinian mereka bukan hanya petani, tapi juga simbol ketekunan dan kemandirian yang membuat keluarga dan desa lebih sejahtera.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/135952/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/tumbuh-bersama-kakao-cerita-inspiratif-perempuan-saritani-gorontalo-tanam-kemandirian/">Tumbuh Bersama Kakao, Cerita Inspiratif Perempuan Saritani Gorontalo Tanam Kemandirian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 22 Oct 2025 13:48:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Saritani]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kakao]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17274</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/10/2025) Biji kakao menjadi saksi bisu perjuangan para petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang. Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan. “Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png" alt="" class="wp-image-17275" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-58-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/10/2025) <em>Biji <a href="https://www.suara.com/tag/kakao">kakao</a> menjadi saksi bisu perjuangan para petani <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> di <a href="https://www.suara.com/tag/desa-saritani">Desa Saritani</a>, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, <a href="https://www.suara.com/tag/gorontalo">Gorontalo</a>. Mereka menjadi roda penggerak ekonomi lokal melalui budidaya kakao yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Dari jagung yang dinilai merusak lahan, mereka menuju kakao yang memberi manfaat jangka panjang.</em></p>



<p>Catur Madira Harjoh, 56 tahun, pendamping masyarakat Desa Saritani, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari program kemitraan dengan&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em>. Awalnya, imbuh Catur, ada keresahan terhadap lahan pertanian yang rusak akibat pola tanam jagung yang nir berkelanjutan.</p>



<p>“<em>Sistem pertanian jagung di wilayah itu cenderung mengabaikan konservasi tanah dan terlalu bergantung pada pupuk kimia. Kalau berkunjung ke sana, pemandangannya ekstrem,</em>” ujar Catur ketika diwawancarai, Selasa (7/10/2025).</p>



<p>Catur mengisahkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Saritani di masa silam. Kendati pemerintah menyediakan bibit, benih, dan pupuk untuk komoditas jagung, praktik bertani di daerah ini malah acapkali merugikan petani kecil. Banyak lahan yang tidak cocok tetap ditanami jagung, bahkan di lereng-lereng ekstrem.</p>



<p>“<em>Nggak cuma itu, kondisi tersebut juga membuat petani terjerat tengkulak dan hasil panennya tak mampu meningkatkan kesejahteraan. Alhasil, hanya yang tuan tanah yang menikmati ekonomi dari jagung tersebut,</em>” tegas Catur.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/22/76955-petani-perempuan-desa-saritani.jpg" alt="Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)"/><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah petani perempuan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, memisahkan biji kakao dari kulitnya usai panen.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>Ia menambahkan bahwa tak heran bila Gorontalo termasuk salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Menurut Catur, pengolahan tanah pada masa itu dilakukan secara ugal-ugalan demi mengejar hasil panen cepat. Tapi faktanya, terang Catur, hasil dari pertanian tersebut bukannya malah meroket, melainkan terus melorot.</p>



<p>Melihat kondisi tersebut, Catur bersama tim mulai mengenalkan alternatif tanaman yang lebih ramah lingkungan. Nggak cuma itu, nilai ekonomi tanaman alternatif pun cukup tinggi. Tanaman tersebut yakni kakao. Inisiatif ini memantik sambutan positif dari kelompok perempuan di Saritani.</p>



<p>Ya, selama ini, kelompok perempuan di Saritani berperan sebagai pendamping suami di ladang. Namun, melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan, mereka belajar mengelola kebun kakao secara mandiri, dari penanaman hingga pengolahan pascapanen. Program ini juga mengajarkan praktik pertanian yang ramah lingkungan sekaligus berorientasi ekonomi.</p>



<p>Menurut Catur, sebagian besar petani perempuan di Saritani hadir sebagai tulang punggung keluarga. Biasanya, kondisi tersebut gara-gara sang suami sudah tidak produktif atau telah bekerja di tempat lain. Nah, menurut Catur, tanaman kakao cocok berada di tangan para perempuan tersebut yang dinilai cenderung lebih tekun serta telaten,</p>



<p>“<em>Kita memahami bahwa tanaman kakao memang membutuhkan perawatan rutin dan ketelatenan. Hal ini berbeda jauh dengan jagung yang monokultur dan cepat panen. Kakao mendorong kehadiran gaya hidup perempuan yang cenderung lebih tekun dan telaten,</em>” ujar Catur.</p>



<p>Titik terang pun terlihat. Nadi perekonomian mulai berdenyut setelah panen pertama tiba. Dengan luas lahan rerata 1 hingga 1,5 hektare, pendapatan mereka mulai meningkat signifikan. Apalagi, kondisi tersebut semakin menjadi-jadi ketika harga kakao di pasar internasional meroket.</p>



<p>Menurut Catur, masyarakat yang dulunya terjerat belenggu ekonomi, kiwari bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli kendaraan, bahkan menyekolahkan anak-anaknya. Ia berharap program ini terus berlanjut agar manfaat ekonomi dari kakao dapat dinikmati secara berkelanjutan. “<em>Kami ingin masyarakat menikmati hasil pertanian mereka sendiri.</em>”</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Perubahan Suratinah</strong></h3>



<p>Suratinah, 63 tahun, merasakan perubahan besar dalam hidupnya usai berkenalan dengan kakao. Dulu, hidup salah seorang petani perempuan di Desa Saritani tersebut, mengalami kesulitan ekonomi. Namun, titik balik terjadi ketika dia dan beberapa perempuan di Desa Saritani diperkenalkan dan mulai menanam kakao.</p>



<p>“<em>Saya dulu hanyalah buruh. Saat itu, saya belum bisa bertani, bahkan nggak punya modal. Hidup saya dulu sengsara, hingga akhirnya saya diperkenalkan dengan tanaman kakao,</em>” ujar Suratinah saat diwawancarai, Sabtu (11/10/2025).</p>



<p>Dia pun menerawang. Suratinah mengingat ketika itu Catur dan rekannya menyarankan warga untuk beralih dari jagung lalu menanam kakao. Sejak saat itu, denyut perekonomian mulai berdetak. Panen dilakukan dua pekan sekali. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga serta biaya sekolah anak-anak.</p>



<p>“<em>Setiap dua minggu, saya bisa memanen sekitar 10 hingga 15 kilogram kakao. Dulu harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Tapi sekarang (harganya) turun menjadi Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Meski harga turun naik, kakao tetap jadi sumber penghasilan keluarga</em>,” ujar Suratinah.</p>



<p>Hebatnya. dari hasil kebun itu, Suratinah kini mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Pulau Jawa. Ia juga menekankan keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan perempuan lain di desa. Pendapatan dari kakao memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada orang lain.</p>



<p>“<em>Sekarang sudah agak mendingan. Kalau dulu, harus pinjam-pinjam uang sama orang,</em>” jelas Suratinah.</p>



<p>Kekinian, budidaya kakao telah mengubah wajah ekonomi perempuan di Desa Saritani. Dari buruh tani yang hidup pas-pasan, mereka menjelma menjadi pelaku utama ekonomi desa. Kakao bukan lagi sekadar tanaman. Kakao menjadi jalan menuju kemandirian, stabilitas, dan kesejahteraan.</p>



<p>Sumber: http://yoursay.suara.com/news/2025/10/22/134853/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-biji-kakao-perempuan-saritani-menyemai-harapan-ekonomi-desa/">Dari Biji Kakao, Perempuan Saritani Menyemai Harapan Ekonomi Desa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 17 Oct 2025 10:44:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ICE BSD]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Trade Expo Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17271</guid>

					<description><![CDATA[<p>(17/10/2025) Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) terus memperkuat upaya peningkatan ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan model bisnis waralaba (franchise) dan toko unggulan (flagship store). Kedua skema ini diharapkan&#160; mampumemperluas jangkauan pasar produk UMKM Indonesia di Eropa, khususnya di Belanda yang memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan tersebut. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal PEN Fajarini Puntodewi saat membuka seminar “Facilitating Indonesian SME Export Through Franchisesand Flagship Stores in the Netherlands” padaTrade Expo Indonesia ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (16/10). ”Belanda memiliki posisi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/">Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="800" height="533" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57.png" alt="" class="wp-image-17272" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57.png 800w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-300x200.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-768x512.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-600x400.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-57-10x7.png 10w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em><strong>Menteri Perdagangan, Budi Santoso menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara eksportir dengan buyer di pagelaran Trade Expo Indonesia ke-40, ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025). (Foto Kemendag/Niaga.Asia)</strong></em><br></figcaption></figure>



<p>(17/10/2025) Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) terus memperkuat upaya peningkatan ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan model bisnis waralaba (franchise) dan toko unggulan (flagship store).</p>



<p>Kedua skema ini diharapkan&nbsp; mampumemperluas jangkauan pasar produk UMKM Indonesia di Eropa, khususnya di Belanda yang memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan tersebut.</p>



<p>Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal PEN Fajarini Puntodewi saat membuka seminar “Facilitating Indonesian SME Export Through Franchisesand Flagship Stores in the Netherlands” padaTrade Expo Indonesia ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (16/10).</p>



<p>”Belanda memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang bagi produk Indonesia menuju masyarakat Eropa. Selain memiliki hubungan historis yang panjang dengan Indonesia, Belanda juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan logistik dunia. Dengan demikian, perluasan kehadiran UMKM Indonesia di Belanda melalui skema waralaba dan toko unggulan merupakan langkah yang tidak hanya realistis, tetapi juga strategis,” ujar Puntodewi.</p>



<p>Puntodewi menjelaskan, konsep waralaba dan toko unggulan dapat menjadi solusi efektif bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar internasional tanpa harus menanggung biaya ekspansi penuh secara mandiri.</p>



<p>Melalui skema waralaba, pelaku UMKM dapat menstandarkan kualitas produk dan membangun merek global dengan lebih cepat. Sementara itu, toko unggulan berfungsi sebagai etalase utama yang menampilkan citra dan keunikan produk Indonesia secara langsung kepada masyarakat Eropa.</p>



<p>Puntodewi menambahkan, upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi membangun penjenamaan negara (nation branding) bagi produk Indonesia yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mencerminkan identitas dan budaya bangsa.</p>



<p>“Produk yang kuat secara budaya akan lebih mudah diterima dan dihargai oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, kualitas, keunikan, dan nilai budaya merupakan bagian yangtak terpisahkan dari strategi ekspor kita,”lanjutPuntodewi.</p>



<p>Melalui seminar ini, Puntodewi berharap pelaku UMKM dapat memperoleh wawasan, memperluas jejaring bisnis, serta menjalin peluang kerja sama guna memperluas jangkauan produk ke pasar Belanda. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan seminar tersebut sebaik mungkin sebagai ajang membangun jaringan (networking) dan kolaborasi.</p>



<p>Seminar yang diikuti 110 peserta ini menghadirkan berbagai narasumber yang meliputi Direktur Utama (Chief Executive Officer/CEO) Sarirasa Nusantaraatau Sate Khas Senayan Benny Hadisurjo, Direktur Sarirasa Europe BV Felix Ang, Direktur Utama InterAromat BV Suryo Tutuko, serta Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit.</p>



<p>Bertindak sebagai moderator seminar yaitu Koordinator Nasional Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Sidi Rana Menggala. Turut memberikan sambutan Atase Perdagangan RI Den Haag Annisa Hapsari dan Kepala Perwakilan Netherlands Business Support Office (NBSO) Indonesia Mario Lauw .</p>



<p>Sementara itu, Kepala Perwakilan NBSO Indonesia Mario Lauw menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha dari kedua negara dan memperluas peluang kerja sama di berbagai sektor.</p>



<p>“Kita hadir di sini untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Semoga pertemuan hari ini dapat membuka wawasan dan melahirkan kerja sama baru,” ujar Mario.</p>



<p>Sumber: https://www.niaga.asia/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/</p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perkuat-ekspor-umkm-melalui-model-bisnis-waralaba-dan-toko-unggulan/">Perkuat Ekspor UMKM Melalui Model Bisnis Waralaba dan Toko Unggulan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 15 Oct 2025 10:02:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Mitra]]></category>
		<category><![CDATA[Trade Expo Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17268</guid>

					<description><![CDATA[<p>(15/10/2025) Trade Expo Indonesia&#160;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&#160;event&#160;ini,&#160;Global Environmental Facility Small Grants Programme&#160;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat. Dari&#160;penerima hibah&#160;menjadi&#160;pelaku pasar. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&#160;TEI&#160;2025. Lewat&#160;event&#160;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan. Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png" alt="" class="wp-image-17269" style="width:840px;height:auto" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-56-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Booth GEF SGP di Pameran Trade Expo Indonesia 2025.(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(15/10/2025) <a href="https://www.suara.com/tag/trade-expo-indonesia">Trade Expo Indonesia</a>&nbsp;2025 digelar di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Dalam&nbsp;<em>event</em>&nbsp;ini,&nbsp;<em>Global Environmental Facility Small Grants Programme</em>&nbsp;(GEF SGP) Indonesia menampilkan ragam produk lokal yang diproduksi oleh komunitas dan masyarakat setempat.</p>



<p>Dari&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/penerima-hibah">penerima hibah</a>&nbsp;menjadi&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/pelaku-pasar">pelaku pasar</a>. Pesan ini pantas disematkan melalui pameran GEF SGP Indonesia di&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tei">TEI</a>&nbsp;2025. Lewat&nbsp;<em>event</em>&nbsp;yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan tersebut, mereka menampilkan produk lokal dan menegaskan peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam ekonomi konservasi berkelanjutan.</p>



<p>Sidi Rana Menggala, salah satu koordinator GEF SGP Indonesia, menjelaskan model pengembangan masyarakat memang memiliki pola yang cukup jelas. Mulai dari mengidentifikasi masalah, mendapatkan hibah, melaksanakan proyek, hingga melaporkan hasilnya. Tapi ada satu hal yang mengganjal.</p>



<p>“Tak dapat dipungkiri, model ini memang telah mendorong berbagai pekerjaan luar biasa yang dihasilkan dari setiap wilayah mitra. Kendati demikian, sering kali meninggalkan satu pertanyaan penting yang belum terjawab: Apa yang terjadi ketika dana hibah berakhir?” ujar Sidi dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (14/10/2025).</p>



<p>Tentunya, pertanyaan ini cukup menantang. Ada jawaban yang lebih berkelanjutan menanti. Nah, jawaban itulah yang dibawa ke panggung nasional TEI. Ya, pameran bukan sembarang pameran. Melalui&nbsp;<em>event</em>&nbsp;itu, GEF SGP Indonesia mau menggeser peran penyandang dana tradisional menjadi pembuat pasar yang proaktif.</p>



<p>Trade Expo Indonesia (TEI), merupakan ajang perdagangan dan investasi nasional yang menjadi tempat pertemuan antara pelaku usaha dan pembeli internasional. Sidi mengatakan pihaknya tidak cuma menampilkan laporan dan foto, melainkan produk nyata, layak investasi, dan siap dipasarkan dari komunitas yang mereka dampingi.</p>



<p>“Kita di dunia di mana konsumen dan pembeli B2B kian menuntut transparansi dan tujuan jelas. Nah, cerita di balik produk menjadi nilai terbesarnya. Di TEI, kami tidak hanya menjual madu; kami menampilkan hubungan erat kami dengan petani kopi dan keterkaitan mereka dengan habitat alami,” kata Sidi.</p>



<p>Menurut dia, hubungan antarrelasi manusia menciptakan dampak yang sangat kuat. Salah satunya adalah pemberdayaan komunitas. Pihaknya membawa kisah-kisah komunitas di daerah ke panggung nasional untuk memberikan pengakuan atas kerja kerasnya mereka selama ini.</p>



<p>“Kami ingin menyampaikan pesan kepada para mitra komunitas, bahwa mereka bukan penerima bantuan; mereka adalah inovator, pengusaha, dan penjaga modal alam bangsa kita,” terang Sidi.</p>



<p>Tidak bisa dipungkiri, perjalanan dari proyek berbasis komunitas hingga ke panggung nasional bukanlah jalan sunyi. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dengan mitra berpikiran maju, mulai dari sektor swasta, pemerintah hingga lembaga keuangan.</p>



<p>“Kami mencari mitra yang melihat apa yang kami lihat: bahwa berinvestasi dalam usaha berbasis komunitas bukan sekadar CSR, melainkan investasi strategis dalam rantai pasok yang lebih stabil, berkelanjutan, dan adil bagi Indonesia,” tutup Sidi.</p>



<p>Kementerian Perdagangan menggelar Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 ke-40 pada 15-19 Oktober 2025 dengan mengusung tema &#8220;<em>Discover Indonesia&#8217;s Excellence: Trade Beyond Boundaries</em>&#8220;. Ajang yang digelar di ICE BSD City ini menjadi tempat bertemu para eksportir dan importir untuk dapat bertransaksi hingga menarik investasi.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/news/2025/10/15/100254/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dari-penerima-hibah-jadi-pelaku-pasar-cerita-berdaya-komunitas-di-tei-2025/">Dari Penerima Hibah Jadi Pelaku Pasar, Cerita Berdaya Komunitas di TEI 2025</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 14:36:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17265</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk “Pelatihan Pertanian Petani Keren” di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&#160;Petani Keren, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17266" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-55.png 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>“Pelatihan Pertanian Petani Keren”</em> di Jakarta pada Selasa (7/10). Inisiatif ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian yang kini mulai ditinggalkan. Dengan dukungan <em>Global Environment Facility Small Grants Programme</em> (GEF SGP) Indonesia, program ini menyiapkan para peserta untuk menjadi petani modern yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.</p>



<p>Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi penurunan signifikan dalam jumlah petani aktif. Regenerasi di sektor ini terhambat karena banyak anak muda yang menganggap profesi petani tidak menjanjikan. Melalui&nbsp;<em>Petani Keren</em>, FAO ingin membalik persepsi tersebut—bahwa pertanian bukan sekadar menanam padi, tapi juga bisnis modern berbasis inovasi, teknologi, dan kreativitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pertanian Keren, Generasi Tangguh</h3>



<p>Program ini dirancang menyeluruh: mulai dari pelatihan&nbsp;<em>smart farming</em>&nbsp;hingga pembekalan kewirausahaan agribisnis. Para peserta dilatih untuk mengelola lahan secara efisien dengan bantuan teknologi modern, seperti sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, hingga penggunaan aplikasi pertanian digital. FAO berharap, pendekatan ini dapat mencetak petani muda yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga cakap dalam mengelola bisnisnya.</p>



<p>Selain teknologi, pelatihan ini juga menanamkan kesadaran lingkungan. Para peserta diajak menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan melalui konsep&nbsp;<em>agroecology</em>, yang menekankan keseimbangan antara hasil panen dan pelestarian alam. Mereka belajar bahwa tanah yang sehat, air yang bersih, dan udara yang bebas polusi adalah modal utama untuk menciptakan hasil tani yang berkelanjutan.</p>



<p>Aspek kewirausahaan menjadi elemen penting lain dalam pelatihan ini. Peserta diajarkan bagaimana menyusun rencana bisnis, mengatur keuangan usaha, hingga strategi pemasaran produk pertanian. Mereka tidak hanya diajak menjadi petani, tapi juga&nbsp;<em>agripreneur</em>—petani pengusaha yang mampu membaca peluang pasar dan menciptakan produk bernilai tambah.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kolaborasi Lintas Lembaga</h3>



<p>Keberhasilan&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;tak lepas dari kolaborasi berbagai lembaga strategis, mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Semuanya bergandengan tangan membangun ekosistem baru bagi generasi muda untuk berani turun ke sawah dengan cara yang modern dan berkelas.</p>



<p>Sebanyak 30 anak muda dari berbagai daerah—Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat—terpilih menjadi peserta. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan datang dari latar belakang beragam: mulai dari keluarga petani, mahasiswa jurusan pertanian, hingga lulusan agribisnis dan agroteknologi. Keragaman ini menjadikan proses belajar semakin dinamis dan kaya perspektif.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Belajar dari Lada Bangka</h3>



<p>Salah satu sesi yang menarik datang dari&nbsp;<em>GEF SGP Indonesia</em>, yang diwakili oleh Koordinator Nasional,&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>. Dalam sesi tersebut, Sidi berbagi pengalaman melalui studi kasus pertanian lada di Bangka Belitung—khususnya Lada Muntok, yang sudah terkenal di pasar dunia.</p>



<p>Sidi menjelaskan bahwa banyak petani lada kini menghadapi tantangan berat akibat ketergantungan pada bahan kimia pertanian. “Biaya produksi meningkat, kualitas tanah menurun, dan jangka waktu panen yang panjang membuat pendapatan petani tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan,” ujarnya.</p>



<p>Menurutnya, solusi terbaik adalah beralih dari sistem pertanian konvensional menuju&nbsp;<em>agroekologi</em>&nbsp;atau organik. “Dengan penggunaan pestisida alami dan pupuk organik, kualitas tanah bisa dipulihkan. Memang hasil panen menurun di awal, tapi nilai jualnya meningkat karena pasar ekspor lebih menghargai produk organik,” tambahnya.</p>



<p>Pendekatan ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi petani muda agar tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan begitu, pertanian bisa menjadi profesi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian bumi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Membangun Petani Muda yang Percaya Diri</h3>



<p>Harapan besar disematkan pada program&nbsp;<em>Petani Keren</em>&nbsp;ini. Melalui semangat kolaborasi dan pelatihan yang aplikatif, FAO berupaya mencetak generasi muda yang melihat pertanian sebagai sektor masa depan—bukan masa lalu.</p>



<p>Food System Specialist FAO Indonesia,&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan pangan nasional. “Dengan keterlibatan aktif anak muda, ketahanan pangan di masa depan bisa terjaga. Kita tidak hanya menanam untuk hari ini, tapi juga menanam harapan bagi masa depan Indonesia,” ujarnya.</p>



<p>Kini, lewat program&nbsp;<em>Petani Keren</em>, pertanian tak lagi identik dengan lumpur dan cangkul semata. Ia menjelma menjadi dunia inovatif yang memadukan ilmu, teknologi, dan keberlanjutan. Dari sawah hingga pasar global, dari bibit hingga strategi bisnis, para “petani keren” ini siap membawa perubahan.</p>



<p>Bukan tak mungkin, suatu hari nanti, Indonesia akan kembali berjaya di sektor pertanian—dipimpin oleh anak-anak muda yang bangga menyebut dirinya:&nbsp;<strong>petani modern yang keren, berdaya, dan berdaulat.</strong></p>



<p>Sumber: https://daily-life.id/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-saat-generasi-muda-didorong-jadi-agripreneur-masa-depan-indonesia/">Program Petani Keren FAO! Saat Generasi Muda Didorong Jadi ‘Agripreneur’ Masa Depan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 07:29:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17207</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan. Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&#160;smart&#160;farming, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “agripreneur keren”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="543" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png" alt="" class="wp-image-17208" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-300x159.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-768x407.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-600x318.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-10x5.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45.png 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’. Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh <strong>Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO),</strong> pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan.</p>



<p>Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&nbsp;<strong>smart</strong>&nbsp;<strong>farming</strong>, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “<strong>agripreneur keren</strong>”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tapi sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan.</p>



<p>Program ini juga mendapat dukungan kuat dari&nbsp;<strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</strong>, yang berbagi pengalaman soal strategi penghasilan tani berkeadilan. Kolaborasi antara&nbsp;<strong>Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,&nbsp;</strong>and<strong>&nbsp;Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)</strong>&nbsp;turut memperkuat semangat pelatihan ini. Semua pihak sepakat bahwa masa depan pertanian bergantung pada generasi muda yang berani berinovasi.</p>



<p>Ada sekitar 30 peserta berusia 17–29 tahun yang ikut dalam pelatihan ini. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Uniknya, latar belakang para peserta juga beragam. Ada yang berasal dari keluarga petani, tapi ada pula yang merupakan lulusan jurusan&nbsp;<strong>pertanian, agribisnis, dan agroteknologi</strong>. Perpaduan ini membuat suasana belajar jadi hidup dan interaktif, karena masing-masing membawa pengalaman dan ide berbeda.</p>



<p>Selain memahami teknologi pertanian modern, peserta juga dibekali kemampuan&nbsp;<strong>mengelola bisnis pertanian profesional</strong>&nbsp;— mulai dari perencanaan, produksi, hingga pemasaran. Artinya, mereka nggak cuma diajarkan menanam, tapi juga berpikir strategis bagaimana hasil pertanian bisa memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi.</p>



<p>Salah satu sesi menarik dibawakan oleh&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia sekaligus perwakilan&nbsp;<strong>Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL)</strong>. Ia membagikan studi kasus tentang pengembangan&nbsp;<strong>pertanian lada</strong>&nbsp;yang berkeadilan dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan ke arah&nbsp;<strong>pertanian agroekologi atau organik&nbsp;</strong>bisa jadi solusi atas permasalahan petani lada yang selama ini harus menghadapi biaya tinggi dan masa tanam panjang. Dengan pupuk organik dan pestisida alami, kualitas tanah bisa pulih dan hasil panen lebih diminati pasar ekspor premium — meski jumlah panennya lebih sedikit, nilai jualnya justru lebih tinggi.</p>



<p>Program “Petani Keren” ini bukan hanya pelatihan, tapi juga simbol harapan baru. Harapan bahwa bertani bisa jadi profesi yang modern, berdaya saing, dan tetap peduli pada bumi. Seperti yang disampaikan&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, Food System Specialist FAO Indonesia, “Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional bisa terjamin. Kita membangun fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia.”</p>



<p>Urbie’s, bisa jadi inilah saatnya anak muda memandang sawah bukan sekadar lahan, tapi masa depan. Karena jadi petani hari ini bukan lagi soal lumpur di kaki, tapi inovasi, teknologi, dan semangat mencintai tanah air dalam arti sesungguhnya.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/10/08/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 06:41:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Keren]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17237</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menggagas program pelatihan intensif bertajuk &#8220;Pelatihan Pertanian Petani Keren.&#8221; Tujuannya membekali generasi muda dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi petani dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan. Pelatihan &#8220;Petani Keren&#8221; digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi smart...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png" alt="" class="wp-image-17263" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-54-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Para peserta pelatihan &#8216;Petani Keren&#8217; yang digagas oleh FAO dan menghadirkan GEF SGP Indonesia untuk berbagi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(8/10/2025) Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (<a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a>) menggagas program pelatihan intensif bertajuk <em>&#8220;Pelatihan Pertanian <a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>.&#8221;</em> Tujuannya membekali <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.</p>



<p>Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi <a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a> dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. <em>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</em> turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan.</p>



<p>Pelatihan <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi <em>smart farming</em>, yakni pendekatan modern yang memungkinkan penggunaan sumber daya secara efisien untuk meningkatkan produktivitas.</p>



<p>Praktik pertanian ramah lingkungan juga menjadi fokus utama. Peserta diajak menerapkan metode budidaya yang menjaga kelestarian alam sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.</p>



<p>Tak hanya itu, aspek kewirausahaan dan pengelolaan bisnis agribisnis turut diajarkan secara mendalam. Para peserta dilatih untuk mengelola usaha pertanian secara profesional, mulai dari tahap perencanaan, produksi, hingga strategi pemasaran produk.</p>



<p>Keberhasilan program <em>&#8220;Petani Keren&#8221;</em> ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak strategis. Mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), semua turut bergandengan tangan mendukung inisiatif ini. Tujuannya jelas: membangkitkan semangat kepemudaan agar terjun kembali ke sektor pertanian.</p>



<p>Sebanyak 30 anak muda terpilih menjadi peserta dalam pelatihan ini. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Keberagaman asal daerah ini mencerminkan potensi besar pertanian Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah.</p>



<p>Latar belakang mereka pun beragam. Nggak cuma dari keluarga petani yang sudah akrab dengan dunia pertanian, banyak pula yang merupakan lulusan jurusan pertanian, agribisnis, agroteknologi, dan bidang lain yang relevan. Perpaduan latar belakang ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan interaktif, membuka ruang pertukaran ide serta perspektif antarpeserta.</p>



<p>Fokus utama pelatihan ini adalah membekali para pemuda agar mampu menerapkan sistem pertanian modern. Dalam praktiknya, peserta diajarkan memanfaatkan teknologi terkini tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan lingkungan.</p>



<p>Lebih dari itu, mereka juga dilatih untuk mengembangkan rencana bisnis yang inovatif. Jadi bukan semata mengincar cuan, tapi juga memaksimalkan potensi tanaman lokal serta memahami dinamika permintaan pasar. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan tumbuh menjadi <em>&#8220;agripreneur&#8221;</em> yang cerdas dan bertanggung jawab.</p>



<p>Dalam salah satu sesi pelatihan, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, yang juga mewakili Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), menyampaikan studi kasus mengenai pengembangan strategi penghasilan yang adil dan berkelanjutan bagi petani, dengan fokus khusus pada pertanian lada.</p>



<p>Pendekatan tersebut diharapkan menjadi model inspiratif untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara holistik. Alhasil, mereka nggak hanya memperoleh penghasilan yang layak, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik pertanian yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.</p>



<p>Lada memang menjadi salah satu komoditas perdagangan penting bagi Indonesia. Khususnya di Bangka Belitung, Lada Muntok telah lama dikenal mendominasi pasar lada dunia. Tapi, perubahan pola pertanian yang kini banyak menggunakan input kimia malah bikin biaya produksi membengkak. Kualitas tanah pun melorot jika tidak digunakan secara bijak.</p>



<p>Lebih jauh lagi, petani lada harus menghadapi masa pengembangan lahan yang panjang. Bayangkan, mereka harus menunggu hingga tiga tahun tanpa panen. Kondisi ini tak pelak membuat pendapatan mereka tidak sebanding dengan upaya yang dikeluarkan.</p>



<p>Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sidi menjelaskan, <em>“Butuh adanya transisi dari pertanian konvensional ke pertanian agroekologi atau organik yang mengedepankan pada kualitas tanah. Nah, penggunaan pestisida alami dan pupuk organik bisa menjadi solusi mengembalikan kembali unsur hara dalam tanah dan juga lebih murah dalam implementasinya.”</em></p>



<p>Ia menambahkan, dengan menerapkan sistem agroekologi atau organik memang kuantitas panen akan menurun, tetapi terbuka peluang ke pasar ekspor yang lebih premium. Hal ini mampu meningkatkan harga jual sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.</p>



<p>Program <em>&#8220;<a href="https://www.suara.com/tag/petani-keren">Petani Keren</a>&#8220;</em> ini memikul harapan besar mengubah stigma pertanian adalah pekerjaan kuno dan kurang menarik. Yusmanetti Sari, selaku Food System Specialist <a href="https://www.suara.com/tag/fao">FAO</a> Indonesia, berharap lewat program ini banyak <a href="https://www.suara.com/tag/generasi-muda">generasi muda</a> kepincut menjadi “agripreneur keren”, yakni individu inovatif dan berdaya saing yang mampu memajukan sektor pertanian.</p>



<p><em>“Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional di masa depan dapat terjamin, menciptakan fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia,”</em> pungkasnya.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/08/064151/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur?page=2#goog_rewarded</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-puluhan-bibit-muda-dilatih-menjadi-agripreneur/">Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>