<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kopi Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/kopi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kopi/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Thu, 20 Nov 2025 03:33:11 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Kopi Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kopi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 20 Nov 2025 03:33:06 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Bodri]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosobo]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17312</guid>

					<description><![CDATA[<p>(20/11/2025) Para perempuan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’. Inisiasi ini merupakan salah satu dampak berkelanjutan dari dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia terkait upaya pelestarian lingkungan yang berakar pada kearifan lokal. ‘Meditasi Mata Air’ diprakarsai Samitra Lingkungan, inisiatif yang lahir dari rekomendasi Kongres Mata Air. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Fokus utamanya yakni merefleksikan kembali kelekatan perempuan terhadap sumber mata air. Bukan cuma itu, kegiatan ini juga merupakan dampak lanjutan dari program &#8220;Pengurangan Degradasi Lahan di Hulu DAS Bodri Melalui Pemanfaatan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/">Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65.png" alt="" class="wp-image-17313" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-65-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Para perempuan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(20/11/2025) Para <a href="https://www.suara.com/tag/perempuan">perempuan</a> di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/wonosobo">Wonosobo</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/jawa-tengah">Jawa Tengah</a>, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’. Inisiasi ini merupakan salah satu dampak berkelanjutan dari dukungan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia terkait upaya pelestarian lingkungan yang berakar pada kearifan lokal.</p>



<p>‘Meditasi Mata Air’ diprakarsai Samitra Lingkungan, inisiatif yang lahir dari rekomendasi Kongres Mata Air. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Fokus utamanya yakni merefleksikan kembali kelekatan perempuan terhadap sumber mata air.</p>



<p>Bukan cuma itu, kegiatan ini juga merupakan dampak lanjutan dari program &#8220;Pengurangan Degradasi Lahan di Hulu DAS Bodri Melalui Pemanfaatan Aktivitas Kearifan Lokal dan Penguatan Ekonomi dengan Pariwisata Alam dan Budaya.&#8221;</p>



<p>Aktivitas ini diawali dengan ‘Meditasi Hening’ di lapangan Desa Sigedang. Dalam sesi ini, para peserta kegiatan diajak untuk menenangkan pikiran. Sejenak, para peserta diajak untuk melepaskan diri dari riuh kehidupan. Mereka diminta untuk membuka kepekaan terhadap hubungan esensial antara manusia dan alam.</p>



<p>Sesi hening rampung. Lalu, peserta diajak menempuh perjalanan menuju Mata Air Sendang. Sambil berjalan, mereka membawa 1.000 bibit pohon <a href="https://www.suara.com/tag/kopi">kopi</a> siap tanam. Bibit kopi ini ditanam di sepanjang jalan menuju mata air. Beragam organisasi perempuan terlibat, sebut saja PKK, Fatayat, Muslimat, Aisyiah, Nasyiatul Aisyiah, serta kelompok permakultur, akarwangi, dan restorasi hutan.</p>



<p>Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Wonosobo Endang Lisdyaningsih menyampaikan data penting menyoal pelestarian sumber air. Endang mengungkapkan bahwa data di musim kemarau tahun 2025 menunjukkan ada 1.670 mata air yang tetap hidup.</p>



<p>&#8220;Nah, penanaman pohon 200 meter di atas sumber mata air akan menyelamatkan mata air di musim kemarau. Karena itu, pentingnya intervensi vegetatif di kawasan hulu,&#8221; ujar Endang.</p>



<p>Kegiatan ini juga memantik antusiasme para pemimpin organisasi perempuan. Mereka menyambut baik kegiatan ‘Meditasi Mata Air’ karena bisa memberikan manfaat ganda. Menurut Umi Amkhudloh selaku Pimpinan Anak Cabang Fatayat Kejajar, kegiatan ini bisa memberikan manfaat secara ekologi sekaligus manfaat ekonomi jangka panjang.</p>



<p>&#8220;Menanam pohon bisa memberikan manfaat secara ekologi untuk mencegah longsor dan banjir. Juga bisa memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Kita wajib bersyukur tinggal di kawasan dataran tinggi Dieng karena berlimpah mata air. Namun kita wajib menjaganya dengan menanam pohon,&#8221; ujar Umi.</p>



<p>Sementara itu, Direktur Samitra Lingkungan Rumiyati menjelaskan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan implementasi nyata dari rekomendasi ‘Kongres Mata Air’ yang diadakan di Desa Igirmranak pada Agustus 2025. Dia juga menegaskan komitmen komunitas untuk memastikan warisan lingkungan yang lestari.</p>



<p>Perempuan menjaga mata air dengan menanam pohon sebagai bentuk perawatan kehidupan. Setiap akar yang kita tanam menjadi harapan. Setiap tetes air yang kita rawat menjadi keberlanjutan. Bersama kita titipkan bumi yang lebih teduh bagi generasi mendatang. Karena hari ini kita memilih Merawat bukan meninggalkan,&#8221; tutup Rumiyati.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/11/20/082846/meditasi-mata-air-perempuan-wonosobo-tanam-1000-kopi-untuk-kelestarian-das-bodri?</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/perempuan-wonosobo-tanam-1-000-kopi-untuk-menjaga-das-bodri-melalui-meditasi-mata-air/">Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Menjaga DAS Bodri melalui &#8220;Meditasi Mata Air&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Sep 2025 17:12:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Temanggung]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17191</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/9/2025) Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji kopi robusta di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan. Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus, remaja berusia 17 tahun asal&#160;Temanggung,&#160;Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu. Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39.png" alt="" class="wp-image-17192" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-39-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Maya, remaja berusia 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, sehari-hari membantu memilah biji kopi robusta yang dipanen petani setempat.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(1/9/2025) <em>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah <a href="https://www.guideku.com/tag/maya">Maya</a>. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji <a href="https://www.guideku.com/tag/kopi-robusta">kopi robusta</a> di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan.</em></p>



<p>Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus, remaja berusia 17 tahun asal&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/temanggung">Temanggung</a>,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/jawa-tengah">Jawa Tengah</a>, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu.</p>



<p>Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.</p>



<p>Di balik senyum hangatnya, hidup Maya sarat ternyata dengan lika liku. Dia terpaksa mengalami trauma ketika duduk di bangku sekolah dasar karena menjadi korban perundungan. Dunianya begitu sempit. Dia hanya mengurung di rumah. Keseharian, dia cuma membantu sang nenek.</p>



<p>Nah, dengan dukungan salah satunya dari sang nenek, Maya kini mulai merasa berdaya. Dia kekinian sehari-hari membantu memilah biji kopi di sebuah rumah produksi kopi yang didampingi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur.</p>



<p>Maya adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang ditemukan kawan-kawan KTH Ngudi Makmur saat menunaikan program selaku penerima manfaat dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengibaratkan sosok Maya ini seperti biji kopi yang belum disangrai. Menurut Sidi, Maya memiliki potensi yang sangat besar namun masih terpendam. Ya, seperti biji kopi, potensinya tersembunyi dalam cangkang keras.</p>



<p>Menurut Sidi, sosok Maya yang inspiratif ini merupakan bukti nyata konservasi lingkungan kala dirancang secara inklusif dan dipimpin masyarakat, dapat menjadi katalisator mendalam bagi pengembangan manusia yang holistik.</p>



<p>“Dengan begitu, peran kami di GEF SGP Indonesia sejatinya bukan sekadar mendanai proyek atau program, tetapi juga menciptakan kondisi di mana mereka yang paling rentan dapat menemukan tempat dan kedamaiannya,” tutur Sidi.</p>



<p>Filosofi GEF SGP Indonesia, menurut Sidi, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal. “Dukungan kami bukan hanya soal membudidayakan kopi; tapi menumbuhkan martabat dan ketangguhan manusia,” lanjut dia.</p>



<p>Transformasi dimulai ketika program menciptakan ruang yang menghargai kemampuan yang berbeda-beda. Bagi Maya, imbuh Diri, proses ritmis dan taktis dalam memilah biji kopi menjadi bahasanya sendiri.</p>



<p>“Ini adalah tugas yang lebih menekankan pada fokus dan ketelitian dibandingkan kemampuan berbicara. Di lingkungan ini, dengan dukungan neneknya dan KTH Ngudi Makmur lainnya, ia tidak lagi didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya,” terang Sidi.</p>



<p><strong>Dukungan Alami bagi Maya</strong></p>



<p>Program pendampingan ini memang tidak memberikan terapi khusus untuk Maya. Namun, program ini membantu menciptakan usaha milik komunitas yang secara alami menghargai keterampilannya.</p>



<p>“Kami menyediakan platform untuk inklusi ekonomi, yakni rumah produksi yang menjadi ruang netral dan produktif di mana Maya dapat terlibat dalam perekonomian lokal dengan caranya sendiri. Partisipasi ekonomi ini penting menuju kepercayaan diri dan integrasi sosial,” ujar Sidi.</p>



<p>Selain itu, program ini juga memperkuat kapasitas kolektif komunitas untuk saling peduli dengan mendukung kelompok seperti KTH Ngudi Makmur. Dalam hal ini, sang nenek dan penerima manfaat lainnya menjadi sistem dukungan alami bagi Maya.</p>



<p>“Jaringan penguatan ini tentunya seringkali sulit ditiru oleh program formal yang belum tentu berbasis keterlibatan masyarakat,” terang Sidi.</p>



<p>Nah, cerita Maya ini sejatinya tidak berhenti sampai di sini. Ini merupakan landasan awal ke fase berikutnya. Salah satunya adalah mengeksplorasi keberhasilan model ini dapat digunakan untuk mengikutsertakan pemuda lain yang memiliki kebutuhan berbeda di komunitas.</p>



<p>“Selain itu, kisah Maya menjadi studi kasus yang kuat bagi penerima hibah komunitas lainnya, menunjukkan bahwa proyek lingkungan dapat dan seharusnya dirancang sebagai sarana untuk inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan,” ujar Sidi.</p>



<p>Cerita Maya menjadi bukti bahwa proyek lingkungan bisa menjadi pintu inklusi sosial. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan kembali rasa percaya dirinya, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya.(*)</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/mengenal-maya-remaja-difabel-temanggung-yang-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Mengenal Maya, Remaja Difabel Temanggung yang Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Mon, 01 Sep 2025 05:00:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17188</guid>

					<description><![CDATA[<p>(1/9/2025) Maya adalah remaja 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir dengan keterbatasan dalam mendengar dan berbicara. Meski begitu, kehidupannya kini perlahan berubah berkat biji kopi robusta. Dari aktivitas sederhana memilah kopi, Maya menemukan rasa percaya diri, kemandirian, hingga harapan baru untuk masa depannya. Di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, tempat ia tinggal bersama sang nenek, Maya setiap hari membantu memilih satu per satu biji kopi robusta. Aktivitas itu dilakukan di rumah produksi kopi yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menjadi simbol kebangkitannya setelah bertahun-tahun hidup dalam trauma. Maya Dari Trauma ke Rasa...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/">Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17189" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-38.png 1536w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung &#8211; sumber foto Istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(1/9/2025) Maya adalah remaja 17 tahun asal Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir dengan keterbatasan dalam mendengar dan berbicara. Meski begitu, kehidupannya kini perlahan berubah berkat biji kopi robusta. Dari aktivitas sederhana memilah kopi, Maya menemukan rasa percaya diri, kemandirian, hingga harapan baru untuk masa depannya.</p>



<p>Di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, tempat ia tinggal bersama sang nenek, Maya setiap hari membantu memilih satu per satu biji kopi robusta. Aktivitas itu dilakukan di rumah produksi kopi yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menjadi simbol kebangkitannya setelah bertahun-tahun hidup dalam trauma.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Maya Dari Trauma ke Rasa Percaya Diri</strong></h3>



<p>Masa kecil Maya tidak mudah. Ia pernah menjadi korban perundungan di sekolah dasar yang membuatnya memilih menutup diri dari lingkungan. Dunianya begitu sempit: hanya rumah, nenek, dan sunyi. Namun kehadiran program pendampingan berbasis masyarakat dari GEF SGP Indonesia yang bekerja sama dengan KTH Ngudi Makmur membuka lembaran baru.</p>



<p>Di sana, ia tidak dilihat dari keterbatasannya, melainkan dari kontribusinya. Pekerjaan memilah biji kopi yang membutuhkan ketelitian lebih penting daripada kemampuan verbal. Dengan ritme yang konsisten, aktivitas ini menjadi bahasa Maya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga mampu.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="http://urbanvibes.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-01-at-10.52.34-1024x576.jpeg" alt="kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung - sumber foto Istimewa" class="wp-image-21492"/><figcaption class="wp-element-caption">kisah inspiratif Maya difabel asal Temanggung mengolah kopi robusta Temanggung – sumber foto Istimewa</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Filosofi Kopi dan Inklusi</strong></h3>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, mengibaratkan Maya seperti biji kopi yang belum disangrai. Potensinya masih tersembunyi, namun dengan perawatan dan kesempatan, ia bisa menjadi sesuatu yang berharga.</p>



<p>Menurut Sidi, kisah Maya adalah bukti bahwa konservasi lingkungan yang inklusif dapat menjadi katalis pengembangan manusia yang holistik. GEF SGP Indonesia, kata dia, tidak hanya mendukung budidaya kopi, tetapi juga menumbuhkan martabat manusia dan memberikan ruang bagi mereka yang rentan.</p>



<p>“Keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal,” tegas Sidi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Kopi Sebagai Terapi Alami</strong></h3>



<p>Program ini tidak memberikan terapi medis khusus bagi Maya. Namun, ia menemukan “terapi alami” dalam kegiatan sehari-hari. Rumah produksi kopi menjadi ruang aman dan produktif yang memberinya kesempatan untuk ikut terlibat dalam ekonomi lokal.</p>



<p>Dukungan nenek dan komunitas petani juga menjadi sistem pendukung alami yang tak ternilai. Kehangatan dan kebersamaan di lingkungan itu memberi remaja difabel ini kekuatan untuk kembali membuka diri.</p>



<p>Partisipasi ekonomi ini penting, bukan hanya untuk membantu keuangan keluarga, tetapi juga sebagai langkah menuju integrasi sosial. Maya kini tidak lagi mendefinisikan dirinya dengan kata “terbatas,” melainkan dengan kontribusi nyata bagi komunitas.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Dari Satu Maya ke Banyak Maya</strong></h3>



<p>Cerita remaja ini hanyalah permulaan. Model pendampingan inklusif ini diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk memberdayakan pemuda lain dengan kebutuhan berbeda. Menurut Sidi, Maya menjadi studi kasus yang kuat: proyek lingkungan bisa sekaligus menjadi sarana inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan.</p>



<p>Bayangkan, dari sebuah program kopi yang tampak sederhana, lahir kisah inspiratif yang bisa ditiru oleh banyak komunitas lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Secangkir Kopi, Segenggam Harapan</strong></h3>



<p>Urbie’s, kisah Maya mengingatkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir segalanya. Dengan dukungan komunitas dan ruang yang inklusif, setiap orang bisa menemukan tempatnya. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan asa baru, dan dari kisahnya, kita belajar tentang arti inklusi, keberanian, dan harapan.</p>



<p>Jadi, lain kali saat kamu menyesap secangkir kopi robusta, ingatlah bahwa di balik setiap butir ada cerita perjuangan, ada tangan-tangan penuh ketelitian, dan ada senyum hangat seorang gadis bernama Maya yang membuktikan bahwa hidup selalu punya jalan untuk bangkit.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/09/01/9092-20-september-2025-news-maya-remaja-difabel-dari-temanggung-yang-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/remaja-difabel-dari-temanggung-menemukan-harapan-lewat-kopi-robusta/">Remaja Difabel dari Temanggung Menemukan Harapan Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sun, 31 Aug 2025 20:39:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[difabel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17185</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji&#160;kopi robusta&#160;di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan. Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus,&#160;remaja&#160;berusia 17 tahun asal&#160;Temanggung, Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu. Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37.png" alt="" class="wp-image-17186" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-37-10x6.png 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Maya, remaja difabel Temanggung yang sukses mengembangkan kopi robusta. (Ist)</figcaption></figure>



<p><em>Di sudut ruang berdinding bata yang remang, cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya. Dia tersenyum hangat. Kedua tangannya menengadah. Ada segenggam biji&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kopi-robusta">kopi robusta</a>&nbsp;di kedua belah tangannya. Seolah, dia memperlihatkan hasil kerja yang ia banggakan.</em></p>



<p>Maya lahir dalam kondisi spesial. Dia memiliki kekurangan dalam mendengar dan berbicara. Meski berkebutuhan khusus,&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/remaja">remaja</a>&nbsp;berusia 17 tahun asal&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/temanggung">Temanggung</a>, Jawa Tengah, itu tampak percaya diri di tengah tumpukan biji kopi yang dipilih satu per satu.</p>



<p>Ya, bagi Maya, biji kopi ini bukan sekadar hasil panen. Setiap butir yang dipilihnya adalah simbol harapan dan kemandirian. Dalam kesehariannya, Maya menghabiskan waktu memilah biji kopi robusta hasil panen petani di Desa Gesung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.</p>



<p>Di balik senyum hangatnya, hidup Maya&nbsp;sarat ternyata dengan lika liku. Dia terpaksa mengalami trauma ketika duduk di bangku sekolah dasar karena menjadi korban perundungan. Dunianya begitu sempit. Dia hanya mengurung di rumah. Keseharian, dia cuma membantu sang nenek.</p>



<p>Nah, dengan dukungan salah satunya dari sang nenek, Maya kini mulai merasa berdaya. Dia kekinian sehari-hari membantu memilah biji kopi di sebuah rumah produksi kopi yang didampingi oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Makmur.</p>



<p>Maya adalah satu dari sekian banyak sosok inspiratif yang ditemukan kawan-kawan KTH Ngudi Makmur saat menunaikan program selaku penerima manfaat dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.</p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengibaratkan sosok Maya ini seperti biji kopi yang belum disangrai. Menurut Sidi, Maya memiliki potensi yang sangat besar namun masih terpendam. Ya, seperti biji kopi, potensinya tersembunyi dalam cangkang keras.</p>



<p>Menurut Sidi, sosok Maya yang inspiratif ini merupakan bukti nyata konservasi lingkungan kala dirancang secara inklusif dan dipimpin masyarakat, dapat menjadi katalisator mendalam bagi pengembangan manusia yang holistik.</p>



<p>“Dengan begitu, peran kami di GEF SGP Indonesia sejatinya bukan sekadar mendanai proyek atau program, tetapi juga menciptakan kondisi di mana mereka yang paling rentan dapat menemukan tempat dan kedamaiannya,” tutur Sidi.</p>



<p>Filosofi GEF SGP Indonesia, menurut Sidi, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika ada satu anggota masyarakat yang tertinggal. “Dukungan kami bukan hanya soal membudidayakan kopi; tapi menumbuhkan martabat dan ketangguhan manusia,” lanjut dia.</p>



<p>Transformasi dimulai ketika program menciptakan ruang yang menghargai kemampuan yang berbeda-beda. Bagi Maya, imbuh Diri, proses ritmis dan taktis dalam memilah biji kopi menjadi bahasanya sendiri.</p>



<p>“Ini adalah tugas yang lebih menekankan pada fokus dan ketelitian dibandingkan kemampuan berbicara. Di lingkungan ini, dengan dukungan neneknya dan KTH Ngudi Makmur lainnya, ia tidak lagi didefinisikan oleh disabilitasnya, melainkan oleh kontribusinya,” terang Sidi.</p>



<p><strong>Dukungan Alami bagi Maya</strong></p>



<p>Program pendampingan ini memang tidak memberikan terapi khusus untuk Maya. Namun, program ini membantu menciptakan usaha milik komunitas yang secara alami menghargai keterampilannya.</p>



<p>“Kami menyediakan platform untuk inklusi ekonomi, yakni rumah produksi yang menjadi ruang netral dan produktif di mana Maya dapat terlibat dalam perekonomian lokal dengan caranya sendiri. Partisipasi ekonomi ini penting menuju kepercayaan diri dan integrasi sosial,” ujar Sidi.</p>



<p>Selain itu, program ini juga memperkuat kapasitas kolektif komunitas untuk saling peduli dengan mendukung kelompok seperti KTH Ngudi Makmur. Dalam hal ini, sang nenek dan penerima manfaat lainnya menjadi sistem dukungan alami bagi Maya.</p>



<p>“Jaringan penguatan ini tentunya seringkali sulit ditiru oleh program formal yang belum tentu berbasis keterlibatan masyarakat,” terang Sidi.</p>



<p>Nah, cerita Maya ini sejatinya tidak berhenti sampai di sini. Ini merupakan landasan awal ke fase berikutnya. Salah satunya adalah mengeksplorasi keberhasilan model ini dapat digunakan untuk mengikutsertakan pemuda lain yang memiliki kebutuhan berbeda di komunitas.</p>



<p>“Selain itu, kisah Maya menjadi studi kasus yang kuat bagi penerima hibah komunitas lainnya, menunjukkan bahwa proyek lingkungan dapat dan seharusnya dirancang sebagai sarana untuk inklusi sosial, kesetaraan gender, dan pengentasan kemiskinan,” ujar Sidi.</p>



<p>Cerita Maya menjadi bukti bahwa proyek lingkungan bisa menjadi pintu inklusi sosial. Dari segenggam biji kopi, Maya menemukan kembali rasa percaya dirinya, sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan bukan akhir segalanya.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/08/31/190149/cerita-maia-remaja-difabel-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta?</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/cerita-maya-remaja-difabel-asal-temanggung-temukan-asa-lewat-kopi-robusta/">Cerita Maya, Remaja Difabel asal Temanggung Temukan Asa Lewat Kopi Robusta</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 22 Aug 2025 20:34:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulukumba]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[UNDP]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17182</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents. A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png" alt="" class="wp-image-17183" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1024x576.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1536x864.png 1536w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36-10x6.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-36.png 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>(22/8/2025) Cities promise endless opportunities, careers, social mobility, and a faster track to success. For many young people, the allure of urban life is irresistible. But for Hamzah, 29, the hustle and bustle of Makassar and Morowali in South Sulawesi eventually lost their shine. While his peers chased the dream of making it big in the city, Hamzah chose the opposite path: he returned to his village with two goals in mind, reviving his family’s coffee farm and being closer to his aging parents.</p>



<p>A forestry graduate, Hamzah spent more than a decade navigating city life. He studied at a university in Makassar, juggling his classes with part-time work as an embroidery operator and designer. Later, he moved to Morowali for another job. Yet, after 12 long years away from his hometown, his biggest decision wasn’t about climbing the corporate ladder, it was about going home to Kahayya village in Bulukumba, to start over as a coffee farmer.</p>



<p>“I wanted to be closer to my family, especially since my parents are getting older. Besides, coffee farming provides enough to meet daily needs,” Hamzah explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Planting Coffee, Preserving Heritage</strong></h3>



<p>Hamzah’s choice was not a nostalgic retreat but a conscious decision to protect his family’s legacy and build a sustainable future. His parents passed down three hectares of farmland, divided among him and his six siblings. Their only wish: that the land should not be left idle, but cultivated. Hamzah has already fulfilled that wish, planting coffee across one hectare of the land.</p>



<p>Coffee farming, in fact, runs deep in his bloodline. For generations, the people of Kahayya—including Hamzah’s ancestors—have lived from coffee. “Almost everyone here is a coffee farmer. Since childhood, even when we went to school in the morning, we’d spend the rest of the day helping in the fields,” Hamzah recalled.</p>



<p>From planting seedlings to harvesting ripe cherries, known as&nbsp;<em>petik merah</em>, the technique of picking only fully ripened beans, Hamzah learned everything from his parents. He didn’t make this journey alone, either. With support from the&nbsp;<a href="https://www.thegef.org/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Global Environment Facility (GEF)&nbsp;</a>Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Hamzah received training in sustainable farming and coffee processing. The results speak for themselves: in just two years, his farm has yielded up to one ton of Arabica coffee.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.undp.org/sites/g/files/zskgke326/files/styles/wysiwyg_full_width/public/2025-08/whatsapp_image_2025-08-01_at_10.45.54.jpeg?itok=wu-KaTBD" alt="A woven basket filled with coffee cherries on the ground among green leaves and dried foliage."/></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>A Simpler, Fuller Life</strong></h3>



<p>The first months back home felt unfamiliar after years in the city. But soon, the tranquility of village life replaced his unease. “It felt strange at first. But now it’s better, life is calmer and more comfortable here,” Hamzah shared.</p>



<p>Coffee farming has given him something city jobs could not: freedom. In Kahayya, he enjoys autonomy over his time and embraces a&nbsp;<em>slow living</em>&nbsp;lifestyle, finding meaning in every step of the farming process. “Farming is liberating. There’s no boss pressuring you every day. You just need discipline. Whether I start in the morning or afternoon, it’s up to me,” he said with a smile.</p>



<p>Now, Hamzah is dreaming bigger. Together with his family, he is transforming their coffee plantation into an eco-tourism destination. Plans are underway to welcome visitors for coffee-picking activities and educational tours. “We want to make it more than just camping, we want people to learn about coffee, too,” he explained.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Inspiring the Next Generation of Farmers</strong></h3>



<p>Despite the promise of coffee farming, Hamzah notices how few young people in his village are following the same path. Agriculture is often seen as an undesirable career compared to city jobs. Hamzah hopes his story can inspire others to change that mindset.</p>



<p>“Not many young people here want to become coffee farmers. Most still dream of working in the city. My message is: don’t feel ashamed of being a farmer, especially a coffee farmer. Coffee has great potential, and it can really provide for us,” Hamzah emphasized.</p>



<p>With his academic background in forestry, his passion for his homeland, and his determination to nurture both his family’s legacy and the environment, Hamzah shows that farming is not a step backward. It’s a way forward, toward economic resilience, environmental sustainability, and a life rooted in meaning.</p>



<p>Every coffee bean Hamzah plants carries a message: going back to the village is not a retreat, but a leap toward a more grounded and sustainable future.</p>



<p>Sumber: https://www.undp.org/indonesia/stories/brewing-hope-young-farmers-journey-home</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/brewing-hope-a-young-farmers-journey-home/">Brewing Hope: A Young Farmer’s Journey Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Pesona 2025 Soroti Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Ekonomi Petani Kopi</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/festival-pesona-2025-soroti-ketahanan-pangan-dan-kesejahteraan-ekonomi-petani-kopi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 22 Aug 2025 19:21:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Pesona]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kementerian kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17178</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/8/2025) &#160;Kementerian Kehutanan&#160;melalui Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial menggelar Festival Perhutanan Sosial Nasional (Pesona) 2025 di Gedung Manggala Wanabakti Kemenhut, Rabu (20/8/2025). Acara ini memberikan panggung nasional untuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang diolah lewat kolaborasi dengan masyarakat lokal di sekitar hutan lindung. Selain meningkatkan kapasitas pengguna manfaat hutan berbasis Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPS) dalam mempresentasikan dan mengkomersilkan HHBK, acara tersebut digagas untuk mendapatkan sinergi dan kolaborasi dari para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi ajang pertemuan antara calon pembeli (offtaker) dengan masyarakat. Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Catur Endah Prasetiani Pamungkas, menyampaikan apresiasi terhadap lembaga nonpemerintah, baik yang bersifat nirlaba,...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/festival-pesona-2025-soroti-ketahanan-pangan-dan-kesejahteraan-ekonomi-petani-kopi/">Festival Pesona 2025 Soroti Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Ekonomi Petani Kopi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35.png" alt="" class="wp-image-17180" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-35-10x7.png 10w" sizes="auto, (max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional Sidi Rana Menggala saat menjadi narasumber di <a href="https://www.guideku.com/tag/festival-pesona">Festival Pesona</a> 2025, Rabu (20/8/2025).(Dokumentasi Pribadi)</figcaption></figure>



<p>(22/8/2025)  <strong>&nbsp;</strong><a href="https://www.guideku.com/tag/kementerian-kehutanan">Kementerian Kehutanan</a>&nbsp;melalui Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial menggelar Festival Perhutanan Sosial Nasional (Pesona) 2025 di Gedung Manggala Wanabakti Kemenhut, Rabu (20/8/2025). Acara ini memberikan panggung nasional untuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang diolah lewat kolaborasi dengan masyarakat lokal di sekitar hutan lindung.</p>



<p>Selain meningkatkan kapasitas pengguna manfaat hutan berbasis Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPS) dalam mempresentasikan dan mengkomersilkan HHBK, acara tersebut digagas untuk mendapatkan sinergi dan kolaborasi dari para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi ajang pertemuan antara calon pembeli (offtaker) dengan masyarakat.</p>



<p>Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Catur Endah Prasetiani Pamungkas, menyampaikan apresiasi terhadap lembaga nonpemerintah, baik yang bersifat nirlaba, mediator maupun swasta komersial dalam mengasuh dan membesarkan&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/petani">petani</a>&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/kopi">kopi</a>&nbsp;skala UMKM, salah satu yang yakni Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.</p>



<p>Dalam pernyataannya, Catur Endah menyebutkan peran pendamping yang dapat dipenuhi oleh lembaga nirlaba seperti GEF SGP Indonesia atau dunia swasta.&nbsp;<em>“Dalam mendampingi kelompok perhutanan sosial perlu sinergi kolaborasi, tidak hanya antar kementerian, namun juga dengan lembaga dan pemerintah daerah,”</em>&nbsp;ujar Catur Endah.</p>



<p>GEF SGP Indonesia merupakan salah satu lembaga yang dinilai turut membesarkan petani kopi tingkat lokal. Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala, yang didaulat menjadi narasumber dalam acara itu, mengakui lembaganya memang tidak sebesar lembaga dunia lainnya. Tapi, Sidi mengatakan hingga kini hanya GEF SGP Indonesia yang bertahan.</p>



<p><em>“Lembaga lain yang memberi donor itu udah pada stop, cuma kami dari tahun 1993 sampai sekarang bertahan,”</em> ujar Sidi.</p>



<p>Sidi juga mengungkap cara mempertahankan minat petani binaan merawat pohon kopi dengan mendapatkan kontrak bertani dari pembeli.Dengan terserapnya, hasil panen petani di harga stabil, pembeli bisa memberikan kepastian finansial menjadi pelanggan setia dan memberikan insentif bagi petani agar menjaga kesehatan pohon demi mendapatkan hasil panen baik.</p>



<p>Ilmuwan bioteknologi tersebut mengatakan berbagai proyek yang tersebar seantero Indonesia serta didukung oleh GEF SGP Indonesia menggambarkan bagaimana perhutanan sosial bisa memberdayakan masyarakat sekitar.</p>



<p><em>“Sebagai contoh, di Jawa dan Sulawesi, kelompok-kelompok lokal telah merevitalisasi lahan hutan yang terdegradasi sambil mengembangkan mata pencaharian ramah lingkungan yang mengurangi ketergantungan pada praktik penebangan yang merusak,”</em>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p>Dalam pemaparannya, Sidi juga menceritakan tentang program GEF SGP Indonesia yang fokus terhadap pemeliharaan ekosistem di daerah aliran sungai, terutama terkait peningkatan ekonomi melalui kopi lestari, kesejahteraan warga serta pemberdayaan perempuan di wilayah tersebut. Dua wilayah tersebut yakni Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri dan DAS Balantieng.</p>



<p>Di DAS Bodri, misalnya, fokus ke wilayah Temanggung, Kendal dan Wonosobo, Jawa Tengah. Ada sekitar 481 hektare lahan pertanian kopi Robusta, Arabika hingga Liberica yang diampu 8 kelompok tani bagian dari program GEF SGP Indonesia Tak hanya itu, program itu juga berhasil meningkatkan partisipasi 608 perempuan di wilayah tersebut.</p>



<p>Sementara di DAS Balantieng, fokus area program berada di wilayah Bulukumba dan Sinjai, Sulawesi Selatan. Ada dua jenis kopi, yakni Arabica dan Robusta, yang ditanam 283 hektare lahan dengan melibatkan 2 kelompok tani. Program tersebut berhasil meningkatkan partisipasi 176 perempuan di wilayah tersebut.</p>



<p><em>&#8220;Ini juga yang menjadi esensial bagi kami. Kami menyadari bahwa kami sebagai GEF SGP tidak bisa bekerja sendiri. Dalam program, kami bekerja dengan mitra-mitra di tingkat lapak. Saat ini kami bekerja dengan lebih dari 70 mitra, di mana tiap mitra kami memberikan terbesar sampai 60 ribu dolar,&#8221;</em>&nbsp;tutur Sidi.</p>



<p>Di samping itu, Sekretaris Jenderal Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Gusti Laksamana mengingatkan petani kopi bahwa ada elemen selain sertifikasi yang berpotensi mengundang minat para calon pembeli, yakni informasi dan narasi mengenai penanaman, panen dan pengolahan kopi.</p>



<p><em>“Untuk itu, saya mengingatkan petani untuk jujur dalam mengemas kualitas kopi yang dikirim, baik ke kompetisi maupun ke pembeli,”</em>&nbsp;ujar Gusti Laksmana.</p>



<p>Sementara itu, eksportir Yan Razif membahas proses pascapanen. Dia juga mengimbau petani meletakkan mesin proses pascapanen di ruangan bersih dan tertutup yang layak digunakan untuk manufakturing. Tujuannya supaya kondisi operasional mesin tetap terjaga dengan baik.</p>



<p>Sekadar informasi, Festival Pesona Tahun 2025 mengangkat tema “Merawat Hutan, Mewariskan Harapan”. Acara yang digelar pada 20–22 Agustus 2025 merupakan agenda tahunan sekaligus rangkaian peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.</p>



<p>Selain seminar dan sesi tanya jawab yang dihadiri petani kopi berbasis agroforestri, Kemenhut juga menghadirkan cupping kopi atau tes kopi. Ini adalah metode standar dalam industri kopi, baik oleh produsen, pemanggang, maupun barista, untuk menilai kualitas kopi, mendeteksi kecacatan, dan membandingkan berbagai jenis kopi.</p>



<p>Tidak tanggung-tanggung, acara tersebut juga dihadiri sebanyak 20 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari seluruh Indonesia yang berfokus pada agroforestri kopi, para pembuat keputusan jaringan gerai kopi nasional, pegiat perhutanan sosial, perwakilan masyarakat adat, hingga perwakilan dari Kementerian Koperasi dan Kementerian Perdagangan.</p>



<p>Sumber: https://www.guideku.com/event/2025/08/22/160908/festival-pesona-2025-soroti-ketahanan-pangan-dan-kesejahteraan-ekonomi-petani-kopi</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/festival-pesona-2025-soroti-ketahanan-pangan-dan-kesejahteraan-ekonomi-petani-kopi/">Festival Pesona 2025 Soroti Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Ekonomi Petani Kopi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Lintas Benua: Saat Petani Kopi Indonesia dan Brasil Tukar Ilmu di Pengalengan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/kolaborasi-lintas-benua-saat-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-tukar-ilmu-di-pengalengan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 20 May 2025 07:43:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=16955</guid>

					<description><![CDATA[<p>(20/5) Di tengah aroma kopi segar yang menyeruak dari kebun-kebun kopi dataran tinggi, sekelompok petani kopi dari dua benua saling bertukar ilmu. Program Origin Trip and Learning Exchange yang digelar di Pengalengan pada 14 Mei 2025 menjadi ruang pertemuan antara petani muda Indonesia dan koperasi kopi asal Brasil, negara produsen kopi terbesar di dunia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) dan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, dengan tujuan utama: memperkuat keberlanjutan dalam rantai pasok kopi global melalui pertukaran ilmu di lapangan. Selama kegiatan, para petani mitra SGP diajak mengunjungi kebun dan pabrik kopi Java Frinsa Estate, serta...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kolaborasi-lintas-benua-saat-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-tukar-ilmu-di-pengalengan/">Kolaborasi Lintas Benua: Saat Petani Kopi Indonesia dan Brasil Tukar Ilmu di Pengalengan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange.webp" alt="" class="wp-image-16956" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/10/30407-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-di-program-origin-trip-and-learning-exchange-10x6.webp 10w" sizes="auto, (max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Petani kopi Indonesia dan Brasil di Program Origin Trip and Learning Exchange, hasil kolaborasi SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) dan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. (Dok. SCOPI/GEF SGP)</figcaption></figure>



<p>(20/5) Di tengah aroma kopi segar yang menyeruak dari kebun-kebun kopi dataran tinggi, sekelompok petani kopi dari dua benua saling bertukar ilmu.</p>



<p>Program Origin Trip and Learning Exchange yang digelar di Pengalengan pada 14 Mei 2025 menjadi ruang pertemuan antara petani muda Indonesia dan koperasi kopi asal <a href="https://www.suara.com/tag/brasil">Brasil</a>, negara produsen kopi terbesar di dunia.</p>



<p>Kegiatan ini merupakan <a href="https://www.suara.com/tag/kolaborasi">kolaborasi</a> antara SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) dan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, dengan tujuan utama: memperkuat keberlanjutan dalam rantai pasok kopi global melalui <a href="https://www.suara.com/tag/pertukaran-ilmu">pertukaran ilmu</a> di lapangan.</p>



<p>Selama kegiatan, para petani mitra SGP diajak mengunjungi kebun dan pabrik kopi Java Frinsa Estate, serta mempelajari langsung metode penanaman, pengolahan, dan pemasaran kopi. Salah satu momen paling berkesan adalah sesi diskusi hangat antara petani muda Indonesia dan praktisi kopi dari Brasil.</p>



<p>“Di Brasil, mereka menghadapi kekeringan; di sini, hujan tak menentu. Tapi trik hemat air mereka sangat menginspirasi saya!” ujar Marsyan, petani asal Bulukumba.</p>



<p><strong>Mengapa Brasil Jadi Rujukan Kopi Dunia</strong></p>



<p>Kopi Brasil mendominasi pasar global terutama karena volume produksinya yang sangat besar, menjadikannya pemasok yang andal dan konstan selama lebih dari satu setengah abad.</p>



<p>Dengan pangsa pasar yang signifikan, ketersediaan kopi Brasil yang melimpah memastikan harganya tetap kompetitif, menarik bagi beragam konsumen dan industri kopi di seluruh dunia.</p>



<p>Keterjangkauan ini, dikombinasikan dengan rasa yang cenderung lembut, tidak terlalu asam, dan memiliki body yang sedang hingga penuh dengan nuansa cokelat, kacang-kacangan, dan karamel, menjadikannya sangat fleksibel. Profil rasa yang universal ini cocok untuk berbagai metode penyeduhan dan ideal sebagai dasar untuk campuran espresso.</p>



<p>Selain kuantitas dan harga, Brasil juga menjaga standar kualitas yang baik, bahkan menghasilkan kopi specialty yang diakui kualitasnya, terutama dari wilayah seperti Minas Gerais. Konsistensi dalam profil rasa dari tahun ke tahun menjadi nilai tambah tersendiri.</p>



<p>Pengalaman Brasil yang kaya dalam industri kopi, yang dimulai pada awal abad ke-18, telah memupuk keahlian mendalam dalam budidaya dan pengolahan.</p>



<p>Mereka juga dikenal dengan inovasi dalam teknik pengolahan, terutama metode alami yang menghasilkan rasa manis intens dan metode pulped natural yang menciptakan keseimbangan rasa.</p>



<p>Terakhir, infrastruktur pertanian dan logistik Brasil yang mapan sangat mendukung produksi dan ekspor kopi dalam skala global.</p>



<p>Kombinasi antara volume produksi, harga yang bersaing, rasa yang fleksibel, kualitas yang konsisten, sejarah yang panjang, inovasi pengolahan, dan infrastruktur yang kuat menjadikan kopi Brasil sebagai pilihan utama dan sangat populer di seluruh dunia, baik sebagai komponen campuran maupun sebagai kopi single-origin berkualitas tinggi.</p>



<p><strong>Kopi Lestari: Jalan Tengah untuk Alam dan Petani</strong></p>



<p>Pertemuan ini bukan sekadar diskusi. Di akhir sesi, para peserta menyusun inisiatif bersama, mulai dari uji coba varietas hibrida <a href="https://www.suara.com/tag/brasil">Brasil</a>-Indonesia di iklim Jawa Barat, hingga pengembangan “<a href="https://www.suara.com/tag/kopi">Kopi</a> Karbon Netral” yang memadukan agroforestri ala Brasil dengan proyek restorasi lahan gambut Indonesia.</p>



<p>Mereka juga berencana mendirikan pusat pengetahuan digital sebagai ruang berbagi solusi lintas negara.</p>



<p>Tak lengkap jika membicarakan kopi tanpa menyesapnya. Di penghujung acara, para petani duduk bersama menyeruput kopi hasil bumi mereka sendiri—simbol rasa syukur sekaligus awal dari <a href="https://www.suara.com/tag/kolaborasi">kolaborasi</a> lintas budaya dan iklim.</p>



<p>Menurut Sidi Rana Menggala, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, program ini merupakan bagian penting dari misi Sustainable Green Planet dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.</p>



<p>“Melalui kopi lestari, kita tidak hanya bicara soal produk, tapi juga masa depan ekologi dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.</p>



<p>Dengan tantangan iklim yang semakin kompleks dan pasar kopi yang semakin sadar akan isu keberlanjutan, langkah seperti ini menjadi sangat relevan. Jika kopi menyatukan rasa dari dua benua, maka semangat lestari adalah benang merah yang mengikat semua pelakunya—dari ladang hingga cangkir.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/05/20/153740/kolaborasi-lintas-benua-saat-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-tukar-ilmu-di-pengalengan?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kolaborasi-lintas-benua-saat-petani-kopi-indonesia-dan-brasil-tukar-ilmu-di-pengalengan/">Kolaborasi Lintas Benua: Saat Petani Kopi Indonesia dan Brasil Tukar Ilmu di Pengalengan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>