<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lontar Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/lontar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/lontar/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Wed, 05 Nov 2025 06:59:33 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Lontar Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/lontar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dihantam Krisis Iklim, Pulau-pulau Kecil di Sabu Raijua Butuh Inovasi dan Solusi Berkelanjutan</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dihantam-krisis-iklim-pulau-pulau-kecil-di-sabu-raijua-butuh-inovasi-dan-solusi-berkelanjutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Sat, 26 Jul 2025 07:49:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lontar]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sabu Raijua]]></category>
		<category><![CDATA[Tanam Mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17109</guid>

					<description><![CDATA[<p>(26/7/2025) Perubahan iklim bukan lagi sekadar omon-omon belaka. Pulau Sabu dan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, sudah merasakan kenyataan pahit itu. Sebut saja, pola hujan tak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan ancaman bencana, kerap menimpa warga. Mereka yang menggantungkan hidup pada pertanian dan laut berada di bawah tekanan hebat. Laksmi Dhewanthi, Inspektur Utama BPLH 2025 dan Focal Point Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Ya, Indonesia dan sluruh dunia kini mengalami tahun yang paling panas. Betapa tidak, saat itu, diperkirakan kenaikan suhu di semua lapisan bumi sudah melampaui 1,1 derajat Celcius. “Indonesia dan seluruh dunia ini...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dihantam-krisis-iklim-pulau-pulau-kecil-di-sabu-raijua-butuh-inovasi-dan-solusi-berkelanjutan/">Dihantam Krisis Iklim, Pulau-pulau Kecil di Sabu Raijua Butuh Inovasi dan Solusi Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21.png" alt="" class="wp-image-17110" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-21-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penanaman bibit mangrove di Kawasan Wisata Mangrove Tulaika, Kelurahan Mebba, Kecamatan Sabu Barat, Rabu (23/7/2025).(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(26/7/2025) Perubahan iklim bukan lagi sekadar omon-omon belaka. Pulau Sabu dan Raijua, Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/sabu-raijua">Sabu Raijua</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/nusa-tenggara-timur">Nusa Tenggara Timur</a>, sudah merasakan kenyataan pahit itu. Sebut saja, pola hujan tak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan ancaman bencana, kerap menimpa warga. Mereka yang menggantungkan hidup pada pertanian dan laut berada di bawah tekanan hebat.</p>



<p>Laksmi Dhewanthi, Inspektur Utama BPLH 2025 dan Focal Point Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Ya, Indonesia dan sluruh dunia kini mengalami tahun yang paling panas. Betapa tidak, saat itu, diperkirakan kenaikan suhu di semua lapisan bumi sudah melampaui 1,1 derajat Celcius.</p>



<p><em>“Indonesia dan seluruh dunia ini mengalami tahun yang paling panas. Kita tidak punya waktu lagi untuk menambah satu derajat pun,&#8221;</em> terang Laksmi Dhewanthi, dalam forum diskusi tematik di Aula Rapat Gedung Pemerintah Kabupapaten Sabu Raijua, Kamis (24/7/2025).</p>



<p>Pernyataan tersebut tak pelak menggarisbawahi urgensi krisis iklim yang kini menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat di pulau-pulau kecil seperti Sabu dan Raijua. Bukan hanya suhu yang meningkat, melainkan juga bencana yang mengintai dari berbagai sisi.</p>



<p>Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 terjadi 3.472 kejadian bencana di Indonesia. Nah, sebanyak 80 persen di antaranya dipicu faktor perubahan iklim. Untuk wilayah kepulauan terpencil, dampaknya terasa jauh lebih nyata dan menakutkan.</p>



<p>Pulau Sabu dan Raijua, contohnya. Kenaikan permukaan air laut, abrasi pantai, dan cuaca ekstrem yang dapat mengisolasi wilayah menjadi ancaman. Ekosistem pesisir seperti padang lamun, <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a>, hingga terumbu karang turut merasakan tekanan. Di saat bersamaan, akses terhadap sumber air bersih juga makin sulit akibat kekeringan dan degradasi lingkungan.</p>



<p>Sebagai wilayah agraris dan pesisir, ancaman ini mengganggu tatanan ekonomi lokal. Pertanian yang sangat bergantung pada musim dan air menjadi tidak stabil. Perikanan pun terganggu oleh cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem laut.</p>



<p>Untuk itu, Laksmi menekankan pentingnya adaptasi yang nyata di tingkat lokal. <em>“Kita tidak punya waktu untuk menambah emisi gas rumah kaca karena bumi sudah tidak bisa lagi menoleransi,”</em> ujarnya lagi.</p>



<p>Berbagai strategi adaptasi pun ditawarkan: mulai dari adaptasi permukiman pesisir, diversifikasi pertanian dengan komoditas tahan iklim, pembangunan embung untuk air bersih, pelestarian ekosistem pesisir, hingga pengembangan kampung iklim berbasis komunitas.</p>



<p>Sayangnya, masalah struktural seperti tata ruang hutan justru menambah beban. Banyak kawasan produktif justru masuk ke dalam kawasan hutan lindung, sehingga menyulitkan pengembangan pertanian dan pembangunan desa.</p>



<p><em>“Kalau hutan lindungnya fungsinya kan boleh untuk konservasi area dan air. Tetapi hutan ini juga boleh dimanfaatkan hasil hutan bukan kayu-nya,”</em> ujar Bambang Supriyanto, eks Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK.</p>



<p>Menurutnya, dari 80.000 hektare alokasi perhutanan sosial di Nusa Tenggara Timur, baru sekitar 30.000 hektar yang terealisasi. Artinya, ada potensi besar yang belum tersentuh dan bisa dimanfaatkan, termasuk di Sabu Raijua.</p>



<p>Kondisi itu juga diperkuat oleh keluhan dari pemerintah daerah. Seorang peserta dari Dinas Pertanian menyampaikan keresahan yang selama ini dirasakan di lapangan.</p>



<p><em>“Kami dinas pertanian ini yang betul-betul merasakan efek dari kawasan hutan ini. Satu desa di Rekore itu 100 persen, itu semua hutan berlindung. Malangnya pertanian desa Rekore itu adalah penghasil bawang terbesar di Sabu Raijua,”</em> katanya.</p>



<p>Selain tekanan terhadap lahan dan iklim, warga juga menghadapi tantangan energi dan pembangunan. Penggunaan kayu bakar untuk produksi gula lontar masih masif, dan penambangan pasir memicu abrasi. Hal ini memperburuk kerentanan lingkungan.</p>



<p>Dampak perubahan iklim juga menyerang komoditas unggulan lain seperti rumput laut, yang sangat tergantung pada kondisi laut yang stabil. Ketika musim bergeser dan ombak tak menentu, mata pencaharian pun ikut terombang-ambing.</p>



<p>Namun, diskusi yang diselenggarakan GEF SGP Indonesia dan Yayasan Pikul itu tidak hanya membongkar masalah, tapi juga memunculkan beragam solusi. Salah satunya alat masak gula lontar tenaga surya yang dikembangkan Yayasan Cemara. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk mengurangi deforestasi dan meningkatkan efisiensi produksi.</p>



<p><em>“Alat ini adalah alat masak gula. Alat masak gula Sabu yang kita combine dengan teknik kita yang bersumber matahari,”</em> jelas pengembangnya.</p>



<p>Inovasi lainnya termasuk pemberdayaan masyarakat lewat Payment for Ecosystem Services (PES), diversifikasi ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu, serta promosi dan branding produk lokal berbasis clean label, seperti yang diterapkan pada gula lontar Sabu.</p>



<p>Namun semua itu kembali pada satu titik kunci: kesadaran kolektif dan kolaborasi. Tanpa sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, krisis iklim di pulau-pulau kecil seperti Sabu dan Raijua hanya akan makin dalam dan meluas.</p>



<p>Sekadar informasi, perubahan iklim menjadi fenomena getir yang dirasakan masyarakat Pulau Sabu dan Pulau Raijua–yang termasuk wilayah Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/sabu-raijua">Sabu Raijua</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/nusa-tenggara-timur">Nusa Tenggara Timur</a>. Meski kekayaan alamnya melimpah, krisis iklim menggentayangi kehidupan warga, seperti pola hujan tak menentu, dan kekeringan berkepanjangan.</p>



<p>Penegasan itu disampaikan Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly, dalam diskusi tematik yang digagas GEF SGP Indonesia dan Yayasan Pikul dengan tema Membangun Ketahanan Iklim dan Ekonomi Lokal Pulau Sabu &amp; Raijua melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berkelanjutan di Gedung Bupati Kabupaten Sabu Raijua, Kamis (24/7).</p>



<p>Dalam diskusi tersebut, para narasumber menawarkan solusi dan komitmen bersama. Diskusi ini menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak mewujudkan Sabu Raijua sebagai pulau yang tangguh terhadap iklim, mandiri secara ekonomi, dan lestari dalam sumber daya alamnya.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/26/092204/dihantam-krisis-iklim-pulau-pulau-kecil-di-sabu-raijua-butuh-inovasi-dan-solusi-berkelanjutan?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dihantam-krisis-iklim-pulau-pulau-kecil-di-sabu-raijua-butuh-inovasi-dan-solusi-berkelanjutan/">Dihantam Krisis Iklim, Pulau-pulau Kecil di Sabu Raijua Butuh Inovasi dan Solusi Berkelanjutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Pohon Lontar Penyelamat Kehidupan Warga Pulau Sabu</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/kisah-pohon-lontar-penyelamat-kehidupan-warga-pulau-sabu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Fri, 25 Jul 2025 08:13:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lontar]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sabu Raijua]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17083</guid>

					<description><![CDATA[<p>(25/7/2025) Panas mentari yang memancar ke Desa Raenyale terasa menyengat kulit. Namun, meski siang itu terik seperti banyak siang lainnya di Pulau Sabu, Julius Terru Kitu tetap teguh memanjat pohon lontar demi menyadap nira. “Sehari 20 pohon,” ujar Julius. ”Satu pohon lima belas menit,” jawab lelaki paruh baya bertubuh kurus dan berkumis itu saat ditanya lama waktu yang ia butuhkan untuk memanjat dan memasang perkakas penyadapan nira di pohon lalu turun kembali menunggu hasilnya. Warga Sabu biasa mengolah nira menjadi tuak dan gula Sabu. Gula kental itu biasa diolah menjadi woperegu—penganan khas Sabu yang terbuat dari campuran tumbukan jagung, kacang, dan gula. Banyak...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kisah-pohon-lontar-penyelamat-kehidupan-warga-pulau-sabu/">Kisah Pohon Lontar Penyelamat Kehidupan Warga Pulau Sabu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="700" height="465" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14.png" alt="" class="wp-image-17084" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14.png 700w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14-300x199.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14-600x399.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-14-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption class="wp-element-caption">Julius Terru Kitu, seorang warga Pulau Sabu, sedang berada di atas pohon lontar untuk menyadap nira.</figcaption></figure>



<p><strong>(25/7/2025) </strong>Panas mentari yang memancar ke Desa Raenyale terasa menyengat kulit. Namun, meski siang itu terik seperti banyak siang lainnya di <a href="https://nationalgeographic.grid.id/tag/pulau-sabu">Pulau Sabu</a>, Julius Terru Kitu tetap teguh memanjat <a href="https://nationalgeographic.grid.id/tag/pohon-lontar">pohon lontar</a> demi menyadap nira.</p>



<p>“Sehari 20 pohon,” ujar Julius. ”Satu pohon lima belas menit,” jawab lelaki paruh baya bertubuh kurus dan berkumis itu saat ditanya lama waktu yang ia butuhkan untuk memanjat dan memasang perkakas penyadapan nira di pohon lalu turun kembali menunggu hasilnya.</p>



<p>Warga Sabu biasa mengolah nira menjadi tuak dan gula Sabu. Gula kental itu biasa diolah menjadi woperegu—penganan khas Sabu yang terbuat dari campuran tumbukan jagung, kacang, dan gula. Banyak petani setempat biasa hanya memakan tiga sendok gula Sabu setiap pagi sebelum pergi berladang. Sementara para pelautnya biasa membawa bekal woperegu sebelum meninggalkan daratan.</p>



<p>“Bagi orang Sabu, lontar adalah pohon kehidupan,” kata Elo Lado, seorang tokoh adat sekaligus budayawan Sabu. “Daunnya untuk atap rumah, batangnya untuk tiang bangunan, buahnya yang sudah tua dipakai untuk pakan babi ternak.”</p>



<p>Di Sabu, musim kemarau lebih berlangsung lebih lama daripada musim hujan. Curah hujan pun amat sedikit. Untungnya bagi warga Sabu, pohon lontar bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun. “Sejak dahulu pohon lontar merupakan penyelamat orang Sabu dari kelangkaan pangan,” tulis Roland A.N. dan dua rekannya dalam buku&nbsp;<em>Daun Ro’Hili &amp; Air Gula Sabu: Penyambut Bayi Baru Lahir</em>.</p>



<p>Pohon lontar sejatinya umum dijumpai di banyak pulau selain Sabu. Namun, uniknya, menurut Elo, lontar telah menjadi bagian dari ritual adat di Sabu. Daun lontar dipakai untuk ritus Hole. Gula Sabu juga menjadi suguhan wajib dalam acara-acara adat seperti pernikahan dan kedukaan.</p>



<p>Daniel Hariman Jacob, dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menulis di makalah studi yang terbit di jurnal<em>&nbsp;International Review of Humanities Studies</em>&nbsp;bahwa pohon lontar dipandang sebagai dunia bagi orang Sabu. Artinya, tulisnya, “seluruh aspek kehidupan orang Sabu tidak terlepas dari lontar.&#8221;</p>



<p>Lebih lanjut Daniel menulis, &#8220;Keterkaitan, keterhubungan, dan ketergantungan kehidupan orang Sabu pada lontar merupakan suatu bentuk harmoni kehidupan antara masyarakat Sabu dan lingkungan alam Sabu Raijua. Selain itu, lontar juga menjadi jembatan penghubung komunikasi yang harmonis dengan sang Ilahi, atau yang disebut Deo Ama.”</p>



<p>Sayangnya, jumlah lontar di Sabu cenderung berkurang dari tahun ke tahun. Lenny Mooy, dosen sekaligus peneliti di Politeknik Pertanian Negeri Kupang, pernah menganalisis neraca air di Sabu berdasarkan data iklim sepanjang 30 tahun.</p>



<p>“Nah menariknya bahwa Sabu ini ternyata di 20 tahun yang lalu itu dia curah hujannya lebih bagus. Kenapa? Karena lontar lebih banyak,” tegas Lenny. Jadi kalau orang Sabu bilang itu pohon kehidupan, saya mengaminkan itu.” Sebab, siklus udara dan air di Sabu tampaknya juga dipengaruhi oleh vegetasi lontar.</p>



<p>Sejak April 2024 hingga tahun ini, berbekal pendanaan dari Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP) Indonesia, Kelompok Studi BeLaTera berupaya membangun siklus ekonomi sirkular dari hasil olahan lontar. Mereka melatih 60 warga dari Desa Raenyale dan Raemude membuat pupuk organik cair dari nira, sabut lontar, dan limbah organik rumah tangga lainnya.</p>



<p>Impaknya, warga tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli pupuk kimia guna lahan pertanian mereka. Dampak pupuk organik cair pun ternyata lebih baik bagi kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.</p>



<p>Selain membuat pupuk organik, warga juga dilatih membuat filter air dari sabut lontar. Dengan filter tersebut, limbah cair rumah tangga bisa diolah dan dimanfaatkan ulang. Manfaatnya, warga bisa menghemat pengeluaran untuk membeli air.<br><br>Dalam upaya membangun ekonomi sirkular, BeLaTera melatih warga mengembangkan produk-produk baru berupa tas, sarung botol, wadah, dan map yang terbuat dari anyaman daun lontar. Mereka juga membantu membuat kemasan dan desain menarik untuk gula, kecap, dan cuka yang biasa warga produksi dari air lontar. Warga yang biasanya membuat hanya untuk kebutuhan pribadi, kini sudah mulai berhasil menjual ke para pembeli di sekitar Sabu.</p>



<p>“Ke depan kami ada niat membantu memasarkannya ke daerah Kupang,” ujar Alexandria G. J. Putri Asa Tiluk, koordinator program BeLaTera, pada akhir Mei lalu.</p>



<p>Orang Dowahu meyakini banyak orang di luar Sabu juga bakal menyukai gula Sabu dan produk-produk lain hasil olahan dari air lontar. Petikan syair salah satu nyayian rakyat di sana berbunyi:&nbsp;<em>Na du we ne dau, ‘dhei nga dehanu awu. Ma’dji lema ro ta do wala rai</em>. Artinya: Siapa pun dia, senang dengan gula Sabu. Sekalipun mereka orang dari luar pulau.</p>



<p>Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/134277291/kisah-pohon-lontar-penyelamat-kehidupan-warga-pulau-sabu?page=all</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/kisah-pohon-lontar-penyelamat-kehidupan-warga-pulau-sabu/">Kisah Pohon Lontar Penyelamat Kehidupan Warga Pulau Sabu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 22 Jul 2025 07:55:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lontar]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sabu Raijua]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17075</guid>

					<description><![CDATA[<p>(22/7/2025) Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, membuka pintu lebar untuk kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah dan mitra pembangunan guna mempercepat pembangunan daerah. Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mengembangkan potensi lokal yang sebenarnya melimpah. “Kami sangat membutuhkan dukungan karena kapasitas fiskal kami sangat rendah,” ujar Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly, saat menerima audiensi Seknas GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Senin (21/7). “Kami hanya mengandalkan dana dari pusat dan sumber daya alam yang ada.” Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menegaskan bahwa kerja sama dengan LSM dan lembaga donor bukan hanya penting, tetapi krusial. Kepala Bappeda Sabu Raijua, Victor Rada Muri,...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/">Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="970" height="546" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12.png" alt="" class="wp-image-17076" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12.png 970w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-300x169.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-768x432.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-600x338.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-12-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 970px) 100vw, 970px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. (Dok. Istimewa)</figcaption></figure>



<p>(22/7/2025) Pemerintah Kabupaten <a href="https://www.suara.com/tag/sabu-raijua">Sabu Raijua</a>, <a href="https://www.suara.com/tag/nusa-tenggara-timur">Nusa Tenggara Timur</a>, membuka pintu lebar untuk kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah dan mitra pembangunan guna mempercepat pembangunan daerah.</p>



<p>Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mengembangkan potensi lokal yang sebenarnya melimpah.</p>



<p>“Kami sangat membutuhkan dukungan karena kapasitas fiskal kami sangat rendah,” ujar Wakil Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly, saat menerima audiensi Seknas GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia, Senin (21/7).</p>



<p>“Kami hanya mengandalkan dana dari pusat dan sumber daya alam yang ada.”</p>



<p>Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menegaskan bahwa kerja sama dengan LSM dan lembaga donor bukan hanya penting, tetapi krusial. Kepala Bappeda Sabu Raijua, Victor Rada Muri, menyatakan bahwa kolaborasi semacam ini bisa menjadi jalan keluar bagi keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia di daerah.</p>



<p>“Harapan kami, teman-teman LSM dan NGO bisa bantu mendorong pengembangan potensi lokal. Kami terbuka untuk dialog dan kerja sama,” kata Victor.</p>



<p><strong>Dari Lontar hingga <a href="https://www.suara.com/tag/rumput-laut">Rumput Laut</a>: Potensi yang Belum Termanfaatkan</strong></p>



<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menyoroti potensi besar tanaman lontar di Sabu Raijua. Salah satu upaya yang sedang didorong adalah pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) untuk menjaga nilai ekonomi lontar.</p>



<p>Sabu Raijua juga memiliki varietas tanaman unik seperti bawang merah lokal berwarna putih yang khas, kacang hijau hitam, sorgum, hingga padi merah khas. GEF SGP Indonesia bersama mitra seperti Kupang Batanam dan Klinik Agro tengah mengembangkan kultivar lokal ini dengan pendekatan self-declare, agar petani dapat mematenkan dan mempromosikan produk mereka secara mandiri.</p>



<p>“Dengan self-declare, petani bisa mengangkat produk lokal mereka sekaligus meningkatkan daya saing di pasar,” jelas Hery Budiarto dari GEF SGP Indonesia.</p>



<p>Dalam RPJMN, dua komoditas utama Sabu Raijua yang masuk prioritas nasional adalah garam dan rumput laut. Namun tantangannya besar. Pabrik pengolahan rumput laut yang sudah ada belum bisa beroperasi karena kekurangan tenaga ahli.</p>



<p>Wakil Bupati Thobias mengusulkan pembangunan kebun bibit rumput laut dan mendorong pengolahan produk turunan agar komoditas ini punya nilai tambah.</p>



<p>“Kami tidak ingin hanya menjual mentah. Harus ada nilai tambah untuk tingkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.</p>



<p>Pertemuan antara Pemkab dan GEF SGP Indonesia ini diharapkan jadi langkah awal untuk membangun ekosistem pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan—dengan potensi lokal sebagai fondasi, dan gotong royong lintas pihak sebagai penggeraknya.</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/07/22/110042/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/lontar-hingga-rumput-laut-potensi-sabu-raijua-butuh-mitra-untuk-berkembang/">Lontar hingga Rumput Laut: Potensi Sabu Raijua Butuh Mitra untuk Berkembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>