<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pertanian Organik Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/pertanian-organik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/pertanian-organik/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 02:38:46 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>Pertanian Organik Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/pertanian-organik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Wed, 08 Oct 2025 07:29:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[FAO]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17207</guid>

					<description><![CDATA[<p>(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan. Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&#160;smart&#160;farming, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “agripreneur keren”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="543" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png" alt="" class="wp-image-17208" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1024x543.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-300x159.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-768x407.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-600x318.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45-10x5.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-45.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’. Foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(8/10/2025) Pernah kepikiran nggak kalau jadi petani itu bisa keren? Nah, lewat program “Petani Keren” yang digagas oleh <strong>Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO),</strong> pandangan itu kini mulai berubah. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi gerakan nyata untuk menciptakan generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap membawa pertanian Indonesia ke arah yang lebih modern dan berkelanjutan.</p>



<p>Digelar di Jakarta pada Selasa (7/10), pelatihan intensif ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh. FAO mengajak puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar langsung soal&nbsp;<strong>smart</strong>&nbsp;<strong>farming</strong>, agribisnis, hingga pertanian ramah lingkungan. Tujuannya jelas — mencetak “<strong>agripreneur keren</strong>”, sosok muda yang mampu mengelola pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tapi sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan.</p>



<p>Program ini juga mendapat dukungan kuat dari&nbsp;<strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia</strong>, yang berbagi pengalaman soal strategi penghasilan tani berkeadilan. Kolaborasi antara&nbsp;<strong>Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,&nbsp;</strong>and<strong>&nbsp;Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)</strong>&nbsp;turut memperkuat semangat pelatihan ini. Semua pihak sepakat bahwa masa depan pertanian bergantung pada generasi muda yang berani berinovasi.</p>



<p>Ada sekitar 30 peserta berusia 17–29 tahun yang ikut dalam pelatihan ini. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Uniknya, latar belakang para peserta juga beragam. Ada yang berasal dari keluarga petani, tapi ada pula yang merupakan lulusan jurusan&nbsp;<strong>pertanian, agribisnis, dan agroteknologi</strong>. Perpaduan ini membuat suasana belajar jadi hidup dan interaktif, karena masing-masing membawa pengalaman dan ide berbeda.</p>



<p>Selain memahami teknologi pertanian modern, peserta juga dibekali kemampuan&nbsp;<strong>mengelola bisnis pertanian profesional</strong>&nbsp;— mulai dari perencanaan, produksi, hingga pemasaran. Artinya, mereka nggak cuma diajarkan menanam, tapi juga berpikir strategis bagaimana hasil pertanian bisa memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi.</p>



<p>Salah satu sesi menarik dibawakan oleh&nbsp;<strong>Sidi Rana Menggala</strong>, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia sekaligus perwakilan&nbsp;<strong>Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL)</strong>. Ia membagikan studi kasus tentang pengembangan&nbsp;<strong>pertanian lada</strong>&nbsp;yang berkeadilan dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan ke arah&nbsp;<strong>pertanian agroekologi atau organik&nbsp;</strong>bisa jadi solusi atas permasalahan petani lada yang selama ini harus menghadapi biaya tinggi dan masa tanam panjang. Dengan pupuk organik dan pestisida alami, kualitas tanah bisa pulih dan hasil panen lebih diminati pasar ekspor premium — meski jumlah panennya lebih sedikit, nilai jualnya justru lebih tinggi.</p>



<p>Program “Petani Keren” ini bukan hanya pelatihan, tapi juga simbol harapan baru. Harapan bahwa bertani bisa jadi profesi yang modern, berdaya saing, dan tetap peduli pada bumi. Seperti yang disampaikan&nbsp;<strong>Yusmanetti Sari</strong>, Food System Specialist FAO Indonesia, “Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional bisa terjamin. Kita membangun fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia.”</p>



<p>Urbie’s, bisa jadi inilah saatnya anak muda memandang sawah bukan sekadar lahan, tapi masa depan. Karena jadi petani hari ini bukan lagi soal lumpur di kaki, tapi inovasi, teknologi, dan semangat mencintai tanah air dalam arti sesungguhnya.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/10/08/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/program-petani-keren-fao-digagas-gef-sgp-indonesia-berbagi-dengan-puluhan-bibit-muda/">Program Petani Keren FAO Digagas, GEF SGP Indonesia Berbagi dengan Puluhan ‘Bibit Muda’</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 19 Jun 2025 04:13:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17044</guid>

					<description><![CDATA[<p>(19/6/2025) Jalan perubahan memang tidak selalu mulus. Seringkali landai, tak jarang pula terjal. Hal ini dialami oleh sekelompok&#160;petani&#160;di Dusun&#160;Tegalsari&#160;di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten&#160;Kendal, Jawa Tengah. Mereka membawa inovasi tanaman organik. Namun, upaya tersebut sempat memantik keraguan. Bisakah mereka membawa perubahan? Dulu, Dusun Tegalsari di Desa Wonosari mungkin merupakan desa agraris biasa. Mayoriitas warganya memang menanam jagung. Namun kini, sekelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo menciptakan inovasi dalam pola tanam yang berbeda. Alhasil, inovasi ini pun dilirik oleh banyak orang. Berawal ketika Ngarimin, 52 tahun, selaku Ketua KUB Sarimulyo bersama salah seorang anggota, Fandoli, 49 tahun,...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/">Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png" alt="" class="wp-image-17045" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-300x168.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-18x10.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-600x336.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3-10x6.png 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Fandoli, salah satu anggota KUB Sarimulyo, saat diwawancarai di halaman kediamannya di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. (Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p>(19/6/2025) Jalan perubahan memang tidak selalu mulus. Seringkali landai, tak jarang pula terjal. Hal ini dialami oleh sekelompok&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a>&nbsp;di Dusun&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tegalsari">Tegalsari</a>&nbsp;di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kendal">Kendal</a>, Jawa Tengah. Mereka membawa inovasi tanaman organik. Namun, upaya tersebut sempat memantik keraguan. Bisakah mereka membawa perubahan?</p>



<p>Dulu, Dusun Tegalsari di Desa Wonosari mungkin merupakan desa agraris biasa. Mayoriitas warganya memang menanam jagung. Namun kini, sekelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo menciptakan inovasi dalam pola tanam yang berbeda. Alhasil, inovasi ini pun dilirik oleh banyak orang.</p>



<p>Berawal ketika Ngarimin, 52 tahun, selaku Ketua KUB Sarimulyo bersama salah seorang anggota, Fandoli, 49 tahun, memberikan lahan seluas 5.000 meter persegi atau 0,5 hektare sebagai ‘kebun pembelajaran’. Di sana, mereka dan anggota lainnya belajar melakukan diversifikasi tanaman menggunakan sayuran dan pupuk organik cair (POC).</p>



<p>“Awalnya itu, saya punya tanah di sini. Saya sendiri punya tanah seperempat hektare. Saat itu mau tanam gimana, nah saya ngomong sama teman-teman. ‘Udah ini tanah saya aja buat pembelajaran! Kalau nggak punya lahan pembelajaran, kita mau belajar gimana. Akhirnya ya tidak apa-apa tanah saya dibikin tempat penanaman untuk kita,” kata Ngarimin ketika ditemui beberapa waktu silam.</p>



<p>Lahan itu kini dikelola bersama dan ditanami berbagai sayur seperti terong, pare, labu madu, sereh wangi, hingga kacang panjang. Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Mereka mendapatkan kesulitan dalam mengubah pola tanam masyarakat. Ini terutama bagi warga yang memang sudah dari dulu menanam jagung.</p>



<p>Ngarimin pun bersaksi, “Dulu, (masyarakat–RED) sempat menanam kacang tanah dan padi. Tapi sekarang semua menanam jagung. Sampai hari ini, jika (masyarakat–RED) disuruh beralih ke tanaman lain itu, tidak mau. Berarti jika ingin mengubah (perilaku masyarakat–RED), memang harus perlahan. Pokoknya mana yang lebih menghasilkan dari sisi pendapatan.”</p>



<p>Nggak cuma itu, meski banyak yang menerima, tak jarang pula yang menolak upaya perubahan dari KUB Sarimulyo. Resistensi umumnya datang dari sebagian masyarakat yang terbiasa menggunakan pupuk kimia dan menerapkan sistem pertanian konvensional. Banyak dari mereka yang merasa skeptis terhadap sistem tanam KUB Sarimulyo.</p>



<p>“Tanggapan masyarakat itu beragam—ada yang tertarik, tapi ada juga yang menentang. Mereka bilang, ‘Oh, kamu kok menanam seperti ini? Memangnya tanpa pupuk kimia bisa tumbuh? Itu nggak boleh,” ujar Ngarimin.</p>



<p>Namun waktu membuktikan bahwa pupuk organik yang mereka racik sendiri mampu menghasilkan sayuran lebih hijau dan sehat. Terlebih sebelum menjualnya, Ngarimin dan KUB Sarimulyo bereksperimen menggunakan pupuk organik di kebun sendiri. Ngarimin menekankan kini masyarakat mulai bisa membandingkan sendiri kualitas hasil panen organik mereka.</p>



<p>“Tetangga saya yang menanam kacang panjang dengan pupuk kimia, daunnya malah kuning-kuning. Sementara tanaman saya yang pakai pupuk organik, daunnya justru kebanyakan hijau. Selain itu, tanaman yang menggunakan kimia, ada yang bisa dipanen namun tak jarang yang gagal (panen–RED),” terang dia.</p>



<p>Ngarimin pun mengakui, “Memang sulit mengajak masyarakat beralih ke organik karena dianggap lebih ribet. Misalnya, pupuk organik harus disemprot setiap tiga hari selama seminggu. Sedangkan kalau pakai kimia, jagung umur 12 hari dipupuk satu kali, setengah hari saja cukup untuk menggarap 1,5 hektare. Nanti umur 35 sampai 40 hari tinggal dipupuk lagi.”</p>



<p>Pernyataan tak jauh berbeda disampaikan oleh Fandoli. Tak jarang warga yang meremehkan cara mereka menanam sayuran. Bahkan, menurut Fandoli, “(Diremehkan–RED) Itu sudah biasa bagi kami. Mereka yang meremehkan biasanya beranggapan bahwa menanam sayur itu ya lebih repot dibandingkan menanam jagung seperti yang mereka lakukan.”</p>



<p>KUB Sarimulyo tak hanya berhasil dari sisi pertanian, tetapi juga membentuk sistem pembelajaran terbuka yang fleksibel. Ngarimin mengungkapkan bahwa tak ada jadwal tetap dalam pembelajaran ini. Setiap anggota bebas bergabung saat ada waktu luang, dan kegiatan dilakukan secara spontan berdasarkan kebutuhan kelompok.</p>



<p>“Tidak ada jadwal yang baku atau kewajiban tertentu untuk belajar. Misalnya, kalau ada dua orang yang sedang tidak ada pekerjaan, kami ajak bikin POC. Kalau ada empat orang yang lowong, kami ajak bikin kompos. Jadi tidak harus semua 16 orang anggota terlibat sekaligus. Kadang hanya 2 sampai 4 orang saja yang aktif membuat POC,” tukas Ngarimin.</p>



<p>Menurut Ngarimin, pendekatan dengan model fleksilibitas seperti ini lebih efektif. Sebab, pengerjaan produk pupuk organik cair ini tidak membebani anggota dengan rutinitas kaku dan justru meningkatkan solidaritas antarpetani.</p>



<p><strong>Perubahan kecil berdampak besar</strong></p>



<p>Sambil menatap nanar, Fandoli menuturkan kebanggaannya terhadap perubahan yang telah dicapai oleh dirinya dan para anggota KUB Sarimulyo. Ia mengaku bahwa awalnya banyak warga yang tidak memperhatikan kebun mereka. Namun, lahan mereka mulai mencuri perhatian terutama bagi warga yang melewati wilayah tersebut.</p>



<p>Kebanggaan Fandoli memang beralasan. Lahan pembelajaran tersebut memang berbeda dari sebagian besar wilayah yang notabene dihuni tanaman jagung. Lahan seluas 0,5 hektare itu dihuni beragam tanaman sayur. Di bagian tengah lahan tersebut, ada sebuah bangunan kecil tempat warga bersantai dan juga menampung pupuk organik cair buatan mereka.</p>



<p>“Saya bangga ketika warga yang lewat memuji lahan sayur saya, dan saya merasa senang karena hasil panen sayur lebih menguntungkan dibandingkan jagung,” kata Fandoli menatap nanar.</p>



<p>Nah, salah seorang pendorong utama perubahan ini adalah Eko Maryanto, Ketua Yayasan Rebo Ijo. Ia ingin membangun kesadaran pentingnya pertanian berkelanjutan. Dia memberikan pelatihan tentang pengelolaan lahan, pembuatan pupuk organik hingga manajemen kelompok.</p>



<p>Eko pun mengatakan, “Saya selama 7 tahun melatih masyarakat secara gratis untuk masyarakat yang ingin berubah.”</p>



<p>Menurut Eko, tantangan utama di Wonosari adalah minimnya pemahaman tentang teknik bertani yang baik. Ia melihat banyak petani tidak mengetahui proses penanaman secara tepat, mulai dari pengolahan tanah hingga pengendalian hama secara alami. Terlebih, tingginya biaya transportasi hasil panen. Ini menjadi hambatan untuk menjangkau pasar di kota.</p>



<p>&#8220;Selain soal kebijakan, kurangnya ilmu atau pemahaman tentang sektor pertanian juga menjadi masalah karena mereka tidak tahu proses penanaman yang benar. Selain itu, biaya transportasi hasil panen juga tinggi,&#8221; ujar dia.</p>



<p>Namun pelan tapi pasti, perubahan terlihat. Eko mengamati anggota KUB kini mampu memenuhi kebutuhan dapur mereka sendiri dengan hasil panen dari kebun organik. Ini, kata dia, merupakan bentuk ketahanan pangan yang nyata di tingkat keluarga.</p>



<p>“Kalaupun hasil panen tidak terjual, minimal bisa untuk makan sendiri, dimasak sendiri dan mendapatkan manfaat dari sayur yang sehat,” terang Eko.</p>



<p>Dampak ekonomi juga tak bisa dipandang remeh. Ngarimin menjelaskan meskipun hasil panen tidak selalu besar, hasilnya cukup untuk menopang kebutuhan harian dan lebih bernilai dibanding hanya menanam jagung.</p>



<p>“Biar sedikit, tapi kalau dihitung, bisa lebih banyak meraup pendapatan dari hasil tanaman sayuran,&#8221; ujar Ngarimin.</p>



<p>Memang, belum semua warga Dusun Tegalsari beralih ke organik. Tapi, jejak perubahan yang dilakoni KUB Sarimulyo sudah jelas. Fandoli berharap nantinya semua masyarakat bisa beralih menggunakan pupuk organik agar tidak merusak lingkungan sekitar.</p>



<p>“Harapannya, semoga apa yang KUB mimpikan bisa terwujud. Masyarakat bisa berpindah menggunakan pupuk organik setelah melihat keberhasilan kami, jadi kami sangat bersungguh-sungguh menjalankan program ini,” kata Fandoli.</p>



<p>Adapun program ini merupakan bagian dari kemitraan Yayasan Rebo Ijo bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang mendukung inisiatif masyarakat sipil dalam adaptasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup di tingkat lokal.</p>



<p>Inisiatif ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dilakukan dari tingkat lokal. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, petani Tegalsari membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan bisa menjadi solusi masa depan.</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/06/19/111456/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik</p>



<p></p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/dulu-diragukan-kini-diakui-saga-petani-tegalsari-wujudkan-pertanian-organik/">Dulu Diragukan Kini Diakui, Saga Petani Tegalsari Wujudkan Pertanian Organik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Tue, 17 Jun 2025 14:09:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17035</guid>

					<description><![CDATA[<p>(17/6/2025) &#8220;Untuk menjadi lebih baik berarti berubah; untuk menjadi sempurna berarti sering berubah.” Kutipan dari eks Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ini, layak disematkan untuk anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo. Melalui jalan perubahan, mereka menabuh genderang perang melawan krisis iklim. Cuaca kekinian memang tidak menentu. Penyebabnya perubahan iklim yang terjadi. Thus, sekelompok petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pun mulai menanam sayuran alih-alih bertani jagung. Hebatnya, mereka menggunakan pupuk organik buatan sendiri! Langkah perubahan ini di antaranya dipelopori oleh Ketua KUB Sarimulyo, Ngarimin, 52 tahun dan Fandoli, 49 tahun. Mereka menghibahkan lahan pribadi seluas...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/">Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari.webp" alt="" class="wp-image-17036" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari.webp 653w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-300x168.webp 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-18x10.webp 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-600x336.webp 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-1x1.webp 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/24999-kebun-pembelajaran-di-dusun-tegalsari-10x6.webp 10w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ketua KUB Sarimulyo Ngarimin dan kebun pembelajaran di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)</figcaption></figure>



<p>(17/6/2025) <em>&#8220;Untuk menjadi lebih baik berarti berubah; untuk menjadi sempurna berarti sering berubah.” Kutipan dari eks Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ini, layak disematkan untuk anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo. Melalui jalan perubahan, mereka menabuh genderang perang melawan krisis iklim.</em></p>



<p>Cuaca kekinian memang tidak menentu. Penyebabnya perubahan iklim yang terjadi. Thus, sekelompok petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pun mulai menanam sayuran alih-alih bertani jagung. Hebatnya, mereka menggunakan pupuk organik buatan sendiri!</p>



<p>Langkah perubahan ini di antaranya dipelopori oleh Ketua <a href="https://www.suara.com/tag/kub-sarimulyo">KUB Sarimulyo</a>, Ngarimin, 52 tahun dan Fandoli, 49 tahun. Mereka menghibahkan lahan pribadi seluas 0,5 hektare atau 5.000 meter persegi untuk dikelola secara komunal oleh KUB Sarimulyo. Lahan itu dinamakan sebagai ‘Kebun Pembelajaran’. Di sana, mereka bereksperimen dengan menanam sayuran.</p>



<p>Ditemui di kebun pembelajaran beberapa waktu silam, Ngarimin selaku ketua KUB Sarimulyo, menjelaskan keputusan perlahan beralih dari jagung ke sayuran diambil. Dia beralasan tanaman sayur lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Hasilnya pun lebih cepat. Jagung hanya bisa dipanen 3-4 bulan sekali. Sementara, kuantitas panen sayuran bisa lebih tinggi dari itu.</p>



<p>“Kami beralih ke sayuran seperti terong, kacang panjang, dan labu madu karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan cepat panen. Selain itu, sayur lebih fleksibel dikelola secara gotong royong. Ini membuat kami lebih mandiri dan saling mendukung di tengah kesulitan,” ujar Ngarimin.</p>



<p>Tak hanya menanam sayuran, bertempat di lahan pembelajaran tersebut, para anggota juga memproduksi sendiri pupuk organik cair (POC) dari bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah. Ada enam jenis, mulai dari POC Oyot Pring, Biourine, Biopestisida, Rumen, Lindi hingga Bioactivator. Harganya pun beragam dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.</p>



<p>Keenam POC tersebut memiliki kegunaannya masing-masing. POC Biourine, misalnya, biasa digunakan para petani untuk merangsang serta mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Sementara, POC jenis Lindi biasanya digunakan untuk menjaga kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan dengan pupuk kimia.</p>



<p>Ngarimin mengakui, “Pupuk ini lebih murah, tidak mencemari tanah, dan hasilnya nyata. Tanaman lebih sehat, hijau, dan cepat tumbuh. Kami juga tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dari luar. Ini penting untuk menjaga tanah tetap subur dalam jangka panjang.”</p>



<p>Memang, tanah yang terkena pupuk dengan bahan kimia cenderung lebih kering dan tidak subur cum gembur. Bahkan, berdasarkan pantauan jurnalis di lapangan, beberapa ruas tanah cenderung berwarna merah. Teksturnya terlihat pecah-pecah, persis seperti tanah yang tengah terimbas kekeringan.</p>



<p>Tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan tanah, Salah satu penggagas kegiatan ini, Fandoli, menambahkan hasil dari pertanian organik ternyata jauh lebih menjanjikan ketimbang dibandingkan pola tanam jagung yang selama ini dilakukan.</p>



<p>“Sayur bisa dipanen lebih sering. Jagung butuh empat bulan, belum tentu untung. Sekarang dapur kami lebih terjamin isinya. Anak istri ikut merasakan manfaat langsung,” kata pria yang kerap menjadi juru bicara KUB Sarimulyo.</p>



<p>Kegiatan bertani ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru dari hasil penjualan produk pertanian dan pupuk organik. Ya, kata Ngarimin, anggota KUB Sarimulyo tidak memperoleh pupuk dengan cuma-cuma. Mereka diwajibkan untuk membeli. Nantinya, penghasilan dari pupuk untuk mengisi kas kelompok.</p>



<p>“Kami atur hasil penjualan (pupuk organik cair–RED) masuk kas kelompok supaya bisa beli bibit atau alat tanam bersama. Kami ingin usaha ini terus berkembang dan bisa menghidupi lebih banyak keluarga,” terang Ngarimin.</p>



<p>Berdasarkan pengakuan Ngarimin, warga sekitar awalnya masih ragu terhadap metode baru tersebut. Maklum, perubahan terkadang terasa asing dan menakutkan, terlebih mereka sudah merasa cukup dengan bercocok tanam jagung. Kendati begitu, lambat laun mereka mulai menunjukkan minat setelah melihat hasilnya.</p>



<p>Ngarimin mengatakan, “Awalnya banyak (Warga–RED) yang tidak percaya (dengan hasil dari pupuk organik–RED). Tapi begitu lihat hasilnya, banyak yang tertarik ikut (menanam dan menggunakan pupuk organik–RED). Sekarang bahkan ada warga dari dusun tetangga yang datang belajar ke sini.”</p>



<p>Keberhasilan inisiatif tersebut tentunya tak lepas dari dukungan dan peran dari Yayasan Rebo Ijo. Yayasan tersebut menginisiasi program pertanian ramah iklim berbasis komunitas ini, terutama di <a href="https://www.suara.com/tag/kub-sarimulyo">KUB Sarimulyo</a>, sejak akhir tahun 2023.</p>



<p>Eko Maryanto, 56 tahun, selaku Ketua Yayasan Rebo Ijo berujar, “Kami hanya memantik. Yang menjalankan adalah warga. Kini mereka tidak perlu lagi berutang untuk makan. Ini bukan sekadar pertanian, tapi cara membangun kemandirian dan martabat warga melalui ekosistem yang sehat.”</p>



<p>Adapun program ini merupakan bagian dari kemitraan Yayasan Rebo Ijo bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang mendukung inisiatif masyarakat sipil dalam adaptasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup di tingkat lokal.</p>



<p>Inisiatif ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dilakukan dari tingkat lokal. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, <a href="https://www.suara.com/tag/petani">petani</a> <a href="https://www.suara.com/tag/tegalsari">Tegalsari</a> membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan bisa menjadi solusi masa depan.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2025/06/17/094048/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim?page=2</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/inovasi-sayuran-dan-pupuk-organik-ala-petani-tegalsari-perangi-krisis-iklim/">Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>