<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kajang Arsip - SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sgp-indonesia.org/en/tag/kajang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kajang/</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastbuilddate>Mon, 10 Nov 2025 02:21:58 +0000</lastbuilddate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	

<image>
	<url>https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2023/11/cropped-logo-gef-32x32.webp</url>
	<title>kajang Arsip - SGP Indonesia</title>
	<link>https://sgp-indonesia.org/en/tag/kajang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 04 Sep 2025 17:17:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[amsterdam]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat adat]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17200</guid>

					<description><![CDATA[<p>(4/9/2025) Kain tenun bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah warisan, doa, dan cerita yang terjalin dalam setiap helai benang. Begitulah makna yang tersampaikan dalam momen bersejarah ketika&#160;Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&#160;mendonasikan&#160;kain tenun Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada&#160;Indonesia House Amsterdam. Donasi ini bukan hanya sebuah simbol, tapi juga bagian dari diplomasi budaya yang bernilai tinggi, bahkan jika dihitung secara nilai koleksi, kain ini bisa disejajarkan dengan karya seni bernilai jutaan rupiah. Acara ini berlangsung pada&#160;Selasa, 2 September 2026, dengan kehangatan yang terasa kental. Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia menyerahkan kain...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/">GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="832" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1024x832.png" alt="" class="wp-image-17201" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1024x832.png 1024w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-300x244.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-768x624.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-15x12.png 15w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-600x488.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42-10x8.png 10w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-42.png 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam, foto: istimewa</em></figcaption></figure>



<p>(4/9/2025) Kain tenun bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah warisan, doa, dan cerita yang terjalin dalam setiap helai benang. Begitulah makna yang tersampaikan dalam momen bersejarah ketika&nbsp;<strong>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia&nbsp;</strong>mendonasikan&nbsp;<strong>kain tenun Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan</strong>, kepada&nbsp;<strong><a href="https://www.google.com/url?sa=t&amp;source=web&amp;rct=j&amp;opi=89978449&amp;url=https://www.instagram.com/indonesiahouseamsterdam/%3Fhl%3Den&amp;ved=2ahUKEwjb1ODfyL6PAxXqwTgGHbW-HccQFnoECCMQAQ&amp;sqi=2&amp;usg=AOvVaw3NZU59oWW0FWWyB0DIRlWc">Indonesia House Amsterdam</a></strong>. Donasi ini bukan hanya sebuah simbol, tapi juga bagian dari diplomasi budaya yang bernilai tinggi, bahkan jika dihitung secara nilai koleksi, kain ini bisa disejajarkan dengan karya seni bernilai jutaan rupiah.</p>



<p>Acara ini berlangsung pada&nbsp;<strong>Selasa, 2 September 2026</strong>, dengan kehangatan yang terasa kental. Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia menyerahkan kain tenun Kajang langsung kepada&nbsp;<strong>Ine Waworuntu</strong>, pendiri&nbsp;<strong>Hibiscus Foundation</strong>, di jantung kota Amsterdam. Menurut Sidi, kehormatan besar bagi GEF SGP Indonesia bisa membawa karya megah masyarakat adat hingga ke panggung global.</p>



<p><strong>“Kami bangga mendonasikan kain tenun hasil karya masyarakat adat Kajang. Ini bukan sekadar kain, tapi simbol filosofi hidup, hubungan spiritual dengan alam, serta doa yang diwariskan lintas generasi,”</strong>&nbsp;ujar Sidi.</p>



<p><strong>Filosofi Hidup “Kamase-masea”</strong></p>



<p>Bagi masyarakat adat Kajang Ammatoa, menenun bukan pekerjaan biasa. Prosesnya penuh doa, dengan bahan alami dari alam sekitar. Motif dan warna hitam yang khas melambangkan kesederhanaan, persamaan, serta kekuatan. Semua itu berpijak pada filosofi hidup “<strong>Kamase-masea</strong>”, yang berarti hidup sederhana, secukupnya, bahkan “miskin” di dunia demi mencapai kekayaan batin dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p>Kain ini pun jadi simbol perlawanan terhadap gaya hidup serba instan, mengingatkan kita bahwa harmoni dengan alam adalah kunci keberlanjutan. Proses pewarnaannya menggunakan daun tarum atau indigo, kapur, hingga abu kayu, dan disempurnakan dengan teknik tradisional&nbsp;<strong>garrusu</strong>—menggosok kain dengan cangkang keong hingga berkilau. Nilai budaya dan spiritualnya menjadikan kain tenun Kajang tak ternilai harganya, meski bila diukur sebagai karya seni, bisa mencapai puluhan juta rupiah.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://urbanvibes.id/wp-content/uploads/2025/09/1000158260-1024x713.jpg" alt="" class="wp-image-21641"/></figure>



<p><strong>Diplomasi Budaya di Amsterdam</strong></p>



<p>Donasi kain Kajang ini bertepatan dengan pameran “<strong>Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude”</strong>&nbsp;yang digelar di lantai dua&nbsp;<strong>Indonesia House Amsterdam</strong>. Acara ini hasil kerja sama antara&nbsp;<strong>KBRI Belanda</strong>&nbsp;dan Yayasan Kembang Sepatu yang dipimpin oleh&nbsp;<strong>Ine Waworuntu</strong>.</p>



<p>Ine menekankan pentingnya mengenalkan tenun kepada masyarakat Belanda. Sebab, selama ini batik lebih dikenal, sementara banyak yang bahkan keliru menyebut tenun sebagai batik.&nbsp;<strong>“Masyarakat Belanda perlu tahu bahwa tenun adalah karya seni berharga, bukan sekadar tekstil biasa. Dengan pameran ini, kami ingin memperkenalkan kisah dan identitas para penenun Indonesia,”</strong>&nbsp;tutur Ine.</p>



<p>Kecintaan Ine terhadap tenun sudah mendarah daging. Tinggal di Belanda tak menghalanginya mengenakan tenun dalam keseharian, baik musim panas maupun dingin. Menurutnya, tenun adalah “<strong>selimut Nusantara</strong>” yang memberikan kehangatan, sekaligus menjadi identitas budaya yang melekat ke mana pun ia pergi. Tak jarang, orang Belanda bertanya tentang kain yang ia kenakan, dan dari situlah percakapan tentang Indonesia dimulai.</p>



<p><strong>Misi Global untuk Warisan Lokal</strong></p>



<p>Sidi menegaskan bahwa donasi kain Kajang ini adalah bagian dari strategi GEF SGP Indonesia untuk membawa kearifan lokal ke kancah internasional. Misinya jelas: memperkenalkan warisan budaya, mendukung mata pencaharian komunitas adat, dan membuka akses pasar baru untuk para penenun. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.</p>



<p><strong>“Kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa tenun Kajang ke Amsterdam, kami berharap tercipta kolaborasi global yang menghormati kearifan lokal,”&nbsp;</strong>kata Sidi.</p>



<p>Bagi Ine Waworuntu sendiri, donasi ini bukan sekadar kain, melainkan pengingat pentingnya membimbing penenun agar mandiri secara sosial, budaya, dan ekonomi.&nbsp;<strong>“Terima kasih kepada GEF SGP Indonesia yang telah memperjuangkan pelestarian karya-karya kriya bangsa. Semoga penenun kita semakin dikenal dunia dan mandiri ke depannya,” pungkas Ine</strong>.</p>



<p><strong>Warisan yang Mendunia</strong></p>



<p>Urbie’s, donasi kain tenun Kajang ke Indonesia House Amsterdam ini bukan hanya langkah simbolis, melainkan bukti nyata bahwa budaya lokal Indonesia memiliki daya saing global. Setiap helai benang adalah doa, setiap corak adalah cerita, dan setiap warna adalah identitas. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga membuka peluang bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.</p>



<p>Sumber: https://urbanvibes.id/index.php/2025/09/04/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/gef-sgp-indonesia-donasikan-kain-tenun-kajang-untuk-indonesia-house-amsterdam/">GEF SGP Indonesia Donasikan Kain Tenun Kajang untuk Indonesia House Amsterdam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 04 Sep 2025 16:45:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Lokal GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17197</guid>

					<description><![CDATA[<p> (4/9/2025) Tenun bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya. Ya,&#160;kain tenun&#160;memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&#160;Amsterdam,&#160;Belanda. GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&#160;Kajang&#160;dari&#160;Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Ine...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="745" height="489" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41.png" alt="" class="wp-image-17198" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41.png 745w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-300x197.png 300w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-18x12.png 18w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-600x394.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-41-10x7.png 10w" sizes="(max-width: 745px) 100vw, 745px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kain tenun khas masyarakat adat Kajang yang dipajang di Indonesia House Amsterdam, Belanda.(Dokumentasi pribadi)</figcaption></figure>



<p><strong> </strong><a href="https://www.guideku.com/tag/tenun">(4/9/2025) </a><em><a href="https://www.guideku.com/tag/tenun">Tenun</a> bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya.</em></p>



<p>Ya,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/kain-tenun">kain tenun</a>&nbsp;memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/amsterdam">Amsterdam</a>,&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/belanda">Belanda</a>.</p>



<p>GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/kajang">Kajang</a>&nbsp;dari&nbsp;<a href="https://www.guideku.com/tag/bulukumba">Bulukumba</a>, Sulawesi Selatan, kepada Ine Waworuntu selaku Founder Hibiscus Foundation di Indonesia House Amsterdam,Selasa (2/9/2026).</p>



<p>Momen tersebut bukan sekadar serah terima cinderamata belaka, melainkan puncak dari aksi lokal yang dirancang untuk menghasilkan dampak global. Ini merupakan upaya membawa karya megah penenun dari masyarakat adat agar gemilang di kancah internasional.</p>



<p>Sidi merasa pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan luar biasa. Terlebih, GEF SGP Indonesia bisa memfasilitasi hubungan budaya mendalam yang disimbolkan dengan donasi sehelai kain tenun hasil buah tangan masyarakat adat Kajang.</p>



<p>&#8220;Kami bangga mendonasikan sehelai kain tenun tangan yang megah, yang dibuat dengan cermat oleh masyarakat adat Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Indonesia House Amsterdam,&#8221; ujar Sidi.</p>



<p>Bagi masyarakat adat Kajang, menenun bukan cuma membuat karya seni. Ini merupakan suatu narasi kehidupan. Setiap helai dipintal dengan pewarna dari alam. Goresan corak dibuat dengan makna filosofis mendalam. Tersirat pula hubungan mereka dengan sang pencipta yang dimanifestasikan sebagai ekosistem hutan.</p>



<p>“Setiap corak dijiwai dengan makna filosofis serta hubungan dengan ekosistem hutan sakral mereka, yang telah mereka lindungi selama berabad-abad di bawah prinsip &#8220;Kamase-masea&#8221; yakni hidup sederhana dan secukupnya,” ujar Sidi.</p>



<p>Adapun “Kamase-masea” adalah sebuah prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Suku Kajang Ammatoa. Arti dari prinsip itu sangat mendalam: hidup bersahaja, sederhana, atau &#8220;miskin&#8221; di dunia untuk meraih kekayaan dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p>Hadiah ini menjadi tanda apresiasi yang tulus. Dengan buah tangan ini, ada komitmen bersama untuk mengangkat visibilitas budaya masyarakat adat Indonesia serta ragam praktik berkelanjutan yang mereka lakukan ke panggung global.</p>



<p>Sidi menuturkan donasi ini lebih dari sekadar syarat, namun juga menjadi langkah strategis dalam misi GEF SGP Indonesia. Salah satunya untuk mempromosikan warisan budaya masyarakat adat, termasuk masyarakat Kajang. Caranya tentu dengan menampilkan cara hidup mereka yang berkelanjutan kepada khalayak internasional, terutama di Eropa.</p>



<p>“Misi lain dari kami yakni mendukung mata pencaharian komunitas, dengan menciptakan jalur agar produk-produk budaya diakui dan mendapatkan akses ke pasar baru. Jadi, hal ini bisa memberikan manfaat ekonomi kepada penjaga keanekaragaman hayati kita,” ujar Sidi.</p>



<p>Tentunya, maksud lain dari donasi tersebut juga sebagai sarana untuk membina kemitraan internasional, termasuk negara-negara di Eropa. Salah satu caranya dengan memperkuat jembatan antara komunitas lokal di Indonesia dan institusi global yang menghargai pelestarian budaya serta pembangunan berkelanjutan.</p>



<p>“Kami meyakini kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa tenun Kajang ke Indonesia House Amsterdam, semoga bisa memantik percakapan, apresiasi, serta membuka pintu kolaborasi yang menghormati dan mendukung kearifan masyarakat adat,” kata Sidi.</p>



<p><strong>Diplomasi kain ala Ine Waworuntu</strong></p>



<p>Donasi tersebut bertepatan dengan momen pameran bertajuk ‘Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude’ di Indonesia House Amsterdam. Pameran di lantai dua Indonesia House Amsterdam ini dihelat KBRI menggandeng Yayasan Kembang Sepatu (Stichting Hibiscus) yang dimotori Ine Waworuntu.</p>



<p>Ine membeberkan alasan mengapa tenun harus diperkenalkan kepada masyarakat Belanda. Dia mengatakan banyak dari masyarakat Belanda yang tidak terlalu mengenal tenun. Ketimbang tenun, batik dinilai lebih populer di Negeri Tulip. Bahkan, masyarakat Belanda kerap salah melabeli tenun sebagai batik.</p>



<p>“Masyarakat Belanda kerap mengadakan pasar yang menjual barang seken. Di sana, beberapa dari mereka menjual tenun sebagai batik. Ya, sebagian besar dari mereka sepertinya belum mengenal kain tenun, songket, ulos maupun ikat. Inilah kenapa diperlukan pengenalan hingga tenun mendapatkan nama di benak publik Belanda,” tutur Ine.&nbsp;</p>



<p>Karena itu, selain diplomasi budaya, pameran tersebut untuk mengangkat identitas para penenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kendati tidak langsung terasa dampaknya, setidaknya pameran tersebut bisa menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil karya para penenun ke masyarakat di Belanda.</p>



<p>“Lewat pameran ini, kami sejatinya ingin mengedukasi masyarakat Belanda. Ini supaya mereka memahami bahwa kain tenun merupakan karya seni. Tenun tersebut dinilai sebagai sebuah karya seni yang berharga, bukan hanya sebagai tekstil industri belaka,” ujar Ine saat dihubungi melalui sambungan telepon.</p>



<p>Ya, Ine memang bukan pakar di bidang kain tenun. Namun, kecintaan terhadap tenun seperti cintanya kepada Indonesia. Menurut Ine, tenun merupakan kain yang benar-benar spesial. Bahkan, di Belanda, tenun melekat di jati diri Ine. Sebab, ke mana pun dia pergi, Ine hampir selalu mengenakan tenun untuk membalut tubuhnya.</p>



<p>Nah, berbeda dengan batik, menurut pegiat budaya tersebut, tenun bisa digunakan dalam beragam situasi maupun cuaca. Baik ketika musim dingin maupun musim panas, diaspora yang sudah lama berdiam di Belanda itu selalu nyaman mengenakan kain tenun.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>“Di indonesia, ada desainer yang menyebut tenun sebagai selimut nusantara yang berarti memberikan kehangatan. Di Eropa, saya masih bisa memakai tenun di musim dingin. Jadi saya tetap membawa ‘Indonesia’ saya di Belanda dalam bentuk kain. Ya, seperti mengenalkan budaya Indonesia melalui tenun dalam kondisi apapun,” tutur Ine.</p>



<p>Bahkan, dengan dirinya mengenakan tenun, tak jarang ada yang bertanya mengenai kain yang dikenakannya. Dengan tenun, Ine bisa membuka komunikasi dengan masyarakat Belanda. Tak hanya itu, salah satu kepuasan Ine adalah ketika dia bisa menceritakan kisah di balik kain tenun tersebut. Jadi tenun bukan sekadar kain, tapi sarana untuk bercerita tentang Indonesia.</p>



<p>Terkait tenun khas masyarakat adat Kajang, yang salah satunya diberikan GEF SGP Indonesia, Ine benar-benar kepincut. Menurut Ine, ketika mengenal tenun ini, dirinya menemukan filosofis dari kain tersebut yang melambangkan kedekatan dengan alam dan Tuhan. Tenun ini membuat Ine mengapresiasi hal-hal kecil.</p>



<p>Melansir dari laman situs Dekranasda Bulukumba, kain tenun Kajang dibuat oleh perempuan dari masyarakat adat tersebut secara tradisional. Sebelum menenun, mereka harus menentukan hari baik, bahkan merapalkan doa-doa terbaik. Tujuannya untuk mendapatkan warna hitam di kain yang ditenun.</p>



<p>Pemilihan warna hitam pun bukan tanpa alasan. Masyarakat adat Kajang memiliki ciri khas dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpakaian serba hitam. Ya, hitam merupakan warna yang kental akan kesakralan, serta mengandung makna persamaan dalam segala hal, kekuatan dan kesederhanaan.</p>



<p>Nah, tenun Kajang dibuat menggunakan bahan alami, benang direndam dalam larutan daun Tarumatau Indigo, kemudian dicampur kapur dan abu kayu. Kain yang mengkilap dihasilkan dari proses garrusu atau menggosok kain dengan punggung cangkang keong agar kain terlihat berkharisma saat dikenakan oleh siapa pun.</p>



<p>Ine pun mengapresiasi donasi kain tenun Kajang yang diberikan oleh GEF SGP Indonesia sebagai misi untuk mengenalkan budaya lokal agar gemilang di kancah global. Selain itu, Ine mendukung program dari GEF SGP Indonesia yang menyokong para penenun hingga ke generasi berikutnya agar mereka dikenal oleh masyarakat luas, terutama internasional.</p>



<p>Dengan pemberian ini, Ine berharap agar GEF SGP bisa membimbing para penenun hingga siap mandiri. Sebab, menurut dia, para penenun itu harus mandiri. Di awal, mungkin mereka membutuhkan dorongan. Tapi, nantinya mereka harus bisa lebih mandiri dan berkelanjutan baik secara sosial, budaya maupun ekonomi.</p>



<p>“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GEF SGP Indonesia atas komitmennya dalam mendukung karya-karya kriya Indonesia. Dedikasi dan kerja keras tanpa lelah ini sangat penting bagi pelestarian dan pengembangan para perajin lokal kita. Terima kasih telah memperjuangkan tujuan penting ini!” ujar Ine Waworuntu.(*)</p>



<p>Sumber: https://www.guideku.com/news/2025/09/04/164509/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-di-amsterdam-dari-budaya-lokal-menuju-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun di Amsterdam, dari Budaya Lokal Menuju Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</title>
		<link>https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin sgp]]></dc:creator>
		<pubdate>Thu, 04 Sep 2025 13:39:00 +0000</pubdate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[GEF SGP Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mitra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Untuk Lingkungan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://sgp-indonesia.org/?p=17194</guid>

					<description><![CDATA[<p>(4/9/2025) Tenun&#160;bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya. Ya, kain tenun memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&#160;Amsterdam,&#160;Belanda. GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&#160;Kajang&#160;dari Bulukumba, Sulawesi...</p>
<p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="768" height="1024" src="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-768x1024.png" alt="" class="wp-image-17195" srcset="https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-768x1024.png 768w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-225x300.png 225w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-9x12.png 9w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-600x800.png 600w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-1x1.png 1w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40-8x10.png 8w, https://sgp-indonesia.org/wp-content/uploads/2025/11/image-40.png 970w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala (kiri) dan Founder Hibiscus Foundation Ine Waworuntu (kiri).(Dokumentasi pribadi)<br></figcaption></figure>



<p>(4/9/2025) <em><a href="https://www.suara.com/tag/tenun">Tenun</a>&nbsp;bukan sekadar kain yang menutup tubuh. Ada cerita di setiap helai benang yang menyatu menjadi sebuah kain megah. Tenun merepresentasikan warisan budaya, identitas, harapan dan penghidupan masyarakat. Ada pula doa dan nilai spiritual di balik setiap motif dan warnanya.</em></p>



<p>Ya, kain tenun memang memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar produk fisik yang indah. Hal tersebut dimaknai dalam persamuhan antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Yayasan Kembang Sepatu atau Hibiscus Foundation di&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/amsterdam">Amsterdam</a>,&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/belanda">Belanda</a>.</p>



<p>GEF SGP Indonesia, dalam pertemuan hangat itu, diwakili Koordinator Sekretariat Nasional Sidi Rana Menggala. Dia menyerahkan kain tenun khas masyarakat adat&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/kajang">Kajang</a>&nbsp;dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Ine Waworuntu selaku Founder Hibiscus Foundation di Indonesia House Amsterdam,Selasa (2/9/2026).</p>



<p>Momen tersebut bukan sekadar serah terima cinderamata belaka, melainkan puncak dari aksi lokal yang dirancang untuk menghasilkan dampak global. Ini merupakan upaya membawa karya megah penenun dari masyarakat adat agar gemilang di kancah internasional.</p>



<p>Sidi merasa pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan luar biasa. Terlebih, GEF SGP Indonesia bisa memfasilitasi hubungan budaya mendalam yang disimbolkan dengan donasi sehelai kain tenun hasil buah tangan masyarakat adat Kajang.</p>



<p>&#8220;Kami bangga mendonasikan sehelai kain tenun tangan yang megah, yang dibuat dengan cermat oleh masyarakat adat Kajang dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepada Indonesia House Amsterdam,&#8221; ujar Sidi.</p>



<p>Bagi masyarakat adat Kajang, menenun bukan cuma membuat karya seni. Ini merupakan suatu narasi kehidupan. Setiap helai dipintal dengan pewarna dari alam. Goresan corak dibuat dengan makna filosofis mendalam. Tersirat pula hubungan mereka dengan sang pencipta yang dimanifestasikan sebagai ekosistem hutan.</p>



<p>“Setiap corak dijiwai dengan makna filosofis serta hubungan dengan ekosistem hutan sakral mereka, yang telah mereka lindungi selama berabad-abad di bawah prinsip&nbsp;<em>&#8220;Kamase-masea&#8221;</em>&nbsp;yakni hidup sederhana dan secukupnya,” ujar Sidi.</p>



<p>Adapun&nbsp;<em>“Kamase-masea”</em>&nbsp;adalah sebuah prinsip hidup yang dianut oleh masyarakat Suku Kajang Ammatoa. Arti dari prinsip itu sangat mendalam: hidup bersahaja, sederhana, atau&nbsp;<em>&#8220;miskin&#8221;</em>&nbsp;di dunia untuk meraih kekayaan dan kebahagiaan di akhirat.</p>



<p>Hadiah ini menjadi tanda apresiasi yang tulus. Dengan buah tangan ini, ada komitmen bersama untuk mengangkat visibilitas budaya masyarakat adat Indonesia serta ragam praktik berkelanjutan yang mereka lakukan ke panggung global.</p>



<p>Sidi menuturkan donasi ini lebih dari sekadar syarat, namun juga menjadi langkah strategis dalam misi GEF SGP Indonesia. Salah satunya untuk mempromosikan warisan budaya masyarakat adat, termasuk masyarakat Kajang. Caranya tentu dengan menampilkan cara hidup mereka yang berkelanjutan kepada khalayak internasional, terutama di Eropa.</p>



<p>“Misi lain dari kami yakni mendukung mata pencaharian komunitas, dengan menciptakan jalur agar produk-produk budaya diakui dan mendapatkan akses ke pasar baru. Jadi, hal ini bisa memberikan manfaat ekonomi kepada penjaga keanekaragaman hayati kita,” ujar Sidi.</p>



<p>Tentunya, maksud lain dari donasi tersebut juga sebagai sarana untuk membina kemitraan internasional, termasuk negara-negara di Eropa. Salah satu caranya dengan memperkuat jembatan antara komunitas lokal di Indonesia dan institusi global yang menghargai pelestarian budaya serta pembangunan berkelanjutan.</p>



<p>“Kami meyakini kekayaan sejati bangsa terletak pada warisan budaya dan alamnya. Dengan membawa&nbsp;<a href="https://www.suara.com/tag/tenun-kajang">tenun Kajang</a>&nbsp;ke Indonesia House Amsterdam, semoga bisa memantik percakapan, apresiasi, serta membuka pintu kolaborasi yang menghormati dan mendukung kearifan masyarakat adat,” kata Sidi.</p>



<p><strong>Diplomasi kain ala Ine Waworuntu</strong></p>



<p>Donasi tersebut bertepatan dengan momen pameran bertajuk&nbsp;<em>&#8220;Women and Weaves: Eastern Indonesia Textile Prelude&#8221;</em>&nbsp;di Indonesia House Amsterdam. Pameran di lantai dua Indonesia House Amsterdam ini dihelat KBRI menggandeng Yayasan Kembang Sepatu (Stichting Hibiscus) yang dimotori Ine Waworuntu.</p>



<p>Ine membeberkan alasan mengapa tenun harus diperkenalkan kepada masyarakat Belanda. Dia mengatakan banyak dari masyarakat Belanda yang tidak terlalu mengenal tenun. Ketimbang tenun, batik dinilai lebih populer di Negeri Tulip. Bahkan, masyarakat Belanda kerap salah melabeli tenun sebagai batik.</p>



<p>“Masyarakat Belanda kerap mengadakan pasar yang menjual barang seken. Di sana, beberapa dari mereka menjual tenun sebagai batik. Ya, sebagian besar dari mereka sepertinya belum mengenal kain tenun, songket, ulos maupun ikat. Inilah kenapa diperlukan pengenalan hingga tenun mendapatkan nama di benak publik Belanda,” tutur Ine.&nbsp;</p>



<p>Karena itu, selain diplomasi budaya, pameran tersebut untuk mengangkat identitas para penenun dari berbagai daerah di Indonesia. Kendati tidak langsung terasa dampaknya, setidaknya pameran tersebut bisa menjadi ajang untuk memperlihatkan hasil karya para penenun ke masyarakat di Belanda.</p>



<p>“Lewat pameran ini, kami sejatinya ingin mengedukasi masyarakat Belanda. Ini supaya mereka memahami bahwa kain tenun merupakan karya seni. Tenun tersebut dinilai sebagai sebuah karya seni yang berharga, bukan hanya sebagai tekstil industri belaka,” ujar Ine saat dihubungi melalui sambungan telepon.</p>



<p>Ya, Ine memang bukan pakar di bidang kain tenun. Namun, kecintaan terhadap tenun seperti cintanya kepada Indonesia. Menurut Ine, tenun merupakan kain yang benar-benar spesial. Bahkan, di Belanda, tenun melekat di jati diri Ine. Sebab, ke mana pun dia pergi, Ine hampir selalu mengenakan tenun untuk membalut tubuhnya.</p>



<p>Nah, berbeda dengan batik, menurut pegiat budaya tersebut, tenun bisa digunakan dalam beragam situasi maupun cuaca. Baik ketika musim dingin maupun musim panas, diaspora yang sudah lama berdiam di Belanda itu selalu nyaman mengenakan kain tenun.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>“Di indonesia, ada desainer yang menyebut tenun sebagai selimut nusantara yang berarti memberikan kehangatan. Di Eropa, saya masih bisa memakai tenun di musim dingin. Jadi saya tetap membawa ‘Indonesia’ saya di Belanda dalam bentuk kain. Ya, seperti mengenalkan budaya Indonesia melalui tenun dalam kondisi apapun,” tutur Ine.</p>



<p>Bahkan, dengan dirinya mengenakan tenun, tak jarang ada yang bertanya mengenai kain yang dikenakannya. Dengan tenun, Ine bisa membuka komunikasi dengan masyarakat Belanda. Tak hanya itu, salah satu kepuasan Ine adalah ketika dia bisa menceritakan kisah di balik kain tenun tersebut. Jadi tenun bukan sekadar kain, tapi sarana untuk bercerita tentang Indonesia.</p>



<p>Terkait tenun khas masyarakat adat Kajang, yang salah satunya diberikan GEF SGP Indonesia, Ine benar-benar kepincut. Menurut Ine, ketika mengenal tenun ini, dirinya menemukan filosofis dari kain tersebut yang melambangkan kedekatan dengan alam dan Tuhan. Tenun ini membuat Ine mengapresiasi hal-hal kecil.</p>



<p>Melansir dari laman situs&nbsp;<em>Dekranasda Bulukumba</em>, kain tenun Kajang dibuat oleh perempuan dari masyarakat adat tersebut secara tradisional. Sebelum menenun, mereka harus menentukan hari baik, bahkan merapalkan doa-doa terbaik. Tujuannya untuk mendapatkan warna hitam di kain yang ditenun.</p>



<p>Pemilihan warna hitam pun bukan tanpa alasan. Masyarakat adat Kajang memiliki ciri khas dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpakaian serba hitam. Ya, hitam merupakan warna yang kental akan kesakralan, serta mengandung makna persamaan dalam segala hal, kekuatan dan kesederhanaan.</p>



<p>Nah, tenun Kajang dibuat menggunakan bahan alami, benang direndam dalam larutan daun Tarumatau Indigo, kemudian dicampur kapur dan abu kayu. Kain yang mengkilap dihasilkan dari proses garrusu atau menggosok kain dengan punggung cangkang keong agar kain terlihat berkharisma saat dikenakan oleh siapa pun.</p>



<p>Ine pun mengapresiasi donasi kain tenun Kajang yang diberikan oleh GEF SGP Indonesia sebagai misi untuk mengenalkan budaya lokal agar gemilang di kancah global. Selain itu, Ine mendukung program dari GEF SGP Indonesia yang menyokong para penenun hingga ke generasi berikutnya agar mereka dikenal oleh masyarakat luas, terutama internasional.</p>



<p>Dengan pemberian ini, Ine berharap agar GEF SGP bisa membimbing para penenun hingga siap mandiri. Sebab, menurut dia, para penenun itu harus mandiri. Di awal, mungkin mereka membutuhkan dorongan. Tapi, nantinya mereka harus bisa lebih mandiri dan berkelanjutan baik secara sosial, budaya maupun ekonomi.</p>



<p>“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GEF SGP Indonesia atas komitmennya dalam mendukung karya-karya kriya Indonesia. Dedikasi dan kerja keras tanpa lelah ini sangat penting bagi pelestarian dan pengembangan para perajin lokal kita. Terima kasih telah memperjuangkan tujuan penting ini!” ujar Ine Waworuntu.(*)</p>



<p>Sumber: https://yoursay.suara.com/rona/2025/09/04/132914/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global</p><p>Artikel <a href="https://sgp-indonesia.org/en/diplomasi-kain-tenun-kajang-di-amsterdam-dari-lokal-gemilang-di-kancah-global/">Diplomasi Kain Tenun Kajang di Amsterdam, dari Lokal Gemilang di Kancah Global</a> pertama kali tampil pada <a href="https://sgp-indonesia.org/en">SGP Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>