GEF, SGP, FAO, and YBUL logos

Article · SM Nantu

Kisah Perjuangan Pegiat Literasi di Daerah Terpencil untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Para Transmigran

Kota Gorontalo, InfoPublik – Wajah Rojer Manopo bergembira setelah mengikuti pemberdayaan komunitas penggerak literasi yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo selama 4 hari. Rojer seakan mendapatkan energi baru untuk mengembangkan sekolah kampung dan perpustakaan Pabuto Nantu bersama warga transmigrasi…

March 7, 202410 min readBahasa Indonesia

Kota Gorontalo, InfoPublik – Wajah Rojer Manopo bergembira setelah mengikuti pemberdayaan komunitas penggerak literasi yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo selama 4 hari.

Rojer seakan mendapatkan energi baru untuk mengembangkan sekolah kampung dan perpustakaan Pabuto Nantu bersama warga transmigrasi di Satuan Permukiman (SP) 3 Desa sari tani Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo.

“Setelah mengikuti pemberdayaan komunitas penggerak literasi, saya bertambah semangat untuk menambah kegiatan di desa,” kata Rojer Manopo, Kamis (7/3/2024).

Rojer menyampaikan terima kasih kepada Ahmad Nawari Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo yang telah merangkul Perpustakaan Pabuto Nantu yang berada jauh dari pusat kota untuk berkegiatan.

Perpustakaan Pabuto Nantu merupakan upaya mandiri warga tarnsmigran untuk tetap bisa melek literasi di tengah kesibukannya mengolah ladang di daerah terpencil. Kawasan SP 3 berada jauh di pedalaman Desa Saritani yang berbatasan dengan Suaka Margasatwa Nantu. Perkampungan yang ditinggali dan ladang petani transmigran ini asalnya adalah hutan. Mereka benar-benar berada di pinggiran, setelah permukiman mereka adalah hutan Pabuto.

Bersama Bunaeri pengelola Sekolah Kampung di SP3, Rojer bahu-membahu membangun pendidikan di desa.

“Perpustakaan dan sekolah kampung yang kami dirikan menempati bangunan gudang jatah hidup transmigrant, karena sudah tidak digunakan warga berinisiasi untuk memanfaatkan sebagai sekolah kampung dan perpustakaan,” ujar Rojer Manopo.

Rojer yang beristri wanita jawa ini mengisahkan kegigihan para petani yang ingin membangun pengetahuan melalui kegiatan literasi. Mereka membentuk kelompok masyarakat yang diberi nama Marsudi Lestantun, melalui komunitas ini para petani mengembangkan tataracara bertani yang ramah lingkungan. Mereka juga membangun kebersamaan dalam mengerjalan ladang melalui kegiatan mohuyula atau gotong royong.

Menurut Rojer buku-buku perpustakaan ini sangat membantu para petani, koleksi buku ini bertema pertanian seperti cara budidaya hortikultura, beternak ayam dan kambing, cara membuat kompos, dan banyak judul buku lainnya.

Melalui buku ini para petani mengetahui teknik pertanian yang ramah lingkungan dan belajar mempraktikkan di ladang. Semua teknik bertani dijelaskan secara gamblang dan mudah dipahami di dalam buku koleksi perpustakaan Pabuto Nantu. Di sinilah para petani mendapatkan manfaat nyata dan langsung dengan kehadiran perpustakaan.

Tidak hanya itu, buku bacaan untuk anak-anak sekolah juga banyak di sini, bahkan remaja yang menyukai novel atau buku lainnya juga bisa membaca di gedung bekas gudang jatah hidup transmigran ini.

Keberhasilan membangun komunitas petani yang mencintai literasi ini tidak serta merta muncul begitu saja. Para petani Marsudi Lestantun merupakan mitra program Global Environmental Facility- Small Grants Programme (GEF-SGP) pada fase 6.  

Program ini bertujuan untuk memberikan fasilitas pendanaan kepada kelompok masyarakat dan lembaga swadaya yang sedang menghadapi tantangan ekologis dengan cara-cara dan teknologi yang inovatif, mandiri dan terjangkau melalaui pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan.

Fokus bidang kerja yang didukung adalah konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat, mitigasi perubahan iklim, penggunaan energi ramah lingkungan, dan rehabilitasi lahan kritis pada ekosistem-ekosistem yang memiliki manfaat lingkungan global.

Keberhasilan program GEF SGP fase 6 di SP3 Saritani ini telah menguatkan para petani, memberi wawasan tentang masa depan mereka dan hubungannya dengan pengelolaan lingkungan dan sistem pengetahuan melalui kehadiran perpustakaan Pabuto Nantu dan sekolah kampung, hingga berlanjut pada fase 7 ini.

Semangat untuk meningkatkan kualitas hidup dan pelestarian lingkungan para transmigran ini patut diacungi jempol. Mereka adalah para petani tangguh yang tengah berjuang untuk menerapkan pertanian ramah lingkungan.

Rojer Manopo teringat pesan Ahmad Nawari saat membuka kegiatan pemberdayaan komunitas pengegrak literasi, salah satu tugas Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo adalah mendampingi dan merangkul komunitas penggerak literasi di Gorontalo. Salah satu caranya dengan bentuk kegiatan pemberdayaan komunitas penggerak literasi yang diharapkan dapat membantu dan menjadi bekal pengurus komunitas yang nantinya terjun langsung di tengah Masyarakat.

“Ternyata kami tidak sendirian, upaya membangun peradaban melalui kegiatan literasi ini ternyata mendapat dukungan dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, kami sangat berterima kasih,” ujar Rojer Manopo.

Rojer berharap kolaborasi dengan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo terus berjalan dalam mengawal kegiatan di sekolah kampung dan Perpustakaan Pabuto Nantu.

Sementara itu Ahmad Nawari menegaskan bahwa salah satu program prioritas Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo adalah literasi kebahasaan dan kesastraan, salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pemberdayaan komunitas penggerak literasi.

“Kegiatan ini kami harapkan dapat menjadi bekal bagi pengurus komunitas literasi dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan narasumber-narasumber di lingkungan komunitasnya” kata Ahmad Nawari.

Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Literasi Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo Eka Fitriany juga berharap komunitas penggerak literasi lebih percaya diri untuk berinovasi dalam memberikan sesuatu kepada masyarakat. Ia juga meminta komunitas literasi mampu merealisasikan dalam meningkatkan kreativitas menggerakkan literasi di tengah masyarakat, dapat memaksimalkan konsep kinerja komunitas sehingga kegiatan literasi terus aktif dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan pemberdayaan komunitas pengegrak literasi selama 4 hari ini, para peserta mendapat berbagai materi dari sejumlah pegiat literasi, seperti materi Kebijakan Bahasa, Pengelolaan Buku, dan Pojok Baca Digital oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo dan Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Cerdas Berliterasi Digital oleh Elia Damopolii, Penguatan Manajemen Komunitas Literasi oleh Musyawir S. Dunggu, Sosialisasi Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi oleh Eka Fitriany.

Dimas Indiana Senja yang menjadi pembicara utama kegiatan ini akan membawakan materi  Evaluasi Kegiatan Pemberdayaan Komunitas Penggerak Literasi di Tahun 2023—2024, Penyusunan Program Komunitas Literasi yang Kreatif, Karya Sastra (Puisi, Cerita Anak, Resensi), Pengevaluasian Rancangan Program Komunitas Literasi yang Kreatif, Pengevaluasian Rancangan Program Komunitas Literasi yang Kreatif, Membangun Literasi Digital: Tantangan dan Peluang di Era Digital. (mcgorontaloprov/ochid)

Gorontalo City, InfoPublik – Rojer Manopo's face was happy after taking part in the literacy community empowerment program held by the Gorontalo Provincial Language Office for 4 days.

Rojer seemed to have new energy to develop the Pabuto Nantu village school and library together with transmigration residents in Settlement Unit (SP) 3 Sari Tani Village, Wonosari District, Boalemo Regency.

"After taking part in empowering the literacy community, I have become more enthusiastic about adding activities in the village," said Rojer Manopo, Thursday (7/3/2024).

Rojer expressed his thanks to Ahmad Nawari, Head of the Gorontalo Provincial Language Office, who has embraced the Pabuto Nantu Library, which is far from the city center, for activities.

The Pabuto Nantu Library is an independent effort by migrant residents to remain literate amidst their busy lives cultivating fields in remote areas. The SP 3 area is deep in the interior of Saritani Village, which borders the Nantu Wildlife Reserve. The villages where these transmigrant farmers live and their fields are originally forests. They were truly on the outskirts, after their settlement was the Pabuto forest.

Together with Bunaeri, the manager of the Village School at SP3, Rojer worked together to build education in the village.

"The library and village school that we built occupied the building that stored transmigrant living allowances, because it was no longer used, the residents took the initiative to use it as a village school and library," said Rojer Manopo.

Rojer, who is a Javanese wife, tells the story of the persistence of farmers who want to build knowledge through literacy activities. They formed a community group called Marsudi Lestantun, through this community the farmers developed environmentally friendly farming procedures. They also build togetherness in working on the fields through mohuyula or mutual cooperation activities.

According to Rojer, these library books are very helpful for farmers, this book collection has agricultural themes such as how to cultivate horticulture, raise chickens and goats, how to make compost, and many other book titles.

Through this book, farmers learn about environmentally friendly agricultural techniques and learn to practice them in the fields. All farming techniques are explained clearly and easily understood in the books from the Pabuto Nantu library collection. This is where farmers get real and direct benefits from the presence of libraries.

Not only that, there are also lots of reading books for school children here, even teenagers who like novels or other books can also read in this former building for transmigrant living rations.

The success of building a community of farmers who love literacy did not just appear out of thin air. Marsudi Lestantun farmers are partners of the Global Environmental Facility-Small Grants Program (GEF-SGP) in phase 6.

This program aims to provide funding facilities to community groups and non-governmental organizations who are facing ecological challenges with innovative, independent and affordable methods and technologies through sustainable resource management.

The focus of the supported work areas is community-based biodiversity conservation, climate change mitigation, use of environmentally friendly energy, and rehabilitation of critical land in ecosystems that have global environmental benefits.

The success of the GEF SGP phase 6 program at SP3 Saritani has strengthened farmers, providing insight into their future and its relationship with environmental management and knowledge systems through the presence of the Pabuto Nantu library and village school, until it continues in phase 7.

This enthusiasm for improving the quality of life and preserving the environment of transmigrants deserves a thumbs up. They are tough farmers who are struggling to implement environmentally friendly agriculture.

Rojer Manopo remembered Ahmad Nawari's message when he opened the literacy drive community empowerment activity, one of the tasks of the Gorontalo Provincial Language Office was to accompany and embrace the literacy drive community in Gorontalo. One way to do this is through community empowerment activities that encourage literacy which is expected to help and become a provision for community administrators who will later be involved directly in the community.

"It turns out we are not alone, our efforts to build civilization through literacy activities have received support from the Gorontalo Provincial Language Office, we are very grateful," said Rojer Manopo.

Rojer hopes that collaboration with the Gorontalo Provincial Language Office will continue in overseeing activities at village schools and the Pabuto Nantu Library.

Meanwhile, Ahmad Nawari emphasized that one of the priority programs of the Gorontalo Provincial Language Office is linguistic and literary literacy, one of the activities carried out is empowering the literacy community.

“We hope this activity can be successful to provide literacy community administrators with the ability to apply the knowledge provided by resource persons in their community," said Ahmad Nawari.

Coordinator of the Literacy Expertise and Professional Services Group (KKLP) of the Gorontalo Provincial Language Office, Eka Fitriany, also hopes that the literacy community will be more confident in innovating in providing something to the community. He also asked the literacy community to be able to realize increasing creativity in driving literacy in society, to maximize the concept of community performance so that literacy activities continue to be active and sustainable.

In this 4-day literacy community empowerment activity, participants received various materials from a number of literacy activists, such as material on Language Policy, Book Management, and Digital Reading Corner by the Head of the Gorontalo Provincial Language Office and the Head of the Library Division of the Gorontalo Provincial Library Service, Smart to Literate Digital by Elia Damopolii, Strengthening Management of Literacy Communities by Musyawir S. Dunggu, Socialization of Government Assistance for Literacy Communities by Eka Fitriany.

Dimas Indiana Senja, who is the main speaker for this activity, will present material on Evaluation of Literacy Mobilization Community Empowerment Activities in 2023-2024, Preparation of Creative Literacy Community Programs, Literary Works (Poetry, Children's Stories, Reviews), Evaluating Creative Literacy Community Program Designs, Evaluating Creative Literacy Community Program Designs, Building Digital Literacy: Challenges and Opportunities in the Digital Era. (mcgorontaloprov/ochid)